Fathan Muhammad Taufiq
Fathan Muhammad Taufiq pegawai negeri sipil

Pengabdi petani di Dataran Tinggi Gayo, peminat bidang Pertanian, Ketahanan Pangan dan Agroklimatologi

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Kiat Penyuluh Atasi Serangan Hama Ulat pada Tanaman Bawang Merah

13 April 2017   10:32 Diperbarui: 13 April 2017   18:21 481 4 2
Kiat Penyuluh Atasi Serangan Hama Ulat pada Tanaman Bawang Merah
Gambar 1, Penyuluh Pertanian BPP Lut Tawar memeriksa serangan hama ulat pada tanaman Bawang Merah di lahan petani (Doc. FMT)

Dampak perubahan iklim global (climate global change) mulai dirasakan oleh para petani di Dataran Tinggi Gayo. Kondisi cuaca yang sulit ditebak membuat para petani mengalami kesulitan untuk menentukan jadwal tanam. Kadang-kadang cUaca pada pagi hari terlihat cerah, tapi tiba-tiba saja hujan lebat turun di siang hari. Bulan-bulan seperti sekarang ini biasanya sudah memasuki musim kemarau di wilayah Gayo, namun kenyataannya sampai sekarang, hujan dengan intensitas yang cukup tinggi masih terus mengguyur daerah ini. Akibatnya, banyak lahan pertanian milik petani yang kemudian tergenang air dan ini menyebabkan pertumbuhan tanaman, khususnya tanaman hortikultura tidak optimal, bahkan di antaranya kemudian layu dan mati. Kondisi seperti ini tentu sangat merugikan petani.

Selain menyulitkan petani untuk mengatur pola dan jadwal tanam, ternyata perubahan iklim ini juga berdampak terhadap meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Seperti yang laporkan oleh Kaslil, seorang penyuluh pertanian yang bertugas di wilayah Kecamatan Lut Tawar. Dalam laporannya kepada Kepala Dinas Pertanian, Kaslil menyebutkan bahwa sebagian besar tanaman bawang merah yang dibudidayakan oleh para petani di wilayah Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, telah mengalami serangan hama ulat yang cukup parah. Di beberapa tempat seperti Rawe dan Toweren, serangan hama ulat ini bahkan sudah merusak hampir 80 persen tanaman bawang petani. Menurut Kaslil, serangan hama ulat kali ini terjadi secara sporadis dan merata hampir di semua wilayah,

“Tidak seperti biasanya, serangan hama ulat kali ini luar biasa. Hanya dalam hitungan hari, ulat-ulat itu sudah merusak hampir 80 persen tanaman bawang milik petani. Sebelumnya tidak pernah terjadi seperti ini. Kami cukup kewalahan mengatasi masalah ini,” ungkap Kaslil saat ditemui di sela-sela kesibukannya memantau serangan hama ulat di daerah Toweren.

Gambar 2, Jenis Hama Ulat yang menyerang tanaman Bawang Merah petani di Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. (Doc. FMT)
Gambar 2, Jenis Hama Ulat yang menyerang tanaman Bawang Merah petani di Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. (Doc. FMT)

Penyuluh ini menengarai, serangan hama yang terbilang parah ini sebagai dampak dari perubahan iklim yang terjadi belakangan ini. Curah hujan yang masih cukup tinggi menyebabkan kelembapan tanah dan udara meningkat, dan inilah yang memicu berkembangnya hama dan penyakit tanaman, ungkap penyuluh yang selama ini juga eksis membudidayakan bawang merah ini.

Langkah Antisipasi

Menindaklanjuti laporan dari penyuluh tersebut, Kadistan, Rahmandi segera memerintahkan Kabid Hortikultura dan Koordinator Pengamat Hama dan penyakit Tanaman untuk memantau langsung kondisi di lapangan dan mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menyelamatkan tanaman.

Koordinator Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman, Sulaiman, SP yang turun langsung untuk melihat dampak dari serangan hama ulat tersebut juga merasa terkejut karena serangan hama seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Kalaupun ada serangan hama, tapi tidak separah yang terjadi saat ini.

Kepada petani, Sulaiman menyarankan agar petani segera melakukan penyemprotan pada tanaman yang terkena serangan hama tersebut. Namun demikian, dia tetap menyarankan agar petani menggunakan pestisida organik yang ramah lingkungan karena penggunaan perstisida kimia akan berdampak buruk bagi lingkungan dan bisa membuat hama justru menjadi kebal terhadap pestisida. Dalam kesempatan tersebut, Sulaiman juga menyerahkan beberapa botol pestisida organik bantuan dari Dinas Pertanian untuk membantu petani mengatasi serangan hama ulat ini.

Menurut Sulaiman, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Laboratorium Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Aceh di Keumala, Pidie untuk memberikan solusi bagi petani bawang di Kecamatan Lut Tawar ini. Begitu juga dengan para penyuluh yang ada di BPP Lut Tawar, mereka juga sudah melaporkan langsung via telepon ke Keumala. Menurut penuturan Kaslil, pihak laboratorium Keumala akan segera mengirimkan pestisida nabati kepada petani yang ada di daerah ini sebagai upaya penanggulangan serangan hama ulat yang sudah cukup parah ini.

Kiat mencegah meluasnya serangan hama

Sementara menunggu kiriman pestisida dari Keumala, Kaslil bersama petani membeberkan kiat yang sudah dia lakukan untuk mencegah serangan hama yang lebih luas:

  • Melakukan pemasangan light trap (perangkap lampu) supaya kupu-kupu terperangkap dan tidak sempat bertelur serta menghasilkan larva ulat baru.
  • Melakukan pemasangan feromon exi agar pejantan agar terperangkap dan tidak sempat melakukan pembuahan pada kupu-kupu betina.
  • Melakukan pemasangan perangkap likat kuning untuk menangkap kupu-kupu yang beterbangan di sekitar lahan pertanian agar tidak sempat berkembang biak.
  • Menyebarkan agens hayati berupa beuvaria basiana, basilus turngensis yang berfungsi sebagai pemangsa alami bagi ulat daun.
  • Mengaplikasikan pestisida nabati seperti pestona produk Nasa untuk penyemprotan pada tanaman yang terserang hama.
  • Melakukan penyemprotan menggunakan insektisida siklon 7,5 wg + larvin untuk membunuh Larva.
  • Jika jumlah serangan masih sedikit, daun yang terserang sebaiknya dipetik bersama ulatnya dan matikan ulatnya serta musnahkan sisa-sisa daun yang terserang hama.

“Kalau tidak segera dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan, maka tanaman bawang petani bisa terancam gagal panen total, karena serangan hama ini sudah mencakup wilayah yang cukup luas,” pungkas Kaslil.