Andreas Lucky Lukwira
Andreas Lucky Lukwira wiraswasta

mantan ketua angkatan, mantan kasir, mantan calo tiket sepakbola, mantan reporter tabloid kecantikan, mantan kernet Mayasari, mantan kordinator operasi bis malam....sekarang calo bis pariwisata plus EO tour kecil2an pengasuh akun @NaikUmum

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Petugas Transjakarta, Mereka yang Terlupakan

16 Juni 2017   14:32 Diperbarui: 16 Juni 2017   22:30 433 1 0

Senin, 12 Juni 2017 jagad Jakarta diramaikan berita soal mogoknya petugas Transjakarta. Kejadian ini seakan membuka mata orang banyak bahwa dibalik banyaknya perbaikan positif di Transjakarta ternyata ada bara yang akhirnya meledak.

Ya harus diakui bahwa di usianya yang sudah 13 tahun, Transjakarta berkembang pesat dalam 4 tahun terakhir. Saya sendiri merupakan pengguna rutin TJ sejak 7 tahun terakhir, dan pengguna sesekali sejak TJ awal diluncurkan. Sehingga saya cukup kenyang merasakan baik buruknya Transjakarta.

Mulai dari masalah kelayakan bus, saya merasakan bus-bus yang AC nya tidak terasa dingin, suspensinya terasa seperti mentok ke ban, bau sangit saat bus berjalan, hingga bus mogok. Kejadian-kejadian seperti di kalimat sebelumnya merupakan sesuatu yang biasa terjadi sebelum 4 tahun lalu. Atau lebih tepatnya 11-4 tahun lalu dimana layanan TJ menurun justru ketika mereka membuka koridor-koridor baru.

Dengan kondisi bus seperti itu, tentunya berimbas banyak kepada kenyamanan penumpang dan operasional TJ. Dimana gangguan-gangguan pada bus secara langsung menurunkan tidak hanya kualitas tapi juga kuantitas akibat berkurangnya armada-armada yang "pingsan" di jam operasional. Jarak antar bus (headway) menjadi renggang, hingga bus yang datang pun sudah penuh sesak. Sementara mau menunggu bus berikutnya pun tidak ada kepastian (jaman itu belum ada aplikasi di gawai atau monitor informasi di shelter yang bisa menunjukan posisi bus berikutnya).

Itu baru soal bus, belum soal petugas. Sebagai penumpang rutinnya, tentu saja hampir tiap hari saya bersentuhan dengan para petugas ini. Maka "gesekan" akibat layanan mereka yang buruk sangat sering saya alami. Mulai dari petugas kasir yang pelit senyum, pelit informasi (atau memang tidak tahu informasi?) hingga yang ketusnya bukan main. Lalu petugas onboard  yang bisu ketika ditanya atau yang menolak penumpang masuk (padahal di dalam masih lowong). Gesekan paling tinggi ketika saya ditanya "anda siapa tanya-tanya" saat saya bertanya "bisnya dimana?" sekitar akhir 2011 di shelter PGC luar.

Gesekan-gesekan tersebut bahkan menyebabkan saya "ditandai" oleh petugas-petugas tersebut. Mereka akan langsung menghindar atau memasang wajah waspada jika saya masuk shelter atau bus tempat mereka bertugas. Postingan-postingan kritis saya di media sosial tidak jarang mendapatkan reaksi negatif dari petugas-petugas tersebut.

Selain petugas yang bergesekan langsung dengan saya, ada juga beberapa kasus terkait petugas PT TJ seperti petugas onboard yang menggigit penumpang akhir 2011 (berita: http://megapolitan.kompas.com/read/2011/12/04/05021779/Petugas.Busway.Gigit.Jempol.Penumpang ) hingga melakukan pelecehan kepada penumpang TJ (berita: http://megapolitan.kompas.com/read/2014/01/28/1115504/Akui.Cabuli.Penumpang.4.Petugas.Transjakarta.Dipecat

Segala "kekelaman" tersebut perlahan terkesan mulai hilang sejak transisi menjadi PT Transjakarta. Bus-bus mereka mulai bertambah banyak (meski tidak diimbangi perawatan yang meningkat kualitasnya) sehingga headway menjadi semakin rapat. Operator dengan bus bobrok pun perlahan mulai hilang, berganti operator dengan standar kualitas layanan bus yang baik. Bahkan bus dengan merk Zhongtong dikenal diantara para pengguna TJ sebagai "bus kulkas". 

Pun begitu dengan layanan petugasnya. Saya sampai tercengang kaget beberapa tahun lalu ketika ada petugas memberi salam dengan tangan menelangkup di depan dada saat saya masuk shelter. Saya serasa memasuki hotel berbintang. Perubahan tidak hanya saat kita masuk shelter, tapi juga saat sudah di bus. Saya sudah sulit menemukan petugas yang "sakit gigi", membisu saat ditanya. Saya bahkan menemukan petugas bernama Fauzi yang sangat informatif dan selalu menyapa ramah, aksi Fauzi saya rekam di video berikut https://www.youtube.com/watch?v=R2IUi4_UTqA 

Bus sudah bagus dan banyak, layanan petugas sudah membaik. Seakan semua sudah sempurna.

Namun kesempurnaan tersebut agak saya ragukan ketika ada seorang pramudi TJ dari PT TJ (bukan operator), yang kebetulan berteman dengan saya di Media Sosial, mengirim pesan singkat: mas saya sudah tidak di TJ lagi

Agak kaget saya tanya balik: lho bukannya kesejahteraan pramudinya bagus mas, sekian kali UMP?

Pramudi tersebut menjawab: Ga mas. Ga seperti yang diberitakan. Saya pamit ya mas

Hubungan dengan pramudi tersebut kembali terjalin  beberapa minggu kemudian, juga melalui pesan singkat: mas saya sampai sekarang belum bisa urus Jamsostek, karena surat keterangan berhenti kerja belum keluar-keluar mas.

Saat itu saya menyadari bahwa ada yang tidak beres dalam menejemen SDM PT TJ.

Keluhan juga muncul dari petugas-petugas layanan TJ, namun keluhan masih bersifat personal bukan masif. (catatan: akibat termasuk penumpang "cerewet", beberapa petugas justru berteman media sosial dengan saya)

Keluhan tersebut menjadi "serius" sekitar seminggu lalu (minggu pertama Juni 2017) ketika seorang petugas TJ mengirim Whatsapp ke saya: mas kami-kami akan di PHK sebentar lagi

ketika saya tanya alasannya, dia mengirim foto kriteria evaluasi kontrak: Usia, Disiplin Kerja, Performance, hingga Pertalian Darah (termasuk adanya suami-istri dalam 1 perusahaan).

Atas dasar ini saya sendiri agak heran ketika pejabat-pejabat terkait seperti Kadishub justru merasa bahwa demo 12 Juni lalu adalah "Aksi dadakan, tidak ada pemberitahuan" (berita: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/06/12/15154511/tak.pernah.ada.pengaduan.kadishub.kaget.tiba-tiba.pegawai.transjakarta.demo ). Membaca statement tersebut saya bertanya apakah ada komunikasi terputus antara pimpinan dengan bawahannya sehingga pimpinan terkait justru tidak tahu adanya bara diantara pegawai PT TJ. Apakah ada upaya menutup-nutupi (Asal Bapak Senang) diantara bawahan-bawahan dan menejemen PT TJ terkait persoalan pegawai kontrak.

Saya sendiri berharap agar ada perhatian serius terkait pegawai-pegawai kontrak PT TJ ini, terutama dari PT TJ. Saya tidak yakin dari sekian ribu pegawai yang akan diputus kontrak tersebut kesemuanya buruk, mengingat layanan PT TJ akhir-akhir ini jauh membaik.

Ada baiknya PT TJ lebih bijak terkait kontrak pegawainya, kedepankan rasa kekeluargaan. Toh kemajuan layanan TJ, suka tidak suka, ada peran mereka juga.

Adakan reward and punishment , jangan hanya punish and punish.

Sekali lagi, membenahi sebuah perusahaan transportasi tidak berhenti hanya dengan membeli banyak bus bagus dan berbagai proyek pencitraan (yang justru jauh dari substansi: layanan kepada penumpang) seperti Transjakarta Harmoni atau penjualan sembako di shelter (yang membelinya pun banyak syaratnya). Tapi penting juga untuk memanusiakan manusia yang terlibat di dalamnya, baik penumpang, Pramudi, Petugas dan semua manusia yang ada dalam sistem TJ tersebut.

 

Andreas Lucky Lukwira

akun @NaikUmum

Penumpang rutin Transjakarta sejak 2010