HIGHLIGHT

Edan, Perempuan Gila di Ruang Publik Juga Dihamili

29 Mei 2012 10:30:17 Dibaca :
Edan, Perempuan Gila di Ruang Publik Juga Dihamili
Ketika dilakukan penertiban orang gila di ruang publik Kota Makassar/Ft: Mahaji Noesa

Pihak Dinas Sosial dibantu petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Makassar sejak Senin, 28 Mei 2012, tampak mulai melakukan penertiban terhadap pengidap penyakit jiwa (orang gila) yang berkeliaran di pusat-pusat Kota Makassar.

Tindakan tersebut menurut banyak warga, sepatutnya perlu terus dilakukan sebagai operasi rutin. Penting dilakukan, karena tak semata berkait dengan ketertiban, kebersihan dan keindahan kota. Lebih dari itu, penertiban orang gila dari ruang publik merupakan wujud kepeduliaan terhadap kemanusiaan.

Membiarkan orang-orang hilang ingatan berkeliaran mengurus dan mencari makan sendiri di ruang publik, menurut Halim, salah seorang anggota Forum Kajian Multimasalah ‘Biring Tamparang’ di Kota Makassar, sama dengan membiarkan melakukan pengingkaran terhadap amanat dari Undang-undang Dasar 1945, dimana Negara diwajibkan untuk memelihara orang-orang terlantar.

‘’Orang-orang gila yang selama ini berkeliaran di ruang publik Kota Makassar sudah jelas merupakan orang-orang terlantar, sekalipun itu termasuk sengaja ditelantarkan oleh keluarganya,’’ katanya.

Lebih 10 orang gila di sekitar taman-taman Kota Makassar yang terjaring Senin siang kemarin, semuanya laki-laki rata-rata berambut gondrong dan tidak mengenakan baju. Beberapa di antaranya ada yang berkeras menolak saat akan digiring naik ke mobil open kap milik Satpol PP Kota Makassar.

Seorang lelaki pengidap sakit mental yang ditemui petugas di Jl. A.Yani, melakukan penolakan dengan melakukan gerakan aneh-aneh sehingga harus dinaikkan paksa ke mobil. Demikian halnya seorang lelaki gila lainnya yang ditemui sedang menyusur Jl.Sunu. Pengidap penyakit jiwa yang berbaju hitam menenteng bungkusan berisi berbagai jenis sampah buangan tersebut, berkeras untuk tidak mau dinaikkan ke mobil petugas bersama orang gila lainnya.

Gerakan aneh diperlihatkan, tangannya selalu menunjuk ke arah setiap ada mobil taksi kota yang melintas di Jl.Sunu lokasi dia ditemui. ‘’Dia minta naik taksi,’’ teriak seorang anak yang juga ikut berkerumun menyaksikan operasi penertiban orang gila tersebut. Ketika orang-orang sekitar terdengar gerrrr, lelaki gila itu lalu naik melangkah ke mobil petugas berjongkok bersama orang gila lainnya.

‘’Jika ada keluarganya yang bertanya mohon diberi tahu jika orang gila ini diambil petugas untuk dimasukkan ke Rumah Sakit Dadi,’’ ujar salah seorang dari sejumlah PNS Kota Makassar yang menumpang sebuah bus mini mengikuti jalannya penertiban orang gila tersebut.

Rumah Sakit Dadi di Kota Makassar sejak lama dikenal sebagai Rumah Sakit Jiwa pertama di Kawasan Timur Indonesia. Sekarang telah berubah nama menjadi Rumah Sakit ‘Stroke Centre’ Dadi. Di Rumah Sakit Khusus Daerah milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ini terdapat Poli Jiwa, Bangsal Kenanga, dan ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Mahoni dan UGD Meranti yang mampu menampung sampai seribuan orang pengidap penyakit jiwa. Juga terdapat ruang-ruang perawatan VIP.

Menjadi tanda tanya, memang, apabila di Kota Makassar yang memiliki rumah sakit pemerintah dengan fasilitas lengkap penanganan warga berpenyakit jiwa, justru di ruang-ruang publiknya menjadi tempat bebas berkeliarannnya banyak warga pengidap penyakit jiwa.

Menuruit Halim, banyaknya pengidap penyakit jiwa berkeliaran di ruang publik juga dapat menjadi pertanda kian merosotnya rasa kemanusiaan warga serta pemerintah di suatu negeri. ‘’Hal itu bisa menjadi gambaran ketidakpedulian publik, membiarkan menyaksikan manusia berlaku sebagai hewan, seperti membiarkan orang-orang gila itu untuk mengurus dirinya sendiri. Kenyataan seperti ini bukti bahwa rasa kemanusiaan sudah bergerak ke titik nol,’’ katanya.

Di sekitar kawasan kuliner selatan Kota Makassar, ada seorang lelaki gila yang sudah puluhan tahun terlihat dibiarkan beroperasi setiap hari melumat buangan makanan sisa di bak-bak sampah. Orang-orang sekitar yang melihat selama ini, biasanya hanya memberi sekerat roti agar ia berhenti melakukan tindakan yang menjijikkan bagi orang normal tersebut.

Bahkan tidak sedikit yang telah cukup lama menyaksikan tindakan orang gila seperti itu, justru kemudian terdengar memuji sebagai manusia yang diberikan kelebihan kekebalan tidak sakit dengan malahap makanan yang basi, sudah membusuk dan bercampur sampah penuh kuman. Edan….!

Di jalur pemisah Jl. Veteran yang berhadapan dengan mulut Jl. Abubakar Lambogo, selama bertahun pernah ada seorang wanita pengidap penyakit jiwa yang setiap hari berpangkalan di situ. Dia terlalu sering bertelanjang diri dengan gerakan seolah menjemur pakaian-pakaiannya. Namun orang-orang yang lewat di poros dua jalur yang terbilang padat setiap hari di Kota Makassar ini, umumnya hanya terlihat lebih banyak ikut bersuit-suit ketika si wanita gila itu berpolos diri.

Tak hanya hilangnya rasa kepedulian terhadap para pengidap penyakit jiwa. Tapi moral warga pun kelihatan kian jalang, kian edan!. Anda perlu tahu, si perempuan gila yang dimaksud justru kemudian ada juga yang tega menghamilinya.

Di saat hamil dengan perut membuncit, sesekali perempuan gila ini masih sering saja melakukan gerakan berbugil di jalur jalan umum. Setelah beberapa saat menghilang, kemudian si perempuan gila tersebut hanya sesekali terlihat muncul di lokasinya dengan perut yang telah mengempis.

Tidak jarang di sekitar jalanan yang ada di sekeliling Monumen Mandala Pembebasan Irian di Kota Makassar, pada siang hari dijadikan sebagai tempat beroperasi sejumlah orang gila, pria atau wanita yang bagian kemaluannya dibiarkan polos tidak berpenutup.

Di Jalan Gunung Latimojong ke arah Masjid Raya Kota Makassar, pernah ada seorang wanita gila berusia muda yang menjadikan sebagai lokasi operasi dan jadi langganan tontonan dan teriakan warga lantaran sering berjalan dengan membiarkan bagian dadanya terbuka polos.

Banyak tingkah dari para penyandang penyakit jiwa lainnya yang lebih memiriskan hati, namun selama ini seolah semua tak ada yang peduli dibiarkan tetap berkeliaran di ruang publik Kota Makassar.

13382870322131391829
UGD Meranti, salah satu ruang perawatan penyakit jiwa di RS Dadi Kota Makassar/Ft: Mahaji Noesa

Justru banyak warga kota mengharapkan langkah penertiban khususnya terhadap para pengidap penyakit jiwa yang berkeliaran di ruang publik Kota Makassar dapat dilakukan secara rutin. Bahkan diharapkan dapat melibatkan langsung organisasi-organisasi masyarakat temasuk ORW dan ORT untuk melaporkan setiap warga pengidap sakit jiwa yang berkeliaran di sekitar lingkungan kepada pihak Dinas Sosial untuk kemudian ditangani penyembuhannya di Rumah Sakit Jiwa.

Pelibatan organisasi sosial dan organisasi-organisasi kemasyarakatan secara bersinambung juga diharapkan dapat dilakukan terhadap upaya pemerintah kota dalam melakukan penertiban dan pembinaan terhadap Anak Jalanan (Anjal) dan Gelandangan Pengemis (Gepeng).

Pasalnya, sejak bertahun lamanya penertiban dan pembinaan Anjal dan gepeng digaungkan di Kota Makassar, termasuk tak sedikit dana dari berbagai sumber yang telah dihabiskan untuk itu namun belum dapat mengeliminir masalah sosial kemasyarakatan ini. Bahkan dari tahun ke tahun, jumlah dan ruang kebebasan operasi Anjal dan Gepeng di Kota Makassar kian bertambah banyak.

Mahaji Noesa

/mahajinoesa

TERVERIFIKASI (BIRU)

DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?