PILIHAN

Kisah dari Sebuah Permulaan: Jangan Bilang Tidak Bisa, Semua Hanya Soal Waktu!

14 Mei 2017 12:15:46 Dibaca : 206 Komentar : 2 Nilai : 7 Durasi Baca :
Kisah dari Sebuah Permulaan: Jangan Bilang Tidak Bisa, Semua Hanya Soal Waktu!
Dok. Pribadi Kuliah dan Berkarya

“Apapun hidup kalian, pertahankan sekolah kalian. Raih setinggi-tingginya. Tentu raih dengan cara yang tidak keluar dari koridor. Sebab sudah banyak contoh yang meraih impian bukan karena usaha tapi justru karena cara-cara kotor lain.

Apapun hidup kalian, mulailah dengan menulis. Bukan hanya soal seorang penulis atau orang yang bekerja di media saja yang perlu menulis.

Jika kamu seorang dokter, ribuan nyawa membutuhkan tulisanmu untuk bisa terselamatkan nyawanya.  

Jika kamu seorang guru, ribuan anak bangsa membutuhkan tulisanmu untuk meneruskan ilmu dan perjuanganmu.

Jika kamu seorang buruh, ribuan orang membutuhkan tulisanmu untuk menjadi dasar perbaikan nasib buruh di negeri ini.

Jika kamu seorang ibu rumah tangga, ribuan orang membutuhkan tulisanmu untuk belajar menjadi ibu.

Apapun itu, tulislah untuk orang lain”


Hai saudara, di sini aku akan bagikan mengenai kisah masa kecilku sampai hari ini. Sekilas cerita mengenai hidupku ibarat batu yang terbuang itu sudah menjadi batu penjuru. Hidupku perlahan mengalami metamorfosis, dan kini menimbulkan adanya tarik-menarik dan menjadi poros banyak orang. Ibarat benda langit mengitari matahari karena adanya gaya gravitasi matahari, begitu lah hidupku. Siapa sangka kini melalui aku, banyak orang yang terinspirasi dan tercukupi.

Dahulu, mendengarnya saja setiap orang pasti enggan. Apalagi ingin merasakan. Pahit atau pun getir sudah kurasakan. Sekilas cerita, dahulu memang aku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tapi semua berubah seiring ayahku berhenti bekerja dari sebuah bank. Apa saja sudah aku terima. Bisa dibilang perubahan itu ibarat jatuh dari puncak gunung. Mobil, rumah, televisi, kulkas, mesin cuci, sepeda, magic com, dan bahkan barang-barang rongsokan pun ludes terjual. Hidup kami menjadi titik nol dan terendah. Dari segi mental pun setiap anggota keluargaku tidak ada yang kuat menerima hal ini. Banyak yang down dan stress.

Setelah lulus SMA, di sini lah hidupku mulai dibentuk. Menangis lihat teman lainnya sudah bisa kuliah dan aku hanya termenung karena tidak ada biaya. Karena desakan keluarga, alhasil akupun bekerja di pabrik. Berangkat pukul 04.00 WIB pagi buta, menempuh jarak 40 km, dan bekerja mulai pukul 05.00 WIB pagi. Hujan, gelap, kehabisan bensin, motor mogok, harus kualami. Beruntung masih ada motor untukku mengais rezeki. Pulang pukul 13.00 WIB siang, kalau lembur bisa sampai sore.

Setiap berangkat selalu menjerit ingin kuliah. Sambil meneteskan air mata, aku pun selalu berdoa pada Tuhan, agar dikabulkan keinginan kuliah. Setelah ada pengumuman pendaftaran kuliah, salah seorang temanku membantu proses pendaftaran kuliah beasiswa. Aku pun memutuskan diri untuk keluar kerja dan mempersiapkan perkuliahan. Tabungan dari hasil kerjaku untuk mendaftar bimbel menghadapi ujian dan mempersiapkan pendaftaran kuliah. Ujian pertama, kedua, gagal, sempat hancur dan putus asa. Akhirnya Tuhan memberi kesempatan pada ujian ketiga, dan aku dinyatakan lolos menjadi mahasiswa. Harus menunggu sekitar beberapa bulan kuliah, dengan uang hutang sana-sini, akhirnya dinyatakan lolos beasiswa selama 4 tahun kuliah gratis dan mendapat uang saku.

Di sini lah ada sebuah nafas baru yang menghidupkan aku. Ketika kuliah, aku banyak melihat teman-temanku banting tulang untuk membayar uang kuliah karena mereka tidak mendapat beasiswa. Tidak mendapat beasiswa karena memang tidak mau mengajukan atau karena memang tidak lolos. Alasannya beragam. Beberapa dari mereka bahkan ada yang tidak siap mental hidup di dunia kampus. Banyak yang mengaku-ngaku dari keluarga orangtua berada, padahal tidak. Alhasil malah kuliahnya carut-marut karena tertatih-tatih menuruti pergaulan anak kampus. Bahkan beberapa dari teman kuliahku ada yang rela “menjual harga diri”, demi uang semesteran dan memenuhi gaya hidup. Tapi hidup ini memang pilihan saudara, kamu mau pilih seperti apa itu bebas. Tapi siap-siap saja menerima resikonya.

Di sini lah kebangkitanku dimulai. Aku tidak lagi pusing bagaimana caranya membayar kuliah dan makan sehari-hari karena sudah dijamin dari negara. Uang saku memang mepet, terkadang kurang. Dan mulailah aku mencari ide untuk mendapat uang saku tambahan. Akhirnya temanku meminjamkan laptopnya dan memberiku saran untuk mulai menulis dan aktif di berbagai kompetisi.

Sekali kalah, dua kali kalah, tiga kali karyaku mulai memenangi lomba. Terhitung sejak semester tiga aku mulai menulis, hingga lulus, sekarang, terhitung sejak hari ini, 13 Mei 2017, perjuanganku dalam menulis sudah ada 140an sertifikat menulis, 30-an karya juara 3 besar di tingkat regional, nasional, dan internasional. Selain itu ketika kuliah dan sudah mulai menulis, aku berhasil mendapat honor dan bisa ku gunakan untuk keperluan tambahan ketika kuliah, membayar sekolah adik-adikku, dan membeli berbagai macam kebutuhan sekolah adik-adikku.

Dahulu handphoneku jadul, dan berhasil membeli yang baru. Selain itu aku juga berhasil memiliki laptop dari hasil hadiah lomba. Laptopnya canggih dan modern. Padahal dulu aku sering dibentak-bentak oleh kakaknya temanku yang meminjamiku laptop. Adik-adikku bisa memanfaatkan smartphone dan laptop dariku. Jadi kini adikku juga sudah tidak gaptek lagi. Bahkan karya-karya adikku pun banyak yang sudah menang dan banyak diterbitkan di berbagai media massa. Yang paling membahagiakan ialah saat karya-karyaku menginspirasi orang lain.

Dok Pribadi. Catatan di Suara Merdeka
Dok Pribadi. Catatan di Suara Merdeka

Setelah lulus kuliah, aku juga berhasil di terima kerja di berbagai media massa dan saat ini aku pun bekerja masih di media massa. Selain itu sertifikat tulisanku mengantarkanku untuk mendapat beasiswa S2 yang bisa digunakan di dalam negeri maupun luar negeri. Dari semenjak kuliah hingga saat ini aku sering dipanggil menjadi pembica dalam workshop menulis. Baru beberapa bulan lulus kuliah saja aku berhasil menutup semua biaya pendidikan adikku.

Dok. Pribadi Tropi Menulis
Dok. Pribadi Tropi Menulis

Awalnya aku memang merasa berat mengapa beban yang kupikul begitu banyak. Tapi aku terus berjuang bagi untuk kelanjutan hidup. Aku berhasil membebaskan diri dari lingkaran kemiskinan dan kebodohan. Di keluarga, akulah satu-satunya yang menjadi sarjana. Kedua adikku memiliki prinsip yang kuat untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi karena ingin meniru jejakku. Buat adik-adik kelasku, aku seringkali dijadikan narasumber dalam hal kepenulisan. Sedangkan di lingkungan rumah. Beberapa anak tetangga ada yang mau meneruskan ke pendidikan tinggi dengan beasiswa yang sama sepertiku karena banyak mendapatkan informasi mengenai kuliah dariku. Sebelumnya mungkin aku satu-satunya yang kuliah, karena memang tempat tinggalku cukup pedalaman.

Dahulu aku memutuskan kuliah saja aku dicaci maki oleh keluarga, saudara, dan tetangga. Tapi karena apa yang bisa aku perbuat ini, banyak orang yang menjadikanku sebagai seorang yang berharga. Walau harus peluh, keringat, dan getir mendapati banyaknya berbagai keterbatasan. Tapi akan terus melanjutkan perjuangan di masa yang akan datang. Biarlah banyak wanita-wanita yang mendapat pendidikan tinggi agar dapat mendidik anak-anaknya menjadi generasi bangsa yang unggul. Biarlah banyak orang yang menuliskan buah pemikirannya menjadi berbagai macam karya untuk menginspirasi orang lain.

Dok Pribadi. Penghargaan dari Bank Indonesia
Dok Pribadi. Penghargaan dari Bank Indonesia

Aku bersyukur atas berbagai macam kesulitanku di masa muda. Kini ketika mulai beranjak dewasa hidupku justru semakin berwarna. Banyak orang bilang manusia belajar dari pengalaman-pengalamannya. Hal inilah yang kemudian menguatkan aku. Saudara, bagi siapapun kamu yang mengalami hal-hal serupa atau pun sedang galau dengan hari esok. Percayalah justru dengan masalah, Tuhan akan menunjukkan pertolonganNya pada kamu. Biarlah ketika muda hidupmu banyak dicerca, selalu mencoba trial and error, tapi ketika tua segalanya telah matang untuk mendidik anak-anak kalian generasi bangsa. Biarlah banyak hambatan yang akan kamu jalani, sebab dari situ sikapmu, kekuatanmu, mentalmu diuji benar. Jadi nanti ketika sudah tua, bisa lebih bijaksana dalam menyikapi segala macam persoalan.

Malisa Ladini

/malisaladini

TERVERIFIKASI

Political Science, Semarang State University
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana