Politik

Koalisi Gerindra-PKS di Jabar Terancam Pecah, Bagaimana di Daerah Lainnya?

13 September 2017   13:02 Diperbarui: 13 September 2017   13:10 291 3 2


Semenjak sukses mendudukkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI telah terbentuk persepsi di sebahagian masyarakat bahwa success story Gerindra -PKS ini akan menjalar kedaerah daerah lainnya.

Sebagaimana dimaklumi pilkada gelombang ketiga pada Juni 2018 akan digelar pada 171 daerah berupa provinsi,kabupaten dan kota. Para pengamat politik amatir memperkirakan di sejumlah daerah dimana koalisi Gerindra-PKS dapat mengusung sendiri calonnya maka satu pasangan calon akan mereka sepakati.

Karenanya sangat jarang terdengar wacana yang ingin menyatukan kekuatan PDIP dan Gerindra di suatu daerah. Malahan di berbagai daerah terdengar mengemukanya kembali kekuatan yang mendukung Aksi Aksi Bela Islam.

Sepertinya ada yang menghembuskan akan ada poros politik yang berbasis "pembela agama" yang akan berhadapan dengan partai pendukung "si penista agama".

Dalam pemahaman yang demikian serta berkaca pada pilgub DKI maka diperkirakan pola ini juga akan muncul pada pilkada nanti. Kalau koalisi Gerindra -PKS dan juga kemungkinan PAN berada pada sebuah koalisi yang padu maka pasangan pada pilkada akan didukung oleh massa Gerindra, massa PKS,massa PAN dan massa yang mendukung Aksi Aksi Bela Islam.

Secara pribadi, penulis melihat kalau polarisasi  seperti ini muncul tentu akan merugikan pertumbuhan demokrasi serta penguatan semangat kebangsaan di negeri ini.

Walaupun polarisasi yang demikian menimbulkan iklim yang kurang sehat tetapi bukan tidak mungkin wacana seperti ini tetap akan muncul.
Pada awalnya penulis juga beranggapan soliditas Gerindra-PKS akan terbina dan terpelihara dengan baik.

Tapi penulis mulai ragu dengan anggapan yang demikian setelah memperhatikan dinamika politik yang terjadi di Jawa Barat. Sebagaimana diketahui pada awalnya Gerindra -PKS sudah sepakat untuk memajukan pasangan Dedy Mizwar-Achmad Syaikhu pada pilgub Jabar nanti. Tetapi belakangan ini Gerindra kelihatannya tidak lagi akan mendukung pasangan tersebut.

Sebagaimana diberitakan Kompas.com ,12/9/2017,Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jawa Barat,Mulyadi mengatakan hingga saat ini koalisi yang terjalin antara pihaknya dengan PKS, belum menunjukkan progress yang signifikan. "Sampai hari ini belum ada progress yang menggembirakan baik yang terkait kandidat maupun terkait kerjasama dengan PKS sebagai partai yang berencana berkoalisi dengan Gerindra di Pilgub 2018" kata Mulyadi.

Selanjutnya Mulyadi juga mengemukakan komunikasi antara partai Gerindra dengan PKS tidak berjalan dengan baik. Kemudian Mulyadi menambahkan dalam waktu dekat ini pihaknya akan menemui Iwan Sulanjana, Ketua Partai Demokrat, Jawa Barat untuk kembali membahas kemungkinan kerjasama pada pilgub Jawa Barat.

Penulis tentu tidak dapat memahami secara persis apa penyebab koalisi kedua parpol tersebut terancam batal.Penulis juga tidak memperoleh informasi yang memadai tentang arti kalimat "komunikasi antara Gerindra dan PKS tidak berjalan dengan baik".

Tapi dari sikap Gerindra Jawa Barat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa koalisi Gerindra-PKS bukanlah harga mati. Masih bisa muncul berbagai varian lain yang berhubungan dengan kerjasama politik masing masing partai dengan partai lainnya.

Terlepas dari kemungkinan batalnya koalisi kedua partai itu di Jawa  Barat, secara umum kerjasama diantara partai yang sudah solid pun bisa terkendala pada pilkada oleh beberapa faktor antara lain,1). siapa yang akan diusung sebagai orang pertama dan orang kedua, 2). bagaimana skema pembiayaan operasional untuk memenangkan calon,3). bagaimana bentuk kerjasama sesudah kemenangan diraih.

Mengacu kepada kemungkinan gagalnya koalisi Gerindra -PKS di Jabar dan juga mencermati faktor faktor pengikat kerjasama seperti diungkapkan diatas maka bukan tidak mungkin di berbagai daerah kerjasama antara Gerindra-PKS juga tidak akan berjalan mulus.

Beranjak dengan pandangan yang demikian maka di berbagai daerah yang sekarang ini sedang menyiapkan pasangan calon untuk pilkada nanti menjadi terbuka peluang untuk menggaet Gerindra tanpa PKS atau juga menjalin komuniskasi dengan PKS tanpa Gerindra. Dengan demikian makin menarik untuk mencermati berbagai konfigurasi politik di daerah menjelang pilkada 2018.

Salam Demokrasi!