Maria G Soemitro
Maria G Soemitro Social worker

"Jika kita bukan bagian dari solusi, maka kita adalah bagian dari masalah" -Eldridge Cleve- http://www.kaisaindonesia.org/

Selanjutnya

Tutup

featured

Ada Apa dengan Earth Hour 60+?

30 September 2015   01:18 Diperbarui: 26 Maret 2017   00:00 556 4 1
Ada Apa dengan Earth Hour 60+?
1364533950983220963

[caption id="attachment_251798" align="aligncenter" width="719" caption="dok. Earth Hour Indonesia"][/caption]

Yah, ada apa dengan Earth Hour 60+ ? Mengapa penyelenggaraanya akhir-akhir ini seolah dihujat? Tahun 2012, beberapa tulisan di Kompasiana mempertanyakan penggunaan lilin, mengritik acara yang ditampilkan hingga memrotes sampah yang timbul. Walaupun sebetulnya panitia sudah mengajak peserta meminimalisir sampah, tapi bukan perkara mudah mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan berganti menjadi peduli zero waste event.

Penyelenggaraan Earth Hour 60+ , yaitu memadamkankan lampu sejak pukul 20.30 hingga pukul 21.30 pada tanggal 23 Maret 2013 dianggap gagal. Biang kerok tertuduh adalah karena bersamaan waktunya dengan penyelenggaraan pertandingan sepak bola, Timnas vs Arab Saudi. Padahal apa hubungannya menonton pertunjukkan televisi dengan memadamkan sebuah lampu? Hanya sebuah lampu. Bukan seluruh lampu di rumah tersebut. Bisa memilih lampu taman selama sejam, atau lampu teras atau lampu ruang makan yang biasanya terang benderang semalaman. Mudah bukan? Hanya soal pilihan, peduli atau tidak.

Jadi mengapa dianggap gagal? Banyak penyebabnya, beberapa diantaranya adalah:

  • Salah kaprah. Dalam salah satu berita, tertulis bahwa beberapa jalan tidak dipadamkan pada saat Earth Hour. Waduh, jika lampu jalan-jalan dipadamkan bukankah akan menyulitkan pengguna jalan? Tidak mungkin berharap semua sehat dan duduk manis dirumah seraya memadamkan lampu selama satu jam. Ada banyak aktivitas yang harus berlangsung tanpa terganggu karena peduli terhadap event Earth Hour 60+. Alih-alih mengajak peduli hemat energy, event Earth Hour 60+ akan dihujat karena mobilitas pengguna jalan terganggu.
  • Tidak ada gunanya. Banyak pakar energy yang justru menentang Earth Hour 60+ karena tidak berdampak positif selama inefisiensi masih terjadi, pencurian listrik dibiarkan, kantor-kantor pemerintah masih boros energy dan sekitar 34 % rakyat Indonesia masih dibiarkan dalam gulita. Padahal masalah manajemen energy (khususnya listrik) yang menjadi tanggung jawab  pemerintah jangan dibaurkan dengan kampanye hemat energy. Analoginya edukasi kejujuran pada anak-anak dan warga masyarakat tetap harus berjalan walau korupsi merajalela. Tidak mungkin kan kita membiarkan anak menyontek atau mencuri uang dengan dalih toh APBN juga bocor triliunan tanpa tindakan apapun?
  • Dianggap kebarat-baratan. Event Earth Hour memang diperkenalkan pada tahun 2007 oleh WWF yang mengajak 2,2 juta partisipan warga Australia memadamkankan lampu. Penggiat aktivitas lingkungan hidup Indonesia sebetulnya memiliki event sendiri yaitu World Silent Day atau hari Hari Hening Sedunia selama 4 jam yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Sayangnya World Silent Day yang baru dimulai tahun 2008 hanya terlihat geliatnya hingga tahun 2012. World Silent Day tahun 2013 benar-benar hening dan senyap hingga postingan pada websitenya tidak ada sama sekali. Sepi yang sesungguhnya.

Padahal seharusnya kita mau legowo dan membuka mata. Walaupun WWF pemrakarsa event ini, tapi dampak kegiatan ini untuk kepentingan bersama. Bukan untuk negara lain dan tujuan kegiatan Earth Hour 60+ sangat positif. Karenanya perlu diapresiasi ketika puluhan anak muda berusaha mensukseskan penyelenggaraan Earth Hour 60+ dari tahun ke tahun. Mereka mengisi dengan berbagai kegiatan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Sebagai contoh, komunitas Earth Hour Bandung bertekad menjaring 3.000 followers dan setiap penggiatnya berkaul, misalnya ada yang berjanji memakai baju panda sambil memunguti sampah di area Gedung Sate, membuat kue dari pangan lokal dan membagikannya, mengurangi sampah plastik, bersepeda dan yang terpenting mencabut stop kontak setelah tidak menggunakannya.  

[caption id="attachment_251756" align="aligncenter" width="576" caption="dok. Earth Hour Bandung"]

1364496375673959443
1364496375673959443
[/caption]

Mungkin terasa remeh bagi para pakar lingkungan hidup. Tapi kampanye bagi warga masyarakat terlebih anak-anak muda harus dilakukan dengan menyenangkan, apapun bentuknya. Terlebih sesudah menjaring begitu banyak followers, mereka komit mentweet cara-cara menghemat energy dan menyelenggarakan acara-acara yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan hidupnya.

[caption id="attachment_251795" align="aligncenter" width="716" caption="EH Bandung, 2.777 followers saling berbagi cara hemat energy"]

13645336791082921019
13645336791082921019
[/caption]

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan telah terjadi peningkatan temperature rata-rata sebesar 0,1 – 0,3 derajat Celcius pada setiap dekade yang diukur dari tahun 1950 – 2000. Peningkatan juga terekam pada permukaan air laut sebesar 1 – 3 mm setiap tahun.

IPCC memprediksi akan terjadi kenaikan sekitar 70 cm sampai tahun 2100. Sebagian penduduk Indonesia yang terkonsentrasi di kawasan pantai akan berhadapan langsung dengan naiknya permukaan laut ini. IPCC juga memprediksi akan adanya kenaikan temperature sebesar 4 – 8 derajat Celcius. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi mata pencaharian sebagian besar penduduk yang bergantung pada pertanian. Produksi beras diprediksi akan menurun hingga 50 % pada kurun waktu tersebut.

Mengerikan, krisis iklim menular ke krisis pangan dan krisis kesehatan. Bencana yang dapat menyebabkan kemusnahan.

Karena itu ketika komunitas Earth Hour membagikan berita :

“Secara nasional, penghematan listik selama 1 jam Earth Hour adalah 575MWjam atau setara dengan penghematan 200.000Liter BBM. Jika dilakukan setiap hari, kita bisa menghemat 173.000 barel Minyak Bumi. Ini Aksiku! Mana Aksimu?”

Seharusnya kita bersyukur, masih ada sekelompok warga masyarakat yang peduli dan terus menerus melakukan aksi penyelamatan bumi. Sekecil apapun bentuknya.

***Maria G. Soemitro***

 

 

catatan : penulis bukan anggota WWF, hanya pemerhati yang miris melihat minimnya dukungan. Bahkan pada saat gelaran EH60+ Bandung 2013 di Gedung Sate Bandung, berlangsung pula peringatan Bandung Lautan Api dengan menderum-derumkan berpuluh motor, mobil kuno yang tentu saja boros energy.

 

Sumber data :

Earth Hour Indonesia

Earth Hour Bandung

Goris Mustaqiem – British Council Climate Champion

Majalah Energy

http://www.worldsilentday.org/ 

[caption id="attachment_251796" align="aligncenter" width="504" caption="berbagi cara hemat energy (dok. Ardhyan Bharatayuddha Prasthanikaparwa )"]

13645338191121213901
13645338191121213901
[/caption]