Indonesia: Negeri Sejuta Wisata

01 September 2013 11:08:50 Diperbarui: 24 Juni 2015 01:31:29 Dibaca : 463 Komentar : 3 Nilai : 3 Durasi Baca :
Indonesia: Negeri Sejuta Wisata
13780325872062100943

Terdengar agak sedikit berlebihan ketika menyebut Indonesia sebagai negeri sejuta wisata. Saya sendiri tidak tahu persis berapa tepatnya jumlah objek wisata di Indonesia. Saya hanya sedang mencoba menggambarkan keragaman dan kekayaan potensi kekayaan pariwisata alam dan budaya Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Dari beberapa provinsi yang pernah saya kunjungi, salah satu provinsi favorit saya adalah Sulawesi Selatan. Beberapa objek destinasi di sana telah saya kunjungi, seperti Pantai Losari, Pantai Akkarena, Fort Rotterdam, Somba Opu dan Bantimurung. Favorit saya, tentu saja Pantai Akkarena. Terletak di daerah Tanjung, pantai ini sangat mudah untuk dijangkau melalui kendaraan. Bagi Anda yang sedang menikmati permainan-permainan di Trans Studio Makassar, tidak ada salahnya untuk mampir ke Pantai Akkarena karena lokasinya sangat berdekatan. Pantai ini menyuguhkan pemandangan langit biru yang indah, air jernih yang juga berwana biru terkena pantulan warna langit, keteduhan di bawah pohon nyiur, deburan ombak pantai dan angin pantai yang sepoi-sepoi. Tersedia pula beberapa permainan air seperti jet ski dan banana boat. Pengelola Pantai Akkarena pun tampaknya sangat peduli dengan kenyamanan para pengunjung. Hal ini terlihat dari bersihnya kondisi pantai dari sampah-sampah sisa makanan. Fasilitas umum untuk pengunjung pun tak luput dari perhatian mereka. Mulai dari tempat ibadah bagi umat muslim,  toilet dan tempat parkir untuk kendaraan yang cukup luas. Tak heran bila pada hari libur, Pantai Akkarena tampak lebih ramai dari hari – hari biasa karena banyak orang tua yang membawa anak – anak mereka untuk berlibur dan menikmati permainan air yang tersedia. Selain itu, banyak pula muda – mudi yang sekedar duduk – duduk untuk menghabiskan sore hari di pantai ini.

Pantai Akkarrena, Makassar

Gunung Sinona

Perjalanan ke Sulawesi Selatan belum lengkap rasanya bila belum mengunjungi Tana Toraja. Untuk sampai di Tana Toraja sendiri memerlukan waktu yang lumayan lama yaitu sekitar 7 – 9 jam berkendara dengan mobil. Jalanan yang berkelok – kelok dan menanjak akan membuat mereka yang tidak terbiasa dengan perjalanan darat mabuk kendaraan. Untuk itu, tidak ada salahnya untuk menyiapkan obat anti mabuk kendaraan di dalam tas. Namun bagi mereka yang menyukai travelling, perjalanan tersebut tidak akan terasa membosankan karena sepanjang perjalanan, mata Anda dimanjakan dengan bentang pemandangan alam berupa pegunungan yang luar biasa indah. Anda dapat pula berhenti di paruh perjalanan, untuk sekedar menikmati teh di tepi Gunung Sinona. Udara segar nan sejuk langsung menyambut Anda begitu turun dari kendaraan. Sungguh jauh dari polusi!

1378033251348181032
1378033251348181032
Gunung Sinona

Bangunan Rumah Tongkonan di penginapan

Memasuki daerah Tana Toraja, sangat terasa sekali aroma budaya nenek moyang suku Toraja. Di bagian depan  beberapa rumah penduduk, terlihat bangunan rumah suku Toraja yang terkenal dengan sebutan Rumah Tongkonan. Konon katanya, Rumah Tongkonan dibangun tanpa menggunakan satu  paku pun, melainkan hanya diikat menggunakan tali. Entah tali apa yang mereka gunakan, yang jelas, bangunan Rumah Tongkonan tersebut dapat berdiri dengan kokoh diantara bangunan rumah modern para penduduk. Selain menandakan warisan budaya leluhur, Rumah Tongkonan juga menandakan “derajat” dari penduduk Toraja. Jika Anda menemukan rumah penduduk dengan bangunan Rumah Tongkonan di depan rumah, maka dapat dipastikan bahwa penduduk tersebut termasuk dalam golongan berada.

13780333401135896864
13780333401135896864
Bangunan Rumah Tongkonan di Penginapan

Sisa-sisa Pemakaman Mayat di Tana Toraja

Perjalanan di Tana Toraja dilanjutkan dengan mengunjungi tempat pemakamannya. Ya, penduduk Toraja tidak memakamkan leluhur mereka yang telah meninggal dengan cara dikubur di tanah, melainkan dengan “menguburnya” di pohon ataupun goa. Sangat disayangkan pada waktu saya mengunjungi Tana Toraja, di sana sedang tidak musim upacara adat. Jadi saya hanya mengunjungi tempat pemakamannya saja. Pada awalnya, terasa agak menyeramkan melihat tengkorak kepala manusia beserta tulang belulang berserakan begitu saja. Namun lama kelamaan, saya menjadi terbiasa dengan pemandangan tersebut. Bahkan, panggilan jiwa untuk berfoto bersama dengan tulang belulang tersebut tidak dapat saya tahan. Satu hal yang unik, masyarakat Toraja dapat mengenali mayat tersebut dulunya adalah laki-laki atau perempuan. Saya diberi tahu perbedaannya, namun sayangnya ingatan saya tidak cukup tajam untuk mampu mengingat perbedaan tersebut. Sungguh, sebuah pengalaman budaya dan spiritual yang luar biasa mengingat cara pemakaman masyarakat Toraja ini sangat berbeda dengan pemakaman di Indonesia pada umumnya.

13780334951655501830
13780334951655501830
Sisa-sisa Pemakaman Mayat di Tana Toraja

Keunikan yang saya temukan dalam perjalanan ke Sulawesi Selatan tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Pun dengan keunikan provinsi lain yang pernah saya kunjungi di Indonesia. Dari setiap perjalanan saya tersebut, semakin menambah pemaknaan rasa cinta tanah air terhadap negeri ini.

Indonesia, adalah negeri yang cantik. Indonesia, adalah negeri yang kaya. Indonesia, adalah negeri sejuta wisata. Dan saya bangga berwisata di Indonesia.

Maya Kusnani

/maia_aprilia

Lahir di sebuah kota kecil di Jawa Tengah yaitu Purworejo, yang mencoba merantau ke megapolitan Jakarta.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana