Pontianak

21 April 2011 18:24:42 Dibaca :
Pontianak

Tanggal, 6-8 Desember 2010 lalu aku dapat kesempatan untuk berjalan-jalan ke Pontianak, Kalimantan Barat. Sebenarnya ke Pontianak ini bukan untuk jalan-jalan, tapi kebetulan saja ada pekerjaan serius yang mengharuskan aku terbang harus kesana. Disela-sela menyelesaikan pekerjaan, aku sempatkan untuk jalan-jalan di beberapa tempat yang menarik. Kebetulan disana ada kawan dekat aku yang bersedia menjadi tourist guide untukku (Teng yu, Akhas. You’re the best guide)

Untuk ke kota yang dilalui sungai besar dan terpanjang di Indonesia itu, banyak rintangan dan cobaan yang bertubi-tubi datang mengahantam. Bisa dikatakan sampe berdarah-darah lah untuk menggapai wilayah titik kathulistiwa itu. Justru karena itulah, meskipun singkat tapi banyak kenangan yang tak terlupakan di Pontianak. Atas bantuan kawan dekat ini, akhirnya aku bisa menggapai mimpi berwisata kuliner sampai wisata religi. Bahkan sempat pula pangkasan rambut dan merasakan nikmatnya pijatan tukang cukur berkepala gundul di pinggir jalan sepulang dari Istana Kadariyah.

Makan kwe tiaw ( mie tiaw) di warung PKL pojok perempatan jalan Setia Budi yang tidak kalah enaknya dengan kwe tiaw Appola atau Polo yang ada di Jl. Patimura, pisang goreng dan kopi tubruk khas Pontianak, bubur ayam pedas yang meskipun sepintas kayak muntahan kucing tapi nikmatnya bukan maen. Meskipun kurang puas , tapi lumayan lah dua hari di Pontianak bisa mampir mampir di tugu khatulistiwa, menikmati semilir angin di tepi sungai Kapuas di Batula yang dan juga shollat Ashar di masjid jami yang tidak jauh dari Istana Kadariyah.

Dua hari dua malam serasa kurang puas dan kurang lengkap untuk menikmati Pontianak. Kata kawanku, ada tuah yang mengatakan begini : jika sudah meminum air Kapuas, pasti dia akan datang kembali Pontianak. Tapi entah kapan, aku kembali lagi ke sana. Tapi tuah itu sudah mulai menyerang diriku untuk balik lagi kesana. Amoy….eh..maksudku amboi sungguh elok nan permai pemandangan disana.

Persiapan, 3 Desember 2010.

Mau berangkat saja sudah membawa perjuangan berat. Siang itu aku pontang-panting berburu tiket lewat agen, susah cari tiket yang murah. Lewat internet cara pembayarannya harus pake kartu kredit atau kartu debit BCA, BRI dan BNI. Itupun harus ditransfer maksimal 2 jam setelah transaksi via internet. Akhirnya aku putuskan saja nekat ke Terminal Tiket yang berada di sisi utara Jl. Borobudur-Sukarno Hatta Malang. Begitu masuk, antrian sudah panjang, dalam hati,”Bias berangkat enggak, ya.” .

Begitu nomor antrianku dipanggil, langsung aku sampaikan kepada staf counternya untuk carikan tiket ke Pontianak yang paling murah. Boleh Garuda, Lion, Emprit Airlines , Batavia, Sriwijaya, Majapahit Airliur, Blitar Airmabur dan lain sebagainya, apapun maskapainya pokoknya carikan yang paling murah, kataku. Dan syukur Alhamdulillah, puji tuhan, dapat juga tiket murah dari Batavia Rp 925.00,-, (murah untuk hari itu, biasanya jauh lebih murah lagi apalagi kalau nunut teman dan dibayarin).

Itupun berangkatnya tanggal 6 Desember jam 07.45 WIB dari Surabaya dan mampir sebentar di Jogjakarta terus langsung ke Pontianak. Coba kalau berangkatnya dari Pontianak, mungkin lebih sangat amat murah lagi kale (yang nulis kentir, lha wong tujuannya ke Pontianak kog berangkatnya dari Pontianak)

Tiket sudah aku dapatkan, tapi jangan dikira sudah tidak ada problem lagi. Begitu keluar dari terminal tiket, hujan turun dengan derasnya. Aku pacu sepeda motorku sekencang apapun tetap saja lemot, karena jalanan macet. Tujuanku ke agen travel bandara utara Stasiun Kota Baru Malang, weladalah travel untuk ke Bandara Juanda tanggal 6 pagi subuh sudah habis. Sudah basah kuyup, gak dapat travel. Untung saja sepeda motor Honda Revo absolute itu ada jok bagasinya yang bisa untuk menyimpan e-tiket Batavia Airlines. Akhirnya, “metani” alias scaning cari agen travel satu per satu se kota Malang yang bisa membawaku ke Bandara Juanda pada subuh 6 Desember.

Sakit Gigi, 4 Desember 2010

Sampai habis Jum’atan, aku belum dapatkan tiket. Karena perut lapar, mampir ke warung bakso di jl. Sulfat Malang. Ehh..waktu makan bakso gigiku mengelethus kerikil yang ada di dalam pentol bakso. Langsung aja gigiku rasanya…nguing…nguing…nguing….kepala rasanya mau pecah, mulut hanya bisa komat kamit, dengkul gemeteran, sepatu mau terbang aja. Ampyun deh..pokoknya.

Langsung pulang ke rumah, gigiku langsung tak sikat pake odol habis seperempat tube. Lumayan, tapi begitu minum air putih…mak cessssss…..sirinenya langsung bunyi lagi…ngung..ngung….ngung…..cekot…cekot…cekot…..!

Ke Tukang Tambal Gigi, 5 Desember 2010

Pagi-pagi aku langsung ke tukang tambal gigi, di gang Merpati Sukun di Malang. Meskipun bukan dokter, tapi dia ahli tentang gigi. Sebut saja mantri gigi. Meskipun setingkat mantra, tapi peralatan yang ada di ruang prakteknya persis seperti peralatan dokter giginya Mr. Bean. Mulai dari kursi sampai lain-lain serba modern. Pak Mantri Untu, begitu cekatan mengatasi persoalan gigi berlubang. Dia ambil bor, linggis kecil dan lain-lain siap untuk mengeksekusi gigi ku. Aku disuruh kumur, upyuk 10 X..terus mangap. Ngiiiiiinggggg….zssssss…ngiingggg..zzessss…..nggak sampe limabelas menit sudah selesai, bayar 150 ribu rupiah. Lumayan, lebih murah dibandingkan ke dokter gigi yang tarifnya bisa bervariasi tergantung yang diperiksa dan yang memeriksa. Contohnya aja kalau pasiennya keliatan tajir, ya bisa dikemplang mahal. Tapi kalau pasiennya ganteng kayak aku dan dokter giginya cantik kayak anda, bisa jadi hanya dibayar senyum aja juga mau…hehehehe…

Pulang dari Pak Mantri Untu, searching travel lagi. Mau naik bis, takut kesiangan. Dan horeeeee……akhirnya aku dapat travel ke Bandara Juanda. Tau enggak aku dijemput sama si travel ini jam berapa, ? besok jam 02.00 WIB dini hari.

Diiringi Gemuruh Petir

Maghrib hujan deras masih mengguyur Malang dan sekitarnya. Lampu di rumah mati lagi. Sambil grayah-grayah aku prepared masukin semua material yang aku butuhkan ke dalam tas ransel yang selalu setia menemaniku kemana aja. Demi tugas Negara, meskipun hujan badai tetap aja aku terjang, aku cangklong tas ranselku dan tidak lupa ngaca sebentar pake senter HP, eh..ternyata masih ganteng juga jadi backpacker meski usia masih dibawah 30 tahun (sisanya..kalee)

Jam 21.00 WIB, setelah pamitan kepada yang mbaureksa rumah, dibawah hujan deras aku tetap kukuhkan niat, tekad dan semangat untuk berangkat ke kantor pake jas hujan biar keren. Ke kantor bukan mau kerja, karena travelnya memang mau jemput aku di kantor biar gampang. Kalau ke rumahku, travelnya bisa masuk nggak bisa keluar karena banyak kelokan dan gang. Kalau di kantor kan bisa nunggu sambil main game atau utak atik computer.

Menuju Bandara Juanda, 6 Desember 2010

Jam 00.00 mata sudah kayak disemprot cabe rasanya, nguantuk banget. Nggak tau bagaimana kronologisnya, tiba-tiba saja aku sudah dibangunkan oleh sopir travel lewat dering telepon kantor. Eh..sudah jam 2.30 WIB. Aku langsung bergegas masuk mobil panther yang didalamnya ternyata sudah ada 4 (empat) penumpang yang tujuannya sama, turun di bandara Juanda Surabaya. Sambil nerusin molor di dalam mobil, nggak terasa sudah sampe di bandara. Jam menunjukkan 3.45..wuih..berarti sopirnya kenceng banget kayak pembalap F-1. Alonso. Terus ngapain jam segitu di bandara, padahal pesawatku jam 7.45 WIB. Yow is tengak tenguk aja di kursi tunggu, siapa tau nemu gethuk.

Bengong, clingak-clinguk bentar-2 mainin HP usilin teman-2 di pesbuk. Coba mesin baru, yang katanya dengan 5000 rupiah almari yang bentuknya seperti kulkasnya cocacola itu bisa mengeluarkan kopi. Aku selipkan uang kertas Rp 5000,- dan ternyata benar, keluar segelas plastic kecil kopi nescafe susu , lumayan bisa untuk menghangatkan badan sambil klepas klepus menghembuskan asap rokok.

Bandara Juanda meskipun masih subuh, sudah begitu terasa geliat aktifitasnya yang sibuk. Banyak calon penumpang yang memanfaatkan kursi tunggu untuk tidur, melamun, merokok, atau sekedar gojek dengan anak-anak atau istrinya. Bahkan aku lihat di kursi tunggu dekat resto siap saji, dua sejoli yang dimabuk cinta sedang bermesraan tidak peduli dengan sorot mataku yang menatap tajam. Yang lelaki duduk, yang perempuan merebahkan kepalanya di pangkuan lelaki yang usianya masih duapuluhan tahun.

Sambil menikmati kopi panas, celingak-celinguk sendirian. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Langsung aj check in terus tidur di diruang tunggu. Jam 08.15 Dibangunin petugas, ditanya mau kemana, aku bilang mau ke Pontianak. Untung aja pesawatnya delay setengah jam. Tepat pukul 08.20 WIB..aku dibawa terbang oleh burung besi yang namanya Mbak Tavia ini. Setengah jam kemudian sudah nyampe Jogjajarta. Dan setengah jam kemudian terbang lagi langsung ke Pontianak. Meskipun aku duduk dekat jendela samping kanan pesawat, selama perjalanan aku nggak bisa melihat apa-apa k bawah. Yang aku lihat hanya gumpalan awan yang seperti kapas itu. Baru setelah mau landing di Bandara Supadio Pontianak, aku bisa menyaksikan kelokan sungai yang panjang dan besar, juga hamparan hutan yang seperti karpet.

Pertama Kali ke Pontianak

Jam 11.50 WIB sampailah aku di bandara Supadio, memang tidak seramai bandara cengkareng, Surabaya ataupun Makasar. Tapi begitu aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Kalimantan, aroma keramahan sudah muncul disana. Hanya bahasanya saja yang dialeknya agak berbeda. Lebih mirip dengan bahasa Malaysia. Naik taksi ke kota dari bandara, tarifnya flat Rp 70 rb. Langsung menuju hotel Merpati di Jl. Imam Bonjol, dimana tempat meeting ada disana. Kawanku sebentar-sebentar kontak aku, khawatir aja salah jalan.

Habis meeting, sehabis maghrib kawanku gedor-2 pintu kamar hotel. Kirain ada apa, ee…ternyata mau ngajak jalan-jalan menyusuri kota Pontianak di malam hari. Dengan naik sepeda motor, berkelilinglah kami berdua menyusuri jalanan ibukota Provinsi Kalimantan Barat.

Kota ini juga terkenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang tepat dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas yang adalah sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas membelah kota Pontianak, simbolnya diabadikan sebagai lambang Kota Pontianak.

Kota ini juga dikenal dengan nama Khun Tien (aku nggak tau artinya, mungkin kuntilanak kali ya) oleh etnis Tionghoa di Pontianak. Nama Pontianak dipercaya ada kaitannya dengan kisah dongeng Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika menyusuri Sungai Kapuas sepanjang 1100 kilometer. Menurut cerita kawanku, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan dimana meriam itu jatuh, maka disanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak.

Aku sempat nylethuk, kog aku gak pernah baca cerita sejarah perjuangan orang Pontianak melawan penjajah Belanda ya ? Eee..dengan spontan dia menjawab,”Enak aja, kita orang juga berjuang melawan penjajah juga.”

“Tahu enggak, siapa pencipta lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila ?” tanya dia yang aku jawab dengan Bung Karno. “Ya begini ini kalau tidak pernah baca sejarah. Penciptanya adalah Sultan Syarif Hamid Alkadrie II, Sultan ke-8 dari Kesultanan Pontianak,” jelasnya.

Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Betawi. Ada sejarawan Belanda yang bernama Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), setelah meninggalkan kerajaan Mempawah dan mulai merantau. Di wilayah Banjarmasin ia menikah dengan adik sultan. Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya, kemudian ia mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Passir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur dan Pontianak berdiri.

Mendengar cerita dia, aku hanya mesam-mesem saja. Kalau aku kasih pertanyaan lagi, dia jawabnya pasti buuuaannnnyak dan mendetail. Padahal perutku sudah keroncongan. Jadi..ketika dia bercerita..aku hanya jawab aja dengan,”Oooo….gitu ya…..oooo…gitu ya…oooo…gitu ya..” lama lama dia terasa, lalu balik tanya kepadaku,”Apa gitu ya ? “ ….ya…lapar….hahahaha

Akhirnya kami mampir di sebuah warung di pinggir jalan, tepatnya di pojok pertigaan ujung jalan Setia Budi. Kawanku bilang, ini Kwe Tiau paling enak di Pontianak, tempatnya kaki lima rasanya restoran bintang lima. Untuk makan Kwe Tiau yang katanya huuenak tenan itu, kami harus antri setengah jam lebih, karena memang banyak pengunjungnya disitu.

Bahkan dalam pengamatannku sampai antri-antri. Kwe Tiau ini merupakan salah satu makanan favorit orang Pontianak. Kalau ke Pontianak nggak makan Kwe Tiau, pasti akan menyesal. Kwe Tiau yang terkenal di Pontianak adalah Kwe Tiau Polo.13034460411960637287

Biasanya para selebriti Jakarta, kalau ke Pontianak pasti mampir kesana. Kwe Tiau Polo kelasnya memang untuk menengah keatas, jadi bukannya karena takut dengan harga yang mahal, tapi karena aku berasal dari rakyat dan untuk rakyat, makanya aku makan Kwe Tiau yang kelas rakyat menengah kebawah aja. Toh makan apapun kalau sudah dikeluarkan di toilet, bentuknya ya sama aja…

Sambil menunggu kiriman pesanan Kwe Tiau Sapi Basah (Mie Kwe Tiau pake daging sapi ditambahi kuah maksudnya), aku coba es jeruk khas Ponti yang ditambahin garam. Rasanya seru banget, kecut-kecut asin (Yo mesti wae lha wong ditambahi uyah). Terus jeruknya itu lucu-lucu, kayak jeruk purut kalau di Jawa tapi bentuknya mini, kecil-kecil kayak kelereng. Begitu menyeruput es jeruk campur garam, wuih..rasanya mak pyar…suuuuegerrrr…

Belum ada jam 8 malam, begitu kami keluar dari warung, ehhh..ternyata sudah habis. Laris banget, dan memang rasanya mak jussss…hueanak..top markotop. Aku merekomendasikan Kwe Tiau yang aku makan itu daripada Kwe Tiau Ciak mBo Jeh…

Sudah kenyang terus jalan lagi…aku diajaknya melewati jalan Gadjah Mada yang siang tadi sibuk dengan perdagangan karena disepanjang jalan itu berderet toko-toko yang berjualan beraneka macam kebutuhan dan keinginan manusia. Lha ketika malam hari kog berubah jadi tempatnya mangkal anak-anak muda. Trotoar depan toko-toko pecinan itu didepannya sudah berubah. Ada meja dan kursi yang disiapkan oleh warung aneka makanan dan minuman, Jumlah warungnya ya sederer jalan Gadjah Mada itu…dan ramai sekali orang nongkrong disana. Aku sempat mencicipi es sari kacang ijo, weeh..enak tenan rasanya. Apalagi kotanya hawanya panas. Begitu kena es, langsung seger. Tapi kalau kebanyakan es juga nggak baik di hidung, yang baik es sari kacang ijonya dimasukan lewat mulut.

Dari jalan gadjah mada, kami terus menyusuri jl. Moh Yamin, terus belok ke kiri tembus Jalan Ahmad Yani. Ternyata kota Pontianak ramainya gak jauh beda dengan kota besar di Jawa seperti Semarang. Terkadang mau menyebrang saja susahnya bukan main. Melewati sepanjang Jl. A. Yani, kawanku sudah seperti presenter TV yang melakukan siaran langsung. Dia nerocos menjelaskan bahwa diseberang jalan yang kami lewati adalah masjid Mujahidin, di sebelah kiri ada STAIN dan kami lurus saja sampai ketemu GOR Pangsuma dan Mega Mall terbesar di Kalimantan Barat.

Sepeda motor masih saja dipacu, dia bilang diseberang kiri jalan itu adalah Poltek Negeri. Aku lihat didepan ada perempatan lampu merah dan ditengahnya ada tugu monument. “Yang didepan itu namanya Tugu Digulis, kita belok ke kiri. Nah ini, namanya komplek UNTAN, Universitas Taruma Negaram” jelasnya. Dan kami terus menyusuri jalan kompleks Untan..eee..mak jagrek..sudah ketemu hotel Merpati. Nggak terasa, muter segitu aja menghabiskan waktu sampai 3 (tiga) jam. Rasanya kurang puas, melihat Pontianak di malam hari, tapi kawanku janji dia akan datang ke hotel pagi-pagi sekali, dan mengajakku wisata kuliner dan wisata rohani di Pontianak. Asyiikkkk….transportasi dan konsumsinya gratis lho ya…

Ngopi di Pasar Seroja, Selasa, 7 Desember 2010

Jam 7 pagi, kawanku menepati janjinya sudah datang membawa sebungkus nasi kuning. Meskipun agak aneh di mulutku tapi namanya juga pemberian ya aku makan saja. Nasi di Pontianak rata-rata agak keras (boso jowone : akas dan agak kepyar) tidak agak lembek seperti di Jawa). Mulai dari kemarin aku rasakan ya begitu itu rasanya. Mau protes, nanti dikira tidak mensyukuri nikmat. Yang aku khawatirkan kalau makan nasi akas itu, takutnya gampang buang gas sembarangan dari buritan bokongku ini. Eeehhhh…ternyata enggak juga. Gas nya ternyata gak bocor.

“Bar mangan wareg, bar wareg turu, bar turu guyu,” kata kawanku mencoba ngeledek aku dengan menggunakan bahasa jawa tapi dialeknya melayu. Jadi geli mendengarnya. Apalagi kalau misuh gaya Suroboyoan “Jancuk kowe..”, bikin aku gak bisa nahan ketawa. Dasar…gemblung eblang eblung.

Satu jam kemudian aku minta antar dia untuk mengantarkan aku ke tempat pertemuan di warung kopi pasar Seroja. Warung kopinya mengingatkan aku pada film Ca Bau Kan, kursi sama mejanya klasik banget. Aku lupa nama warung kopinya (kalau gak warung kopi tjap Obor). Cangkir sama cawannya, juga kuno. Suasana warungnya persis kayak di film silat jaman Fu Shen dan Ti Lung. Tapi kog yang meladeni kayak Cuilan Seng. “Tapi cantik-cantik kan, mereka itu gadis campuran dayak sama Madura. Ada juga yang blesteran Tiong Hua Jawa. Lebih lembut,” jelas kawanku.13034461181814769998

Kalau cantik sih menurutku relative, tapi yang jelas rata-rata mereka berkulit putih. Kata Habiburahman Al Kaenak Kaideng, perempuan yang memiliki kulit putih atau rambut lurus, mereka itu sudah memiliki separo dari kecantikan. Yang lainnya berkaitan dengan karakter yang tumbuh dari lingkungan atau bisa dari gawan bayi (pembawaan sejak lahir). Di kampong halamanku ada istilah “Nek watuk iso ditambani, tapi nek watak angel tambanane” (Kalau batuk gampang disembuhkan, tapi kalau karakter susah obatnya).

Tidak lama kemudian orang yang ngajak ketemuan datang bersama kawannya juga. “Maaf, datang terlambat.” Dalam hati aku bisa memaklumi, pasti dia orang yang lahir di Indonesia. Sambil mengobrol, si mbak pelayan warung mengeluarkan pisang goreng Pontianak yang terkenal itu. Dari baunya sudah tercium dahsyat dan spektakuler. 13034461671615595042

Bentuk dari pisang goreng asli Pontianak ini disayat tipis-tipis menjadi 4 hingga 7 potong, menyerupai sebuah kipas. Disajikan dalam kondisi panas, terus diatasnya diolesi selai srikaya, strawberry, nanas, mentega, kacang atau lainnya. Kalau suka coklat atau keju, bisa juga ditaburi diatasnya. Tapi bentuknya juga ada yang tidak seperti kipas, dua buah pisang dijadikan satu lalu digoreng, jadi kelihatan lebih besar gede daripada pisangmu itu. Bentuknya pisang goreng yang dimodifikasi ini seperti fried chicken, crispy nugget, atau ayam kremes. Coba bandingkan dengan pisangmu. Bisa engak dibuat crispy…

Kekhasan pisang goreng Pontianak terletak pada bahan bakunya yang menggunakan pisang gepok atau pisang nipah. Jenis pisang ini dipilih karena kandungan kadar airnya sedikit sehingga ketika digoreng tidak lembek. Kata penjualnya, agar aroma goreng pisangnya lebih harum, minyak yang akan digunakan untuk menggoreng terlebih dahulu diberi daun pandan. Jika pisang goreng di daerah lain pada umumnya digoreng satu kali, pisang goreng Pontianak digoreng dua kali pada dua tempat penggorengan yang berbeda. Pada tahap pertama, pisang digoreng setengah matang. Sedangkan pada tahap kedua, pisang digoreng hingga matang. Bahkan, untuk mendapatkan hasil yang lebih garing, pisang tersebut digoreng hingga tiga kali.

Jan rasane mak nyuzzzzzzz….. enak tenan. Apalagi disandingkan dengan kopi Pontianak yang panas sambil udat-udut (merokok) jan top markotop tenan. Ngobrol ngalor ngidul nggak terasa kalau ada pisang goreng yang bikin tenggorokan gak serak begini. Kopinya juga segar, tanpa ampas.

Bla-bla-bla…kocap kacarito alias singkat cerita..kami berpamitan karena sudah ngobrol lebih dari dua jam. Meskipun ragu dengan keputusannya, tapi aku puas dengan hasil pertemuan itu karena pisang goreng yang super spektakuler enaknya.

Pelampong di Sungai Kapuas

Dan sekarang meneruskan jalan-jalan menyusuri kota Pontianak. Sepeda motor diputar balik ke arah alun-alun. Terus masuk ke tempat penyebrangan fery yang menghubungkan kota Pontianak dengan kecamatan Siantan dan dibatasi sungai Kapuas yang luasnya 500 meter. Meskipun aku lihat ada jembatan penyebrangan, tapi kapal feri ini gak pernah sepi penumpang. Dua orang plus sepeda motor cuman bayar 3000 rupiah.13034462461894813954

Menunggu merapatnya Pelampong (kapal fery) sangat tidak membosankan. Karena sejauh mata memandang banyak panorama indah yang menyejukkan mata. Aktifitas pemancing, lalu perahu kecil dan perahu besar yang biasa disebut dengan bis air berlalu lalang di sepanjang sungai Kapuas. Meskipun aku merasakan juga bau magis disana, tapi tidak mengerikan. Mungkin aku membayangkan yang bukan-bukan saja, sepertinya ada yang penunggunya di situ. Kalau nggak ada yang nunggu, terus orang mau ke kapal bayar ke siapa, hayooo….

Pemandangan yang dekat dan menyebalkan adalah pengemis. Ada yang ngamen, ada yang terus terang “Nyuwun…sak paring…pariiiiiiing….”.

Dari tempat aku menunggu Fery merapat, aku bisa melihat aktifitas kapal besar baik kapal niaga maupun kapal penumpang yang berlabuh di pelabuhan Dwikora Pontianak.

Sungai Kapuas pada mulanya adalah jalur utama transportasi di Kalimantan Barat dan Pontianak adalah kota pelabuhan sungainya. Sungai Kapuas yang bercabang tiga (Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak) lebih mempercantik Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Apalagi 13034464731740642744kalau dilihat dari atas pesawat, cantek sekale bah.

Konon katanya kabar, dahulu sungai ini ramai dilayari kapal luar dan dalam negeri. Terutama kapal dari Singapura, yang hilir mudik untuk membeli karet, tengkawang, dan hasil hutan lainnya. Pada masa itu juga terdapat puluhan pelabuhan alam, baik besar maupun kecil, di Kota Pontianak. Jauh sebelum Kota Pontianak menjadi pusat pelabuhan sungai, hulu Sungai Kapuas sudah lebih dahulu menjadi pusat peradaban masyarakat Dayak dan Melayu. 13034465291626457073

Kata temanku, sekarang karena banyaknya sarana transportasi baik udara maupun darat, masyarakat makin meninggalkan moda transportasi air melalui Sungai Kapuas karena waktu tempuh yang diperlukan sangat lama, terpaut hingga hitungan hari jika dibandingkan dengan menggunakan jalan raya atau udara. Apalagi yang bisa menggunakan sarana transportasi dengan cara ghaib, hanya bersedekap dan menganggukan kepala “tuing..” sudah sampai ke tempat tujuan. Aku sih punya ilmu itu, tapi takutnya bisa menghilang terus gak bisa kembali ke alam nyata...hehehehe...

Tak hanya ditinggalkan dalam transportasi air, Sungai Kapuas juga sedang menghadapi persoalan ekologi yang terus memburuk dari tahun ke tahun. Yang sering terjadi adalah banjir, pencemaran, dan intrusi. Tahu nggak intrusi...bukan interupsi lho...interusi adalah perintah dari atasan kepada bawahan. Bukan...bukan...interusi adalah gerusan air pada tanah dan bangunan. Misalnya, lahan basah di Kalimantan Barat, yang luasnya 1,7 juta hektar, kini tinggal 500.000 hektar yang masih berfungsi sebagai penahan air. Lahan basah lainnya sudah berubah fungsi sehingga wajar terjadi banjir di Kapuas. Padahal, Sungai Kapuas adalah sumber air utama bagi masyarakat Pontianak.

Untuk mengurangi kadar garam ketika musim kemarau, kata kawanku juga PDAM Kota Pontianak menyedot persediaan air tawar dari Situ Penempat di Kabupaten Kubu Raya yang berjarak sekitar 26 kilometer. Itu pun hanya untuk mengatasi sesaat kalau masa kritis sekitar tiga bulan. Kalau lebih dari tiga bulan, persediaan air tawar di sana akan habis.

Menyeberang sungai Kapuas dari Pontianak - Siantan dengan pelampong (kapal ferry) hanya perlu waktu 15 menit. Turun dari kapal ferry, sudah dihadang keramaian pasar Sintian. Dari pasar lurus sekitar 250 meter, disana kami menemukan jalan besar namanya jl. Kathulistiwa. Dari pasar belok ke kiri dan kami susuri jalan raya yang merupakan jalur antar kota bahkan kalau disusuri terus bisa sampai ke Kuching – Malaysia.

Jalur Murah Ke Negeri Jiran

Ada alasan klasik buat para travelers jika ingin mencoba berpetualang jalan-jalan ke luar negeri dengan mengunakan jalur Pontianak – Kuching yaitu untuk menghindar biaya fiskal sekaligus mengunjungi jalan-jalan ke luar negeri, meskipun hanya ke Malaysia.

Seperti diketahui untuk bepergian ke Malaysia atau luar negeri warga negara Indonesia akan di kenakan biaya fiskal sebesar Rp. 3.000.000,- jika melalui bandara udara International di seluruh Indonesia. Keculai yang mempunyai NPWP (tolong jelaskan, apa itu NPWP)

Dulu, untuk jalur darat perbatasan antarnegara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tetapkan biaya fiskal sebesar Rp. 250.000,-. Tapi melalui aturan baru pemerintah beberapa tahun ini warganegara yang akan mengunjungi negara tetangga melalui jalur darat (Pontianak-Kuching) di bebaskan dengan tidak perlu membayar fiskal. (katanya lho....hehehehe...aku belum pernah coba kog).

Saat ini di Pontianak ada sekitar 25-30an armada bus yang melayani trayek dari Pontianak menuju Kuching dan sebaliknya. Kalau mau jasa travel guide juga ada di Pontianak. Ada kawan yang buka usaha tour travel di Pontianak. Kalau ada yang berminat, silahkan hubungi saya dan saya akan menghubungi dia untuk mengurus anda. Setidaknya saya kan dapat komisi...hahahahaha...

Beberapa bus di operasikan melalui operator dari Indonesia dan beberapa dari Malaysia. SJS (PT. Setia Jiwana Sejati) dan Damri adalah operator bus resmi yang di kelola oleh swasta dan pemerintah Indonesia. Sementara beberapa operator bus lainnya dilayani oleh perusahaan swasta bus dari Malaysia seperti Sri Merah, Mudah Express, Sapire, Kiarat Express dan banyak lagi lainnya. Setiap operator bus mempunyai armada bus yang berbeda-beda, ada yang hanya memiliki armada bus sebanyak 3-5 bus ada juga yang memiliki armada bus dengan jumlah bus yang banyak.

Tidak ada terminal atau pool khusus bus ini di Pontianak, umumnya dalam menaikan dan menurunkan penumpang bus-bus itu berhenti di sisi jalan persis di depan agen operator bus. Kota Pontianak sangat ramah jika anda bertanya pada penduduk setempat dengan senang hati mereka akan menunjukan lokasi agen penjualan tiket bus jurusan Siantan – Kuciang (bukan garong).

Masih dari cerita katanya temannya teman, ada 2 jenis bus yang umum di operasikan yaitu kelas SE (Super Executive)  dan kelas biasa Executive. Jangan bayangkan kelas Super Executive seperti bus-bus umumnya. Kelas Super Executive ini hanya berdasarkan jumlah kursi yang ada yaitu kursi komposisi 1-2. Jumlah total kursi untuk Kelas Super Executive ini antara 24-28 seat, ada beberapa perbedaan jumlah seat antar satu operator bus dan operator bus lainnya.

Sementara untuk kelas Executive komposisi kursi 2-2 tempat duduk dan jumlah seluruh kursi antara 36-38. Tentu saja perbedaan antara jumlah kursi Executive dan kelas umum berimbas kepada kenyamanan selama duduk.

Harga tiket bus untuk kelas Super Executive harga tiket adalah Rp. 250.000,- (kira-kira) dan Rp. 165.000,- (kira-kira juga) untuk bus kelas Executive. (tolong dong kawan-kawan yang di pontianak kasih tahu, berapa sih harga tiket bus Pontianak-Khuciang, sebenarnya). Dan bus ini bisa sampai ke Brunei Darusallam lho...(katanyaaa...........kalo nggak percaya buktikan aja sendiri)

Semua keberangkatan bus malam dari Pontianak menuju Kuching di mulai pada pukul 19.00 petang dan terakhir jadwal keberangkatan adalah pukul 21.00. Sementara untuk jam keberangkatan pagi, jadwal berangkat bus adalah pukul 07.30 terakhir pukul 08.00. Waktu tempuh bus untuk jarak dari Pontianak ke Kuching berdurasi sekitar 8-9 jam tergantung kondisi jalan (pada musim hujan, kecepatan bus berkurang). Sementara untuk situasi jalanan dengan kondisi yang bagus serta sopir yang piawai menjalankan bus maka bisa jadi waktu tempuh yang bisa di capai sekitar 7-8 jam. Urusan imigrasi di perbatasan umumnya memakan waktu satu jam. Sampai di Khucing jam berapa, itung aja sendiri.

Bus Super Executive umumnya dilengkapi dengan pendingin serta toilet juga di beri air mineral dalam botol kecil serta peganan/makanan kecil, sementara beberapa bus kelas Executive tidak dilengkapi dengan toilet. Bus Executive bisa di katakan sekelas bus ekonomi walau begitu kondisi bus cukup baik dan bus di lengkapi juga dengan pendingin (AC). Kog jadinya promosi ke Kuching naik bis ya...sorry..sorry...kembali ke cerita awal.

Tugu Kathulistiwa

Jadi.....untuk menyusuri jalan raya Kathulistiwa setelah lima menit dari pasar Siantan, siap-siap aja tutup hidung karena anda akan tersengat bau yang tidak sedap. Bau itu adalah limbah dari pengolahan pabrik karet . Dan benar juga, dari jalan bisa aku lihat jemuran karet mentah di pabrk itu.

Mobil angkutan umum, mobil pribadi, apalagi truk, gak ada yang jalan santai. Hampir semuanya berjalan kencang, seolah sopirnya kebelet be’ol dan segera ingin sampe di WC. Padahal gak perlu susah cari WC, tinggal berhenti sebentar terus lari di pinggir sungai Kapuas, pelorotkan celana, jongkok...plung..plung..bablas angine terbawa arus sungai terbesar di Indonesia ini.

Kurang lebih sepuluh menit dari pasar Siantan, kami sudah sampai di Tuga Kathulistiwa. Alhamdulilillah, puji Tuhan, aku baru tahu sekarang yang namanya tugu yang menandai garis imajiner yang dilalui Khatulistiwa. Sebelumnya hanya tahu dari buku pelajaran sekolah dan guru geografi pada masa sekolah dulu (emang pernah sekolah ya..hehehehe).

Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah (Kayak tahu aja, padahal belum pernah kesana). Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak.

Ada yang ngerti enggak, garis khatulistiwa itu apa. Menurut, Bu Sri “greenwich” , guru geografiku di SMP dulu, garis kathulistiwa atau ekuator adalah adalah sebuah garis imajinasi (garis yang ada di atlas itu namanya garis imajinasi, coy) yang digambar di tengah-tengah planet di antara dua kutub dan paralel terhadap poros rotasi planet. Garis khatulistiwa ini membagi Bumi menjadi dua bagian belahan bumi utara dan . Garis lintang ekuator adalah 0°. Panjang garis khatulistiwa Bumi adalah sekitar 40.070 km. Bagian bumi yang dilewati garis khatulistiwa ini kebanyakan samudra. Beberapa tempat yang dilalui khatulistiwa adalah: Brazil, Ekuador, Gabon, Kepulauan Galapagos, Pulau Gilbert, Bonjol Sumatera Barat, Halmahera, Lingga, Pini, Pontianak Kalimantan Barat, Kenya, Kolombia, Kongo, Kepulauan Line, Maladewa, Pulau Phoenix, Sao Tome, Somalia dan Uganda.

Keistimewaan Pontianak adalah satu-satunya kota di dunia yang tepat dilintasi garis khatulistiwa. Jadi, tidak keliru kalau Pontianak disebut juga sebagai Kota Khatulistiwa. Sebagai keistimewaan sekaligus mengukuhkan julukan itu, dibangunlah sebuah tugu yang letaknya persis di pinggir Sungai Kapuas.

Tiap 21 -23 Maret dan 21-23 September, Tugu Khatulistiwa Pontianak menjadi primadona. Ketika itulah di kompleks ini sering digelar beragam pertunjukan kesenian, pameran dan lain-lain hiburan. Tak pelak, massa pun tersedot ke tempat ini. Dari penjuru daerah berdatangan ke sekitar tugu. Namun, yang paling istimewa sebenarnya bukan hanya itu. Melainkan tepat tengah hari pada tanggal tersebut, segala bayangan benda tegak yang ada di sekitarnya, akan menghilang secara misterius. Ini tentu tidak akan pernah terjadi di tempat lain.

Masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat umumnya, cukup bangga dengan keistimewaan ini. Itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti banyaknya cendera mata miniatur Tugu Khatulistiwa, penginapan dan jalan yang menggunakan nama Khatulistiwa atau Ekuator. Termasuk unsur Garis Khatulistiwa dimasukkan ke dalam lambang Pemerintah Daerah. Garis Khatulistiwa yang melingkari tengah-tengah bumi, sebenarnya melewati beberapa propinsi di Indonesia dan beberapa negara lain. Untuk Kalbar, garis khatulistiwa melewati beberapa daerah seperti kota/kabupaten Pontianak, Sanggau dan Sintang.

Sejarah mengenai pembangunan tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat didalam gedung. Catatan pada Tugu Khatulistiwa. Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W ((V bukan Van Dolly dan W bukan Wak Umar) oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië : Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak dengan konstruksi sebagai berikut :

a. Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah. b. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah. c. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam. d. Tahun tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.

Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.

Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter.

Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.

Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metoda terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out [titik nol garis khatulistiwa dikoreksi]

Hasil pengukuran oleh tim BPPT, menunjukkan, posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur. Sementara, posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Di tempat itulah kini dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur ditandai dengan tali rafia.

Mengenai posisi yang tertera dalam tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik itu terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di Jl Sungai Selamat, kelurahan Siantan Hilir.

Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan "menghilang" beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain disekitar tugu.

Batu Layang

Setelah puas menikmati Tugu Khatulistiwa, kami teruskan perjalanan menyusuri jalan beraspal. Tidak sampai lima menit perjalanan, kawanku tiba-tiba membelokkan ke kiri masuk gang menuju sebuah kuburan. “Heh...katanya mau kau bawa aku ke batu layang, kog belok kuburan ? “ tanyaku sambil memandangi wajah kerumunan anak-anak yang langsung berlarian mengejar laju sepeda motor kami.

“Ini jalan ke batu layang, kawan. Tempatnya berdekatan dengan makam raja-raja Pontianak. Memang jalannya jelek begini,” jelasnya memberikan alasan kenapa harus melewati jalan beraspal jelek. Mungkin aspal dan batu koralnya tidak sengaja termakan oleh kontraktirnya (kontraktir itu yg dapat proyek kecil, kalau kontraktor itu yang dapat proyek besar).

Dan anak-anak yang rata-rata seusia anakku yang kelas 3 SD tanpa merasa gentar terus mengejar kami sampai ke tempat parkir yang berada di depan warung kopi yang berjajar membelakangi sungai Kapuas. Aku kira mereka mau apa, sambil menengadahkan tangan kanan mereka bilang,”Om kasih uang om..buat sekolah.....om..buat makan....om...buat jajan....om..buat beli obat...om...buat beli rumah....kasih uang om...”....hahahaha...gak di Jawa gak di Kalimantan Barat, kog ya sami mawon..podo wae..alias sama saja.

Aku jadi teringat suasana di komplek makam Sunan Ampel Surabaya. Memasuki gang masjid menuju Masjid Sunan Ampel....tiba-tiba didatangi seorang anak se usia sama dengan yang di komplek makam raja-raja di Batu Layang yang merengek minta uang. Begitu aku kasih...ehhh tiba-tiba puluhan temannya berlarian mengerubungi aku merengek minta uang sambil menarik-narik bajuku. Kejadian yang sama juga aku alami di Makam Sunan Kalijaga di Demak – Jawa Tengah.

Kejadian dan suasananya juga sama. Begitu masuk gang ke makam Kanjeng Sunan Kalijaga, yang kanan kirinya berjajar penjual baju dan souvenir sekumpulan anggota partai pengemis sudah berunjuk rasa mengerubungi aku merengek belas kasihan.

Di komplek makam Batu Layang, selain “pengemis” anak-anak, aku perhatikan ada beberapa orang gila yang ngomel-ngomel sendiri. Kata temanku mereka itu masih keturunan raja-raja Kasultanan Kadriah yang tidak kuat dengan perubahan dunia yang semakin global. Mereka adalah keturunan raja yang stress akibat tidak bisa menggapai sesuatu yang mereka inginkan. Mereka rata-rata adalah laki-laki yang menginginkan kawin dengan perempuan yang berasal dari kasta yang sama.

Mereka tidak mau kawin dengan perempuan lain selain keturunan raja atau bangsawan. Bangsawan sungguhan, bukan bangsane wong sing tangine awan (kelompok manusia yang suka bangun kesiangan). Padahal jumlah perempuan keturunan raja atau bangsawan itu kan terbatas jumlahnya. Ketika mereka kalah bersaing dengan laki-laki keturunan raja lain untuk memperebutkan cewek keturunan para raja atau bangsawan, ya akhirnya jadi stress begitu.

Aku sendiri juga heran. Kayak di pontianak itu nggak ada cewek lain aja. Padahal cewek Pontianak itu cantik-cantik dan kulitnya putih-putih lho (Yang keturunan etnis tionghoa dan suku dayak, yang keturunan afrika atau suku tamil ya tetap aja hitam..hehehehe...). Sempat terbersit didalam bathinku, seandainya aku di lahirkan kembali, aku ingin di lahirkan di Pontianak biar bisa jadi menantunya Engkoh Andy Lau yang punya anak Lin Cing Shia terus punya anak namanya Cwi Mie atau Kwi Tiau Hahu, terus berkongsi dagang kayu dengan Bakcan atau Baksio.

“Jangan coba-coba nggodain cewek Pontianak yang keturunan Tiong Hoa disini kalau kamu tidak tajir. Rata-rata cewek keturunan cina itu kawin bukan karena cinta, tapi karena dipaksa kawin dengan lelaki lain pilihan mamanya,” jelas kawanku.

Kog kayak jaman Siti Nurhaliza saja..eh..maksudku Siti Nurbaya. Pake dijodohin, dipaksa menikah dengan pria yang bukan pilihannya. Yang memang begitulah tradisinya, kata kawanku. Para orang tua etnis tionghoa di Pontianak, akan bangga dan merasa terhormat jika mendapatkan menantu kaya. Disamping bisa menjamin kebahagiaan anak perempuannya secara lahiriah (bathiniah yang tau ya yang ngelakoni pastinya), bisa diharapkan mampu mengembangkan usaha mereka yang rata-rata pedagang.

Kalau pingin punya menantu kaya dan mampu mencukupi istrinya secara materi, menurut aku sih bukan hanya keinginan orang etnis tiong hoa saja. Semua orang tua dari etnis apapun aku kira juga sama, gak ada yang pingin punya menantu yang kere dan gak bisa diandalkan. Biar memble tapi tajir, banyak orang tua yang kesengsem “menggadaikan” perasaan anak perempuannya.

Bahkan bukan orang tua saja, banyak kog perempuan yang sudah berumah tangga tega meninggalkan suami dan anaknya jika tertekan dengan masalah ekonomi. Hal yang logis dan realistis untuk jaman kapitalis seperti sekarang ini. Katanya kalau cari yang ganteng saja bisa beli di pinggir jalan, asal punya duit....hahahaha...

Kembali ke kuburan raja-raja tadi. Makam raja-raja di Batu Layang, sebenarnya tidak begitu istimewa. Sekitar makam banyak sampah berserakan, dan terlihat jorok. Kasihan mereka yang tidur di dalalam batu nisan yang rata-rata bercat warna kuning keemasan dan hijau, mereka tidak bisa mengelak dari bau sampah. Tapi kalau bangun, ya bisa medeni bocah to ?

Makam di Batu Layang itu juga disebut orang sebagai komplek makam Kasultanan Kadriah. Jadi mulai Sultan pertama, Sultan Syarif Abdurahman Al Kadrie I sampai Sultan Hamid II Al Kadrie semuanya di makamkan di kompleks ini. Tentu saja permaisuri dan semua keturunan anak pinaknya.

Lay out komplek makam Kasultanan Kadriah ini tidak jauh beda dengan komplek makam para Wali di Jawa. Bahkan prosedur, syarat dan ketentuannya sama persis. Letak makam utama berada ditengah bangunan seperti pendopo. Untuk masuk kedalam harus lepas sepatu atau sandal.

Kemudian pengunjungnya sebagian besar berdoa khusuk didepan nisan mereka yang terbujur kaku terpendam didalam tanah. Ada yang minta sugih, minta dihapuskan hutangnya, minta gampang jodoh, minta anaknya lulus ujian dan lain-lain dan sebagainya. Assalamu’alaikum wahai ahli kubur, suatu saat setuju atau tidak setuju hidupku pasti akan berakhir seperti kalian.

Khusus makam Sultan Syarif Abdurahman Al Kadrie, pendiri Kota Pontianak ini ditempatkan pada ruang tersendiri yang menjorok ke bawah tanah. Untuk kesitu pengunjung harus sedikir menundukkan kepala jika tidak mau kejedug. Ini sebenarnya bermaksud simbolis saja, jadi yang mau nyadran dipaksa hormat dulu dengan menunduk sebelum berhadapan dengan makam Sultan.

Tidak jauh dari makam, terdapat meriam portugis yang konon setiap dipindah ke tempat lain selalu kembali lagi ke situ. Meriam ini berdekatan dengan Batu-batu yang bercat hijau dan kuning juga yang merupakan simbolis perpaduan arab-melayu. Kenapa Arab, konon Sultan Al Kadrie ini adalah ulama besar yang berasal dari negara Yaman.

Tentang meriam, ada sesuatu yang menarik perhatian dan membuatku penasaran. Katanya kalau punya keinginan bisa terwujud atau tidak nantinya, dapat di tes dulu di lubang meriam ini. Caranya dengan mengambil sesuatu yang hidup seperti rumput atau gagang daun singkong. Lalu kita masukan ke dalam lubang meriam itu.

Sebelum dimasukkan diukur dulu panjangnya, jika setelah ditunggu beberapa saat didalam lubang meriam terus diambil dan bertambah panjang, maka keinginan kita pasti terkabul. Aku mencoba dengan keyakinan dengan mengungkapkan keinginanku bisa terwujud atau tidak. Aku pejamkan mata, berdoa memohon keinginanku bisa terkabul, dan aku masukan ganggang daun singkong yang aku petik disekitar tempat dikerangkengnya meriam itu.

Dan ternyata benar, percaya tidak percaya..ternyata ganggang itu bertambah panjang. Hal itu aku ulangi sampai tiga kali dan hasilnya sama, jadi bertambah panjang. Sementara temanku yang melaukan hal yang sama seperti yang aku lakukan, ternyata tidak bertambah panjang..mungkin yang bertambang panjang alat vitalnya kalee....hehehehe

Puas di meriam aku naik ke Batu Layang yaitu sebuah gundukan beberapa batu besar yang konon dahulu melayang di atas air Sungai Kapuas. Kawanku gak bisa menjelaskan kenapa batu itu bisa melayang di atas air ?

Menuju Istana Kadriah

Sebelum meneruskan perjalananan ke Istana Sultan Kadriah yang berdekatan dengan sungai Landak, kami menyempatkan diri dududk di surau yang berlantai kayu dan bertembok kayu pula. Sambil menikmati semilir angin sungai Kapuas, dari surau sambil menghisap sebatang lisong dan kopi panas,..kebal-kebul.... kami bisa melihat pemandangan indah Sungai Kapuas dengan perahu mulai kecil sampai kapal besar yang hilir mudik. Betapa indahnya sungai Kapuas, menyejukkan bathin.

Setelah puas menikmati pemandangan alam dari surau (kami menyebutnya di Jawa Langgar), kami bergegas meneruskan perjalanan kami ke Istana Kadriah.

Saking panasnya di Pontianak, ditengah perjalanan sebelum pasar Siantan, kami mampir ke warung es mbokde Anita Mui (aku sebut begitu, karena wajahnya si tacik setengah baya itu yang jual es itu seperti istrinya Lie Ban Po).

Orang Pontianak menyebutnya es nona, nama ini pasti menyadarkan pembelinya kalau yang jual pernah jadi Miss Siantan pada jaman jepang dulu. Beli es disini terasa berada di Hong Kong. Yang beli hampir rata-rata orang mandarin dan berbahasa kanton. Aku hanya bengong saja sambil menikmati es serut yang bawahnya ada kacang iso dan atasnya dikasih lelehan susu milk cap Nona, sedap sekali benar-benar passs....susunya.

Setelah hilang hausku, perjalanan kami teruskan menuju Istana Kadriyah. Kami menyusuri jalan Khatulistiwa melewati Pasar Siantan lagi ke timur sampai ketemu perempatan jl. 28 Oktober. Mau belok ke kiri aja traficlight – nya dari merah ke hijau lamanya bukan main. Begitu lampu hijau langsung tancap gas seperti Rossi memacu moto GP nya...ngeng...ngeeeeeng...ngeng....kami daki jembatan yang melintasi sungai Landak. Jembatan landak adalah jembatan tertinggi di Pontianak.

Aku bisa menyaksikan pemandangan disekitar sungai itu, dimana ada rumah apung dan warung kopi yang berjajar disekitar sungai itu. Melintas jembatan nama jalannya sudah berganti nama menjadi Jl. Perintis Kemerdekaan, begitu bertemu perempatan Jl. Trikora, kami belok kanan menyusuri jalan yang sempit tapi padat.

Kami ikuti jalan berdebu yang lalu lintasnya sibuk itu sampai kami menemukan gang kecil yang dipadati rumah-rumah kumuh, dengan bau got yang khas. Kami sempat melintasi sungai berwarna hitam pekat, tapi masih saja aku lihat beberapa penduduk masih memanfaatkan sungai itu untuk mandi.

Opo nggak takut gatal ya badannya, terus baunya....ah ngapain dipikirin. Terus aja kami susuri gang sempit itu sampai kami menemukan papan penunjuk arah bertuliskan Istana Kadriah sampai akhirnya kami menemukan bangunan kuno seperti rumah panggung yang pernah aku lihat di Janeponto atau di pesisir pantai Kab. Pangkep Sulawesi selatan.

Setelah motor kami parkir, aku bergegas turun ingin tahu apa yang ada di dalam Istana Kadriah. Keanggunan istana seluas 60 x 25 meter yang terbuat dari kayu belian pilihan ini sudah terlihat dari bagian depannya. Kalau dilihat dari luar, Istana Kadriah ini sebetulnya masih terawat, tapi sayang pengemasannya masih kurang menarik. Misalnya, akses menuju ke jalannya kurang terawat bagus, dihalaman istana juga terlihat kurang sejuk karena kurangnya tanaman dan rumputnya terlihat kering. Yang juga cukup mengganggu adalah banyak pengemis yang sebagian besar anak-anak, di pintu masuk.

Ternyata didalamnya masih ada tempat tidur Sultan Al Kadri yang masih terawat dengan baik. Mulai sprei dan bantal yang warna kuning itu masih terawat dengan baik. Bau kamarnya juga wangi karena dibawahnya dikasih dupa bakar (yo mesti ae wangi, coba kalau dikasih bakaran sate, pasti penguk). Ada banyak foto-foto kuno dipajang diruang tamu. Juga ada kursi tahta raja yang seperti kursi pelaminan upacara perkawinan.

Dari halaman depan, pengunjung juga dapat melihat anjungan, yaitu ruangan yang menjorok ke depan yang dahulunya digunakan sultan sebagai tempat istirahat atau menikmati keindahan panorama Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di sana, juga terdapat sebuah genta yang dulunya berfungsi sebagai alat penanda marabahaya. Di samping kanan anjungan, terdapat sebuah tangga yang menghubungkan teras istana dengan anjungan.

Di atas pintu utama istana, terdapat hiasan mahkota serta tiga ornamen bulan dan bintang sebagai tanda bahwa Kesultanan Pontianak merupakan Kesultanan Islam. Balairungnya, atau sering juga disebut dengan balai pertemuan, didominasi oleh warna kuning yang dalam tradisi Melayu melambangkan kewibawaan dan ketinggian budi pekerti. Di ruang yang biasanya dijadikan tempat melakukan upacara keagamaan dan menerima tamu ini, pengunjung dapat melihat foto-foto Sultan Pontianak, lambang kesultanan, lampu hias, kipas angin, serta singgasana sultan dan permaisuri.

Di sebelah kanan dan kiri ruang utama terdapat 6 kamar berukuran 4 x 3,5 meter dimana salah satunya merupakan kamar tidur sultan. Sedangkan kamar-kamar lainnya dahulunya dijadikan sebagai ruang makan dan kamar mandi.

Di belakang ruang istana terdapat sebuah ruangan yang cukup besar. Di ruangan ini pengunjung dapat melihat benda-benda warisan Kesultanan Pontianak, seperti senjata, pakaian sultan dan permaisurinya, foto-foto keluarga sultan, dan arca-arca.

Istana Kadriah ini konon merupakan cikal-bakal lahirnya Kota Pontianak. Keberadaan Istana Kadriah tidak lepas dari sosok Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri (1738-1808 M), yang di masa mudanya pernah mengunjungi berbagai daerah di Nusantara dan melakukan kontak dagang dengan saudagar dari berbagai negara.

Ayahnya adalah Habib Husein Alkadri yang pernah hakim agama Kerajaan Matan dan ulama terkemuka Kerajaan Mempawah. Ketika ayahnya wafat pada tahun 1770 M, Syarif Abdurrahman bersama keluarganya memutuskan mencari daerah pemukiman baru. Batu Layang merupakan salah satu daerah yang mereka singgahi.

Di sini, rombongan tersebut bertemu dengan para perompak, dan berhasil mengalahkan mereka. Kemudian, rombongan Syarif Abdurrahman melanjutkan pelayaran mencari daerah yang lebih baik. Pada tanggal 23 Oktober 1771 M (24 Rajab 1181 H), mereka tiba di daerah dekat pertemuan tiga sungai, yaitu Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas. Kemudian, mereka memutuskan untuk menetap di daerah tersebut.

Secara historis, Istana Kadriah mulai dibangun pada tahun 1771 M dan baru selesai pada tahun 1778 M. Tak beberapa lama kemudian, Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri pun dinobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Pontianak. Dalam perkembanganya, istana ini terus mengalami proses renovasi dan rekonstruksi hingga menjadi bentuknya seperti yang sekarang ini. Sultan Syarif Muhammad Alkadri, sultan ke-6 Kesultanan Pontianak, tercatat sebagai sultan yang merenovasi Istana Kadriah secara besar-besaran.

Masjid Jami’ Sultan Abdurahaman

Kira-kira 200 meter di sebelah barat dari Istana Kadriah terdapat masjid kerajaan yang bernama Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Sultan Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri, sultan pertama Kesultanan Pontianak.

Istana Kadriah terletak di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Istana Kadriah berada di dekat pusat Kota Pontianak. Lokasi istana dapat dijangkau melalui jalur sungai dan jalur darat. Pengunjung yang memilih jalur sungai dapat mengaksesnya dengan menggunakan sampan atau speed boat dari Pelabuhan Senghie, sedangkan pengunjung yang menggunakan jalur darat dapat naik bus yang melewati jembatan Sungai Kapuas.

Di sekitar kawasan Istana Kadriah terdapat fasilitas, seperti restoran terapung, warung makan, pramuwisata, kios wartel, voucher isi ulang pulsa, sentra oleh-oleh dan cenderamata, serta persewaan sampan dan speed boat untuk mengelilingi kawasan istana.

Dari berbagai keraton kerajaan yang terdapat di Kalimantan Barat, Istana Kadriah dapat dikatakan istana Melayu terbesar yang berada di wilayah tersebut. Kondisinya sendiri masih cukup terawat dengan baik.

Sama seperti keraton-keraton Melayu lainnya yang ada di Kalimantan Barat, para pengunjung dapat menemukan beberapa senjata meriam di halaman depan istana ini. Sementara itu, di dalam istananya, yang juga seperti halnya keraton-keraton Melayu lainnya didominasi oleh warna kuning, para pengunjung dapat menemukan berbagai foto-foto dan kisah sejarah dari istana Kadriah.

Beberapa ruangan pribadi milik keluarga kesultanan juga dibuka untuk umum, walaupun terdapat beberapa larangan ketika pengunjung luar memasukinya. Mesjid Jami' Sultan Abdurrahman sendiri terletak sekitar 200 meter dari lokasi istana. Oleh masyarakat sekitar, mesjid ini masih sangat aktif digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan hingga saat ini.

Buat mereka yang ingin mengunjungi Istana Kesultanan Pontianak, lokasi istana ini sangat mudah untuk ditemukan mengingat letaknya yang berada di pusat kota. Mereka yang datang dengan menggunakan transportasi darat dapat menggunakan bus umum, sepeda motor atau mobil untuk berkunjung ke istana ini.

Transportasi jalur air juga tersedia jika pengunjung mengaksesnya dengan menggunakan sampan atau speed boad dari Pelabuhan Senghie. Di beberapa lokasi juga tersedia layanan alat transportasi air yang dapat digunakan jika pengunjung ingin mengitari Istana Kadriah melalui Sungai Kapuas.

Tak jauh dari istana, hanya berjarak beberapa puluh meter, terdapat Masjid Abdurrahman yang dibangun bersamaan dengan istana. Arsitektur masjid sangat indah dan berciri khas bangunan Kalimantan. Konstruksi atapnya bertingkat tiga, senada dengan konstruksi atap istana dan gerbang luar istana. Masjid ini terletak tepat di tepi Sungai Kapuas. Dari halaman masjid yang bersih kita dapat menikmati pemandangan yang elok.

Puluhan sepeda motor terlihat berjajar diparkir di halaman masjid. Tidak jauh dari tempat parkir ada aku lihat beberapa gelintir pemuda yang tiduran di gardu siskampling. Aku lanjutkan dengan mencoba memasuki masjid, untuk shollat Ashar. Untuk memasuki mimbar masjid aku harus beberapa kali melangkahi orang-orang yang tiduran di serambi masjid meskipun adzan ashar sudah dikumadangkan. Pemandangan seperti itu membuatku penasaran. Ketika memasuki masjid untuk menjadi makmum shollat ashar, ternyata jama'ahnya tidak sampai sepuluh orang, membuat semakin penasaran.

Usai shollat Ashar, aku berbisik kepada kawanku,”Aku pikir puluhan sepeda motor yang parkir di halaman masjid tadi pengendaranya pada shollat ashar di masjid ini ? Kog yang makmum sedikit banget ? “

“Ssssst...jangan keras-keras,” jawabnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. “Kamu tahu yang tiduran di pos Siskampling itu, terus yang tiduran di serambi masjid itu ? “ aku menganggukkan kepala tanda mengerti.

“Mereka itu teler karena narkoba. Disini terkenal sebagai tempat transaksi narkoba, terutama ganja. Disini sarangnya pengedar dan pemakai,” jelasnya.

“Apa nggak ada yang lapor ke polisi ? Masyarakat sekitar masjid apa enggak terganggu dengan perbuatan mereka ? Kog kayaknya adem ayem saja ? “ tanyaku.

“Masyarakat sekitar sini sebenarnya sudah mengetahui hal itu dan sering melaporkan ke polisi. Tapi nggak tahu ya, setiap ada penggerebekan tidak pernah menemukan barang bukti. Sepertinya ada yang memberitahu kalau ada penggerebekan. Katanya sih, ada informannya yang orang dari kepolisian juga. Sudah rahasia umum kalau mereka itu seperti ada kerjasama.”

“Oooo...gitu. Terus....”

“Kamu lihat laki-laki yang mengomel sendirian dan duduk di pintu masuk serambi masjid itu.”

“Iya, kenapa dia ...”

“Dia itu dulunya adalah preman kondang di Pontianak. Dia terkenal kejam dan tidak segan membunuh korbannya. Sudah banyak yang dia bunuh. Suatu ketika dia tiba-tiba menghilang dari Pontianak, ketika dia kembali sudah berubah menjadi orang gila seperti yang kamu lihat,” jelasnya.

Terlepas dari cerita-cerita yang miring tadi, Pontianak banyak membawa kenangan indah buatku. Suatu saat memang harus diulang lagi untuk mengunjunginya. (****)

Umar Fondoli

/mazumar

Kalau susah diomongin ditulis aja
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?