PILIHAN HEADLINE

Memasak Tanpa Listrik dan Elpiji

17 Mei 2017 12:45:38 Diperbarui: 17 Mei 2017 17:03:14 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Memasak Tanpa Listrik dan Elpiji
Gambar 3, Instalasi biogas hasil rakitan Aris Supriyanto dan kawan-kawan (Doc. FMT)

Sering mati listrik, stok gas elpiji langka atau mahal, mungkin bisa menjadi sumber kekesalan bagi banyak orang. Bagaimana tidak, sedang menggunakan alat elektronik atau sedang menonton televisi, tiba-tiba “pet”, listrik mati, pasti orang kesal. Lebih-lebih kalau pemadamannya nggak pake pemberitahuan terlebih dahulu. Atau para istri sedang memasak di dapur, masakan belum matang, tiba-tiba gas elpiji habis, mau nyari ke kios atau pengecer jauh, bahkan kadang-kadang sampai di kios, stok elpiji lagi habis, pasti bikin kesal juga kan?

Tapi itu tidak berlaku lagi bagi Aris Supriyanto dan kelompoknya. Warga Desa Paya Tungel, Jagong Jeget, Aceh Tengah ini tidak lagi pusing dengan urusan listrik atau gas elpiji. Kok bisa?

Gambar 1, Kelompok Tani Ternak di Jagong Jeget, Aceh Tengah kini bisa memasak menggunakan energi biogas (Doc. FMT)
Gambar 1, Kelompok Tani Ternak di Jagong Jeget, Aceh Tengah kini bisa memasak menggunakan energi biogas (Doc. FMT)

Sudah setahun lebih Aris bersama kelompok tani ternak Giri Mulyo sudah mengembangkan proyek biogas dengan skala terbatas. Dengan bantuan peralatan dan bimbingan teknis dari Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Aris dan kawan-kawan secara swadaya telah berhasil membangun instalasi biogas di lingkungan tempat tinggalnya. Kebetulan kelompok tani di mana dia bergabung merupakan kelompok tani ternak yang cukup berhasil dalam peternakan sapi. Sistem perkandangan yang tertata apik, membuat kotoran atau limbah ternak tidak berceceran di mana-mana. Nah, limbah ternak inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Aris dan kawan-kawan untuk bahan baku biogas.

Hasilnya, Aris dan anggota kelompok taninya kini sudah bisa menikmati hasilnya. Gas bio yang berasal dari instalasi biogas itu kemudian disalurkan ke beberapa rumah di sekitar instalasi. Dan mereka langsung dapat memanfaatkan gas bio itu untuk beberapa keperluan rumah tangga, seperti untuk menghidupkan kompor gas untuk keperluan memasak, menghidupkan bola lampu untuk penerangan rumah sampai untuk keperluan mesin pemanas air. 

Di tengah udara dingin pegunungan yang menusuk tulang, keberadaan pemanas air memang sangat dibutuhkan oleh warga di seputaran wilayah Jagong Jeget yang berada pada ketinggian di atas 1.500 meter di atas permukaan laut ini. Aris nggak membutuhkan listrik dan elpiji lagi karena alat itu dapat difungsikan dengan menggunakan gas bio hasil olahannya bersama teman-temannya.

Gambar 2, Alat pemanas air juga dapata digunakan dengan energi biogas (Doc. FMT)
Gambar 2, Alat pemanas air juga dapata digunakan dengan energi biogas (Doc. FMT)

Berada jauh dari pusat kota, sekitar 60 kilometer dari Kota Takengon, arus listrik di wilayah ini memang sering “byar pet”, begitu juga dengan pasokan gas elpiji, juga sering terjadi kelangkaan. Ini sangat mengganggu aktivitas keseharian warga di daerah eks pemukiman transmigrasi ini. Tapi Aris sudah punya solusi sendiri meskipun masih terbatas pada anggota kelompoknya. 

Wilayah Jagong Jeget memang merupakan daerah potensial pengembangan ternak, khususnya sapi. Apa yang telah dicontohkan dan ditawarkan oleh Aris sebenarnya bisa jadi solusi untuk mengatasi kekesalan warga. Banyaknya ternak milik warga juga menghasilkan banyak limbah ternak yang sejatinya bisa diolah menjadi gas bio, hanya dengan membuat instalasi sederhana seperti yang dilakukan Aris dan kawan-kawan.

Cukup dengan membuat tangki penampung limbah dari batu bata dan semen, kemudian membuat jaringan pipa dari instalasi biogas ke rumah-rumah warga, limbah ternak tersebut sudah dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi pengganti listrik dan gas elpiji. Memang butuh ketelitian dalam membangun instalasi biogas ini, tapi Aris dan kawan-kawan yang sudah punya pengalaman mengelola instalasi biogas dengan senang hati akan membantu warga yang berkeinginan membangun instalasi secara swadaya.

Dari pengalaman Aris bersama kelompoknya, sebuah tangki biogas dengan kedalaman 3 meter dan diameter 2 meter, akan mampu menyuplai kebutuhan listrik dan gas minimal untuk sepuluh rumah. Dan itu sudah akan membantu menghemat pengeluaran warga setiap bulannya sampai ratusan ribu. Sementara untuk membangun sebuah instalasi biogas, juga tidak dibutuhkan biaya yang terlalu besar dan dapat digunakan sampai beberapa tahun asal dirawat dengan baik. 

Memang instalasi biogas yang dibuat oleh Aris dan kawan-kawan dibantu pembiayaannya oleh pemerintah, tapi untuk pengerjaaanya, mereka harus berswadaya sendiri. Kalaupun tidak difasilitasi pemerintah, mereka pun sanggup membuatnya. Karena selain sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman, cost yang dikeluarkan juga tidak begitu besar.

“Untuk membeli peralatan, sekitar 10 sampai 15 juta rupiah sudah cukup, sementara untuk perakitan dan pemasangan dapat kami lakukan sendiri karena kami sudah diberikan pelatihan oleh BPTP,” ungkap Aris. Sementara, untuk bahan baku berupa limbah ternak sama sekali tidak ada kendala, tinggal memindahkan dari kandang ke dalam tangki penampungan, karena di sini banyak warga yang memelihara ternak dengan sistim perkandangan yang cukup baik, lanjutnya.

Angka sepuluh sampai lima belas juta mungkin termasuk besar, tapi mengingat instalasi ini bisa digunakan beberapa tahun, bahkan sampai puluhan tahun, jumlah tersebut bisa menjadi jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan pembayaran rekening listrik dan membeli gas elpiji, apalagi di tengah fenomena tarif listrik dan harga gas elpiji yang terus merangkak naik.

Kini bagi Aris dan kawan-kawan, mati lampu atau kelangkaan gas elpiji bukan kendala yang mesti dikesalkan lagi karena dia sudah punya solusi sendiri. Siapa sangka, limbah ternak yang selama ini terbuang percuma, ternyata bisa jadi alternatif sumber energi, hanya dengan sedikit sentuhan teknologi sederhana. Masalah listrik atau gas elpiji bukanlah untuk dikesali, apalagi sampai disertai sumpah serapah. Selama ada kemauan, pasti ada solusi karena potensi energi terbarukan banyak tersedia disekitar kita, tergantung kita mau memanfaatkan atau tidak. Tapi setidaknya apa yang dilakukan oleh Aris dan kawan-kawan sudah bisa menjadi motivasi bagi kita untuk tidak selalu bergantung pada listrik negara atau subsidi gas elpiji.

Fathan Muhammad Taufiq

/masfathan66

TERVERIFIKASI

Member of "Mitra Petaniku", peminat bidang Sosial, Ekonomi, Pertanian dan Media Informasi, sedang belajar menulis di "sMS Center"
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana