Man Suparman
Man Suparman

Rakyat jelata. Email : mansuparman1959@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Menyoal Pesta Samen Kenaikan Kelas

7 April 2017   08:55 Diperbarui: 7 April 2017   09:07 231 2 3

Dalam memeriahkan pesta samen atau kenaikan kelas dan kelulusan,hampir di setiap sekolah dasar (SD), baik yang ada di perkotaan maupun pedesaan dilaksanakan berbagai hiburan, berupa atraksi yang ditampilkan oleh anak-anak. Sehingga berlangsung cukup semarak. Disambut dengan penuh antusias, terutama oleh para orang tua murid dan masyarakat desa yang haus hiburan.

________________

BEBERAPA orang anak asyik berjoget di atas panggung dengan iringan musik dangdut menyanyikan lagu Kucing Garong, diiringi musik organ tunggal. Anak-anak yang baru naik ke kelas III SD ini, meliuk-liuk dengan lincahnya berjoget dangdut. Bapak dan ibu guru, dan orang tua murid tersenyum senang melihat penampilan anak-anaknya.

Sedangkan di salah satu SD lainnya, seorang anak SD yang baru naik ke kelas II tampil di panggung menyanyikan lagu Jadikan Aku yang Kedua. Disusul kemudian secara bergiliran penampilan beberapa orang temannya yang menyanyikan lagu Teman Tapi Mesra (TTM), SMS dan Jablai.

Seusai anak-anak tampil. MC (yang juga bapak guru) pun dengan bangga mengumumkan, anak-anak yang baru saja tampil merupakan hasil pelatihan ibu guru, Euis. “Ibu-ibu, bapak-bapak, kita bangga, anak-anak kita, walaupun latihannya hanya satu minggu, Alhamdulillah sudah mampu menyanyikan lagu Goyang Dumai dan Jablai, serta berjoget dengan goyang itik,” ujar MC.

Anak-anak dan para orang tua murid yang berkerumun di sekitar panggung halaman gedung SD bersorak sorai dan bertepuk tangan, diiringi suitan para pemuda tanggung. MC pun mempersilahkan Ibu Guru Euis yang sejak acara pertunjukan dimulai sibuk ke sana ke mari mengatur anak-anak, dipersilahkan naik ke atas panggung. Ibu Euis manganggukan kepalanya ke kiri ke depan dan ke kanan, seraya melemparkan senyum. Sorak sorai dan tepuk tangan pun kembali bergemuruh.
 ****

Dalam setiap pesta samen dan kelulusan SD sudah menjadi tradisi sejak dulu hingga sekarang selalu dilaksanakan pesta samen dengan petunjukkan atau atraksi para murid untuk menampilkan kebolehannya di atas panggung. Namun antara dulu dan sekarang banyak perubahan dan perbedaan, boleh jadi karena perkembangan zaman yang sudah serba maju yang sering diebut sebagai zaman modern.

Kalau zaman dalu, dalam setiap pesta samen, penampilan atraksi anak-anak untuk menunjukkan kebolehan kepada orang tuanya dengan tarian-tarian tradisionil yang mengakar terhadap budaya bangsa, misalnya dengan nyanyian lagu-lagu daerah yang memiliki bobot pendidikan seperti tentang alam, lingkungan, atau berdeklamasi, pidato dan lainnya, dan menampilkan tarian-tarian Rampak Sekar, Tari Piring, Tari Saman, atau tarian-tarian daerah lainnya.

Tetapi sekarang dalam setiap pesta samen di SD, seiring dengan semakin pesatnya produksi musik di tanah air yang banyak dipulerkan oleh televisi-televisi swasta dan radio, banyak menampilkan atraksi atau hiburan lagu-lagu popular, baik pop Indonesia maupun dangdut dengan iringan musik dari organ tunggal. 

Lagu-lagunya pun lagu-lagu orang dewasa bertemakan cinta, merengek-rengek karena putus cinta, memuja-muja sang kekasih, kecewa karena perselingkuhan, sambil berjoget bergoyang dangdut yang cukup seronok, menggoyang-goyangkan pantat sebagaimana yang sering ditampilkan oleh para penyayi dewasa dalam tayangan-tayangan televisi seperti goyang ngebor, patah-patah, goyang ngecor, goyang dumang, goyang itik, dan lainnya, yang sangat tidak pantas dilakukan oleh anak-anak SD, namun selalu mendominasi dalam setiap pesta samen.

Trend atraksi atau hiburan seperti itu, kerapkali mengundang tanya, kenapa bapak dan ibu guru menampilkan murid-muridnya ke atas panggung dengan lagu-lagu dan tarian seperti itu, yang tidak patut dilakukan oleh anak-anak seusia SD yang banyak dipopulerkan melalui tayangan televisi. 

Alangkah bijaksananya, jika bapak dan ibu guru di sekolah dapat membendung nyanyian-nyanyian yang tidak pantas atau tidak patut  bagi anak-anak sekolah SD, apalagi ditampilkan dalam pesta samen. Sebaiknya hal itu, dihindari, sehingga pertumbuhan kejiwaan anak-anak dapat diproteksi dari pengaruh-pengaruh budaya yang kurang baik, yang tidak pantas menjadi konsumsi anak-anak SD. Bukan sebaliknya, menjejali murid-muridnya dengan nyayian atau joget seronok yang melahirkan kesan mendidik anak sejak dini dengan yang kurang baik.

Penampilan atau pertunjukan seperti itu, terkesan menunjukkan selera bapak ibu guru dijejalkan  kepada anak didiknya ditengah-tengah dunia anak-anak sekarang ini yang tengah dijejali banyak tontotan dan lagu-lagu yang tidak mendidik. Padahal banyak lagu atau nyanyian yang mendidik untuk ditampilkan alam pesta kenaikan kelas  atau pesta kelulusan SD. Misalnya lagu-lagu yang bertemakan pendidikan tentang lingkungan, tentang tema yang mengajak anak-anak rajin belajar seperti lagu-lagu ciptaan AT Machmud, Bu Kasur, Ibu Soed, Pranadjaya atau lagu-lagu daerah. 

Begitu juga banyak tarian daerah yang dapat ditampilkan oleh anak-anak SD. Sehingga pada jiwa-jiwa mereka akan tertanam dan tumbuh rasa cinta, rasa memiliki, dan dapat menguasai tarian-tarian daerah yang mengakar terhadap budaya bangsa sendiri sebagai salah satu upaya pendidikan untuk melestarikan budaya daerah atau budaya bangsa.

Sayang atraksi atraksi pentas yang memiliki muatan pendidikan seperti itu, mulai banyak ditinggalkan oleh bapak ibu guru kita. Bahkan celakanya dalam suatu pesta samen, ketika anak-anak selesai menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang disertai joget dangdut yang seronok, dilanjutkan oleh bapak – ibu guru, ramai-ramai naik ke panggung berjoget dangdut dengan lagu Jablai atau Goyang Dumang.

Boleh jadi kondisi ini terjadi, lantaran bapak ibu guru kita, lupa terhadap peran dan fungsinya serta lupa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik ketika menampilkan anak-anaknya dalam beratraksi di atas panggung pesta samen. Sehingga dengan tidak disadari telah meracuni anak-anak didik sendiri dengan hal-hal yang kurang baik. 

Untuk menyelamatkan anak-anak SD dari atraksi pertunjukan yang kurang mendidik, sudah saatnya pemerintah atau pihak-pihak terkait melakukan langkah-langkah konkrit. Misalnya saja, setiap kepala dinas pendidikan di daerah atau bupati, gubenur, mengeluarkan surat edaran, instruksi atau peraturan daerah,  guru dan kepala sekolah dasar dilarang menampilkan anak didiknya menyanyikan lagu-lagu orang dewasa dan joget dangdut yang seronok dalam setiap pesta samen. Setiap sekolah dasar diwajibkan dalam setiap pesta kenaikan kelas menampilkan pertunjukkan lagu-lagu yang mendidik dan tarian-tarian daerah.

Persoalan ini, sangat penting, untuk menyelamatkan generasi muda harapan bangsa sejak dini, agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang buruk sejak dini. Juga sekaligus untuk menanamakan rasa cinta rasa memiliki terhadap seni budaya bangsa sendiri. Sehingga ketika dewasa, mereka tidak menjadi generasi yang cengeng, seronok, dan tidak jadi generasi yang tidak mengenal jati diri budaya bangsanya sendiri yang sangat luhur.