PILIHAN

Surat Ungu untuk Ahok, Akhir sebuah Trilogi

18 April 2017 07:20:04 Diperbarui: 18 April 2017 18:41:28 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Surat Ungu untuk Ahok, Akhir sebuah Trilogi
Dokumentasi Pribadi

Dear Ahok,

Apa kabar lo hari ini?

Gw mo cerita Hok. Beberapa minggu lalu, gw sekeluarga, di tengah acara jalan-jalan weekend, mampir ke sebuah Gereja untuk menunaikan ibadah shalat Ashar. Lokasinya di suburb Punchbowl, New South Wales, Australia.

Hah? Shalat kok di Gereja?

Iya sumpe Hok. Itu gedung gereja dengan arsitektur khas gereja. Tapi…  karena sepi pengunjung lalu disewakan ke komunitas muslim dan difungsikan sebagai masjid.

Di Australia dan Eropa, cukup banyak gereja yang sepi pengunjung lalu dikonversi menjadi masjid. Di Perancis, selama dekade 2002-2012, jumlah masjid naik 2x lipat menjadi 2000 bangunan. Sementara dalam periode yang sama hanya dibangun sekitar 20 gereja Katolik dan total sekitar 60 gereja  ditutup atau dikonversi menjadi masjid. Di Jerman terdapat total 200 masjid, 2600 mushala dan tak terhitung banyaknya masjid/mushala tak resmi, sementara sejak tahun 2000 sudah sekitar 500 gereja ditutup, plus 700 gereja lagi menunggu giliran ditutup. 

Data lebih lengkap bisa diintip di: www.gatestoneinstitute.org

Berita-berita semacam ini susah nyampenya ke Indonesia ya Hok. Yang viral dan heboh paling-paling  seputar rencana pelarangan burkini di Perancis atau curhat mahasiswi Indonesia yang diharuskan buka jilbab di airport Italy (di ruang tertutup di hadapan petugas wanita, catet!).

“Lha kok bisa ya pemerintah negara-negara “kafir” itu membiarkan Islam berkembang pesat di negaranya?” tanya si Otong di pojokan.

Jadi gini ya Tong. Prinsip utama pelayanan publik adalah ADIL. Jadi bagi para pejabat negara-negara “kafir” itu, kalau jumlah practicing Christian menyusut sementara jumlah practicing Muslim meningkat pesat, ya dibangunlah masjid baru atau konversi saja gereja kosong jadi masjid.

Sesederhana itu Tong.

Pemerintah yang adil akan menebar maslahat untuk seluruh rakyatnya tanpa memandang apa pun agama rakyatnya. Itu sudah. Dan itulah yang sudah lo kerjakan selama 3 tahun menjabat Wagub dan 2 tahun menjabat Gubernur DKI Jakarta. Berapa ribu orang pengangguran dan anak punk yang sudah lo angkat derajatnya menjadi pasukan oranye bergaji UMP? Sebagian besar dari mereka tentulah beragama Islam. Belum lagi besarnya anggaran APBD yang memang spesifik ditujukan untuk umat Islam Jakarta.

Yup, gw tau di pojok sana si Otong nyeletuk lagi, “Halah, itu kan bukan duit si Ahok tapi duit APBD?” Gw tanya balik, “Trus kenapa gubernur2 sebelum Jokowi-Ahok tidak mengalokasikan APBD itu untuk menciptakan mempekerjakan ribuan pengangguran sekaligus jadi solusi membersihkan sungai-sungai di Jakarta? Kenapa dulu tidak ada alokasi APBD untuk mengumrahkan para marbot masjid? Kenapa dulu tidak ada duit untuk bangun masjid di Balai Kota? Kenapa fly –over Semanggi cuma sebatas angan-angan? Kenapa Tong?” 

Tapi, apa pun yang sudah lo lakukan Hok, gak ada artinya karena lo “kafir”, begitu keyakinan sebagian saudara-saudara muslim gw para pemilik KTP Jakarta. Vonis “kafir” lo pun masih harus ditambah vonis “penista agama” dari MUI. Tentulah Hok, gw hargai keyakinan mereka. Anyway, paragraf-paragraf selanjutnya di surat ini, spesial pake tiramisu gw tujukan pada saudara-saudara muslim gw yang pingin nyoblos lo tapi galau takut masuk neraka.

Temans, banyak ulama yang menghalalkan memilih pemimpin non-Muslim dalam konteks negara demokrasi damai dimana kekuasaan tidaklah bersifat mutlak tetapi terbagi dalam Trias Politika. Pendapat para ulama tersebut yang didasarkan pada dalil-dalil tekstual maupun kontekstual sudah dirangkum oleh Prof. Nadirsyah Hosen di sini:  https://www.facebook.com  Bagi lo-lo yang belum mengenal sosok Prof Nadirsyah Hosen, beliau adalah ahli Hukum sekaligus ahli Hukum Syariah, punya 2 gelar PhD sekaligus, di bidang Hukum dan Hukum Islam. Beliau adalah putra dari alm. Prof. Ibrahim Hosen, ketua komisi Fatwa MUI 1980-2000. Beliau dosen Fakultas Hukum Syariah UIN Syarif Hidayatullah sekaligus dosen Monash Law School, Melbourne Australia. Saat ini menjabat sebagai Rais Syuriah PC NU cabang Australia-NZ, calon pemimpin NU masa depan.

Yang paling jleb, mungkin dokumen no. 983348 tanggal 12 Oktober 2016 dari lembaga fatwa Mesir Darul Ifta’ al-Mishriyyahyang memfatwakan “Pemilihan pemimpin dari kalangan Muslim maupun non Muslim, laki-laki maupun perempuan, tidak bertentangan dengan hukum-hukum syariah Islam, karena penguasa/pimpinan ini telah menjadi bagian dari badan hukum (syakhsh i’itibari/rechtspersoon) dan bukan manusia pribadi (syakhsh thabi’i/natuurlijke persoon).”  Berikut link yang memuat dokumen tersebut: http://www.fiqhmenjawab.net

Lalu, bagaimana dengan vonis “penista agama” dari MUI? Well, gak satupun dari ulama level tinggi Buya Syafii Maarif, KH. Mustofa Bisyri dan Quraish Shihab yang menyimpulkan bahwa lo adalah penista agama. Dan Alhamdulillah ya, hingga di usia sepuhnya, ketiganya istiqamah dalam kesederhanaan, menjaga jarak dari kekuasaan, tak pernah tersangkut kasus istri/perempuan simpanan (ehm…), tak pernah pula tersangkut kasus penipuan bisnis investasi yang merugikan umat Islam hingga trilyunan rupiah (uhuk…).  Begitulah Hok, ketinggian ilmu agama berbanding lurus dengan keindahan akhlak.

Beda banget dong dengan… ehm… nganu… ah sudahlah…

Yang paling epic, tentu kita masih ingat kesaksian (mantan) wakil ketua komisi fatwa MUI Kyai Ishomuddin di persidangan Ahok. Dengan tegas beliau mengatakan Ahok tidak menista Islam, Quran dan Ulama. Bahkan beliau mengkritik Sikap Keagamaan MUI yang justru memicu masalah menjadi besar karena MUI tidak melakukan prosedur standar Tabayun ke Ahok dan tidak cek-ricek langsung ke saksi-saksi di TKP.

Dari sisi hukum positif, LBH Jakarta bahkan sudah menegaskan bahwa kasus penistaan agama yang menimpa Ahok adalah alat  kriminalisasi pilkada yang sesungguhnya menempatkan Ahok pada posisi korban yang teraniaya. http://news.liputan6.com

Now back to you, Hok.

Gw percaya, kasus penistaan agama yang menimpa lo memberi banyak pelajaran buat lo pribadi. Mengutip salah satu penulis favorit gw Kajitow Elkayeni, masalah terbesar lo adalah mulut lo. Kritik lo soal politisasi agama itu memang benar, “tapi publik tak semuanya mampu menerima kebenaran dengan cara demikian.” Dalam kontestasi pemilihan pejabat publik, “kejujuran sekalipun adalah hal yang berbahaya jika menimbulkan rasa sakit.”

Maka Hok, untuk terakhir kalinya gw minta, “JAGA MULUT LO!” Kali ini gw ngomong gak cuma pake toa tapi pake megafon, tepat di kuping lo. Gw haramkan elo nyebut “Al Maidah”, for the rest of your life, kecuali di dua tempat: kamar tidur lo dan ruang sidang pengadilan.

Hok,

Semua calon menjelang Pilkada mendadak relijius mendadak syar’i. Tapi, sungguh mengherankan kalau Cagub lawan lo, dengan kekayaan sekitar 7M, belum berhaji di usia 48. Padahal sendablek-ndableknya practicing Muslim, bawaannya pasti gatel pingin menuntaskan seluruh kewajiban lima rukun Islam a.s.a.p. Bahkan gw yang kere dan bolak-balik bunting dan lahiran ini mampu berhaji di usia 29 bermodal sisihan beasiswa S2, Euro demi Euro. Sebegitu pentingnyakah urusan dunia hingga ia mampu membangkang dari perintah Allah SWT?  Lalu timsesnya pikir, itu bisa ditutupi dengan label PECI. Tapi track record toh tak bisa bohong.  

Hok,

Seandainya lo tak menyebut Al Maidah 51 di Pulau Seribu, tentu pertarungan akan bisa dimenangkan dengan mudah dan efektif… Itulah sesal gw dan seluruh pendukung lo di seluruh pelosok bumi pertiwi.

Sudahlah. Nasi sudah jadi ketan. Hikmah dari semua ini adalah timbulnya kesadaran (yang agak terlambat) akan sosok musuh dalam selimut yang telah kita biarkan sejak era 80-an menanamkan pengaruhnya di kepala begitu banyak anak bangsa ini. Musuh itu bernama radikalisme. Radikalisme telah memecah belah antar umat sekaligus internal umat Islam. Radikalisme mengikis kecerdasan. Radikalisme menyuburkan industri hoax sekaligus merusak daya nalar generasi penerus bangsa ini.

Maka Hok, kemenangan lo bukan semata kemenangan Ahok-Djarot atas Anies-Sandi. Kemenangan lo bukan semata kemenangan mantan pemulung Ibu Susantiana memperjuangkan masa depan anak-anaknya. Www.youtube.com Bukan semata kemenangan calon pelayan atas calon pejabat. Bukan semata kemenangan rasionalisme dalam kontestasi rekrutmen pelayan publik.

Kemenangan lo adalah jaminan percepatan pembangunan Ibukota yang sudah tertinggal begitu jauh bahkan dari negara-negara tetangga yang dulunya jauh lebih kere dari kita. Kemenangan lo adalah jaminan efisiensi manajemen APBD. Di tangan manajer pintar sekaligus pelit seperti lo, bahkan membangun fly-over Semanggi pun tak perlu keluar modal sepeser pun APBD, hingga Menkeu Sri Mulyani pun memberi standing applause buat lo. Dengan filosofi “merangkul semua”, apa mampu Paslon lawan lo berhadapan dengan mafia anggaran di segala lini? Kita sudah mengalami 10 tahun, bahwa manajemen “merangkul semua” itu pada prakteknya adalah ketidakberdayaan dan tutup mata terhadap praktek bagi-bagi bancakan, demi harmoni politik. Masih mau mencoba manajemen model itu?

Kemenangan lo adalah jaminan perjuangan nyata pemberantasan kemiskinan yang mengangkat derajat kaum miskin ibukota. Kemenangan lo adalah jaminan perbaikan mental para petugas parkir dan sejenisnya yang tak lagi mau menerima tip karena sudah digaji dengan layak. Kemenangan lo adalah jaminan alih generasi old-fashioned birokrat ibukota ke tangan generasi penerus professional bermental pelayan rakyat.

Above all Hok, kemenangan lo adalah kemenangan bangsa ini melawan musuh bernama radikalisme, sektarianisme dan primordialisme.

Dan ketika kita memperjuangkan semua itu lewat dukungan ataupun coblosan untuk lo, apakah kita akan masuk neraka? Please, tak perlu kita meng-underestimate kemampuan Tuhan menakar hamba-hamba-Nya. Bukankah dalam hadits-nya Rasulullah bersabda “Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Gw percaya Hok, keshalihan sosial tentu takkan luput dari takaran Tuhan. Karena Islam adalah agama yang sangat mengedepankan pentingnya keshalihan sosial.

Hok,

Malam ini, seuntai doa terpanjat, semoga Allah SWT memenangkan Ahok-Djarot di akhir palagan yang begitu panjang dan melelahkan ini.

Karena elo, Basuki Tjahaja Purnama, adalah salah satu Jongos Rakyat terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini!

Selamat memilih Jakarta!

Meilanie Buitenzorgy

/meilaniebuitenzorgy

Kandidat PhD, University of Sydney, Australia
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana