Man Suparman
Man Suparman

Rakyat jelata. Email : mansuparman1959@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Mereka Tak Ingin Menjadi Buruh Tani Karena Tak Menjanjikan

17 April 2017   09:45 Diperbarui: 17 April 2017   09:58 178 6 3
Mereka Tak Ingin Menjadi Buruh Tani Karena Tak Menjanjikan
sumber: mansuparman-blogspot.com

Ketika musim menggarap sawah atau ketika musim memanen padi tiba, tidak sedikit adanya keluhan dari petani, yaitu kesulitan tenaga atau buruh tani, baik untuk memanen padi maupun menggarap sawah. Sekalipun ada ongkosnya sangat mahal.

Kondisi seperti itu, terjadi di daerah tempat tinggal penulis yang akhir-akhir ini banyak lahan sawah yang alih fungsi  alias disualp menjadi bangunan pabrik industri. Boleh jadi pula kondisi seperti ini banyak terjadi di daerah lain terutama di P. Jawa.

Banyak kaum muda di desa-desa yang enggan menjadi buruh tani dalam mencari nafkah. Mereka lebih senang bekerja merantau ke kota atau ke ibukota, misalnya menjadi kuli bangunan, menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) atau menjadi tenaga kerja wanita Indonesia (TKW) di luar negeri.

Tidak hanya itu, seiring dengan tumbuhnya industri, banyak juga kaum muda yang lebih senang bekerja di pabrik industry dari pada jadi buruh tani. Mereka tidak tertarik menjadi buruh tani, bahkan banyak pula yang tidak tertarik menjadi petani.

Akibatnya buruh tani dan jumlah petani pun dari waktu ke waktu mengalami penurunan.  Direktur Program Keadilan Ekonomi Oxfam Indonesia Dini Widiastusi memaparkan, dalam kurun 2003-2013 jumlah rumah tangga tani berkurang sebanyak lima juta.

Angka tersebut, berimplikasi pada keberlanjutan usaha sektor pertanian di Indonesia.Berkurangnya jumlah petani akan berimplikasi pada menurunnya ketersediaan produk pangan dalam negeri.Selain jumlah petani yang kian menurun, masalah lain yang kini dihadapi adalah usia dan produktivitas petani.

Dalam sensus pertanian 2013, struktur usia petani didominasi oleh petani tua dengan tingkat pendidikan rendah. Data tersebut menyebutkan, sebanyak 60,8 persen usia petani di atas 45 tahun dengan 73,97 persen berpendidikan setingkat SD dan akses terhadap teknologi rendah.


Data itu sejalan dengan hasil survei Struktur Ongkos Usaha Tani (SOUT) tanaman pangan pada 2011. Survei itu menyebut, sebagian besar petani tanaman pangan (96,45 persen) berusia 30 tahun ke atas. Hanya 3,35 persen saja yang berusia di bawah 30 tahun.

Hal yang mengejutkan lantaran tak ingin petani menjadi profesi turun temurun. Hasil kajian Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) pada 2016 menuliskan, 50 petani padi dan 73 persen petani holtikultura menyatakan tak ingin anaknya menjadi petani.

Nah, boleh jadi,  banyaknya kaum remaja atau yang semula dari keluarga petani menganggap menjaid buruh tani atau menjadi petani kurang menjanjikan dalam masa depan, sehingga mereka lebih suka menggeluti kegiatan usaha lain atau bekerja di sektor lain.

Jika hal itu, terus terjadi, bisa saja suatu  waktu kegiatan bertani dengan menggunakan tenaga manusia ditinggalkan dan beralih dengan menggunakan tenaga teknologi atau tenaga mesin. Sekarang pun sudah banyak petani kita menggunakan msin traktor, dan secara perlahan dan pasti, nanti memanen padi menggunakan mesin pemanen padi.

Sementara lahan sawah kian menyusut, karena alih fungsi menjadi bangunan pabrik, perumahan, dan pelbagai kegiatan usaha lainnya. Nantinya produksi beras mengalami penurunan, impor beras semakin meningkat. Harga beras semakin mahal, kecuali  beras miskin (raskin) atau beras sejahtra (rastra) yang bau busuk dan banyak kutuan, cocok untuk pakan burung merpati. Wallohu’alam.