PILIHAN

Batu yang Terbuang Itu Sudah menjadi Batu Penjuru

21 April 2017 23:11:04 Diperbarui: 23 April 2017 20:56:58 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Batu yang Terbuang Itu Sudah menjadi Batu Penjuru
Dok. Pribadi Prestasi

Sekilas cerita mengenai hidupku ibarat batu yang terbuang itu sudah menjadi batu penjuru. Hidupku perlahan mengalami metamorfosis, dan kini menimbulkan adanya tarik-menarik dan menjadi poros banyak orang. Ibarat benda langit mengitari matahari karena adanya gaya gravitasi matahari, begitu lah hidupku. Siapa sangka kini melalui aku, banyak orang yang terinspirasi dan tercukupi.

Dahulu, mendengarnya saja setiap orang pasti enggan. Apalagi ingin merasakan. Pahit atau pun getir sudah kurasakan. Sekilas cerita, dahulu memang aku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tapi semua berubah seiring ayahku berhenti bekerja dari sebuah bank. Apa saja sudah aku terima. Bisa dibilang perubahan itu ibarat jatuh dari puncak gunung. Mobil, rumah, televisi, kulkas, mesin cuci, sepeda, magic com, dan bahkan barang-barang rongsokan pun ludes terjual. Hidup kami menjadi titik nol dan terendah. Dari segi mental pun setiap anggota keluargaku tidak ada yang kuat menerima hal ini. Banyak yang down dan stress.

Tapi hidup terus berjalan, ayahku menjadi seorang serabutan ban dan ibuku menjadi buruh pabrik. Penghasilan mereka tidak menentu. Hidup seadanya, jarang makan secara rutin, daging menjadi menu langka. Tidak ada shoping, tidak ada piknik, dan tidak ada baju baru ketika lebaran. Bisa makan saja sudah sangat bersyukur. Apalagi buat bayar sekolah, semua itu berat rasanya. Biaya sekolahku dan kakakku sampai SMA hasil dari beasiswa dan bantuan saudara.

Setelah lulus SMA, di sini lah hidupku mulai dibentuk. Menangis lihat teman lainnya sudah bisa kuliah dan aku hanya termenung karena tidak ada biaya. Karena desakan keluarga, alhasil akupun bekerja menjadi buruh pabrik. Berangkat pukul 04.00 WIB pagi buta, menempuh jarak 40 km, dan bekerja mulai pukul 05.00 WIB pagi. Hujan, gelap, kehabisan bensin, motor mogok, harus kualami. Beruntung masih ada motor untukku mengais rezeki. Pulang pukul 13.00 WIB siang, kalau lembur bisa sampai sore.

Setiap berangkat selalu menjerit ingin kuliah. Sambil meneteskan air mata, aku pun selalu berdoa pada Tuhan, agar dikabulkan keinginan kuliah. Setelah ada pengumuman pendaftaran kuliah, salah seorang temanku membantu proses pendaftaran kuliah beasiswa. Aku pun memutuskan diri untuk keluar kerja dan mempersiapkan perkuliahan. Tabungan dari hasil kerjaku untuk mendaftar bimbel menghadapi ujian dan mempersiapkan pendaftaran kuliah. Ujian pertama, kedua, gagal, sempat hancur dan putus asa. Akhirnya Tuhan memberi kesempatan pada ujian ketiga, dan aku dinyatakan lolos menjadi mahasiswa. Harus menunggu sekitar beberapa bulan kuliah, dengan uang hutang sana-sini, akhirnya dinyatakan lolos beasiswa selama 4 tahun kuliah gratis dan mendapat uang saku.

Di sini lah kebangkitanku dimulai. Aku tidak lagi pusing bagaimana caranya membayar kuliah dan makan sehari-hari karena sudah dijamin dari negara. Uang saku memang mepet, terkadang kurang. Dan mulailah aku mencari ide untuk mendapat uang saku tambahan. Akhirnya temanku meminjamkan laptopnya dan memberiku saran untuk mulai menulis dan aktif di berbagai kompetisi.

Sekali kalah, dua kali kalah, tiga kali karyaku mulai memenangi lomba. Terhitung sejak semester tiga aku mulai menulis, hingga lulus, sekarang, terhitung dari tanggal 21 April 2017 di hari Kartini ini, perjuanganku dalam menulis sudah ada 140an sertifikat menulis, 30-an karya juara 3 besar di tingkat regional, nasional, dan internasional. Selain itu ketika kuliah dan sudah mulai menulis, aku berhasil mendapat honor dan bisa ku gunakan untuk keperluan tambahan ketika kuliah, membayar sekolah adik-adikku, dan membeli berbagai macam kebutuhan sekolah adik-adikku.

Dok. Pribadi Karya
Dok. Pribadi Karya

Dahulu handphoneku jadul, dan berhasil membeli yang baru. Selain itu aku juga berhasil memiliki laptop dari hasil hadiah lomba. Laptopnya canggih dan modern. Padahal dulu aku sering dibentak-bentak oleh kakaknya temanku yang meminjamiku laptop. Adik-adikku bisa memanfaatkan smartphone dan laptop dariku. Jadi kini adikku juga sudah tidak gaptek lagi. Bahkan karya-karya adikku pun banyak yang sudah menang dan banyak diterbitkan di berbagai media massa.

“Kalau boleh jujur, ada mimpi yang mungkin belum terwujud saat ini. Ke depan kalau menang lomba pasti mau miliki smartphone yang satu ini. Namnya ialah smartphone Luna yang dirancang oleh negeri Gingseng, Korea Selatan. Harganya berkisar 4 jutaan, tapi desain, bentuk, dan fungsinya kalau yang seri Luna TG 800S ini setara dengan iPhone 6S Plus. Kalau saku punya smartphone Luna ini pasti aku bisa terus berkarya, bukan hanya menulis, tapi foto, dan video juga. Smartphone ini bisa membantu kegiatanku sehari-hari untuk menjadi grativikasi bagi keluargaku dan masyarakat luas melalui karyaku.

Luna Smartphone layarnya 5,5 inch sangat mengobati kerinduanku sebab saat ini smatphoneku hanya berlayar 4 inch, jadi kurang bebas kalau cari referensi karya. Terlebih RAMnya 3 GB sangat oke untukku yang sangat oke menggunakan berbagai macam aplikasi dalam mendukungku bekerja di media. Kemampuan kameranya juga oke banget karena kamera belakang 13 MP dan 8 MP, bisa berkualitas karya-karyaku kalau penelitian dan ikut kompetisi foto.  Kalau diberi kesempatan buat dapat rezeki yang lumayan lega, pasti ku beli dah smarphone Luna yang kece badai ini. Bersyukur banget sekarang sudah ada Luna Indonesia yang bisa memudahkan kita mendapatkan smarhphone yang oke banget ini sebagai penunjang pekerjaan”.

Setelah lulus kuliah, aku juga berhasil di terima kerja di berbagai media massa dan saat ini aku pun bekerja masih di dunia media. Selain itu sertifikat tulisanku mengantarkanku untuk mendapat beasiswa S2 yang bisa digunakan di dalam negeri maupun luar negeri. Dari semenjak kuliah hingga saat ini aku sering dipanggil menjadi pembicara dalam workshop menulis. Baru beberapa bulan lulus kuliah saja aku berhasil menutup semua biaya pendidikan adikku.

Awalnya aku memang merasa berat mengapa beban yang kupikul begitu banyak. Tapi aku terus berjuang bagi Kartini muda dan masa kini. Aku berhasil membebaskan diri dari lingkaran kemiskinan dan kebodohan. Di keluarga, akulah satu-satunya yang menjadi sarjana. Kedua adikku memiliki prinsip yang kuat untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi karena ingin meniru jejakku. Buat adik-adik kelasku, aku seringkali dijadikan narasumber dalam hal kepenulisan. Sedangkan di lingkungan rumah. Beberapa anak tetangga ada yang mau meneruskan ke pendidikan tinggi dengan beasiswa yang sama sepertiku karena banyak mendapatkan informasi mengenai kuliah dariku. Sebelumnya mungkin aku satu-satunya yang kuliah, karena memang tempat tinggalku cukup pedalaman.

Dahulu aku memutuskan kuliah saja aku dicaci maki oleh keluarga, saudara, dan tetangga. Tapi karena apa yang bisa aku perbuat ini, banyak orang yang menjadikanku sebagai seorang yang berharga. Walau harus peluh, keringat, dan getir mendapati banyaknya berbagai keterbatasan. Tapi akan terus melanjutkan perjuangan Kartini di masa kini, dan masa yang akan datang. Biarlah banyak wanita-wanita yang mendapat pendidikan tinggi agar dapat mendidik anak-anaknya menjadi generasi bangsa yang unggul. Biarlah banyak orang yang menuliskan buah pemikirannya seperti Kartini untuk memotivasi anak negeri.

radar-58fa2ee73fafbd7a03038d94.jpg
radar-58fa2ee73fafbd7a03038d94.jpg

Semoga bisa mengantongi Smarphone Luna di hari depan dan terus menggoreskan tinta yang tulus dariku untuk bangsa ini.

#BeGravity #SmartphoneLUNA

Malisa Ladini

/malisaladini

TERVERIFIKASI

Semarang State University, Political Science
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana