HEADLINE HIGHLIGHT

Perempuan dan Social Entrepreneurship

31 Mei 2012 01:10:43 Dibaca :
Perempuan dan Social Entrepreneurship
Pelatihan di setiap minggu, tanpa meninggalkan anak-anak (dok. Maria Hardayanto)

Berbeda dengan pria, perempuan mempunyai kebebasan memilih. Pilihan untuk bekerja atau tidak”. Pendapat Umar Kayam (1932-2002) tersebut ada benarnya. Khususnya untuk kelompok perempuan yang memiliki skill sehingga dia bisa memilih bekerja tanpa meninggalkan tugas utamanya mendidik anak dan mengurus rumah tangga. Tetapi bagaimana halnya dengan perempuan non skill yang ingin bekerja?

Jenis pekerjaan yang tersedia umumnya menyita waktu karena harus “menjual tenaga” , misalnya: pembantu rumah tangga, penjaga toko dan buruh pabrik. Pekerjaan yang riskan karena dia harus meninggalkan anak-anaknya minimal 8 jam per harinya. Sungguh dilematis. Memilih bekerja? ….. aduh harus meninggalkan anak yang terkadang masih balita. Memilih tidak bekerja? ……. Mmm ingin mendapat penghasilan walau sedikit. Selain itu dengan pergi bekerja bukankah seorang perempuan berkesempatan mengaktualisasi diri?

Mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki ikatan kekerabatan yang kental, maka social entrepreneurship atau kewirausahaan social berbasis komunitas adalah salah satu solusinya. Khususnya masyarakat yang tinggal di pemukiman padat yang masih menomorsatukan silaturahmi,  bukan masyarakat urban yang telah terkontaminasi  individualisme. Ciri-cirinya sangat mudah, biasanya ibu-ibu ini saling membantu. Mereka tidak sungkan berlari ke rumah tetangga untuk “meminjam” sedikit terasi karena kehabisan ketika sedang membuat sambal. ^_^

Kewirausahaan sosial tidak sekedar berwirausaha tetapi juga bertujuan mengatasi permasalahan yang terjadi di komunitas. Sebagai contoh: komunitas Engkang-Engkang dan komunitas @sukakamulyaindah mempunyai permasalahan lingkungan yang buruk karena berada di kawasan padat penduduk. Tidak hanya sampah yang tidak terkelola dengan baik, tetapi juga anak-anak yang hobby jajan. Seorang anak berusia 3 tahun sanggup menghabiskan uang jajan Rp 15.000/hari. Padahal seperti kita ketahui, jajanan warung selain tidak menyehatkan juga diragukan bahan bakunya. Karena banyak sekali produk jajanan bajakan merk ternama.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut kedua komunitas berpegang pada konsep lingkaran hijau komunitas dimana setiap kegiatan saling terkait untuk menjamin keberlanjutan program sekaligus memberikan profit materi dan non materi bagi anggotanya.

Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan setiap minggunya menyangkut latihan membuat:

  • Reusable bag (tas pakai ulang) terbuat dari plastik kemasan dan kain perca. Selain berguna untuk membawa hasil kerajinan, reusable bag juga dijual di pameran-pameran yang diikuti komunitas.
  • Pangan non beras. Pernah melihat iklan Tukul yang berjagon ”Sudah Ganti Makanmu, Asyik Ragam Rasaku”? Sebetulnya dua komunitas ini sudah membuat dan menjual hasil pangan non beras. Baik sebagai pengganti nasi maupun sebagai camilan. Karena ibu-ibu memang terbiasa memasak sehingga piawai mengkreasikan makanan. Tidak berlebihan kiranya pernyataan bahwa di tangan para ibulah “nasib” anak bangsa. Sehebat apa anak-anak dilahirkan akan sangat bergantung baik/buruknya asupan nutrisi sang ibu dan anak balita mereka.
  • Urban farming, selain berguna untuk konsumsi makanan sehat sehari-hari. Hasil urban farming juga dimanfaatkan untuk bahan baku pangan non beras. Ada juga yang menjualnya di warung karena kebetulan anggota komunitas tersebut mempunyai warung yang menjual kebutuhan sehari-hari termasuk sayur-sayuran.
  • Komposting. Sampah dapur dikompos dalam kotak takakura sedangkan sampah sisa urban farming dikompos dalam komposter komunal. Kotak takakura dijual pada mereka yang enggan membuatnya. Hasil composting selain bermanfaat bagi urban farming juga berguna untuk media terrarium. Terrarium dijual sebagai cendera mata.
  • Kerajinan. Hasil pemilahan berupa bekas kemasan plastik dibersihkan,  dilipat dan dikreasikan menjadi beragam produk kerajinan seperti tas, dompet, tempat tissue dan tikar.

Setiap anggota harus mengikuti semua pelatihan agar memahami proses dan kegunaan setiap kegiatan untuk kemudian bisa menentukan pilihan. Manfaat pertemuan yang diadakan setiap minggu selain untuk memperkuat silaturahmi juga sangat berguna untuk mengetahui kemajuan setiap anggota dan kegiatannya.

Setiap kasus dibuka bersama, dipelajari untuk diperoleh solusinya. Sebagai contoh adalah Tari, ibu seorang anak berumur 10 tahun. Sebelumnya dia adalah pegawai toko kue dan coklat. Terpaksa berhenti bekerja karena beberapa kali keguguran. Kemudian tertarik bergabung dengan komunitas dan menetapkan pilihan untuk membuat dan menjual kue.

Prosesnya dimulai dengan berlatih bersama anggota lainnya, kemudian berlatih sendiri membuat kue bagi Posyandu dan pengajian. Hingga akhirnya Tari berani memasarkan ke warung-warung dan koperasi kecamatan, mumpung warga sedang berduyun-duyun membuat e-KTP.

Modal awal peralatan yang dimiliki Tari hanyalah mikser. Karena itu dia mendapat pinjaman timbangan, loyang, kukusan dan kotak kue dari anggota komunitas lain yang menekuni bidang berbeda. Hal ihwal kotak kuepun muncul pada waktu pertemuan. Tari mengeluh kuenya keras dan tidak laku. Penyebabnya ternyata kue buatan Tari di simpan dalam kardus kue sehingga kue menjadi keras, biaya meningkat karena Tari harus membeli kardus tiap hari dan memproduksi sampah! Solusi diketemukan karena adanya pertemuan komunitas, tanpa itu Tari pastilah masih termangu-mangu bingung sendirian mendapatinya kuenya tidak laku.

Modal yang dipinjamkan pada Tari hanya senilai pembelian bahan baku satu adonan kue brownies ganyong dan satu adonan bolu kukus ubi. Bagaimana hasilnya? Lumayan. Terkadang hasil jerih payahnya ludes terjual, terkadang hanya laku separuhnya. Tetapi kegagalan merupakan pelajaran tersendiri untuk menambah jam terbangnya. Karena ketika mendapat banyak pesanan selain harus piawai membuat kue yang enak, Tari juga harus mahir mengatur waktu. Agar urusan rumah tangga beres, pemesan kue puas.

Sejauh ini Tari memang baru mendapat penghasilan dari penjualan ke warung-warung, acara di kecamatan serta pengajian dan arisan. Sekitar Rp 5.000-Rp 10.000 perhari atau Rp 250.000per bulan. Tetapi ada manfaat lain yang dirasakan Tari. Pola makan anaknya berubah lebih sehat karena tiap hari mencicipi kue ibunya .

Tari dan anggota komunitas lain yang membuat dan menitipkan kue ke warung sebetulnya berkontribusi menyehatkan pola makan anak-anak di komunitas tersebut. Mereka tertarik pada kue brownies bertabur muisjes, bolu kukus berbecak ungu sehingga urung membeli jajanan “tak jelas” dan “tak sehat”. Kue berbahan baku karbohidrat kompleks juga mengenyangkan dalam waktu yang relative lama dibanding karbohidrat sederhana sehingga anak-anak yang teradiksi jajan mengalihkan perhatiannya pada mainan.

Kelebihan konsep lingkaran hijau komunitas yang diadopsi komunitas adalah “nyambung” dengan program pemerintah. Karena pada dasarnya program pemerintah sangat bagus sebagai contoh 10 program PKK, tetapi karena komunitas-komunitas seperti ini belum terbentuk , pemerintah sulit mengimplementasikannya.

Ibu-ibu komunitas @sukamulyaindah sudah merasakan manisnya memperoleh penghasilan lumayan besar ketika mendapat pesanan dari pihak pemerintah kota Bandung sehubungan  dengan ketahanan pangan. Mereka menyajikan tumpeng non beras dan lauk pauknya. Tumpeng yang biasanya berbahan nasi beras diganti singkong . Perkedelpun terbuat dari singkong . Semuanya hasil urban farming termasuk daun kangkung dan kacang panjang yang diolah menjadi urap. Lauk pauk lainnya? Ayam rendang, balado telur, kering tempe dan kentang serta oseng cabe ikan asin. Hmmm………. Maknyus!!

Sedangkan makanan camilan dalam kardus kue juga berbahan non beras seperti brownies ganyong, combro, pie strawberry dan bolu kukus ubi.

Berapa hasil penjualan yang diterima ibu-ibu tersebut? Hasil penjualan berdasarkan pesanan seperti itu walau jarang tetapi lumayan. Dikerjakan bersama dan hasilnya dibagi rata. Misalnya ada pesanan 8 loyang brownies maka pengerjaan dilakukan oleh 2 orang. 1 adonan menghasilkan 4 loyang atau 48 iris. Biaya pembuatan 1 loyang kurang lebih Rp 30.000. Setiap irisnya dijual Rp 1.250 maka penghasilan per orang (2 x Rp 48 x Rp 1.250)- (2x Rp 30.000) = Rp 60.000. Lumayan bukan, karena itu baru hitungan 1 jenis kue.

Tidak hanya pangan non beras. Kegiatan urban farmingpun mendatangkan keuntungan materi dan non materi. Sang ibu bisa ber- urban farming di sore hari sambil menunggu suami dan anak-anak pulang. Hasil urban farming merupakan asupan gizi yang cukup dan sehat bagi keluarganya. Karena media tanam berasal dari kompos rumah tangga dan non-pestisida. Daun kangkung dan pak choy bolong-bolong tidak menjadi masalah, toh untuk konsumsi sendiri atau dijual di warung. Pembelipun teredukasi bahkan bisa membedakan sayuran hasil urban farming dengan sayuran dipasar. “Lebih renyah dan tidak mudah busuk”, katanya.

Yang paling fleksibel adalah waktu pembuatan kerajinan. Bisa dilakukan sambil menunggu anak di sekolah, sambil mengobrol dengan tetangga atau seperti yang dilakukan ibu Odang, spesialis pembuat kerajinan plastik dan kain dari komunitas Engkang-Engkang yaitu sambil menonton televisi. Maklum anak-anaknya sudah dewasa dan bekerja.

Berapa penghasilan pembuat kerajinan? Tidak bisa dipastikan karena kerajinan bukan kebutuhan primer. Tetapi yang membanggakan hasil karya mereka sudah “diekspor” ke luar negeri. Penyebabnya sederhana, penulis menitipkan hasil kerajinan mereka ke toko buku “Reading Light” di jalan Siliwangi, tempat ekspatriat kota Bandung menikmati buku dan menghargai hasil karya kreativitas anak bangsa Indonesia dan membelinya.

Pada bulan April 2012 silam, rombongan Dineke Stam dan sisters dari Belanda datang untuk mengunjungi makam ibu Dewi Sartika , mengundang ibu-ibu anggota komunitas dan memborong hasil kerajinannya. Sehingga “ekspor”lah kita ke Belanda ……. Yuhuuu ^_^

**Maria Hardayanto**

13384039041389847422
Ekspor ke Belanda ^_^ (dok. Maria Hardayanto)

1338404605294834827
Beragam pangan non beras, bisa kan? (dok. Maria Hardayanto)
sumber :

  • Komunitas Engkang-Engkang, Kelurahan Cigadung Kecamatan Cibeunying Kaler Kota Bandung (warga bantaran sungai Cidurian)
  • Komunitas Sukamulya, Kelurahan Sukagalih Kecamatan Sukajadi Kota Bandung
  • Yayasan Perempuan Kaisa Indonesia

Maria G Soemitro

/mariahardayanto

TERVERIFIKASI (BIRU)

"Jika kita bukan bagian dari solusi, maka kita adalah bagian dari masalah" -Eldridge Cleve-
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPAS WOMEN FIESTA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?