Maidiyanto Rahmat
Maidiyanto Rahmat pegawai negeri

saya hanya ingin berbagi sedikit yang ditahu, sedikit yang dimengerti, sedikit yang terpikirkan. semoga dapat meramaikan makna dan warna hidup anda. mari lebih akrab di maidiyantorahmat@ymail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Cerita Manis Itu Terdifinisi Menjadi IPDN

29 Januari 2011   02:00 Diperbarui: 26 Juni 2015   09:05 1414 0 3
Cerita Manis Itu Terdifinisi Menjadi IPDN
1296266286511033823

Awal cerita, tidak pernah rasanya saya terpikir dalam benak saya menjadi seorang peserta didik di kampus yang terkenal dengan kasus pembunuhannya ini. Bahkan, kata IPDN tidak akan pernah terangkum dalam memori kepala saya kalau SCTV dulunya tidak memberitakan kejadian tragis dengan tindakan-tindakan di luar kemanusiaan.

Jujur, saya dulu berharap bisa menjadi seorang tenaga pengajar, mengikuti bapak yang seorang dosen ataupun almarhumah ibu yang seorang guru. Yah, kalau memang tidak, saya bisa menjadi seseorang atau apalah namanya, yang penting saya ingin menjadi apa yang saya inginkan. Terasa sedikit janggal ketika bapak arahkan saya masuk kesana, ke sekolah yang pernah mendapat predikat sebagai kampus termegah se Asia Tenggara itu untuk mengenyam pendidikan asrama. Saya pikir, bapak mencari jalan aman bagi saya untuk mendapatkan pekerjaan yang pada masa itu, pekerjaan diidentikkan dengan “menjadi pegawai negeri”. Ternyata tidak, bapak dan ibu punya rencana jangka panjang bagi saya. Kehidupan asrama dengan segala bumbu-bumbunya menjadikan penabur arti hidup dalam pribadi bernama Rahmat Maidiyanto ini. Ah. Dalam hati kecil saya, apalah arti IPDN. Tapi ternyata, 2 tahun lebih saya di dalam, bergerilya, bertahan, teramat banyak nilai yang bisa saya dapatkan. Sangat berbanding terbalik dengan hipotesa subjektif saya. Bersama. Keluarga kedua saya ya disini. Kalau ada pertanyaan siapa yang membopong saya ketika saya sakit, saya pastikan rekan saya yang dari sumatera selalu ada. Kalau ada pertanyaan lagi siapa yang bisa mendengarkan cerita kehidupan saya, saya janjikan pasti puluhan orang siap menyiapkan pundaknya untuk bersandar. Kalau ada kekuranga dana, ah, apalah artinya uang dalam sini, yang penting bisa sama-sama. Ya, kebersamaan menjadi aktif karena kita hidup bersama, 24 jam dalam sehari. Pernah suatu kesempatan ada pertandingan sepakbola Indonesia, saya lupa melawan siapa. Dalam satu ruangan berukuran 4x6 meter, kami berdesak untuk menyaksikan. Ya, pada saat itu televisi disediakan cuma satu alhasil semua berjejal. Sekitar 70 orang dari pelosok negeri ini dari aceh, riau, kediri, bandung, balikpapan, makassar, bima, ambon dan jayapura ikut terlibat dalam euforia menonton bola. Riuh ricuh, disertai umpatan-umpatan dari setiap daerah menjadikan ruangan 4 x 6 meter itu menjadi indonesia.haha. Saudara. Kalau mungkin waktu bisa ditambah lebih dari 24 jam, maka kami semua, saya dan rekan-rekan sesama praja siap menjalaninya. Selama kami belum keluar kampus, ya 24 jam kami terima dengan segala keterbatasannya. Tidak salah ketika saya mengenal teman saya dari ujung rambut hingga ujung jari kakinya, dari isi kepalanya hingga isi hatinya, dari sikap emosionalnya hingga sikap penyabarnya. Semua terkonversi otomatis menjadi kata saudara. Hargai kekurangan orang lain maka orang lain akan menghargai kekuranganmu. Hargai kelebihan yang dimilikinya, maka dia akan jaih lebih segan dengan kelebihan yang kau miliki. Itulah yang menjadi dasar, prinsip kami dalam hidup bermasyarakatan disini. Perbedaan itu hal yang biasa, yang luar biasa adalah mengkonversi perbedaan itu menjadi indah. Ketenangan. Segala aturan yang ada di kampus menjadikan saya sadar, saya juga punya aturan yang harus di lakukan dalam kehidupan ini. Ya, aturan dari Tuhan. Aturan Tuhan bukanlah suatu pembatasan bagi setiap prbadi melainkan suatu warna, suatu petunjuk, suatu keindahan. Aturan Tuhan bukan untuk mempersulit kita karena Tuhan tahu apa yang menjadi kebutuhan kita. Keteraturan yang ada membuat saya sadar kalau saya harus mengatur diri ke depannya, jauh lebih baik. Saya harus memasukkan intervensi Tuhan dalam setiap langkah saya. Karena, yang menentukan benar atau salah laku saya adalah Tuhan, Allah SWT. Sekarang, sudah tahun ketiga, sebentar lagi tahun terakhir. Harus saya akui, IPDN membawa warna tersendiri bagi diri saya. Penanaman, pertumbuhan, perkembangan, pendewasaan. BHINNEKA NARA EKA BHAKTI. (berbagai macam asal, satu pengabdian)