Mama Totik
Mama Totik Wirausaha

Coffee - Books - Food - Movie - Music - Interior - Art - Special Parenting and #SayNoToMiras www.coffeloverstory.wordpress

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup highlight

Memahami Si Introvert

13 Mei 2016   16:11 Diperbarui: 22 Desember 2016   19:27 21960 46 38
Memahami Si Introvert
Ilustrasi - introvert menikmati aktivitas sendirian (Shutterstock)

Siang itu kebetulan taksi yang saya tumpangi lewat di dekat sekolah anak saya, jadi saya mampir sekalian jemput.

“Bagaimana tadi di sekolah?” pertanyaan pertama saya begitu dia masuk taksi.

“Baik-baik saja.”

“Ngobrol dengan teman nggak?”

“Yep.”

Percakapan rutin biasa. Cuma itu dan kami pun duduk diam sepanjang perjalanan menuju rumah. Dari sudut mata saya bisa melihat sopir taksi sesekali melirik ke arah kami. Mungkin dia heran kenapa kami sangat diam, ibu dan anak ini.

Tidak, kami tidak sedang bermain gadget. Anak saya asyik membaca majalah yang ada di taksi. Dan saya memilih asyik mengamati jalanan, tidak mau mengganggu dia.

Begitulah sekelumit apa yang biasa terjadi di kehidupan kami. Memiliki anak dan suami Introvert, sementara saya sendiri bisa dibilang setengah ekstrovert (hasil tes dulu diketahui 11% intovert) tidak terlalu mudah. Tetapi sebenarnya juga nggak sulit-sulit amat. Kami hanya harus mengetahui dan bertoleransi pada batas wilayah kepribadian kami. Saya memakai istilah batas wilayah karena kalimat menyesuaikan kepribadian atau saling mengerti dsb itu rasanya kok berlebihan.

Apa itu Intovert

Banyak orang mengartikan bahwa introvert adalah pemalu. Padahal sama sekali bukan. Pemalu adalah wujud kesulitan orang membawa diri berhadapan dengan dunia luar, baik itu orang baru ataupun lingkungan baru. Pemalu lebih cenderung ke perilaku. Memang banyak orang introvert adalah juga pemalu, namun tidak selalu.

“Pemalu? Tidak. Saya memang nggak punya hal untuk dibicarakan,” begitulah introvert.

Banyak orang introvert bisa menjadi pembicara yang sangat baik di depan ribuan orang seperti Richard Nixon misalnya, mantan presiden AS. Tapi selesai berorasi dia akan memilih langsung pulang ke rumah meninggalkan after party

Ada juga introvert yang bisa berorasi sangat hebat di depan ratusan mahasiswa demonstran tetapi sehari-harinya menikmati baca buku sendirian di kamar kost. Banyak akto hebat intovert yang mampu memukau penonton tak hanya di layar lebar tapi juga di pertunjukan teater yang tersohor. Tapi sehari-hari? Diam menyendiri di rumah sambil bermain dengan kucing atau anjing peliharaan.

Apakah mereka pemalu? Pasti tidak. Karena butuh keberanian hebat untuk tampil bukan?

Jadi apa sebenarnya introvert ? Introvert secara sederhana bisa diartikan sebagai orientasi kepribadian, di mana seseorang memerlukan waktu untuk menyendiri demi memperoleh energi. Jadi kuncinya adalah sendiri dan energi.

Beda Ekstrovert dan Introvert

Keramaian memberikan energi bagi ekstrovert tapi menguras energi si introvert

Seorang berkepribadian ekstrovert akan sangat senang berada di tengah kerumunan orang banyak. Bertemu dan bisa berkumpul dengan orang banyak akan memberikan energi baru bagi dirinya. Hadir dalam pesta, menonton konser musik, berwisata berombongan, sungguh sangat menyenangkan bagi si ekstrovert.

Sementara bagi seorang introvert, bertemu dengan banyak orang itu seperti menguras energi, melelahkan, membosankan. Mereka tidak keberatan hadir di pesta, mereka bisa bersosialisasi juga dengan baik. Bukan seperti pemalu. Tapi seorang introvert tidak bisa tahan lama di pesta. Sementara ekstrovert makin lama di pesta akan makin bersemangat.

Illustrasi wajah Introvert & Ekstrovert Saat Ke pesta Sumber : www.quietrev.com
Illustrasi wajah Introvert & Ekstrovert Saat Ke pesta Sumber : www.quietrev.com

Ini salah satu contohnya. Beberapa tahun lalu, di sekolah anak saya sedang ada konser musik Sheila On 7. Waktu baru menunjukkan pukul 9 malam dan anak saya telepon minta dijemput. Heran saya, mana ada konser pukul 9 selesai. Biasanya jam segitu band-band pembuka baru selesai tampil. 

Ketika saya sampai di sekolah, saya melihat anak saya sedang duduk dengan wajah bosan duduk bertopang dagu di trotoar di depan sekolah. Sementara persis di balik pagar sekolah, dekat tempat dia duduk, ratusan penonton tampak sedang jingkrak-jingkrak kegirangan melihat Sheila On 7 yang baru saja mulai tampil dengan musik hingar-bingar. Saat itu justru sayalah yang tumbuh semangat untuk nonton.. .hahaha. Tapi apa boleh buat, kami tetap pulang. Dari raut muka anak saya terbaca jelas, “Cukup! Aku bosan!“

Sendiri itu menyedihkan ekstrovert, tapi membahagiakan introvert

Bagi seorang ekstrovert, sendiri itu identik dengan menyedihkan. Jika melihat seseorang duduk sendirian, mereka akan merasa iba lalu berusaha menyapa dan mengajak lebih aktif berbicara. Di dunia yang rata-rata dikuasai kaum ekstrovert, seseorang yang sendirian itu selalu dianggap kesepian. Ekstrovert tidak bisa memahami kenapa orang perlu waktu untuk menyendiri.

Sementara sebaliknya seorang introvert sangat memerlukan waktu untuk menyendiri. Apalagi setelah lama bersama dengan banyak orang. Sendiri bagi introvert itu sama halnya seperti tidur siang, istirahat atau makan sesuatu yang bergizi. Kesendirian bisa memberikan sumber energi baru bagi introvert.

Sama seperti anak saya. Setelah seharian berada di sekolah, yang menurutnya serba “bising, kacau, ribut”, dia pasti sangat lelah dan memerlukan waktu sendiri. Duduk diam sepanjang perjalanan tanpa diganggu pertanyaan berlebihan orangtua, itu sangat membantu. Bandingkan dengan anak ekstrovert yang begitu masuk mobil langsung ngomong terus tiada henti hingga sampai rumah.

Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman. Karena bermaksud baik dan ramah, seorang ekstrovert berusaha mengajak ngobrol si introvert. Padahal, bagi si introvert itu bentuk gangguan. Maka tak jarang orang introvert dicap sombong, angkuh atau kasar. “Sudah baik-baik diajak ngobrol malah cemberut, menyebalkan!” begitu kira-kira yang sering terjadi.

Saya sering berpikir bahwa hukuman pengasingan bagi musuh politik, memutus segala bentuk komunikasi dengan dunia luar, itu hanya cocok diberikan ke orang ekstrovert. Orang introvert mungkin malah makin sehat. Hahaha...

Small Talk vs Big Talk dan Kemampuan Bicara

Seorang ekstrovert bisa menciptakan berbagai topik obrolan ringan atau small talk, berpindah dari satu topik ke topik lain dengan mudah dan lancar. Bagi ekstrovert tidak ada kata kehabisan ide bicara ataupun memulai pembicaraan. Tinggalkan seorang ekstrovert sendirian, dan hanya dalam hitungan menit dia akan segera meraih ponsel untuk mengobrol dengan teman.

Berbeda dengan introvert. Seorang introvert tidak pintar untuk menciptakan ide percakapan. Mereka sangat pemilih. Bagi mereka, jika hal itu tidak terlalu penting, kenapa mesti dibicarakan. Apakah memang harus bicara, apakah memang bicara basa-basi itu penting. Bukankah diam itu juga bagus. Calvin Coolidge, mantan presiden AS ke-30, yang juga terkenal sebagai seorang introvert pernah berucap, "Don't you know that four fifths of all our troubles in this life would disappear if we would just sit down and keep still?" (Tahukah kamu jika 4/5 kesulitan hidup di dunia akan lenyap jika saja kita bisa duduk dan tetap diam?)

Pertama kali membaca kalimat itu saya tertawa ngakak, tersindir berat. Di rumah pun suami sering tiba-tiba bicara begini, ”Dik, bisa bantu saya?” Saya pun dengan senang hati menjawab, ”Ya, bantu apa?” “Tolong diam dulu.” Jleb! Nylekit sih, menyikapi dengan emosi akan percuma tapi ya... sudahlah, mereka memang perlu ketenangan. Kadang di rumah saat sedang makan bersama, saya memang  sering tiba-tiba menyadari, kok sepertinya yang terdengar hanya suara saya ya di udara? Hahaha... dua introvert yang lain sedang apakah?

Tapi apakah artinya seorang introvert tidak suka bicara? Tidak juga. Seperti tadi saya tulis, mereka pemilih. Ketidakpintaran mereka berkomunikasi lebih karena mereka memilih topik bicara. Mereka bisa bicara panjang lebar sangat lama untuk sebuah topik yang mereka minati, berdiskusi dengan sangat serius, Big Talk.

Anak saya bisa seharian tidak bicara di sekolah. Tapi saya pernah melihat sendiri, dia berbicara dengan guru-gurunya tanpa berhenti selama nyaris sejam lebih ketika si guru menyinggung topik kesukaannya, Dinosaurus. Ini kejadian saat dia di SD. Kebetulan guru-guru SD-nya memang sangat baik. Mereka pun dengan sabar mendengarkan ceramah anak saya.

Cara Berpikir & Berbicara

Seorang introvert memikirkan lebih dahulu apa yang akan mereka bicarakan, tetapi ekstrovert berpikir ketika berbicara.

Proses berpikir Introvert & Ekstrovert Sumber : www.quietrev.com
Proses berpikir Introvert & Ekstrovert Sumber : www.quietrev.com

Meeting dengan bos ekstrovert, Anda perlu waktu berjam-jam. Ide-ide dikembangkan saat itu juga ketika berbicara. Tidak peduli anak buah sudah gelisah karena banyak pekerjaan dikejar deadline, dia akan terus bicara dan bicara. Sementara bos introvert akan lebih efektif mengadakan meeting, karena semua sudah dia pikirkan dulu sebelumnya. Bos introvert akan lebih fokus dan disiplin dalam membahas topik.

Karena pola berpikir dan berbicara yang berbeda inilah maka orang introvert sering dicap lelet, ribet, tidak ekspresif seperti ekstrovert. Tapi sebenarnya di sinilah letak kelebihan introvert. Kata-kata yang dia ucapkan sudah melalui proses panjang di otak sehingga apa yang diucapkan menjadi lebih bisa dipercaya dan riil.

Lebih Suka Mendengar & Mengamati

Introvert lebih suka mendengar daripada bicara. Mereka adalah pendengar dan pengamat yang baik. Seorang teman SD yang sama sekali tidak populer tapi bisa mengingat dengan jelas apa pakaian yang sering kita pakai, kegemaran kita, makanan di kantin, bisa jadi dia adalah seorang introvert. Sementara, seorang ekstrovert bahkan nama guru pun sering kali tidak hafal.

Dunia Milik Ekstrovert

Di dunia politik misalnya, dunia yang memerlukan orang pandai berbicara, entah berisi atau tidak, orang ekstrovert akan lebih cepat populer. Sebetulnya bukan cuma dunia politik sih, secara umum memang orang sering dinilai hebat jika dia pandai bicara, lancar bicara.

Saya pernah punya dosen yang pandai sekali merangkai kata-kata saat memberikan kuliah meskipun sebenarnya tidak berisi, hanya pengulangan-pengulangan semata. Sangat membosankan. Saya juga punya dosen senior yang sangat pendiam tapi saat mengajar dia bisa menjelaskan dengan gamblang kepada kami hal-hal yang sulit. Dosen yang pandai bicara itu jadi menteri, sementara si dosen senior tetap saja jadi dosen biasa.

Nggak adil ya? Itulah kenyataannya. Jika ada orang bilang, “Jangan nilai buku dari covernya,” maka seharusnya ada juga, “Jangan nilai orang dari kepandaian dia bicara, tapi dari isi bicaranya.” 

Bagaimana dengan yang tidak pandai bicara dan juga tidak berisi bicaranya? Hahaha... ke laut aja itu sih. Guyon lho.

Intronet

Betulkah dunia hanya milik ekstrovert? Ya harus diakui bahwa dunia riil itu milik kaum ekstrovert. Meskipun di balik segala kesuksesan dunia ini ada begitu banyak kaum introvert bermain di belakang layar menyumbangkan segenap pemikirannya.

Jonathan Rauch, jurnalis introvert yang artikelnya Caring Your Introvert mendapat tanggapan luar biasa, menulis bahwa prosentase kaum introvert hanya sekitar 25%.

Tapi saat kini internet begitu merajai, segala hal bisa dilakukan tanpa tatap muka, orang-orang introvert bisa mulai menunjukkan segala kekuatannya. Kadang kita terperangah membaca segala tulisan cerdas justru datang dari orang yang di dunia nyata sangat tidak populer. Bukan itu saja, lukisan hebat, foto keren, video luar biasa bahkan musik keren sering datang dari orang yang di dunia nyata tidak akan pernah disadari kehadirannya.

Maka tidak berlebihan jika Jonathan menjuluki internet sebagai Intronet... atau jaringannya orang introvert. Jonathan mencontohkan karikatur anjing di belakang komputer sebagai contoh intronet. Hehehe...

Bagaimana Ciri Introvert

Bisakah kita mengetahui mana orang introvert dan ekstrovert? Menurut saya, berdasarkan pengalaman, penilaian tidak bisa dilakukan secara langsung. Kita harus bergaul lebih dahulu dengannya. Baru kita tahu. Akan tetapi ada ciri-ciri yang bisa dilihat.

Ciri Introvert

•Menginginkan ruang dan waktu privat

Sepulang sekolah anak Intovert akan segera masuk kamar, mengurung diri lama, baru kemudian keluar kembali dengan wajah segar.

•Bahagia saat sendirian, sebaliknya bisa merasa sangat kesepian di keramaian

•Tidak suka datang ke pesta, merasa lelah berada dalam grup besar

•Perlu waktu menyendiri untuk beristirahat

•Lebih suka bekerja sendiri daripada dalam grup

•Bersikap sangat cermat ketika bertemu orang

•Pendiam, tenang, dan berhati-hati

•Tidak suka menjadi pusat perhatian

•Tidak membicarakan hal-hal pribadi dengan orang lain

•Memiliki hubungan yang dalam jika sudah cocok dengan seseorang

Introvert mungkin tidak punya banyak teman atau malah tidak punya sama sekali karena mereka sulit membuka diri. Tapi jika mereka menemukan orang yang cocok, mereka akan berusaha sekuat tenaga agar hubungan itu bisa kuat dan bertahan lama.

•Memikirkan secara cermat apa yang hendak dikatakan

•Melihat refleksi sebagai hal penting.

Baginya, ekspresi orang saat diajak bicara misalnya, sangat diperhatikan. Itu sebabnya introvert juga sering dibilang sensitif. Sementara ekstrovert dianggap tidak peka.

•Memiliki konsentrasi bagus dan dalam

•Mudah menangkap ide dan pemikiran

•Bidang yang disukai terbatas tapi dieksplorasi secara dalam

•Bisa berkomunikasi dengan sangat baik satu lawan satu

•Bisa sangat gelisah dan kesal jika tidak punya waktu cukup untuk sendiri atau terganggu

Ada kan anak kecil yang selalu menyerang siapa pun yang mendekatinya tapi bisa bermain dengan sangat tenang dan senang bersama pengasuh atau sendirian. Bisa jadi anak tersebut termasuk introvert.

•Memilih segala kegiatan dengan teliti dan dipikirkan lebih dahulu

Mau hadir ke suatu acara saja orang Introvert akan tanya detail, siapa saja yg datang, siapa pembicara, topik apa, berapa jumlah undangan dan sebagainya. Sementara ekstrovert sudah sibuk dengan baju apa yang akan dia pakai agar bisa tampil maksimal.

Ciri  Ekstrovert

•Selalu memerlukan kehadiran orang lain, luwes dalam sosialisasi

•Selalu nampak penuh semangat dan berisik

•Selalu bisa berkomunikasi dengan penuh antusias terhadap siapa pun

•Suka pesta, makin berenergi jika bertemu banyak orang

•Sangat kesepian dan gelisah jika sendirian

•Bisa membina hubungan multiple

•Suka banyak beraktivitas dan punya ketertarikan pada banyak bidang

•Punya banyak teman dan sering menjalin komunikasi  

•Menyukai kegiatan yang bersifat pertunjukan dan tidak menyukai kegiatan dalam lingkup terbatas

•Lebih menyukai komunikasi langsung ketimbang tertulis

•Mudah berbagi informasi yang bersifat pribadi

Bisakah Introvert – Ekstrovert berpasangan?

Ada yang mengatakan bahwa pasangan introvert dan ekstrovert sebenarnya sangat cocok. Satu pihak pendengar, satu pihak pembicara. Tapi betulkah demikian? Menurut saya pribadi, bisa saja asalkan bukan ekstrovert 100%. Bukan saya bermaksud sok tahu. Tapi coba bayangkan bagaimana hidup bersama orang yang selalu ingin bicara, hangout, gaul, sementara pasangannya lebih menyukai ketenangan, suasanan hening.

Sementara buat seorang ekstrovert, akhir pekan yang hanya dihabiskan di dalam rumah, atau pergi ke luar kota tapi tempat yang sunyi, nyesek rasanya. Jadi memang sebaiknya introvert memilih mild ekstrovert... seperti saya hahaha.

Bagaimana harus bersikap kepada introvert?

Jika sudah membaca dari atas, Anda pasti sudah tahu apa jawabannya. Biarkan mereka merasakan kehadiran Anda. Tapi tidak usah bicara jika mereka tidak meminta. Kalimat yang sering dipakai anak saya, “Ibu temani saya. Tapi diam saja.”

Adakah hubungan introvert dengan Gifted ? Ada. Introvert mungkin minoritas di dunia nyata tapi mayoritas di dunia giftedness. Akan saya tulis lain waktu. Selamat membaca, semoga bermanfaat. 

-Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan rangkuman berbagai sumber-