Kartini Masa Kini: Mau Sekolah Tinggi (Masih) Dibully

21 April 2017 10:14:24 Diperbarui: 21 April 2017 21:23:29 Dibaca : 18 Komentar : 1 Nilai : 2 Durasi Baca :
Kartini Masa Kini: Mau Sekolah Tinggi (Masih) Dibully
ilustrasi (foto: telegraph.co.uk)

Seperti yang kita tahu program doktor (Strata 3) adalah jenjang pendidikan formal tertinggi yang ada, dan sifatnya masih tersier, mungkin bisa dibilang sangat tersier. Tidak banyak orang yang mempunyai kesempatan meraih gelar ini, karena faktor biaya yang utama, lalu kemampuan, dan kesempatan. Kalau biaya sih sudah pasti harus ada untuk memasuki bangku pendidikan formal, kecuali kita mendapat beasiswa. Kemampuan untuk berkualifikasi menjadi mahasiswa doktor bisa diasah. Nah faktor kesempatan ini yang sering masih dipengaruhi oleh gender.

Saat seseorang mendapatkan beasiswa setelah bersaing ketat dan diputuskan untuk studi di luar negeri, maka umumnya ia akan gembira, bangga dan begitupula dengan keluarga dan kerabat yang mendengarnya. Mereka pun akan kebanjiran pujian dan doa. Namun itu umumnya hanya terjadi pada pria. 

Untuk banyak kasus wanita yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri, mereka pun juga akan kebanjiran, bukan pujian, namun sindiran. Sindirannya pun macam-macam, tapi tetap berputar-putar di sekitar topik pernikahan dan keluarga. 

Jika belum menikah, mereka akan disindir-sindir dan ditakut-takuti tidak akan menikah. "Jangan sekolah tinggi, nanti laki-laki pada takut lho." Kata mereka yang nyindir. Padahal kalau dipikir-pikir, emangnya wanita kalau sekolah tinggi jadi Sadako?

Kalau sudah menikah tapi belum anak, maka mereka akan dikutuk, "Jangan sekolah mulu, punya anak dulu, ntar keburu tua lho." Seetdah, wanita menikah juga banyak yang hamil pas mereka kuliah. Punya anak mah Tuhan yang ngatur, bukan sekolahan apalagi orang lain.

Kalau sudah menikah dan punya anak, maka mereka akan dibully, "Ih perempuan sekolah tinggi-tinggi buat apa, jadi emak-emak mah paling juga ntar kerjaannya di rumah nyuci popok, momong anak, bau angus di dapur." Wadow, parah jaman drone gini masih ada yang komen begitu... Ibu masa kini multitasking, multiperan, kalau perlu multidimensi lho. Lagipula seorang ibu WAJIB cerdas dan berwawasan, karena yang dibesarkan olehnya bisa jadi calon ilmuwan, calon pemimpin bangsa, calon profesor, calon milyarder atau calon penjahat, perampok, pemalas, semua berawal dari pengasuhan seorang ibu dan ayah.

Tidak harus lewat bangku pendidikan formal. Seorang ibu bisa cerdas dan berwawasan saat ia tidak berhenti mengimprove diri. Membaca, bergaul dan aktif dalam kegiatan positif juga mencerdaskan wanita yang belum mendapat kesempatan sekolah formal. Oleh karena itu seorang ibu disebut juga sebagai pilar bangsa. Seperti yang disebutkan dalam buku Ulama Perempuan Indonesia (2002), "wanita, baik sebagai ibu bangsa dan guru bangsa, merupakan tokoh yang mempunyai karakteristik tersendiri bagi pembentukan watak bangsa."

Nah kembali ke kisah Kartini modern, jadi sementara penerima beasiswa pria sibuk dengan balesin komen-komen positif yang suportif, penerima beasiswa wanita masih sibuk nembok kuping. Iya itu nyata. Masih seperti itu. Saya saksinya. Fia (nama samaran), penerima beasiswa S3 saat sebelum berangkat ke negeri impiannya di Inggris, bertemu dengan tantenya, yang memberikan salah satu komen terpanas yang pernah saya dengar:

"Ngapain harus jauh-jauh ke Inggris, kasian rumah-tangga kalian nanti. Suami kalau ditinggal bahaya."

"Lho tante kan suami saya ikut." Jawab Fia.

"Iya suamimu kan harus ninggalin kerjaannya. Karirnya harus rusak gara-gara kamu."

"Yah doain saja kami sukses, tante." Menohok tapi Fia mencoba sabar.

"Kalian belum punya anak kan. Kamu ntar sibuk kalau sekolah S3 di luar negeri. Udah di dalam negeri aja."

"Lho kan saya dapat beasiswa. Gimana sih tante?"Sambil mencoba tersenyum kecut.

"Iya ngapain jauh-jauh. Kalau memang mau kuliah S3 didalam negeri aja tante utangin." Jawab tante yang ujung-ujungnya terkesan iri sama si Fia, mungkin karena si tante ngga bisa kuliah ke luar negeri.

Maaf ini nyata, sodara-sodara. Kartini modern kalau mau lanjut kuliah (masih) dicari-cari aja salahnya. Sering juga ini terjadi karena banyak wanita lainnya tidak bisa mendapat kesempatan seperti Fia. Sehingga mereka merasa iri dan tersaingi. Sementara di ujung jalan lainnya, para penerima beasiswa pria meskipun mempunyai anak istri tetap dielukan dan berangkat dengan hawa positif.

Kejadian seperti ini masih terjadi saat seorang wanita akan melanjutkan studi baik di dalam ataupun di luar negeri. Namun banyak juga suami-suami yang pengertian dan mendukung penuh kemajuan istri-istrinya. Mereka rela ikut menemani istri dan berjuang bersama di negara lain demi keluarga mereka. Itulah suami super. Bukan mereka yang sukses sendirian sementara di rumah istrinya jungkir balik dari sebelum subuh sampai subuh lagi. Apa susahnya? ;-) Suami super adalah mereka yang BERANI maju bersama-sama dengan istrinya dan bahkan rela 'berhenti sejenak' demi mendorong istrinya maju.

Selain keluarga dan bangsa, ilmu pengetahuan pun membutuhkan wanita. Suara mereka diperlukan untuk memberikan asumsi ontologi, epistimologi dan agensi sebagai wanita. Mereka perlu ambil peran dalam menyumbangkan pemikiran dalam ilmu pengetahuan untuk ikut mengungkapkan realita. Mereka mungkin kadang masih berjalan lambat karena berbagai rintangan dan sempitnya kesempatan, namun Kartini modern adalah wanita-wanita tangguh yang terus maju dan berkarya, di rumah, di kampus, di kantor dan dimana saja. Yang jelas mereka pun tebal kupingnya untuk teriakan-teriakan "kamu tidak akan bisa" dan "jangan".

Ibu Kartini berkata, "Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat Aku mau! membuat kita mudah mendaki puncak gunung."

Selamat Hari Kartini, Ibu2, Mba2, dan Bapak2 yang terus mendukung Kartini-kartini nya

21 Apr 2017

Mutiara

Mutiara Me

/medianmutiara

TERVERIFIKASI

Mahasiswa kehidupan yang sedang belajar menulis. interests: pendidikan, masyarakat dan wisata. *If you don't find anything pleasant, at least you find something new.*
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana