Choirul Rosi
Choirul Rosi Pegawai

Cerita kehidupan yang kita alami sangat menarik untuk dituangkan dalam cerita pendek.

Selanjutnya

Tutup

Teana - Teana (Part 6 - Lanjutan 3)

21 April 2017   07:31 Diperbarui: 21 April 2017   08:58 74 0 1
Teana - Teana (Part 6 - Lanjutan 3)
Sumber: goldwallpapers.com

“Kau sudah minum terlalu banyak Haydar. Ayo kita pulang.” ajak Ghalib sahabatnya.

“Tidak… Aku masih ingin minum – minum malam ini.” ucap Haydar sambil meraih gelas diatas mejanya setelah ia mengibaskan tangan kanannya untuk menolak ajakan Ghalib.

Ghalib hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan sahabatnya itu.

“Haydar, ini sudah hampir larut malam. Kita harus kembali ke penginapan. Karena besok pagi – pagi sekali kita harus pulang ke Kota Hegra.” bujuk Ghalib dengan sabarnya.

Namun Haydar masih saja tidak beranjak dari mejanya. Ia malah meminta sebotol minuman lagi kepada pelayan.

“Tuan, biar saya saja yang mengatasi semuanya. Tuan pergilah ke pemilik kedai untuk membayar minuman kita ini.” ucap Manaf  kepada Ghalib.

Manaf tahu benar bahwa Ghalib telah kehabisan akal untuk mengajak Haydar pulang. Wajahnya nampak lelah. Sehingga Manaf mencoba membantu Ghalib untuk membujuk Haydar pulang.

“Baiklah Manaf, kau urus Haydar. Biar aku membayar minuman kita ini.” jawab Ghalib singkat.

Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri pemilik kedai untuk membayar minuman mereka.

Suasana kedai Zubi makin ramai saja. Musik gambus mengalun bersahut – sahutan dengan alunan merdu seruling.

Satu persatu penari mulai bermunculan. Menyuguhkan tarian – tarian khas padang pasir. Tarian perut.

“Ayo menarilah… Hiburlah kami!” teriak para pengunjung kedai Zubi malam itu sambil mengangkat gelas – gelas mereka.

“Sini, temani aku minum,” teriak salah seorang lelaki yang mabuk dengan suaranya yang parau.

Malam itu banyak sekali lelaki yang berdatangan ke kedai Zubi. Berkunjung kesana untuk yang pertama kali dalam hidup mereka.

Setelah seharian berdagang di Petra, mereka ingin melepas lelah mereka bersama para wanita Petra.  Mereka ingin membuktikan kecantikan wanita Petra yang terkenal di seluruh Semenanjung Arab. Membuktikan cerita yang sering mereka dengar dari mulut ke mulut. Dari satu pedagang ke pedagang lain yang pernah berkunjung ke Kedai Zubi.

Para lelaki itu berasal dari berbagai wilayah. Mulai dari Semenanjung Arab, Syria, Damaskus hingga India. Dari lelaki berkulit putih hingga gelap, berbadan kurus hingga kekar sampai lelaki berhidung mancung dengan matanya yang besar. Semuanya berkumpul disana.

“Iya… Teruslah menari. Goyangkan badan kalian.” teriak pengunjung yang lain.

Sepertinya ia adalah lelaki muda dari India. Terlihat dari hitamnya bola matanya dan banyaknya jambang yang tumbuh lebat di pipinya serta tilak merah yang menghias dahinya.

Suasana semakin riuh oleh tepuk sorai para lelaki begitu melihat beberapa wanita bercadar berbaris rapi didepan mereka.

Malam makin panas. Semua pengunjung larut dalam kesenangan masing – masing. Para wanita penari itu mulai menggoyangkan tubuhnya. Meliuk – liuk indah sambil memainkan matanya dengan nakal. Menggoda para lelaki yang melihatnya.

Dengan rambut panjang merah kecoklat – coklatan serta mata biru yang indah, para wanita penari itu dengan mudahnya membuat para pengunjung bertekuk lutut dan hanyut dalam pelukan mereka.

Namun itu terjadi hanya sesaat. Setelah koin – koin emas berpindah kedalam genggaman tangan mereka yang lembut, saat itulah mereka melepaskan pelukan mereka.

Kemudian para penari itu berjalan menghampiri lelaki lain yang berteriak – teriak menginginkan mereka. Para lelaki yang menginginkan tubuh mereka untuk menghangatkan jiwa – jiwa mereka yang dingin. Begitu seterusnya tak ada habisnya.

Namun disebuah meja - tepatnya meja didekat pintu, keindahan tarian yang disuguhkan para penari itu menjadi tidak menarik.

Di sudut kedai, Manaf merasa kesulitan untuk membujuk Haydar pulang. Ia berusaha keras memutar otaknya agar Haydar beranjak dari tempat duduknya.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Manaf kepada dirinya sendiri.

Dalam keramaian kedai malam itu, Manaf berusaha keras berpikir. Ia mencari cara agar Haydar bisa dibujuknya pulang.

Setelah cukup lama berpikir, akhirnya ia bisa tersenyum. Sebuah senyum kemenangan.

Ia memesan sebotol minuman. Sebotol guci kecil berisi minuman memabukkan kesukaan Haydar. Lalu ia membuka tutup botol itu dan mengarahkan mulut botol ke hidung Haydar. Meniupnya tepat di depan muka Haydar.

Dalam beberapa kali tiupan,terbukalah kelopak mata Haydar sedikit demi sedikit. Pelan namun pasti.

“Aah… Berikan minuman itu padakuuu…” ucap Haydar dengan suara parau. Setelah ia mencium aroma botol tadi, mendadak ia terbangun. Seakan aroma minuman tadi berteriak – teriak di kepalanya. Memanggil – manggil namanya.

“Caraku berhasil….” gumam Manaf dalam hati sambil mengangkat tubuh Haydar pelan – pelan.

Tak berapa lama datanglah Ghalib sambil membawa beberapa bungkusan berisi makanan kecil untuk mereka makan esok hari.

“Bagaimana keadaan Haydar,?” tanya Ghalib kepada Manaf.

“Seperti yang Tuan lihat, tubuhnya sangat berat. Hamba tak sanggup memapahnya sendirian Tuan,” jawab Manaf.

“Oh maaf, mari aku bantu memapah Haydar. Ia memang keterlaluan. Seharusnya ia tak minum banyak malam ini. Kalau terjadi seperti ini, yang kesusahan adalah kita temannya.” ucap Ghalib sambil berjalan memapah temannya keluar.

“Sudahlah Tuan, tidak usah dipikirkan. Haydar masih muda. Dan lagi, ia belum pernah minum sejak kepergiannya meninggalkan Kota Hegra. Wajar saja kalau ia melampiaskan keinginannya untuk minum banyak malam ini,” ucap Manaf sedikit membela teman baiknya itu.

“Ah kau ini, masih saja membela orang yang salah.” gerutu Ghalib.

“Maaf Tuan, hamba tidak bermaksud demikian.” jawab Manaf pelan sambil menunduk.

Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan Kedai Zubi. Sambil berjalan memapah Haydar yang nampak lemas, Ghalib dan Manaf keluar kedai dengan pelan – pelan.

Namun secara tidak sengaja siku kiri Ghalib menyenggol kepala salah seorang pengunjung kedai. Lelaki Arab. Berperawakan tinggi besar dengan jambang yang lebat memenuhi pipinya.

Ghalib yang merasa kelelahan memapah tubuh Haydar tidak menyadari akan hal itu.

“Hai, apa – apaan kau ini. Kurang ajar sekali kau menyentuh kepalaku. Mau mati kau rupanya!” teriak lelaki Arab itu dengan emosi terpancar jelas di matanya. Nampaknya ia berada dibawah pengaruh minuman keras.

“Maaf Tuan, aku tidak tahu. Sekali lagi maaf.” ucap Ghalib.

Seketika itu suasana menjadi tegang. Tarian dan musik gambus dihentikan. Lelaki Arab itu berdiri tepat dihadapan Ghalib. Ia mencengkeram kerah jubah Ghalib hingga membuat Ghalib terhuyung kedepan.

Haydar terlepas dari genggaman tangan Ghalib, namun Manaf masih tetap siaga menahan tubuh Haydar agar tidak terjatuh.

“Kau melawanku?” tanya Khurram dengan mata melotot kemerahan. Dari mulutnya keluar aroma minuman keras yang sangat pekat. Ia telah banyak minum malam ini. Hal itu terbukti di mejanya terdapat tujuh botol minuman keras yang telah kosong. Isi botol itu telah berpindah kedalam perutnya. Mengalir menuju syaraf otaknya. Hingga memicu emosinya. Kemarahan yang sangat.

Melihat Tuannya dalam keadaan terpojok, Manaf segera menyandarkan tubuh Haydar keatas meja yang kosong. Ia berusaha melerai pertengkaran itu.

“Tuan, lepaskan Tuan saya. Bukankah ia sudah meminta maaf kepadamu?” ucap Manaf kepada Khurram.

“Kata maaf belumlah cukup. Kau belum tahu siapa aku. Aku adalah Khurram. Penguasa kedai ini. Berani – beraninya temanmu ini menyentuh kepalaku.” bentak Khurram.

Manaf tidak takut sedikitpun. Bentakan itu tidak mebuat ciut nyalinya. Otak Manaf berpikir keras. Antara mengalah atau melawan.

“Kalau aku melawan, aku pasti kalah oleh pria muda berbadan tegap ini. Kalau aku diam dan mengalah, Tuan Ghalib dalam bahaya. Apa yang harus aku lakukan?” gumam Manaf dalam hatinya. Kepalanya memikirkan berbagai kemungkinan agar bisa lepas dari situasi yang menyulitkan ini.

Tiba – tiba…

“Aku ingin minuuuummmm….” teriak Haydar dalam suaranya yang parau memecah ketegangan antara Ghalib, Manaf dan Khurram.

Saat itulah mendadak Manaf teringat akan minuman yang dibelinya tadi. Minuman yang ia gunakan untuk membangunkan Haydar dari tidurnya. Minuman yang belum sempat Haydar minum.

“Tuan… Aku ada penawaran menarik untukmu. Tapi lepaskan Tuanku.” ucap Manaf setelah ia berjalan mendekat kepada Khurram.

“Apa yang kau tawarkan?” Apa yang akan kau tukarkan dengan harga diriku yang sudah dipermainkan oleh temanmu ini haahhh…” bentak Khurram.

“Ini, kau pasti menyukainya.” ucap Manaf sambil menunjukkan sebotol minuman diatas telapak tangannya. Sebuah botol minuman yang bisa dibilang cukup mahal di kedai Zubi. Minuman anggur bercampur sedikit rempah – rempah India dan madu Kashmir.

Pelan – pelan Manaf membuka tutup botol itu. Aroma harum menyegarkan langsung menyerbak ke udara. Menembus lubang hidung Khurram.

Pelan – pelan Khurram melepaskan cengkeraman tangannya di leher Ghalib. Tanpa diperintah lagi, segera ia meraih botol minuman itu. Sebuah botol kecil sebesar genggaman tangan orang dewasa yang terbuat dari guci berwarna putih.

“Pergilah. Enyahlah kalian dari penglihatanku.” ucap Khurram.

Ghalib dan Manaf meninggalkan Khurram yang asyik menikmati minuman yang baru didapatnya. Lalu mereka memapah Haydar untuk menuju pintu keluar Kedai Zubi.

Setelah sampai diluar, Ghalib berhenti sebentar.

“Manaf, terimakasih banyak.” ucap Ghalib.

“Sama – sama Tuan. Sudah kewajiban saya menolong Tuan.” ucap Manaf merendah.

“Mengenai minuman tadi, aku akan menggantinya di lain waktu.”

“Ah Tuan, lupakan saja minuman itu. aku sendiri tidak minum minuman yang memabukkan. Kebetulan minuman tadi aku gunakan untuk membangunkan Haydar. Anggap saja malam ini kita sedang sial Tuan. Hahahaha….” gurau Manaf.

Mereka bertiga akhirnya meninggalkan kedai Zubi. Berjalan menuju Penginapan Saba yang tidak jauh dari Kedai Zubi.

Samar - samar mulai terdengar alunan musik gambus dimainkan. Sepertinya Khurram mulai menikmati kembali hiburan yang sempat dikacaukan oleh Ghalib.

Langit mulai gelap. Jalanan di Kota Petra mulai nampak sepi. Di pinggir jalan terlihat dua lelaki menyalakan api kecil. Mereka sedang asyik mengobrol. Tentang sesuatu yang membuat mereka senang. Sesuatu yang belum pernah mereka rasakan selama hidup mereka. Entah apa itu.

***

“Dimana aku?” tanya Haydar sambil memegangi keningnya dengan tangan kanan. Menekan – nekan keningnya untuk mengusir rasa pusing di kepalanya.

Manaf yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Haydar tersenyum melihat sahabatnya itu. Akhirnya Haydar  sadar juga setelah semalaman dalam pengaruh minuman keras.

“Masih pusing Haydar?” tanya Manaf.

Manaf sedang sibuk mengemasi barang – barangnya. Membereskan ruangan tempat mereka menginap.

“Sedikit Manaf.” jawab Haydar pelan.

“Sebaiknya lekas kau membersihkan diri. Setelah itu kita harus kembali ke Kota Nabataea. Karena urusan kita disini telah selesai.”

“Iya, aku tahu itu. Ngomong – ngomong, dimana Ghalib? Kenapa ia tidak ada? Kemana perginya?” tanya Haydar sambil duduk di tepian tempat tidurnya yang terbuat dari batu persegi berukuran selebar orang dewasa beralaskan karpet lembut.

“Tuan Ghalib? Oh Tuan sedang keluar. Ia membereskan pembayaran penginapan kita.” jawab Manaf singkat.

“Oh begitu, kalau begitu aku mandi sebentar.” jawab Haydar.

“Iya, bersihkan badanmu itu. Hilangkan bau minuman keras sisa semalam.” ucap Manaf.

“Iya aku tahu.” jawab Haydar singkat.

Penginapan Saba pagi itu tampak lengang. Seperti biasanya, para tamu selalu keluar di pagi hari dan kembali di malam hari. Karena kebanyakan tamu di penginapan itu adalah para pendatang dari berbagai wilayah di Semenanjung Arab. Mereka sibuk berdagang di Kota Petra. Kota pusat perdagangan di Semenanjung Arab.

Hal itulah yang membuat Penginapan Saba menjadi penginapan yang sangat terkenal di Kota Petra. Saba merupakan tempat beristirahat para pembesar kerajaan dan para pedagang besar dari berbagai wilayah di Semenanjung Arab. Karena termasuk penginapan paling besar dan paling ramai.

Seluruh pintu ruangan untuk menginap para tamu tidak memiliki daun pintu. Pintu itu hanya berupa pahatan berbentuk persegi sebagai jalan masuk kedalam ruangan. Meskipun tak berdaun pintu, keamanan para tamu tetap menjadi nomor satu. Karena di setiap lorong – lorong penginapan terdapat penjaga khusus.

Masing – masing pintu ruangan berhiaskan berbagai macam pahatan. Seperti pahatan rumah khas Bangsa Romawi dengan dua buah pilar besar di bagian kanan kirinya dan sebuah pahatan burung elang di bagian atapnya.

Ada juga beberapa pintu ruangan yang berhiaskan pahatan bunga serta daun – daunan. Pahatan – pahatan itu semakin menambah keanggunan dan kemewahan tempat tersebut.

“Haydar sudah bangun?” tanya Ghalib saat ia memasuki ruangannya.

“Tuan sudah datang rupanya. Sudah Tuan, Haydar sedang membersihkan badannya.” jawab Manaf. Lalu ia duduk disebelah Ghalib.

“Ini aku belikan mantel bulu Meerkat untuk kalian berdua. Cobalah, mudah – mudahan cocok ukurannya.” ucap Ghalib sambil menyodorkan sebuah bungkusan kain kepada Manaf.

“Mantel Meerkat? Pasti mahal.” ucap Manaf sambil membuka bungkusan kain yang ia terima dari Ghalib.

“Apa itu Manaf ? Indah sekali.” ucap Haydar setelah ia selesai membersihkan badannya.

“Ini, kau cobalah satu.” jawab Manaf sambil menyodorkan sebuah bungkusan berisi mantel.

“Iya Haydar, cobalah. Pasti cocok untukmu.” sahut Ghalib.

“Bagus sekali Manaf. Kau yang membelinya?” tanya Haydar.

“Tentu saja bukan. Mana mungkin orang sepertiku mampu membeli mantel sebagus ini.” jawab Manaf.

“Lalu, siapa yang membeli mantel Meerkat ini?” tanya Haydar sambil membetulkan posisi mantel tersebut.

“Aku yang membelikannya untuk kalian berdua. Tadi sewaktu aku pergi, di jalan aku melihat ada kerumunan. Setelah aku dekati, ternyata itu adalah seorang pedagang mantel dari Syria yang sedang berjualan. Kebetulan mantel itu bagus dan aku suka. Akhirnya aku mendapatkan 2 buah mantel Meerkat setelah aku tawar menawar dengan pedagang itu.” jawab Ghalib sambil tersenyum kepada kedua sahabatnya itu.

“Hmm… Kalau boleh tahu, berapa harga kedua mantel Meerkat ini Ghalib?” gurau Haydar.

“Kau ini Haydar, sudah dikasih masih saja banyak tanya. Seharusnya kau berterimakasih kepada Tuan Ghalib. Bukan malah banyak bertanya seperti itu.” ucap Manaf menasehati.

“Tidak apa – apa Manaf. Biarkan saja.” jawab Ghalib.

“Maafkan saya Tuan.” balas Manaf.

“Dua buah mantel itu seharga seekor unta.” jawab Haydar singkat.

Mendengar jawaban Ghalib, Haydar hanya bisa menelan ludah.

“Apa? Seekor unta katamu?” ucap Haydar tidak percaya akan apa yang baru saja dikatakan Ghalib.

“Benar sekali. Lebih tepatnya duapuluh koin emas.” balas Ghalib singkat.

“Mahal sekali Tuan,” gumam Manaf pelan.

“Bagiku, uang bukanlah yang utama. Tapi ketulusan hati kalianlah yang utama. Anggap saja itu adalah bentuk ucapan terimakasihku kepada kalian yang telah membantu pekerjaanku selama di Kota Petra.” ucap Ghalib.

“Terimakasih banyak Tuan.” Jawab Manaf.

“Ghalib, terimakasih atas semuanya.” sahut Haydar.

“Sama – sama.” jawab Ghalib sambil tersenyum kepada kedua sahabatnya itu.

“Ya sudah Tuan, Haydar. Ayo kita segera berangkat ke Kota Hegra. Selagi hari masih belumlah panas.” ucap Manaf.

“Mari…” balas Ghalib.

Perjalanan ketiga orang Nabataea itu berlanjut. Mereka akhirnya kembali kerumah mereka di Kota Hegra. Masing – masing menaiki untanya. Dengan diiringi hangatnya sinar matahari dan hembusan angin yang cukup lembut, mereka meninggalkan Penginapan Saba.

Sepanjang perjalanan, mereka merasa puas. Karena saluran air yang mereka pahat sepanjang dinding Al Siq telah digunakan oleh para penduduk Petra.

Manaf - si tukang pahat, sengaja menghubungkan saluran air yang ada di sumber air Wadi Musa dengan saluran air ditengah Kota Petra. Air yang didapatkan dari Wadi Musa dihubungkan dengan saluran air di dinding Al Siq, saluran air yang sudah dipasangi pipa – pipa dari tanah liat kering. Kemudian saluran itu  dihubungkan dengan pipa – pipa yang ada ditengah Kota Petra. Sehingga kebutuhan air di Kota Petra dapat tercukupi dengan baik.

“Lihatlah hasil kerjamu Manaf, semua orang kini bisa merasakan segarnya air ditengah – tengah gunung yang panas ini.” puji Ghalib.

“Iya Tuan, ini semua juga karena Tuan yang telah membantu mereka. Kalau bukan karena Tuan, saluran air ini tidak akan ada.” sahut Manaf.

Setelah beberapa jam berjalan, sampailah mereka di lorong Al Siq. Tepatnya di pintu masuk Kota Petra. Di depan Al Khazneh.

“Lihat, kita hampir sampai di Al Siq.” ucap Haydar.

Ketiga ekor unta mereka berjalan pelan – pelan menuju Al Siq. Saat sampai di pintu masuk, tiba – tiba…

“Tunggu sebentar Tuan, Hamba punya ide.” ucap Manaf.

“Ide apakah itu?” tanya Ghalib penasaran.

“Izinkan hamba memahat patung dan unta Tuan disini. Di dinding Al Siq.” jawab Manaf.

“Untuk apa Manaf ?” tanya Ghalib penasaran.

“Agar semua orang tahu bahwa Tuanlah yang membangun saluran air ini.” Jawab Manaf singkat.

“Tapi Manaf…” sela Ghalib.

“Sudahlah Tuan, Tuan istirahatlah disana bersama Haydar. Pahatan ini tidak membutuhkan waktu lama. Hanya beberapa menit saja.” ucap Manaf.

“Tuan, sebaiknya Tuan turuti permintaan Manaf. Apa salahnya patung Tuan dipahat disana. Patung seorang pembesar Nabataea yang patut dihormati para penduduk.” ucap Haydar.

“Ya sudahlah kalau begitu. Semoga dengan begitu, pengorbanan kita bisa dikenang oleh orang lain.” jawab Ghalib singkat.

Manafpun mempersiapkan peralatannya. Haydar dan Ghalib meninggalkan Manaf. Mereka menunggu di depan Kuil Al Khazneh. Mereka mengikat ketiga unta mereka disalah satu tiang yang ada didepan kuil.

Suasana cukup ramai siang itu. banyak sekali para pedagang yang datang. Ghalib membeli beberapa makanan dan minuman untuk dimakan dengan Haydar sambil menunggu Manaf menyelesaikan pahatannya.

Dengan sangat cekatan dan teliti, dalam beberapa menit Manaf telah menyelesaikan pahatannya. Lalu ia menemui Ghalib.

“Tuan, sudah selesai. Tuan bisa melihatnya.” ucap Manaf.

“Oh ya? Baiklah kalau begitu.” jawab Ghalib.

Mereka bertiga akhirnya mengemasi barang – barang mereka. Haydar memberikan minuman kepada Manaf. Lalu naiklah ketiga orang Hegra itu keatas unta mereka masing – masing. Mereka berjalan menuju Al Siq.

“Indah sekali Manaf, pahatanmu sangat halus.” puji Ghalib setelah ia berhenti didepan pahatan patung dirinya. Tak henti – hentinya ia memuji kehebatan Manaf.

“Terimakasih Tuan, ini adalah pemsembahan hamba kepada Tuan. Karena Tuan telah berbaik hati memberi hamba dan Haydar sebuah mantel Meerkat yang mahal. Dan mendadak hamba mendapatkan ide ini.” ucap Manaf sopan.

“Begitu ya? jadi sekarang kita impas. Hahahaha…” gurai Ghalib.

Dan akhirnya mereka meninggalkan Kota Petra. Kembali ke Kota Hegra untuk meneruskan urusan mereka yang masih sangat banyak. Terutama Ghalib. Sang pembesar kerajaan.