Humaniora

Juru Komentator

15 Juli 2017   18:42 Diperbarui: 15 Juli 2017   18:45 73 0 0

Siapa yang tidak tahu dengan media sosial. Alat yang kini semakin berkembang maknanya dari sekedar untuk bersosialisasi, kini lebih berkembang. Contoh kecil saja media sosial sudah mampu menyediakan apa yang kita butuhkan dari media media sosial yang menjual segala hal kebutuhan pokok hingga primer semua bisa kita cari. 

Akan tetapi perkembangan media sosial tidak diimbangi dengan perkembangan pemikiran pula, hemat saya media sosial terkadang membuat kita semakin menyempitkan pola pikir. Apa yang telah terjadi belakangan dari persoalan-persoalan sosial, ekonomi, hingga politik yang kemudian disajikan oleh beberapa media sosial online seperti Line dan lain sebagainya saya sedikit agak kurang begitu respect dengan mereka yang memiliki komentar-komentar yang menurut saya lebih dari sekedar perdebatan kusir. 

Terlebih persoalan-persoalan bangsa saat ini semakin kompleks dan membutuhkan generasi muda yang memiliki pemikiran yang radikal, contoh saja saat Soekarno berdebat soal dasar negara dengan Natsir kala itu, Soekarno yang lebih memilih Pancasila sebagai dasar negara ketimbang Ideologi Islam dan kemudian sebaliknya Natsir saat itu ingin Islam sebagai dasar negara. 

Cacian, hinaan, kata-kata kasar hingga bullying malah lebih sering kita temui. Rasa pesimis muncul ketika saya melihat seorang Mahasiswa atau kaum terdidik hadir memberikan komentar-komentar yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi kesehariannya yakni yang memiliki dasar akademik ketika menyampaikan suatu pendapat. seperti mengutip apa kata tan "apabila seorang yang hidup dengan pikiran yang harus disebarkan, baik dengan pena maupun dengan mulut, perlulah pustaka yang cukup: