PILIHAN HEADLINE

Mengapa Investasi Arab Saudi ke Tiongkok Jauh Lebih Besar daripada ke Indonesia?

18 April 2017 11:35:50 Diperbarui: 19 April 2017 13:36:50 Dibaca : 4540 Komentar : 3 Nilai : 4 Durasi Baca :
Mengapa Investasi Arab Saudi ke Tiongkok Jauh Lebih Besar daripada ke Indonesia?
Presiden China Xi Jinping dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud meninjau pasukan kehormatan di Balai Besar Rakyat di Beijing, Kamis (16/3/2017).(NICOLAS ASFOURI / AFP )

Akhir-akhir ini diberitakan ungkapan Presiden Jokowi mengeluh terhadap kunjungan delegasi Raja Salman dari Arab Saudi ke Indonesia tapi nilai investasinya jauh lebih kecil ketimbang nilai investasi mereka ke Tiongkok. Jakowi mengatakan, "Investasi Arab ke Indonesia Rp 89 triliun. Tapi yang saya lebih kaget saat beliau ke Tiongkok, ke Tiongkok yang beliau tanda-tangani Rp 870 triliun."

Kunjungan ke Malaysia, Indonesia, Brunei, dan Maldives

Kunjungan rombongan delegasi yang dipimpin Raja Salman Arab Saudi ke negara-negara Malyasia, Indonesia, Brunei, dan Maldives ini sebenarnya termasuk dalam set kedua. Tampaknya Saudi tidak terlalu mengharap dan menjadikan sasaran investasi utama, dan berharap mendapat imbalan dalam investasi bagi negara Arab Saudi dari negara-negara ini. Negara-negara ini dikunjungi terutama karena negara-negara tersebut mayoritas Islam Sunni. Di Maldives atau Maladewa dan Brunei, Islam menjadi agama negara, sedangkan Indonesia dan Brunei secara konstitusionil sekuler sementara mengakui peran penting Islam dalam masyarakat.

Tapi khusus untuk Malaysia dan Indonesia, Raja Salman dan para penasihatnya akan mencari untuk kerja sama ekonomi sejalan dengan tujuan dari NTP/Rencana Nasional Transformasi (NPT/National Transformation Plan), sedangkan Indonesia mengharapkan kunjungan raja Saudi yang telah absen selama 47 tahun akan menginvestasikan 25 milyar USD, namun kenyataannya hanya sekitar 6.71 milyar.

Lain halnya dengan Jepang dan Tiongkok. Jepang sudah sejak lama aktif menjalin hubungan perdagangan dengan Saudi, sedang Tiongkok baru belakangan menjalin hubungan dibanding Jepang. Namun, Tiongkok mempunyai sejarah panjang hubungan perdagangan dengan Peninsula Arab sejak zaman kuno melalui ‘Jalur Sutra Daratan dan Jalur Sutra Maritim.’ (baca: Jalur Sutra Maritim Kuno - Ajang Pertukaran Budaya )

Tujuan Kunjungan ke Asia Timur

Namun, perlu kiranya kita coba bahas dan telusuri kenapa hal ini bisa terjadi? Sebelum kita masuk ke masalah ini, penulis coba menggambarkan terlebih dahulu mengapa Arab Saudi melakukan kunjungan ke Asia Timur Jauh. Kali ini Arab Saudi melakukan kunjungan yang dipimpin langsung oleh Raja Salman dengan membawa delegasi sebanyak 1.500 orang, Pertama yang dikunjungi Malaysia, berikutnya Indonesia, Brunei, Maldives/Maladewa, Jepang, dan Tiongkok.

Menurut media dan istana Saudi, perjalanan ini digambarkan terutama sebagai perjalanan yang berkaitan dengan masalah energi dan investasi, dalam konteks geopolitik yang lebih luas dengan memotivasi langkah mengadakan tur perjalanan selama sebulan ke kawasan ini untuk memanfaatkan agar Raja melihat keadaan lebih dekat.

Sebenarnya perjalanan Raja Salman ini dapat dipisahkan menjadi dua tahapan: Tiongkok dan Jepang menjadi satu set prioritas, sedangkan perjalanan ke Malaysia, Indonesia, dan Maladewa hanya untuk pemuasan lainnya.

Ketika harga minyak telah agak pulih dari titik nadir pada akhir tahun 2015 dan awal 2016, Riyadh lalu berkomitmen dengan rencana jangka panjangnya untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan minyak. Untuk proyek ini, Kerajaan Saudi akan membutuhkan investor dari kawasan Asia-Pasifik.

Rencana Nasional Transformasi (NPT/National Transformation Plan) gagasan dari wakil putra mahkota muda yang ambisius Mohammed bin Salman, telah menetapkan 350 target untuk Badan Pemerintah Saudi yang membutuhkan investasi asing langsung secara solid.

Kunjungan Raja Salman kali ini harus dilihat sebagai puncak dari gerakan yang diusulkan oleh wakil putra mahkota yang diberlakukan pada pertengahan tahun 2016. Begitu NPT diumumkan segera ia melakukan kunjungannya sendiri ke Jepang dan Tiongkok. Di Jepang dan Tiongkok, wakil putra mahkota yang juga menteri pertahanan, menerima jaminan dari PM Jepangan Shinzo Abe dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bahwa negara mereka akan mempromosikan investasi penting masuk dalam Kerajaan Saudi.

Tokyo dan Beijing, sebagai pengimpor energi terbesar, melihat hubungan yang baik dengan Kerajaan sebagai satu fundamental untuk kepentingan nasional mereka. Tiongkok melampaui AS sebagai pengimpor minyak mentah terbesar dunia pada bulan Oktober tahun lalu.

Dalam rencana NPT, Arab Saudi berusaha melakukan penawaran perdana IPO yang akan datang untuk perusahaan minyak raksasa negara Saudi Aramco. Mencari investor raksasa kelas berat di Asia seperti Tiongkok dan Jepang, dalam upaya ini membutuhkan perhatian Raja. Tidak mengherankan bahwa jadwal tur Asia Raja Salman tujuan utama berhenti di dua negara ekonomi besar di kawasan ini.

Dengan Tiongkok, Arab Saudi juga secara signifikan melihat untuk penyeimbangan geopolitik pada AS, yang kebijakan luar negerinya telah tumbuh ketidakpastian sejak pelantikan Donald Trump sebagai presiden.

Yang lebih khusus lagi, lebih mengintensifkan perjuangan kawasan untuk melawan Iran, yang diawal tahun 2016 telah mengambil karakter baru setelah Arab Saudi mengeksekusi ulama terkemuka Syiah Nimr al-Nimr, Kerajaan Saudi telah melihat nilai pengaruh dengan merayu Tiongkok.

Tur Raja Salman ke Asia menunjukkan tampilan Ryadh ke arah timur ini bukan dilakukan dengan mendadak, tapi lebih untuk menggabungkan prioritas NTP dan agenda global yang lebih luas dari Arab Saudi.

Sejarah Bangkitnya Arab Saudi

Dalam bahasa Arab “Saudi” berasal dari kata yang berarti “kebahagiaan” dan “Arab” adalah “orang nomaden”. Namun, banyak yang menganggap yang benar-benar membawa nasib orang Arab masuk ke “zaman kebahagiaan” semestinya pada abad lalu akhir tahun 1930-an, ketika ditemukannya minyak bumi dan mulai dikembangkan.

Dari saat itulah kehidupan “nomaden” berubah dan menjadi kaya berkat petro dollar. Pada tahun 1945 Presiden AS Roosevelt sesudah menghadiri Konferensi Yalta, mengundang Raja Saudi Ibn Saud ke atas kapal perang AS di Terusan Suez untuk bertemu. Raja dari orang Badui ini baru pertama keluar dari Peninsula Arab, mereka membawa kemah dan permandani Persia tidur di atas dek kapal perang AS. Sejak itulah Arab Saudi dan AS mulai mengadakan hubungan mesra hingga 70 tahunan lebih.

Namun, pada tahun-tahun terakhir ini, hubungan Arab Saudi dan AS perlahan-lahan mengalami perubahan. Pada tahun 2006, ketika itu Raja Saudi baru naik tahta, negara pertama yang dikunjungi bukan lagi AS, tetapi justru Tiongkok. Sejak itu orang-orang menduga apakah Arab Saudi sudah cenderung “berkiblat ke Timur”.

Pada tahun ini, ketika Donald Trump resmi menjadi Presiden AS, juga tidak memilih untuk mengunjungi bertemu dengan Trump di AS, sebaliknya melakukan tur ke Asia Timur. Dengan mengunjungi Malaysia, Indonesia, Brunei, Jepang, dan Tiongkok, yang menghabiskan waktu hingga satu bulanan. Tur kali ini Raja Saudi membawa 1.500 delegasi, di antaranya 25 pangeran Kerajaan dengan perlengkapan yang sebagian dilapisi emas yang membuat orang terbelalak.

Kunjungan di Tongkok

Kunjungan pada tahun ini merupakan kunjungan Raja Salman yang kedua kalinya ke Tiongkok. Kunjungan pertama dilakukan pada tahun 2016 dan kunjungan balasan Presiden Tiongkok Xi Jinping dilakukan pada tahun yang sama.

Tiongkok memberikan sambutan yang teliti dan hangat untuk melayani Raja Salman, dan pada akhir pertemuan kedua kepala negara ini menyaksikan penandatanganan 14 bidang kerja sama teknologi antara Tiongkok-Arab Saudi, yang mencakup sumber energi, modal konstruksi dan Kedirgantaraan. Total meliputi kontrak kerja sama 35 bidang proyek dengan nilai 65 milyar USD.

Di antara kontrak tersebut termasuk nota kesepahaman (MoU) antara raksasa perusahaan minyak Aramco dan Norinco (China North Industries Group Corp) untuk pembangunan penyulingan minyak dan kimia di Tiongkok. Saudi Basic Industries Corp (SABIC) dan Sinopec, yang sudah bersama-sama bekerja sama untuk proyek petrokimia di komplek industrian kimia di Tianjin, juga sepakat untuk mengembangkan proyek-proyek petrokimia di Tiongkok dan Arab Saudi.

Dalam pidato sambutan kunjungannya ini, Presiden Xi mengatakan, “Sudah dalam jangka waktu yang lama, Tiongkok dan negara-negara Islam telah menghormati satu sama lain dan sudah bekerja sama dengan kondisi win-win, dan menciptakan model eksksitensi damai budaya yang berbeda.”

Raja Salman mengatakan bahwa mereka mengharapkan Tiongkok bisa memainkan peran yang lebih besar dalam isu Timur Tengah. Arab Saudi ingin bekerja lebih keras lagi dengan Tiongkok untuk mempromosikan perdamaian, keamanan, kemakmuran global dan regional.

Tahun ini MoU yang ditandatangani kedua belah pihak Tiongkok dan Arab Saudi sebesar 65 USD milyar USD itu tediri dari 35 proyek. Tahun lalu kontrak kerja sama kedua pihak hanya mencapai 40 milyar USD.

Jika dilihat dari MoU, 65 milyar USD ini menunjukkan pandangan Saudi yang menjangkau jauh ke depan, dan pengharapannya sangat tinggi. Arab Saudi bersedia ikut serta dalam program proyek luar angkasa Tiongkok Chang’E 4 misi untuk pendaratan awak ke bulan yang akan dilakukan pada tahun 2018 tahun depan ini. Ini adalah yang pertama kali untuk Arab Saudi.

Pada 5 Juni 2014, saat diadakan pembicaraan kerangka kerja sama antara Arab Saudi dan Tiongkok yang diadakan di Beijing. Dalam pidato pembukaan pembicaraan ini Presiden Xi mengusulkan 1+2+3. Maksudnya 1+2 adalah negara Tiongkok dan Arab Saudi kerja sama tradisional normal kedua negara (membangun hubungan dasar pembangunan konstruksi dan perdagangan), yang ke- +3 adalah energi nuklir + luar angkasa /kedirgantaraan + energi baru.

Dalam hal ini, Tiongkok dalam wilayah teknologi tingginya menunjukkan bersedia bekerja sama dengan Arab Saudi. Untuk hal ini juga bergema dan menyambut usulan Presdiden Xi tentang kerangka kerja sama dari “one belt one road (一带一路)” yang merupakan kerja sama tradisional, dan yang memiliki jangkauan dan terobosan baru.

Dalam kunjungan ini terjadi pragmatisme dari Arab Saudi dan Tiongkok, di mana Saudi mempunyai “Visi 2030” (NPT) dan Tiongkok mempunyai gagasan untuk “one belt one road". Selain itu, yang lebih penting lagi kecuali untuk energi yang banyak dibutuhkan Tiongkok, dan Arab Saudi memerlukan pasar energi besar. Selain itu, masih ada kerja sama lain menyangkut teknologi tinggi, keamanan, militer yang juga menjadi sorotan dunia luar.

Arab Saudi merupakan partner perdagangan terbesar dari Tiongkok. Arab Saudi adalah pemimpin dari GCC dan Liga Arab juga salah satu negara G20. Jadi, Arab Saudi masih banyak berpengaruh di bidang-bidang lainnya sehingga mempunyai pengaruh khusus.

Arab Saudi berkepentingan untuk dekat dengan Tiongkok untuk mengimbangi hubungan Tiongkok dengan Iran. Dan Tiongkok tampaknya bisa memainkan perannya untuk tidak cenderung ke salah satu pihak saja, bahkan dengan cantiknya telah memainkan keseimbangan untuk kepentingan dengan semua pihak, bahkan dengan Isreal sekalipun.

Kerja Sama Bidang Alutsista Milter Tiongkok-Arab Saudi

17 Maret 2017, website dari China Ordnance Equipment Group Corporation memuat sebuah berita: Dengan disaksikan Presiden Xi dan Raja Saudi Salman, perusahaan minyak negara raksasa Arab Saudi Aramco dan China Ordnance Equipment Group Corporation menandatangani Perjanjian Kerangka Kerja Sama.

Perusahaan minyak Arab Saudi ini adalah yang terbesar di Saudi dan China Ordnance Equipment Group Corporation adalah perusahaan persenjataan alutsista Tiongkok terbesar ketiga di Tiongkok, yang memproduksi alutsista meliputi tank tempur utama, mobile arteliri otomatis, rudal anti-pesawat dll.

Sebelum ini, militer Saudi pernah membeli alutsista buatan China Ordnance Equipment Group Coorporation: PLZ-45 self-propelled Howitzer, yang digunakan di Yaman untuk memerangi kelompok bersenjata Houthi.

Selain itu, delegasi Arab Saudi dan China Aerospace Science and Technology Coorporation menandatangani perjanjian kerja sama untuk serial “Rainbow” UAV, yang merupakan produk unggulan utama dari perusahaan tesebut.

Pada bulan Februari tahun ini, yang telah diberitakan Arab Saudi membeli 4 “Raibow” Serie dari Tiongkok, dapat diperkirakan kontrak puluhan milyar USD ini di antaranya pasti termasuk ini. Dengan terungkapnya satu per satu kontrak besar ini, perdagangan senjata ini menjadi fokus perbincangan internasional.

Seberapa Jauh Hubungan Perdagangan Arab Saudi Tiongkok

Januari 2016, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi Arab Saudi, kedua belah pihak mengumumkan “Pernyataan Bersama Republik Rakyat Tiongkok dan Kerajaan Arab Saudi Tentang Pembentukan Kemitraan Strategis Perang Yang Komprehensif”. Di antaranya dalam bidang militer yang menyeluruh, kedua belah pihak menekankan menentang terhadap ancaman bagi perdamaian dan stabilitas dunia dan segala bentuk terorisme.  

Dalam rangka untuk lebih memperkuat kerja sama keamanan tersebut, pihak Tiongkok mendukung Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya dalam upaya memerangi teorisme. Sedang dalam bidang UAV, drone/UAV buatan Tiongkok sudah tumbuh dan berakar di Timteng. UAV Tiongkok “Rainbow” dan “Wing Loong” sudah menjadi ekspor utama. Dan menjadi alutsista populer di Timteng, dan menjadi alutsista yang paling banyak digunakan untuk antiterorisme dan di medan perang Timteng.

Dapat dikatakan, kerja sama antara Tiongkok dan Arab Saudi dengan China Aerospace Science and Technology Coorporation merupakan cermin hubungan baik dari kedua negara tersebut.

Jelas, untuk perdagangan alutsista kedua negara tersebut masih harus dilihat dari “alutsista kelas berat” berupa rudal. Arab Saudi merupakan salah satu negara yang memiliki kesatuan rudal strategis yang tidak banyak di dunia. Alutsista dari “Kesatuan rudal strategis Kerajaan Arab Saudi” terutama dipersenjatai dengan rudal strategis buatan Tiongkok Dongfeng-3A.

Mantan Kastaf AU Saudi dan Menhan Pangeran Khalid bin Sultan mempunyai kenangan khusus dalam pengadaan rudal Tiongkok, dan menceritakan untuk mengenang detail asal mula memperkenalkan kesatuan rudal strategis. Pada abad ke-20 tahun 80-an, ketika terjadi Perang Iran-Irak, AU-Israel melanggar teritori udara Arab Saudi dan menghancurkan reaktor nulkir Irak (lewat teritori udara Saudi), dan Perang Iran-Irak meningkat ke arah titik hidup-mati.

Kedua belah pihak saling menggunakan rudal taktis dengan tidak terkontrol untuk menghantam sasaran pihak lawan. Hal ini semua membuat Arab Saudi merasa tidak aman. Maka mereka merasa diperlukan memiliki alutsista strategis untuk pencegahan atau efek gentar (deterrent).

Saat itu Irak merasa sangat terancam dengan ancaman militer Arab Saudi. Dalam situasi demikian, Saudi membeli kepada Tiongkok Rudal Strategis jarak menengah (middle range) Dongfeng-3A, kemudian ketika terjadi Perang Teluk, membuktikan ternyata memiliki Dongfeng-3A adalah tepat. Sebab kemudian Irak sangat mempertimbangkan dan khawatir Arab Saudi akan menggunakan Dongfenf-3A untuk balas dendam.

Pengusul untuk Memiliki Dongfeng-3

Sumber: Sumber: https://alchetron.com
Sumber: Sumber: https://alchetron.com
Mantan Kastaf AU Pangeran Khalid bin Sultan mengusulkan membeli rudal dari Tiongkok kepada Raja. Meskipun antara Arab Saudi dan Tiongkok belum mempunyai hubungan diplomatik saat itu, Raja Fahd mempunyai perasaan dan kesan baik terhadap negara yang jauh ini (Tiongkok), dan setuju dengan usulan ini. Dan Sultan diberi kepercayaan penuh untuk melakukan hubungan ini.

Desember 1986, kedua belah pihak Tiongkok dan Arab Saudi bertemu di pangkalan udara selatan Saudi melakukan perundingan. Hanya dalam seminggu perundingan kedua belah pihak sudah dapat merampungkan kontrak pembelian rudal ini, termasuk harga, masalah perawatan purnajual, pendidikan dan pelatihan personil operator dan lain-lain, juga termasuk segala detail pertukaran rinci informasi, yang perundingan sering kali harus berlangsung hingga subuh pukul 4 pagi. Akhirnya kedua belah pihak dapat menyusun “draft” yang menguraikan rincian proyek untuk mengatur wisata/kunjungan delegasi teknis. Draft kontrak ini diusulkan Khalid bin Sultan kepada Raja Fahd, dan Raja Fahd memutuskan untuk segera membeli rudal strategis Tiogkok Dongfeng-3 ini.

Rudal Dongfeng -3 digerak dengan bahan bakar cair, yang bisa membawa hulu ledak TNT 100-300 ton, dan jarak tembak bisa menjangkau 2150 km dengan hulu ledak normal, bahkan bisa lebih dari 2.650 km. Saat itu dibandingkan dengan seluruh rudal yang ada di Timteng paling jauh jarak tembaknya.

Februari 1987, wakil delegasi Arab Saudi datang pertama kali berkunjung ke Tiongkok, tapi untuk menghindari agar tidak dihambat pihak dunia luar. Dibuat delegasi seolah berkunjung ke Malaysia, kemudian baru melakukan kunjungan ke tujuan yang sebenarnya --- Tiongkok.

Setelah perundingan ini, tidak lama setelah itu, Pangeran Sultan mulai lagi mengadakan kunjungan yang kedua kalinya. Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan perundingan di Hong Kong. Untuk menghindari dimata-matai, Pangeran Sultan pergi waktu istirahat seolah ke luar ke salah satu hotel Hong Kong di sebuah jalanan memesan sebuah kamar, dengan menggunakan telepon biasa melakukan komunikasi dengan sandi rahasia Arab melakukan hubungan telepon ke Arab Saudi.

Setelah melakukan beberapa kali perundingan, Tiongkok dapat mengerti maksud sebenarnya mengapa Arab Saudi menginginkan memiliki rudal tersebut. Maka diaturlah agar pihak Arab Saudi berkunjung melihat ke pangkalan rudal Dongfeng-3 di Tiongkok, agar mereka bisa melihat dan meninjau prosedur operasi rudal tersebut. Proses mulai keluar dari bunker persembunyian hingga ke landasan peluncuran.

Akhirnya dilaporkan rombongan delegasi Arab Saudi adalah rombongan yang pertama bagi orang asing yang melihat prosedur peluncuran Dongfeng-3. Tahun 1987 akhir, Arab Saudi akhirnya memutuskan membeli dengan tunai Dongfeng-3A dengan total nilai 3,5 milyar USD.

Pada 6 April 1988, pihak Tiongkok dengan terbuka mengumumkan pembelian ini, CCTV China dalam siaran untuk Kongres Nasional ke-7, secara tiba-tiba menyisipkan tayangan Menlu Tiongkok saat itu Wu Xueqian (吴学谦) menyatakan, “Atas permintaan Kerajan Arab Saudi, negara kami (Tiongkok) telah menjual beberapa rudal non-nuklir darat ke darat, pemerintah Arab Saudi sudah berjanji tidak akan mentransfer (menjual kepada pihak lain), dan tidak akan pertama kali menggunakan rudal tersebut, mereka sama sekali hanya akan menggunakan rudal ini untuk tujuan pertahanan saja.” Ini tujuannya untuk menunjukkan pendirian dan sikap Tiongkok ekspor senjata tapi tidak mengekspor perang.

Di tahun 1980-an yang lalu akhir, sebenarnya Dongfeng-3 diperuntukkan untuk membawa hulu ledak nuklir, tapi khusus untuk Arab Saudi diubah menjadi rudal biasa non-nuklir, maka hulu ledaknya diganti dengan generasi yang disebut “118” rudal biasa untuk assault (mematikan dan melukai) saja. Detail yang kedua, jangkauan jarak tempuh tembak rudal Dongfeng-3 dari yang asalnya 2.650 km diubah menjadi 1.800 km, karena perubahan demikian untuk menjaga pertahanan keamanan Arab Saudi sudah cukup memadai. Maka atas dasar ini, Tiongkok menamai rudal ini menjadi Dongfeng-3A.

Hubungan Dagang Arab Saudi-Tiongkok

Jalinan hubungan Tiongkok dan Arab Saudi sebenarnya saling melengkapi keunggulan masing-masing dan mempertahankan kerja sama yang erat. Pada tahun 2016, volume perdagangan mencapai 42,4 milyar USD. Saat ini lebih dari 100 perusahaan Tiongkok melakukan investasi dan proyek kerja sama di Arab Saudi, yang meliputi bidang-bidang pretrifaction, kereta api, pelabuhan, pembangkit tenaga listrik, komunikasi. Selain itu, juga proyek-proyek petrifaction seperti yang membantu investasi dari Arab Saudi di Tiongkok juga memperoleh manfaat ekonomi yang menguntungkan.

Saat ini memang Tiongkok dan Arab Saudi sedang dalam tahap perkembangan penting. Tiongkok secara positif mempromosikam pembangunan “Belt and Road”, sedang Arab Saudi mempercepat menerapkan “Visi 2030”. Strategi pembangunan dua negara ini tampaknya sangat cocok satu sama lain dan kerja sama Sino-Saudi mengandung potensi pembangunan yang besar.

Pemerintah Tiongkok akan bekerja sama dengan pemerintah Arab Saudi secara maksimal dengan mekanisme seperti komite senior dan komite gabungan ekonomi dan perdagangan untuk menumbuhkan lingkungan kerja sama yang menguntungkan untuk perusahaan-perusahaan dari kedua negara.

Mereka menyadari usaha adalah tubuh utama dari perdagangan Tiongkok-Arab dan kerja sama ekonomi. Mereka mengharapkan pengusaha dari kedua negara dapat memperdalam kerja sama praktis dan berusaha untuk mengubah konsensus penting yang dicapai oleh pemimpin kedua negara untuk prestasi kerja sama yang nyata.

Raja Salman mengatakan bahwa Arab Saudi memberi perhatian yang tinggi terhadap perdagangan dan kerja sama ekonomi kedua negara. Dia merasa sangat senang diundang oleh Presiden Xi Jining untuk mengunjungi Tiongkok dan menciptakan peluang bagi pengusaha kedua negara bertemu satu sama lain. Diharapkan bahwa kedua pihak dapat lebih meningkatkan komunikasi, membahas kerja sama, terus-menerus mempromosikan kerja sama praktis dari kedua negara untuk bergerak maju dan memberikan manfaat untuk rakyat kedua negara.

Sumber; 

Media TV dan Tulisan Dalam dan Luar Negeri

Kekecewaan Jokowi Usai Melihat Nilai Investasi Arab Saudi di China...

Mengapa Jokowi merasa 'kecewa' pada Raja Salman?

I held up umbrella for King Salman, yet China gets the investment: Jokowi

Indonesia Targetkan Investasi Miliaran Dolar AS dari Kunjungan Raja Salman

Ditanya soal Kekecewaan terhadap Raja Salman, Jokowi Sebut Cuma Guyon

King Salman to begin Asian tour in Malaysia

Saudi king to sign trade deals worth $65BILLION with China

King Salman visits China, his fifth Asian destination

China, Saudi Arabia eye $65 billion in deals as king visits

King Salman's visit to China

What King Salman seeks in Asia

http://english.mofcom.gov.cn/article/newsrelease/significantnews/201703/20170302536831.shtm

Sumber: http://www.arabnews.com

Tank Encyclopedia

Defence Blog

Viewzone



Sucahya Tjoa

/makenyok

Saya seorang pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana