Humaniora highlight

Catat! Tidak Ada Pengemis di Mentawai

21 April 2017   22:03 Diperbarui: 21 April 2017   22:25 201 5 2
Catat! Tidak Ada Pengemis di Mentawai
Lampu merah Mapadegat Mentawai ( foto : Adi Prima)


MENTAWAI. Luar biasa! Tidak seperti di Kota-kota lainnya di Indonesia, di Kepulauan Mentawai, kita tidak akan pernah berjumpa atau bertemu dengan yang namanya pengemis, atau peminta-minta.

Tidak ditemukannya pengemis di lampu merah, disepanjang jalan raya Tuapeijat, atau di wilayah Kepulauan Mentawai lainnya, tentu menjadi semacam penyelidikan yang sangat menarik untuk ditelusuri. Sebab, sama-sama kita ketahui hampir di seluruh daerah di Indonesia, pengemis adalah hal yang lumrah dan tidak sulit ditemukan.

Secara geografis Kepulauan Mentawai memang masih terpencil dan terisolir. Jalur laut masih menjadi andalan masyarakat untuk terhubung dengan daerah lain. Masyarakatnya pun hidup menurut hukum alam atau iklim saja. Di Kepulauan Mentawai tidak ada gunung, yang ada hanya perbukitan, tingginya tidak melebihi 500 meter. Umumnya Mentawai bertanah subur, datar, serta berawa-rawa. Mentawai terkenal juga dengan hutan-hutannya yang masih perawan, meskipun sudah banyak yang dibabat oleh pengusaha bidang perkayuaan. Di sini banyak juga terdapat sungai kecil. Pemandangan alamnya indah mempesona, karena teluk-teluk dan lautnya tenang serta pantai pasir yang landai.

Tipologi orang Mentawai dalam buku Kebudayaan Orang Mentawai, Stefano Coronese, menyebutkan type manusia Mentawai umumnya berbadan kuat, kekar, sehat, dan tidak berbulu. Tingginya tidak melebihi 1.67 cm. Berperawakan baik dan menarik. Umumnya orang Mentawai baik hati; peramah, suka menghormati orang, tidak ingin berperang, suka kepada hias-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka bertato. Tuntutan adatnya sederhana. Kejahatan dan tindakan kriminal jarang terjadi.

Dari penjelasan geografis dan tipologi diatas, sepertinya jelas kenapa tidak akan kita temui pengemis di Mentawai. Tanah Mentawai yang umumnya subur pasti akan menyediakan hasil alam untuk ketersediaan pangan. Pisang, talas, ubi dan sagu banyak di sini. Tipologi masyarakat yang peramah, senang berkumpul sembari bercerita, sepertinya menjadi perekat antar sesama masyarakat Mentawai. Biasanya jika sering berkumpul, informasi akan mudah dan sering didapat. Alhasil, satu masalah akan jadi masalah bersama, dan pastinya akan dicarikan pula solusi secara bersama. Jadi tidak perlu menjadi pengemis jika tidak ada uang atau makanan, cukup minta tolong kepada teman atau sanak saudara yang lain.

Pisang salah satu hasil alam Mentawai (foto : Adi Prima)
Pisang salah satu hasil alam Mentawai (foto : Adi Prima)

"Meskipun secara infrastruktur masih ketinggalan, namun, senangnya di Mentawai, suasana di sini tenang, tidak terlalu tinggi tuntutan dan pressure hidup, tidak harus punya mobil, tidak harus punya ini, atau punya itu, dan tentu saja yang paling membuat bangga sebagai orang Mentawai, ya itu tadi, tidak ada pengemis di sini," ucap Irwan Duha Sababalat (30) warga Tuapeijat, Km 6. Malainge Mentawai!