PILIHAN

IPB dalam Kemacetan Kampus Dramaga

10 April 2017 06:36:54 Diperbarui: 10 April 2017 06:51:04 Dibaca : 131 Komentar : 0 Nilai : 1 Durasi Baca :

Suasana Dramaga saat itu sangat sunyi, tidak ada kendaraan, sesekali dilewati truk pengangkut bambu yang beroperasi hingga jam 2 siang.” Pendapat Prof Dr Jojo Ontario dalam tulisan MutiaraRamadhani –IPB dan Situs Sejarahnya yang Berharga.

IPB (Institut Pertanian Bogor) adalah lembaga pendidikan ternama yang salah satu lokasi kampusnya berada di Dramaga Kabupaten Bogor. Sebagai lembaga pendidikan yang selalu menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, IPB selalu mendatangkan masyarakat luar Dramaga untuk menjadikannya civitas (Mahasiswa, Pegawai, Dosen) yang ikut berkontribusi memenuhi tanggung jawab Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tiga hal yang menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi diantaranya Pendidikan dan Pengajaran ;  Penelitian dan Pengembangan ; Pengabdian Masyarakat.

Tanggung jawab dalam Pendidikan dan Pengajaran telah senantiasa dilakukan IPB sejak tahun 1963, yaitu sejak IPB berdiri hingga hari ini telah banyak melahirkan Akademisi-akademisi. Juga tanggung jawab dalam Penelitian dan Pengembangan juga telah banyak dilakukan IPB yang merupakan hasil dari kegiatan Pendidikan dan Pengajaran. Penelitian dan Pengembangan yang dilakukan pun harus berhubungan dengan bagian ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat.

Salah satu metode dalam melaksanakan tanggung jawab Pengabdian Masyarakat yaitu menggunakan ilmu pengetahuan yang didapat untuk memecahkan permasalahan-permasahalan yang ada demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kesejahteraan pribadi terlebih untuk mengejar cita-cita materi.

Merujuk pada apa yang telah dilakukan IPB untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam Pengabdian Masyarakat, tak jarang kita melihat banyaknya mahasiswa yang keluar daerah Dramaga, serta banyaknya Pegawai juga Dosen yang membantu masyarakat luar Dramaga untuk semata-mata mengabdi pada masyarakat. Namun, IPB juga harusnya menjadikan Dramaga sebagai prioritas dalam pengabdiannya. Hal ini dikarenakan sekitar 20 % atau ± 20.000 dari 107.000 penduduk Dramaga (Badan Pusat Statistika 2014) merupakan civitas IPB (PPDIKTI 2014).

Aktivitas penduduk Dramaga yang semakin meningkat memberikan dampak kepadatan pada daerah Dramaga, termasuk kepadatan jalan raya yang ditandai dengan tidak terhindarkannya kemacetan jalan. Melihat masalah kemacetan yang timbul, harusnya IPB ikut serta dalam mengurangi kemacetan, bukan “menolak” keikut sertaannya dalam mengurangi kemacetan dengan menutup akses jalan dalam kampus untuk umum yang sebelumnya seringkali dijadikan alternatif jalan masyarakat sekitar untuk melintas dijalan Dramaga.

Penutupan akses jalan dalam kampus untuk umum yang dilakukan IPB merupakan pelanggaran Tri Dharma Perguruan Tinggi, karena seharusnya IPB ikut mengabdi dalam mengurangi masalah kemacetan Dramaga, bukan menambah masalah yang ada. Terlihat disaat civitas IPB pergi dan pulang terlebih adanya aktivitas “penting” (re; Penerimaan mahasiswa baru, Wisudaan, dll) dalam kampus IPB, civitas IPB tetap dapat menggunakan jalan umum bahkan jalan lain (re: jalan kecil pemukiman warga belakang kampus IPB) untuk menuju kampus IPB. Namun, masyarakat umum sendiri pun tidak diperkenankan menggunakan jalan dalam kampus.

“…lebih parah di pertigaan Bara itu, semenjak jalan kampus ditutup untuk umum, semakin macet. Orang dari arah Cibanteng kearah Bubulak harus melewati pertigaan Bara Dramaga tidak bisa lagi potong jalanlewat dalam kampus, begitu juga sebaliknya. Termasuk kita pun kalau mau ke Cibanteng harus melewati pertigaan Bara Dramaga, jadi menumpuk dech”.Pendapat Pak Rizky -Salah satu penduduk asli Dramaga.

Permasalahan kemacetan Dramaga seakan menimbulkan konflik antara masyarakat Dramaga dengan civitas IPB, hal ini terjadi karena ketidaknyamanan masyarakat yang timbul dari ketidakpedulian pihak IPB dalam masalah kemacetan Dramaga. Seperti kasus pernah terjadinya penutupan jalan kecil belakang kampus IPB oleh masyarakat pada September 2015. Bahkan, tidak jarang juga civitas IPB pun harus merasakan ketidaknyaman karena harus mengantri pemeriksaan identitas untuk dapat masuk kedalam kampus. Untuk itu pihak IPB harus mampu lebih mengambil peran dalam permasalahan kemacetan di Dramaga, bukan hanya "menyelamatkan" diri sendiri dari permasalahan bermama.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL regional

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana