Kera Kalimantan Mengamuk, Bagaimana Cara Mengatasinya?

13 Maret 2011 11:21:18 Diperbarui: 26 Juni 2015 07:49:49 Dibaca : Komentar : Nilai :
Kera Kalimantan Mengamuk, Bagaimana Cara Mengatasinya?
13000150682118457959

Beberapa hari terakhir, seperti disajikan dalam ‘Kilasan Peristiwa’ Harian Kompas, Minggu, 13 Maret 2011, ribuan kera (monyet) di sejumlah pulau di Kabupaten Kota Baru Provinsi Kalimantan Selatan masuk kampung merusak benda serta secara bringas mengejar setiap warga yang ditemui. Kondisi ini mencemaskan penduduk sekitar dalam beraktivitas.

Kera, binatang liar yang bodoh/Ft:NMahaji Noesa


Perilaku aneh binatang berpantat belang mengamuk di Pulau Sembilan, Pulau Maradaban, dan Pulau Seribu di Kabupaten Kota Baru yang tak pernah terjadi sebelumnya, perlu secepatnya mendapat perhatian serius terutama dari petugas Konservasi Sumberdaya Alam. Mengingat, salah satu tanda tradisional (cerita pengalaman orang-orang tua) jika akan terjadi gempa bumi atau bencana alam dahsyat, satwa sekitar berperilaku aneh bahkan sampai bergerak meninggalkan habitatnya.

Sekalipun Pulau Kalimantan termasuk daerah bebas gempa lantaran di bawah lapisan buminya bersih dari lempengan atau patahan kerak bumi di Indonesia, namun mengamuknya kera-kera di sejumlah pulau di Kalimantan Selatan harus segera dicari penyebabnya. Paling tidak untuk mencegah secara dini penyebaran penyakit rabies yang juga dapat ditularkan melalui satwa primata yang mengamuk dan masuk perkampungan penduduk tersebut.

Seorang petani asal Kabupaten Buton (Sulawesi Tenggara) pernah menceritakan pengalamannya untuk mengusir gangguan hama kera,saat membuka lahan perkebunan di muara Sungai Lepolepo – pesisir Teluk Kendari pada awal tahun 70-an. Ketika itu, tanah rawa yang kini sudah menjadi kawasan perdagangan di Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, menjadi tempat operasi kawanan kera dari hutan-hutan sekitarnya.

Untuk mengamankan tanaman-tanaman dari gangguan hama kera di perkebunannya, si petani menjerat seekor binatang liar tersebut. Al-hasil seekor kera yang diperangkap, sebagian tubuhnya dilumuri cat (dicet) berwarna putih. Kera itu kemudian dilepas. Sejak itu, katanya mengenang, tak pernah lagi terlihat kawanan kera yang datang memakan atau merusak tanaman pertanian di sekitar muara Sungai Lepolepo.

La Ode Moro, si petani, rupanya punya pengalaman dengan satwa kera. Dia menyebut binatang yang satu ini sebagai binatang liar yang paling bodoh. Buktinya, katanya, sekalipun kita pelihara sampai bertahun-tahun, tapi begitu kera dilepas dari ikatannya dia akan berlari dan tak tahu untuk kembali sendiri ke kandangnya. Ndoke, itu sebutan untuk Kera dalam bahasa daerah Buton.

‘’Karena bodohnya, kawanan kera terus berupaya lari menjauh menghindari datangnya kera yang telah dicet putih yang ingin menggabung. Mungkin kera yang sudah dicet itu dikira manusia sehingga kawanan kera lainnya lari menghindar masuk ke wilayah hutan sejauh-jauhnya,’’ kata La Ode Moro,lalu tertawa terkekeh. Hahaaa….ada-ada saja akal manusia!

Mahaji Noesa

/mahajinoesa

TERVERIFIKASI

DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article