Ma'arif Setyo Nugroho
Ma'arif Setyo Nugroho Guru

Learning to write, writing to learn

Selanjutnya

Tutup

Guru, Medsos dan Sikap Politik

12 Mei 2017   23:17 Diperbarui: 13 Mei 2017   01:35 20 0 0

Jika anda tertarik karena judul yang saya buat, mungkin andatelah salah klik, maaf, :)Dari judulnya saja mungkin anda sudah menduga arah tulisanini, yang mungkin akan membahas bagaimana hubungan antaraketiganya, atau mungkin juga akan membahas pengaruh medsosterhadap sikap politik guru atau bahkan mungkin takberkaitan sama sekali antara isi dengan judul. Sayasendiripun sebenarnya belum tahu secara pasti arahnya, yangterbersit ketika membuka laman ini hanya "saya lagi penginnulis", gagasan yang ada pun spontan muncul setelah ingatbeberapa status dan pendapat rekan-rekan guru yang ada dimedsos khususnya grup WA dan FB.Tidak perlu saya ungkap berapa grup yang saya ikuti danberapa lama atau berapa banyak teman medsos yang saya amati,bagaiman metode pengamatan saya, apakah secara mendalam atauhanya secara sekilas, karena ini bukan karya ilmiah yangharus memenuhi unsur-unsur tertentu sebagaimana yangdigariskan oleh sebuah karya ilmiah, sekali lagi sayategaskan bahwa saya hanya sedang ingin menulis.Sebagaimana warga masyarakat dan profesi yang lain, gurupunterdiri dari banyak karakter yang dipengaruhi oleh berbagailatar belakang. Meskipun pada umumnya guru mendapat stigmasebagai warga negara yang relatif terdidik dan memilikitingkat kematangan berfikir yang lebih maju dibanding wargamasyarakat pada umumnya, tetapi pada kenyataannya gurupunternyata tidak bebas dari pengaruh-pengaruh yangmengelilinginya.Pengaruh media ternyata tidak pandang bulu, kekuatannyauntuk mempengaruhi pola pikir, pandangan dan bahkankepribadian seseorang tidak sebatas hanya pada orang-orangdengan latar belakang tertentu, tetapi merambah semua orangdengan latar belakang apapun. Stigma bahwa guru adalahsebuah profesi yang disandang oleh seseorang dengankepribadian yang matang dan tidak mudah terpengaruh olehkeadaan linkungan serta segudang nilai positif lainnya yangmelekat dalam diri seorang guru tidak sepenuhnya benar.Fakta bahwa banyak guru yang melakukan tindakan menyimpanghampir tak terhitung jumlahnya, baik penyimpangan yang besarmaupun yang kecil.Bukan bermaksud mendiskreditkan profesi guru, saya hanyasedang menuangkan isi pikiran saya, -yang juga sudahterpengaruh oleh media-,Dalam pergulatan politik di Indonesia, selama ini gurudiposisikan agar bersikap netral dan dihimbau untuk tidakterlibat dlam politik praktis, baik sebagai peroranganmaupun secara organisasi. Apapun tujuannya, himbauan danharapan atau bahkan perintah ini lebih banyak ditaati olehguru dengan sukarela. Sebagaimana kebijakan-kebijakan yanglain, sebaik apapun kebijakan itu disusun tetap saja adaefek yang menyertainya. Sebagian besar guru menjadi bersikapagak kurang peduli dengan politik, menganggap pembicaraanpolitik sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan secaraterbuka.Kecenderungan sikap ini hampir selalu tampak dalam setiapobrolan di media sosial. setiap kali ada seseorang yangmengajukan topik politik maka penanggapnya sangat sedikitsekali dan hampir pasti akan muncul himbauan dari seseorang untuk menghentikansaja topiknya diganti dengan topik yang lain. Dalih yangmuncul tidak jauh dari himbauan-himbauan dan arahan yangpernah diterima, salah satunya adalah agar guru lebih fokusbekerja mendidik siswa dengan lebih profesional dan tidakmemihak berdasarkan latar belakang politik tertentu.Menurut hemat saya, sikap-sikap seperti ini justrubertentangan dengan profesionalisme guru. Sikap yang kontraproduktif dengan hakikat pendidikan sebagai "sesuatu yangmencerahkan". Seorang guru yang profesional mestinya bisamemisahkan serta bisa menempatkan sesuatu sesuai porsinya,mana kepentingan yang berkaitan dengan profesinya dan manayang berkaitan dengan kepentingan pribadinya.Profesionalisme SemuMungkin saja dalih profesionalisme hanyalah sebatas tamenguntuk mencari aman agar terhindar dari konflik yang mungkinterjadi dan membahayakan dirinya. Guru yang seperti iniadalah mereka yang pro status quo, yang nyaman dengankeadaan yang sudah terjadi. fakta bahwa masih banyak guruyang tidak menguasai IT jadi salah satu bukti bahwa alasanprofesionalisme hanyalah isapan jempol belaka. Apapunalasannya, jika seorang guru di jaman serba digital initidak menguasai IT maka bisa dipastikan guru tersebut akankesulitan menyelesaikan tugas administrasi pembelajarannya.Padahal sudah jelas bahwa administrasi pembelajaran adalahsalah satu tugas keseharian seorang guru profesional.Sedikit contoh lagi, dari sekian ribu kompasianer, coba kitahitung berapa persen yang berprofesi guru, kemudian darigrup "Sejuta Guru Ngeblog" di FB asuhan Sang guru Bloggerkita, berapa anggotanya ? Juga dari grup guru yang lain yangjumlahnya mungkin ratusan bahkan ribuan, jarang sekalimembicarakan aspek-aspek profesionalisme dibandingkanmembicarakan keadan sehari-hari.Pluralisme SemuPenekanan agar guru selalu mengangkat semangat plurasime,kesetaraan, demokrasi dsb dalam proses pembelajaran ternyatadalam keseharian di medsos tidak seperti itu. guru takutmembicarakan perbedaan yang berkaitan dengan SARA. Khawatirakan menyebabkan salah satu pihak ada yang merasatersinggung apabila membicarakan sesuatu yang berbau SARA.Bukannya menyalahkan sikap seperti ini, namun sebagaipribadi yang dewasa dengan profesi yang sama dan tahubatas-batas etika diskusi, mestinya justru lebih enak dalammenyampaikan opini secara terbuka, mendiskusikannya bahkanberdebat beradu pendapat dan argumentasi serta opini.Dari beberapa contoh kontraproduktifisme di atas, yangpaling saya herankan dan saya sayangkan serta sangatdisesalkan adalah masih banyaknya teman guru yang melakukancopas artikel, istilah, gambar, konten milik orang lain(dengan penuh kebanggaan), bahkan ada juga yang gemarmenyebar HOAX dan tanpa tahu bahwa itu adalah HOAX serta apaitu HOAX (Karena baru beberapa bulan pegang android yangakun WA-nya dibuatkan oleh pelayan konter).#Mohon maaf yang sebesar-besarnya nih teman-teman guru, sayabuka sedikit dapur kita