pilihan

Memahami Perang Asimetris, Mewaspadai Konflik Pilkada

20 Maret 2017   07:55 Diperbarui: 20 Maret 2017   09:00 182 2 0
Memahami Perang Asimetris, Mewaspadai Konflik Pilkada
Sumber: www.bantubelajar.com

Di Indonesia, konflik sosial bisa disebabkan oleh apapun, termasuk perhelatan pemilu kepala daerah. Perbedaan dukungan bisa melahirkan pertikaian antar pendukung, apalagi jika diberi bumbu SARA sebagai pemicu. Dalam kajian pertahanan negara, apapun penyebab konflik memiliki keterkaitan erat dengan pertahanan negara. Salah satu poin paling krusial yang dibahas adalah Perang Asimetris berkaitan dengan konflik horisontal di tengah masyarakat. Perspektif militer memainkan peranan erat dalam kondisi sosial kemasyarakatan saat ini.

Berakhirnya Perang Dingin pada akhir 1980-an; runtuhnya Marxisme dan Leninisme sebagai ideologi  revolusioner; dan bangkitnya  lingkungan keamanan baru di Era globalisasi mempengaruhi spektrum fungsi militer di seluruh dunia. Yang muncul di permukaan adalah transformasi  yang oleh John Lewis Gaddis disebut “the ‘Long Peace’ of the 20th century Cold War to a situation that US Pentagon describes in its 2006 US Quandrennial Defence Reviews as ‘Long War’ against the diffuse forces of an Islamic global insurgency”. Yang terakhir ini  menyebabkan terjadinya difusi atau penyebaran dan diversifikasi senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction/WMD), terjadinya turbulensi global dan meluasnya kekhawatiran terhadap meningkatnya intensitas serangan terorisme. (Evans, 2007).

Di sini mulailah muncul indikasi terjadinya perubahan tentang hakikat dan pendekatan perang dan puncaknya adalah terjadinya serangan teroris berupa peristiwa 11 September 2001 di AS, yang telah menyinggung kehormatan AS sebagai pusat keunggulan ekonomi (World Trade Center), keunggulan politik (Capitol Hill) dan keunggulan militer (Pentagon), yang justru menjadi fokus serangan teroris. Perubahan seumpama dari ‘symphony orchestra’ menjadi ‘jazz playing’ dengan segala improvisasinya dan munculnya hal-hal yang tak terduga. Spektrum konflik menjadi global dan untuk menanganinya harus ada kerjasama multinasional dan antar lembaga. Dalam hal ini nampak bangkitnya fenomena perang yang dilakukan oleh aktor-aktor non-negara yang melakukan globalisasi kekerasan informal, privatisasi kekerasan atau perang yang mengganggu ketertiban dunia yang disebut sebagai “asymmetrical or non-traditional warfare”.

Perang asimetris sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru sama sekali. Orang mulai disadarkan kembali terhadap pendekatan perang ini setelah terjadi serangan terorisdi Amerika Serikat 11 September 2001 dan berbagai kejahatan terorisme yang terjadi di berbagai Negara serta perang gerilya di Iraq dan Afganistan melawan tentara koalisi (Amerikadan NATO), sehingga menyadarkan berbagai negara terhadap intensitas jenis perang baru, yaitu perang asimetrik (assymetrical warfare).  (Snow, 2007).

Sun Tzu, seorang jendral, ahli strategi dan taktik dalam bukunya The Art of Waryang ditulis pada Abad ke-6 (500 BC), mengajarkan antara lain: “When the enemy advances, we retreat; when the enemy halts, we harras; When the enemy seeks to avoid battle, we attack; when the enemy retreats, we pursue”. Dalam kesempatan lain beliau menyatakan:“as flowing water avoids the heights and hastens to the lowlands, so an army avoids strength and strikes weakness -----All warfare ----is based on deception”. Selanjutnya dinyatakan bahwa “When I have won a victory, I do not repeat my tactics but responds to circumstances in an infinite variety of ways”. (Lambarkis, 2002).

Pendapat ini antara lain dipraktekkan dalam perang saudara di China selama 20 tahun lebih  dan kemudian diadopsi oleh seorang sejarawan Vietnam yang kemudian menjadi jendral yaitu Vo Nguyen Giap dalam melawan Perancis dan Amerika antara tahun 1945-1975. Ratusan tahun sebelumnya dengan strategi yang sama bangsa Vietnam telah mengalahkan Kublai Khan dan tentara
 Mongol. Cara yang digunakan digambarkan sebagai “unorthodox, unconventional and unanticipated”.

Bagi AS, salah satu pengalaman yang sangat berharga terjadi pada “battle of La Drang Valley”, November 1965. Tentara AS yang unggul segalanya pada akhirnya kalah karena North Vietnam Army (NVA) menggunakan taktik asimetris dalam bentuk “guerilla tactics of ambush and hit and run attacks by small units that could avoid American consentrated firepower”. (Snow, 2007).

Hakikat Perang Asimetris.

Untuk memperoleh gambaran tentang apa yang dinamakan perang asimetris (asymmetrical warfare) beberapa ahli menyatakan sebagai berikut: “Asymmetric warfare can describe a conflict in which the resources of two belligerents differ in essence and in the struggle, interact and attempt to exploit  each other’s  charateristics weaknesses. Such struggle often involve strategies and tactics of unconventional warfare, the weaker combatants attempting to use strategy to offset deficiencies in quantity and quality. Such strategies may not  neccessarilly militarized”. Contoh perang gerilya, terorisme, dan operasi partisan. Dalam hal ini berbeda dengan perang simetris (symmetrical warfare) dimana dua atau lebih kekuatan memiliki kekuatan dan sumber militer yang sama dan menyandarkan diri pada taktik  yang juga sama dan yang berbeda adalah rincian dan pelaksanaannya. (Snow, 2007).

Vincent Gouding menggambarkan pendekatan perang baru ini dengan menyatakan “weaker opponents have sought to neutralized their enemy’s  technological and numerical superiority by fighting  in ways or on on battlefields  that nullify it”.

Contoh perang asimetris misalnya apa yang dilakukan bangsa Indian melawan tentara Amerika, perang gerilya pejuang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda (ingat buku Jendral Nasution), Mao Zedong melawan Chiang Kai Shek (Maoist mobile-guerrilla warfare strategy), perang Vietnam antara tentara Vietnam Utara (NVA) dan Vietcong melawan Perancis dan Amerika, Al Qaeda, Taliban melawan tentara Rusia di Afganistan dan kemudian melawan tentara koalisi di Afganistan dan Pakistan, terorisme di Iraq, perang saudara (internal war) melawan pemerintah di beberapa Negara seperti di Darfur, Aceh masa lalu, Afrika, Myanmar, Columbia, Gerilya Chechen melawan Rusia dll. Ingat juga cerita agama bagaimana David mengalahkan Goliath.

Dalam perang asimetris nampak berbagai bentuk operasi (tipu muslihat, pengkhianatan, operasi tertutup, terorisme) dan strategi militer (perang gerilya, pembalasan massal, Blitzkrieg/ serangan cepat, mendadak dan tak terduga) serta strategi politik (perbenturan budaya, perang berkedok agama atau moral). Bentuk-bentuk asimetris mencakup asimetri kekuasaan, sarana, cara, organisasi, nilai dan waktu. (Pfanner, 2005).

Apa yang saat ini dinamakan Generasi ke-4 Perang dianggap sebagai bentuk perang asimetris di masa datang. Dengan demikian perang asimetris sudah lama dikenal dan yang berbeda adalah kekuatan, cara, sarana atau senjata yang digunakan, organisasi, dan nilai yang melatarbelakanginya. Sehubungan dengan itu, perang asimetris sebenarnya merupakan suatu pendekatan tentang perang (an approach to war).Sering dikatakan bahwa secara historis Perang Simetris merupakan pendekatan tradisi militer Barat (Eropa dan Amerika Utara), sedangkan Perang Asimetris merupakan gaya perang Asiatik termasuk Timur Tengah.

Bahaya asimetris yang bersifat sosial politik terhadap “human security” baik individual, kelompok maupun masyarakat misalnya terorisme,   akan sekaligus dianggap sebagai perang asimetris apabila targetnya adalah Negara sebagai keseluruhan atau “state centric security”. Hal ini bisa difahami karena dalam perang asimetrik, “the military weaker party is tempted to have recourseto unlawful methods of warfare in order to overcome the adversaries strength”.

Persamaan antara keduanya adalah bahwa sesuatu yang asimetris akan meningkatkan ketidakpastian (uncertainty), kejutan (surprised),sesuatu yang tidak diharapkan (unexpected),sesuatu yang tidak dikehendaki(unintended) dantidak biasa(unfamiliar)serta tidak diketahui(unknown). Carl von Clausewitz dalam bukunya “On War” menegaskan bahwa “uncertainty is fundamental to warfare”. Segala ketidakpastian tersebut diakibatkan oleh lemahnya fungsi intelijen untuk mendeteksi tentang tujuan musuh; waktu, lokasi atau bahkan rencana serangan; keberadaan senjata baru yang digunakan; dan perkembangan  bentuk baru perang (contoh Blitzkrieg Jerman).

Dengan perspektif lain perang asimetris bisa dilakukan pertama, dalam kerangka perang konvensional (conventional warfare) atau perang simetrik, dimana mereka yang berperang berusaha menciptakan TTP (taktik, tehnik dan prosedur) yang tidak biasa dan  yang akan mengejutkan pihak lawan. Dalam hal ini yang terlibat adalah Negara sebagai entitas (warfare between nation states). Yang kedua, bisa juga dalam kerangka perang non-konvensional atau perang asimetrik  antara  entitas Negara dan aktor-aktor non-negara (non-state actors)

Yang pertama digambarkan oleh Clinton dan Burke (2003), yaitu antara PD I dan PD II, AL Jepang telah mengembangkan “Type 93 Long Lance Torpedo”  yang dapat membawa hulu ledak yang besar  dan dapat menempuh 20.000 yards (1 yard = 0, 9144 meter) atau lebih dengan kecepatan sampai 40 knots  (1 knot = 1852 km/jam) yang dapat dioperasikan malam hari melalui manuverdestroyers dan cruisers. Di sisi lain  torpedo AS sangat lambat (10.000 yards) dengan hulu ledak jauh lebih kecil. AS lebih fokus pada daya tembak meriam jarak jauh di siang hari yang didukung pesawat terbang pengarah dan sistem  radar komputer analog.Tehnik baru Jepang tersebut selama perang cukup menyusahkan para perencana AL AS. Jang keduajustru yang menjadi fokus tulisan ini yakni perang menghadapi oponen aktor-aktor non Negara. (Clinton and Burke, 2003).

Istilah asimetris juga digunakan untuk memberikan karakter ancaman yang tidak bersifat konvensional seperti :

  • unusual taking in our view(menyandera dan menyiksa);
  • irregular– melawan hukum  tentang konflik bersenjata  atau melanggar  traktat (menggunakan senjata nuklir untuk mdngacaukan operasi satelit);
  • unmatched to ourcapabilities anddeparting  from  war as we understand it(menabrak gedung dengan pesawat terbang);
  • highly leverage against our assets( menggunakan misil balistik dan WMD);
  • difficult to respond to in or proportinately, so responses  against terrorism or guerrilla warfare seem heavy-handed;(Lambarkis, 2002).

Nah, dari penjabaran di atas, maka Pilkada yang saat ini membetot perhatian kita semua, maka harus dilihat dari perspektif Pertahanan Negara. Berbagai ancaman yang bisa saja meruntuhkan eksistensi NKRI, harus diwaspadai. Pemerintah harus memperhatikan faktor apa saja yang menjadikan ancaman dalam penyelenggaraan perhelatan demokrasi lima tahunan tersebut. Dengan demikian, proses demokrasi tidak tercederai oleh upaya menghancurkan keutuhan Bangsa dan Negara di Bumi Pertiwi. (*)