Fathan Muhammad Taufiq
Fathan Muhammad Taufiq pegawai negeri sipil

Pengabdi petani di Dataran Tinggi Gayo, peminat bidang Pertanian, Ketahanan Pangan dan Agroklimatologi

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Kasihan Petani, Produksi Melimpah, Harga Cabai Terjun Bebas

19 April 2017   13:03 Diperbarui: 19 April 2017   22:50 1124 5 5
Kasihan Petani, Produksi Melimpah, Harga Cabai Terjun Bebas
Ilustrasi cabai(KOMPAS/Alif Ichwan)

Booming” harga cabai sekitar 3 bulan yang lalu telah membuat animo petani untuk menanam komoditas ini melonjak drastis. Prinsip “latah” dalam melakukan aktivitas usaha tani masih saja melekat pada diri petani, di mana harga komoditas melonjak, di situ petani ramai-ramai menanam komoditas tersebut. Kondisi seperti ini juga terjadi di Kabupaten Aceh Tengah. Harga cabai yang sangat fantastis beberapa waktu yang lalu, membuat para petani di Gayo juga seakan berlomba menanam komoditas “pedas” ini. 

Berdasarkan data statistik pertanian yang penulis peroleh dari Koordinator Sattistik Pertanian pada Dinas Pertanian, Adam Kamil, SP, dalam tiga bulan terakhir telah terjadi lonjakan tajam luas tanam cabai di Kabupaten Aceh Tengah. Kalau pada Desember 2016 yang lalu, luas tanam cabai di kabupaten ini hanya 140 hektar, sampai dengan akhir bulan Maret 2017 ini, luas tanam cabai melonjak drastis menjadi 307 hektar.

Akibatnya, ketika memasuki masa panen pada April ini, terjadi over product panen cabai di daerah ini. Kondisi tersebut langsung berdampak pada penurunan harga komoditas ini, bukan hanya turun harga, tapi langsung “terjun bebas”. Cabai merah yang pada Desember 2016 sampai Januari 2017 masih bertahan pada kisaran 40 sampai 50 ribu per kilogram di tingkat petani, kini merosot tajam menjadi hanya 5 ribu rupiah per kilogram. Sementara cabai rawit atau caplak yang semula bertengger pada level 50 sampai 60 ribu per kilogram, sekarang juga ikut terdevisiasi harga yang sangat tajam menjadi hanya 5 ribu per kilogram. Yang lebih parah tentu saja cabai hijau, tiga bulan lalu harganya masih bertahan pada kisaran 20 ribu rupiah per kilogramnya, sekarang di tingkat petani hanya dihargai seribu sampai dua ribu rupiah saja per kilogram, itu pun sangat sulit mencari pembeli.

Sebenarnya ini bukan hal yang aneh, karena sampai saat ini pasar tetap menganut hukum supply and demand. Ketika produk berkurang, sementara permintaan meningkat, secara otomatis harga akan melonjak. Begitu juga sebaliknya, ketika produk berlimpah tapi permintaan justru menurun, harga juga akan terkoreksi dengan sendirinya. Dan kondisi seperti inilah yang sedang terjadi pada petani cabai di Dataran Tinggi Gayo, meningkatnya luas tanam tanam akibat tergiur harga tinggi beberapa waktu yang lalu, menyebabkan produksi saat ini mengalami kelebihan sehingga tidak mampu tertampung oleh pasar. Tentu saja ini langsung berdampak pada anjloknya harga komoditas ini.

Simalakama bagi penyuluh pertanian

Melonjaknya luas tanam cabai yang berdampak terjadinya over product cabai, mulai dikeluhkan oleh para petani. Dengan harga jual seperti saat ini, para petani nyaris tidak mampu menutup modal atau biaya produksi yang sudah dikeluarkannya, karena untuk melakukan usaha tani cabai, modal yang dibutuhkan cukup besar, mulai dari biaya pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk dan obat-obatan serta mulsa, biaya perawatan sampai pengendalian hama dan penyakit tanaman membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tapi dengan kondisi harga seperti saat ini, jangankan berharap untung, untuk bisa kembali modal saja terasa sulit.

Kondisi seperti ini akhirnya menjadi beban psikologis bagi para penyuluh pertanian yang bertugas di daerah ini. Di satu sisi, mereka dituntut untuk membina petani agar dapat meningkatkan produksi, tapi di sisi lain penyuluh selalu mendengar keluhan petani ketika harga cabai merosot seperti sekarang ini. Sesuai tugas dan fungsinya, para penyuluh memang dituntut untuk membina petani agar mampu meningkatkan produktivitas usaha tani mereka, apalagi komoditas cabai juga merupakan komoditas prioritas dari pemerintah melalui Kementerian Pertanian. 

Seperti diketahui, sejak awal tahun 2016 yang lalu, Kementerian Pertanian telah meluncurkan program peningkatan swasembada pangan melalui upaya khusus peningkatan produksi padi, jagung, kedele, bawang merah, cabai, sapid an tebu (Upsus Pajale Babe Sate) di mana cabai merupakan salah satu dari 7 komoditas pertanian priroritas dalam program pemerintah tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh Ismail, SP, penyuluh pertanian yang bertugas di BPP Pegasing. Hampir setiap hari dia menerima keluhan petani yang mengeluhkan turunnya harga cabai, padahal saat ini sebagian dari lahan cabai mereka sedang memasuki masa panen. Ismail tidak mampu berbuat apa-apa karena masalah harga komoditas sampai dengan saat ini memang masih dikendalikan oleh pedagang.

“Hampir setiap hari, saya dan teman-teman penyuluh menerima keluhan petani, rata-rata mereka mengeluhkan harga cabai yang merosot drastis ini, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena harga memang ditentukan oleh pasar, sementara kami tidak punya kewenangan untuk mengintervensi pasar,” ungkap Ismail. “Dari segi produksi, kami telah berhasil memotivasi petani untuk meningkatkan produktivitas hasil cabai mereka, tapi ketika harga jatuh seperti saat ini, kami jadi serbasalah, kondisi saat ini kami seperti sedang makan buah simalakama,” lanjutnya.

Ungkapan serupa juga diungkapkan oleh Sadarmi, penyuluh yang juga Kepala BPP Celala. Kalau Ismail hanya menerima keluhan petani, Sadrami bahkan ikut merasakan dampak merosotnya harga cabai ini. Sambil melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani, Sadarmi juga ikut menanam cabai di lahan miliknya, nggak tanggung-tanggung, dia menanam cabai sekitar setengah hektar pada pertengahan Januari 2017 lalu. Tapi begitu memasuki masa panen pada pertengahan Maret lalu, harga cabai mulai turun secara drastis, bahkan sekarang semakin anjlok.

“Awalnya saya menanam cabai untuk memberikan contoh bagi petani binaan saya, tapi karena saya kurang meperhatikan aspek pasar, akhirnya saya ikut menderita kerugian seperti yang dirasakan oleh para petani,” ungkapnya.

Tapi Sadarmi punya cara sendiri agar hasil panen cabainya tidak mubazir, dia mempersilahkan tetangga, teman atau saudara-saudara yang membutuhkan cabai untuk kebutuhan dapur mereka untuk mengambil secara cuma-cuma di kebunnya,

“Daripada mubazir, ya lebih baik saya bagi-bagikan kepada tetangga, teman dan saudar-saudara saya. Kalau bapak mau, silakan datang ke kebun saya,” lanjut Sadarmi.

Tapi Sadarmi juga tidak menampik apa yang disampaikan oleh temannya, Ismail, kondisi saat ini memang menjadi simalakama baginya dan teman-teman penyuluh lainnya. Dia hanya bisa berharap, pihak-pihak terkait seperti Dinas Perdagangan, bisa memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan krusial yang sedang dihadapi oleh para petani. Meski demikian, dia juga tetap berfikir relistis, pasar komoditas hortikultura yang daya simpannya terbatas memang sangat rumit. Harga pasar saat ini bukan semata-mata ulah para pedagang pasar, tapi juga terkait dengan pihak luar, di mana sebagian besar produk pertanian kita memang mengandalkan pasar di luar daerah karena kalau hanya untuk lingkup lokal, tentu saja produk dari petani ini tidak akan mampu terserap oleh pasar.

Langkah antisipasif

Menyikapi anjloknya harga cabai, bukan hanya di Dataran Tinggi Gayo saja, tapi hampir merata di seluruh daerah di Indonesia, sebenarnya sejak beberapa waktu yang lalu pihak Kementerian Pertanian telah mengupayakan penyerapan cabai petani melalui kerja sama dengan pihak industri untuk mengantisipasi potensi turun atau anjloknya harga cabai menjelang musim panen.

"Kami akan melakukan kerja sama dengan pelaku usaha pengolahan sektor hortikultura sehingga cabai hasil petani dapat langsung diserap industri," kata Sekjen Kementerian Pertanian Hari Priyono, beberapa waktu yang lalu.

Sementara Dirjen Hortikultura Spudnik Sudjono mengatakan penyerapan cabai petani oleh pelaku usaha akan disokong oleh konsep kemitraan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Melalui kemitraan ini, Kementerian Pertanian berharap dapat terwujud agribisnis cabai yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Selain mengawal penyerapan cabai, Kementan juga akan mengusulkan penetapan harga pokok penjualan (HPP) cabai. Menurut Spudnik, kepastian harga penting agar petani tidak merugi. Spudnik menjelaskan penentuan HPP cabai menjadi krusial dengan potensi kelebihan produksi pada saat musim panen. HPP cabai diharapkan dapat melindungi petani dari kemungkinan harga anjlok.

"HPP wajar secara nasional Rp17 ribu sesuai dengan Permendag No. 63 yang merupakan harga dasar cabai. Kami akan memperjuangkan pada saat rapat dengan Kementerian Perdagangan tentang harus adanya HPP Cabai, kepastian harga penting sehingga petani tidak merugi," ungkapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin mengusulkan pemerintah untuk menetapkan batas harga pembelian cabai di tingkat petani.

"Saat panen raya, cabai harus dibeli oleh Bulog atau siapa saja ditunjuk oleh pemerintah dengan harga yang menguntungkan petani sehingga mereka tetap semangat menjadi petani," ujar Akmal.

Apa pun yang telah dan akan dilakukan pemerintah melalui Kementerian Pertanian maupun DPR RI, sepertinya para petani cabai di Gayo hanya bisa bersabar menunggu kepastian tentang prospek pemasaran produk yang telah mereka hasilkan.

Salah satu langkah bijak untuk mengatasi over product komoditas cabai yang berdampak pada anjloknya harga cabai adalah dengan pengaturan jadwal tanam atau pola tanam bergilir, di mana luas tanam dibatasi setiap bulannya sehingga kontinuitas produksi tetap terjaga, tetapi tidak sampai terjadi “ledakan” produksi. Seperti yang telah dilakukan oleh petani bawang merah di daerah Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat atau petani kentang di daerah Berastagi, Sumatera Utara. Hanya yang jadi pertanyaan, sudah siapkan petani kita untuk menerima aturan demikian? Karena prinsip “unung-unung” alias latah, sampai saat ini masih belum bisa dihilangkan dari pola pikir sebagian petani kita.