Mohon tunggu...
Meita Eryanti
Meita Eryanti Mohon Tunggu... Freelancer - Penjual buku di IG @bukumee

Apoteker yang beralih pekerjaan menjadi penjual buku. Suka membicarakan tentang buku-buku, obat-obatan, dan kadang-kadang suka bergosip.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mencermati Simpul Hidup Aditia Purnomo Dalam "Menjadi Simpul Menggerakkan Asa"

12 Mei 2019   20:07 Diperbarui: 12 Mei 2019   20:22 65
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dokumentasi pribadi

Perkenalan pertamaku dengan Aditia Purnomo adalah ketika aku memenangkan sayembara menulis surat kaleng di situs jombloo.co. Sepertinya, beliau adalah bagian redaksi situs yang sekarang sudah tidak aktif itu. Saat awal berkenalan di sosial media, aku mengira bahwa dia punya kontrak kerja dengan salah satu merk mie instan sebab baginya tiada hari tanpa mie instan. Semakin lama, aku tahu bahwa beliau seorang penulis dan seorang aktivis.

Beberapa waktu lalu, aku baru tahu bahwa Aditia mengumpulkan tulisan-tulisannya dalam bentuk buku. Buku tersebut diberi judul "Menjadi Simpul Menggerakkan Asa". Banyak hal yang diceritakan oleh Aditia. Tentang gerakan 'kiri'nya, tentang buruh, tentang kampusnya, tentang lingkungan dimana dia tinggal, tentang buku-buku, dan yang lainnya.

Aditia menceritakan banyak kegelisahannya dengan bahasa yang sederhana dan kadang jenaka. Dia memberikan emosi yang sangat terasa pada pembacanya. Misalnya pada tulisan berjudul 'Paradigma dan Politik Pengupahan', aku merasakan kemarahan Aditia terhadap 'kelas menengah ngehek'.

Bagian yang paling menyentuhku adalah ketika Aditia bercerita tentang buku-buku, terutama tentang Taman Baca dan Simpul Pustaka. Di Facebook, aku dimasukkan oleh seorang senior dalam sebuah group bernama Pustaka Bergerak. Isi group itu, para pengelola taman baca. Banyak keluhanku tentang orang-orang ini. Sedikit banyak, keluhanku terwakili oleh tulisan Aditia.

Buku merupakan bagian penting dalam pendidikan masyarakat. Sayangnya, di negara ini, buku sepertinya merupakan barang mewah. Tak sedikit orang yang tidak bisa mengaksesnya. Pemerintah punya program membangun perpustakaan desa sejak dulu (sepertinya). Sayangnya, entah karena apa perpustakaan desa berlanjut menjadi gudang saja.

Hadirnya taman baca kemudian menjadi oase. Mereka menyediakan buku-buku bacaan bagi yang berminat dan membuat kegiatan untuk yang belum berminat membaca. Dengan dana yang diperoleh secara mandiri maupun donasi, taman baca ini terus bergerak.

Sejak diundangnya beberapa pengelola taman baca ke istana sekian waktu lalu, taman baca baru mulai banyak bermunculan. Ini bagus. Banyak orang yang terlibat dalam penumbuhan minat baca dan penyediaan bahan bacaan berarti akan membuat keterjangkauan masyarakat terhadap pengetahuan menjadi lebih tinggi. Walau begitu, perjuangan gerakan literasi sepertinya masih jauh dari kata selesai.

Pada tulisan yang berjudul 'Menggerakkan Pustaka Bukan Cuma Soal Menggelar Lapak Baca', Aditia bercerita tentang obrolannya dengan Ridwan Alimuddin (penggerak Perahu Pustaka). Intinya, gerakan literasi bukan sekadar mendirikan perpustakaan atau lapak baca. Harus ada diskusi dan kegiatan lainnya untuk mengembangkan kapasitas, terutama bagi para penggerak perpustakaan atau taman baca. Ridwan Alimuddin menyadari bahwa banyak penggerak taman baca yang tidak suka membaca.

Dan itulah yang memang aku rasakan. Banyak orang-orang yang bergabung dalam group Pustaka Bergerak mereka giat meminta orang-orang untuk membaca dan menulis. Namun mereka sendiri tidak gemar membaca apalagi menulis. Bahkan, beberapa yang akun Fbnya aku ikuti, rutin membagikan berita-berita bohong.

Udah gitu, mereka juga rajin mengisi kolom komentar dengan meminta donasi buku seperti dalam tulisan 'Menjadi Simpul yang Menggerakkan Pustaka, Bukan Pencari Donasi'. Beberapa kali, aku sempat kesal dengan seorang pengelola taman baca yang suka berkomentar, "bagi bukunya ke taman baca kami, Kak"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun