Minami
Minami pegawai negeri

@maharsiana

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Malam Ini, Aku Tidur dengan Istri dan Baby Sitter Sekaligus

2 Februari 2010   17:06 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:07 131308 0 0
Ranjang itu... (foto google)

Apa yang tertanam dalam benak Anda setelah membaca judul tulisan ini?

Bagi saya dan kebanyakan orang awam, jika menemukan judul tulisan seperti di atas, mungkin pikiran kita akan langsung tertuju kepada ‘urusan ranjang’. Selain ranjang dalam arti sebenarnya, yakni tempat tidur, bisa juga ranjang dalam ‘makna luas’, yakni tempat ‘tidur’ pula. Kata guru pelajaran Bahasa Indonesia zaman SMA dulu, itu lah yang namanya asosiasi, rasa pendengaran.

Di kompasiana ini, kalau kita perhatikan dengan cermat, judul-judul yang ‘mengundang’ ke tempat ‘tidur’ seperti di atas, sudah dapat dipastikan akan menjadi tulisan ‘terpopuler’ dan nangkring di halaman depan situs ini. Apalagi jika penulisnya telaten menempel link tulisan tersebut di dinding-dinding profil kompasianer lain. Jadi kedua trik ini kemungkinan besar akan membuat tulisan kita menjadi semakin populer, minimal masuk lima besarlah. Kalau mau bukti, hitunglah dalam seminggu ini judul seperti apa yang masuk lima besar tulisan terpopuler. Kurang lebih isinya seputar urusan bawah perut beserta turunannya. Tanpa saya jelaskan, saya rasa pembaca sudah tahu yang saya maksud.

Intinya, kali ini saya ingin mencoba trik pertama tadi, apa benar membuat tulisan yang ‘mengundang’ pembaca akan membuatnya menjadi terpopuler. Tidak memberi komen tidak jadi masalah, yang penting pembacanya bisa di atas angka seribu, syukur-syukur lebih. Namun, karena kurang telatennya saya dalam menempel link tulisan ke kompasianer lain, trik kedua ini tidak saya lakukan, sama seperti pada tulisan-tulisan saya sebelumnya. Dibanding menempel link, terus terang saya lebih suka menyapa kompasianer di dinding profilnya, meski mungkin terkesan basa-basi, saya anggap itu lebih ‘sopan’. Ibarat di rumah kos kompasiana yang memiliki kamar-kamar, alangkah baiknya kalau kita izin sebelum menempel sesuatu ke pintunya. Tapi, saya maklum, lain orang lain pula pendapatnya.

Jadi, untuk menyambung judul tulisan saya di atas, saya ingin bercerita tentang kisah saya semalam bersama istri dan baby sitter anak kami. Begini ceritanya :

Pagi itu (2/2/2010), selepas bangun tidur, istri saya mengeluh nyeri sendi di sekujur tubuhnya. Setelah saya periksa, ternyata badannya panas. Mengingat ilmu kesehatan saya kurang mumpuni, saya tidak mau berprasangka macam-macam. Dengan motor butut di tangan, segera saya meluncur ke sebuah rumah sakit di tengah kota yang baru saja dibangun guna memesan kamar untuk rawat inap. Hawa gedung baru dan cat basah langsung terhirup bercampur dengan udara pagi di kota kecil kami ini. Rumah sakit dalam kondisi sepi mengingat saya datang tepat pukul tujuh pagi, begitu juga dengan jalanan yang saya susuri sebelumnya, jauh berbeda dengan jalan-jalan di Jakarta pada jam-jam tersebut.

Saat bertemu dengan resepsionis, saya tanyakan apakah ada kamar kosong yang layak untuk istri saya. Dia bilang ada satu kamar kosong kelas VIP di lantai dua. Tanpa berpikir panjang saya naik memburu kamar tersebut sebelum kedahuluan orang lain. Sampai di atas, rupanya sudah ada yang mengisi dan mungkin belum dikonfirmasi ke bagian informasi di bawah sehingga di database komputer masih terlihat kosong. Dengan agak kecewa saya tetap berusaha mendapatkan kelas VIP, demi kenyamanan sang istri saat dirawat inap nanti. Usut punya usut, hanya kelas VVIP di lantai tiga yang masih tersisa. Batin saya, alamak bakal habis gaji bulan ini. Akhirnya, terpaksa saya ambil kamar VVIP itu, dengan rasa was-was tentunya, adakah dana kami cukup untuk biaya perawatan tiga atau empat hari ke depan.

Ada benarnya tulisan kompasianer dokter Muhammad Jabir kemarin, harga sebuah kentut rupanya bisa mencapai satu juta rupiah, maksudnya biaya untuk sekedar mengeluarkan angin dari tubuh.

Selesai urusan pesan kamar, pagi itu juga saya langsung ke kantor tempat kerja saya mohon izin pinjam mobil operasional yang paling butut. Di lingkungan kerja kami, sebenarnya cukup tabu menggunakan mobil kantor untuk urusan pribadi. Apa boleh buat, demi nyawa istri, saya relakan harga diri barang sebentar guna membawanya ke rumah sakit saat itu juga, tentu beserta pakaian kami, anak kami, baby sitter kami, dan tetek-bengek lainnya, yang tidak akan bisa terangkut sekaligus hanya menggunakan motor pribadi.

Pukul delapan, kami sampai juga di rumah sakit yang masih bau cat itu. Tanpa pikir panjang, staf rumah sakit swasta tersebut dengan cekatan menangani istri saya, termasuk dokter jaganya, kebetulan dia masih muda, cantik lagi. Jadi berkurang kerisauan hati saya menanti hasil cek darah istri saat itu.

Setengah jam kemudian, hasil cek darah ditunjukkan dokter muda tadi. Saya kaget bukan kepalang, ternyata istri divonis positif demam berdarah (DBD) stadium dua, disertai malaria dan tipus sekaligus. Meski sebenarnya panik, saya tidak ingin kegalauan hati ini diketahui istri saya, takut malah bikin parah penyakitnya. Setelah urusan registrasi selesai, istri saya yang sangat lemah tadi kami bawa ke lantai tiga sesuai pesanan saya sebelumnya. Alhamdulillah, tak berapa lama dokter spesialis datang berkunjung dan memberi sedikit saran, apa-apa yang perlu dan tidak boleh dimakan pasien.

Saya hitung dari pagi hingga menulis kisah ini, sudah empat kali dokter datang memeriksa, sedangkan obatnya hanya sekedarnya, yaitu obat anti mual dan obat malaria serta obat penurun panas. Tadi sebelum saya sempat menulis kisah ini, istri sudah agak mendingan, suhu badannya turun, trombosit juga sudah naik, dan bisa tidur setelah kakinya saya pijit sebentar. Sedangkan anak saya yang baru berumur setahun lewat, tidur dengan baby sitter kami di sofa ranjang sebelah ranjang pasien. Mereka tertidur pulas di saat saya memposting tulisan ‘nyentil’ ini.

Dan sudah dapat dipastikan, karena tidak ada tempat lain, malam ini saya akan tidur sekamar di temani mereka, jika anak dan baby sitter tidur seranjang di sofa itu, saya dan istri saya akan tidur di ranjang pasien yang akan kami bagi dua tentunya, sok romantis memang.

Semoga esok hari, keceriaan istri dan anak kami akan kembali seperti sedia kala. Apalah arti hidup tanpa kebahagiaan mereka di sisi saya. Amien ya rabbal ‘alamien.

Demikianlah kisah judul kami, meski mungkin dianggap kurang senonoh, memang itulah kenyataannya. Tak lain tak bukan, hanya sekedar ingin membuktikan, apakah pembaca memang menyukai suguhan berita politik yang menguras energi dan pikiran maupun berita seksiologi yang mengundang rasa penasaran para pembaca, baik itu kompasianer maupun silent reader. Kalau boleh dibilang, kedua model tulisan tersebut hampir tiap hari menghiasi halaman depan rumah sehat ini. Mudah-mudahan tebakan saya tidak benar.

Salam sehat selalu..dari sebuah kamar sepi di antara angkuhnya gedung-gedung kantor bank BUMN di kota kami.