HIGHLIGHT

Peristiwa Kekerasan Massa di Cekeusik Pandeglang Banten adalah Kasus Rekayasa

11 Februari 2011 08:05:59 Dibaca :
Peristiwa Kekerasan Massa di Cekeusik Pandeglang Banten adalah Kasus Rekayasa
Pancasila

“ Kekerasan terhadap warga Ahmadiyah yang berujung  dengan tewasnya tiga orang di Cekeusik Pandeglang Banten, Minggu (6/2)  adalah kasus yang di rekayasa   untuk kepentingan tertentu.  Banyak kejanggalan  yang menunjukan peristiwa  itu sebenarnya bisa dicegah tetapi seperti  sengaja dibiarkan meletup “.

Demikian berita head line Koran Kompas Jumat (11/2/2011) yang membuat kita terkejut, terkesima dan kemudian meneteskan air  mata.  Aksi kekerasan massa  yang mengatasnamakan  agama  dan telah  menimbulkan korban jiwa dan harta, sesungguhnya hanya sebuah rekayasa  ?.

Seirama dengan Koran Kompas, Media Indonesia pada hari yang sama  juga memberitakan bahwa aksi kekerasan massa mengatasnamakan agama  di Cekeusik Banten merupakan rekayasa belaka. Selanjutnya, masih  menurut Media Indonesia, tujuan rekayasa ini adalah untuk mengalihkan issu kebohongan yang dilontarkan tokoh lintas agama beberapa waktu yang lalu. Isu itu telah membuat gerah penguasa dan bisa  berkembang menjadi konflik vertikal, sehingga dicoba dialihkan menjadi konflik horizontal. Menyimak  pertanyaan – pertanyaan  anggota komisi VIII dalam  Rapat Kerja antara Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Agama RI dan Kapolri pada Rabu (9/2) malam, dengan agenda pembahasan mengenai  tindak kekerasan dan pelanggaran  kebebasan beragama dan berkeyakinan,   maka beberapa pertanyaan tersebut terarah kepada kecurigaan bahwa  tindak kekerasan terhadap warga Ahmadiyah di  Cekeusih adalah kasus yang direkayasa. Ada anggota Komisi VIII yang mempertanyakan sikap aparat keamanan yang terkesan membiarkan terjadinya aksi kekerasan massa di Cekeusik dan mempertanyakan bagaimana dalam waktu singkat orang membludak, padahal Cekeusik  adalah perkampungan yang sepi. Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menjurus kea rah kecurigaan dan  praduga .

Rekayasa kasus  untuk  pengalihan isu sungguh sangat menyakitkan, apalagi bagi warga yang menjadi korban.  Rekayasa kasus yang menyulut menguatnya sentimen SARA  adalah pilihan yang tidak bertanggungjawab karena dapat memudarkan  rasa kebangsaan dan merusak kesatuan dan persatuan bangsa. Konflik  berbau SARA  dapat menurunkan  nasionalisme di dalam masyarakat, apalagi dalam era globalisasi ini dimana nilai-nilai global hampir mengaburkan nilai-nilai ideologis bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pancasila. Pancasila  telah mengamanatkan  kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa semua warga negara harus saling menghormati  antar pemeluk agama dan harus menghormati antar umat beragama. Bila kasus kekerasan massa di Cekeusik benar merupakan   kasus yang direkayasa, hal ini  berarti merusak  nilai-nilai Pancasila untuk  menghindarkan   suatu situasi  yang tidak diinginkan.Betapa tragisnya !

Indonesia negara pluralistik yang  rawan konflik, oleh karena itu, penting menanamkan nilai-nilai Pancasila, jiwa sebangsa dan setanah air dan rasa persaudaraan, agar tercipta kekuatan dan kebersamaan di kalangan rakyat Indonesia. Penyebaran  dan pemasyarakatan wawasan kebangsaan dan  Pancasila perlu kembali dilakukan. Apalagi dalam kondisi kekinian, dimana masyarakat kita sedang mengalami disorientasi nilai.  terapung -apung dalam gelombang ketidakpastian hidup,  tercerabut dari akar budayanya dan gugup memasuki budaya globalisasi . Dalam kondisi ini,  nilai-nilai Pancasila harus kembali menjadi pegangan.

Sumber asli

Mardety Mardinsyah

/mardety

TERVERIFIKASI (HIJAU)

antara kursi dan hati nurani, antara modal dan moral ? haruskah memilih (Tenaga Ahli Anggota DPR RI)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?