Teriakan Aremania Aji Out dan Si Cewek Matre yang Ingin Selalu Dicinta

13 Juni 2017 16:00:13 Diperbarui: 13 Juni 2017 16:05:24 Dibaca : 158 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
Hasil imbang 0-0 yang diraih Arema FC dalam laga kandang melawan Perseru Serui di Stadion Gajayanan Malang, Sabtu (10/6) petang menjadi klimaks kekecewaan Aremania atas klub berjuluk Singo Edan itu. Mengingat hasil ini menjadi rentetan hasil buruk yang diraih tim ini dalam beberapa laga terakhir. Dimulai dari kekalahan 1-0 atas PSM yang diarsiteki sang mantan Robert Rene Albert, saat dibantai Persela 4-0 dan saat dibungkam Persija Jakarta 2-0.
 
Kekecewaan Aremania bukan semata karena skor kekalahan yang mencolok dan gagal menang di laga kandang, tetapi juga permainan yang buruk diperlihatkan Adam Alis cs. Arema yang dikenal dengan permainan cepat dan keras khas Malang selama ini tidak menunjukkan permainan yang demikian. Padahal Arema FC kini dilatih Aji Santoso, seorang legenda Arema asli Arek Malang yang tentu saja dia tahu apa itu Arema.
 
Permainan Arema sejak dilatih orang yang katanya legenda ini tidak saja gagal menampilkan permainan cepat dan keras, juga permainannya tanpa pola, tanpa karakter yang jelas, sehingga lawan akan mudah menaklukkannya. Melawan tim sekelas Persela yang kesulitan berada di posisi papan atas saja bisa dibantai empat gol tanpa balas, apalagi melawan klub besar sekelas Real Madrid. Jangan dibayangkan berapa banyak gol yang bersarang ke gawang Kurnia Mega.
 
Keputusan manajemen Arema FC merekrut Aji Santoso di awal musim kompetisi Liga 1 ini sebenarnya salah satunya untuk menjawab keinginan Aremania yang menghendaki pelatih berkarakter Malangan. Dan Aji Santoso dianggap mampu menjawab keinginan itu. Namun sekian laga dilalui, Aji gagal menjawabnya.
 
Usai kekalahan melawan Perseru Serui suara Aremania yang meminta Aji Santoso mundur dari jabatan pelatih atau #AJIOUT terdengar semakin nyaring. Suara ini sebenarnya sudah mulai terdengar saat Arema FC dibantai Persela di Lamongan. Namun sebagian Aremania lain berusaha meredam karena Aji perlu kesempatan lagi, dan Aremania diharapkan tidak menjadi suporter Menangmania.
 
Aremania, terutama yang selalu konsisten hadir di stadion tidak terhitung lagi berapa banyak yang telah dikorbankan demi kecintaannya kepada Arema FC. Mulai membeli tiket Rp 40 ribu kelas ekonomi yang tentu saja tidak murah bagi yang hanya seorang buruh, sampai rela meninggalkan rutinitasnya mereka lakukan. Ada saja dari kita yang sampai izin atau bahkan bolos bekerja atau sekolah hanya untuk mendukung satu kata Arema dari tribun stadion. Bernyanyi dan menari sepanjang pertandingan.
 
Belum lagi soal materi, sekali nonton satu pertandingan Arema saja kalau dikalkulasi tidak cukup hanya bermodal Rp 50 ribu, yang sekali lagi bagi buruh atau wirausaha kecil itu uang yang besar. Tiket saja Rp 40 ribu, bensin sepeda motor katakan Rp 10 ribu, rokok, jajan di stadion dan lainnya. Mungkin kita akan merasa nyaman menonton di tribun ekonomi kalau berbekal uang Rp 100 ribu. 
 
Namun sejak dahulu kala Aremania kita semua tahu tidak pernah berhitung kalau soal mendukung Arema. Itu semua didasari karena rasa cinta serta loyalitas kepada klub yang membuat bangga kami Arek Malang. Justru saya kira manajemen FC yang lebih perhitungan. 
 
Apalagi kita bersama tahu terjadi dualisme di tubuh Arema, selain Arema FC ada Arema Indonesia yang berkompetisi di Liga 3. Dualisme ini tidak bisa dipungkiri membuat sebagian katakan kecil Aremania atau Arek Malang enggan untuk mendukung Arema dua-duanya. Arema yang sebelumnya dianggap just not football (bukan saja sepakbola) dan sebagai simbol pemersatu Arek Malang, kini perlahan semangat itu mulai luntur sejak Arema mendua.
 
Dampaknya tentu saja, tribun stadion setiap Arema FC bertanding seringkali banyak kosong. Kecuali saat pertandingan bigmatch atau laga tandang. Karena di dua jenis laga itu Aremania bisa sedikit menghibur diri dengan bersama-sama berkumpul sembari bernostalgia dan sejenak berusaha melupakan kenyataan getirnya diduakan.
 
Namun manajemen Arema FC yang telah merangkul tokoh Aremania macam Ovan Tobing atau Yuli Sumpil seakan tidak mau tahu sakitnya Aremania diduakan dan kondisi perekonomian di tengah inflasi global ini. Manajemen kesannya ingin memanfaatkan kecintaan Aremania kepada Arema FC untuk datang ke stadion dengan tiket termurah seharga Rp 40 ribu tanpa peduli kondisi kekinian demi bisnis. Kalau kamu cinta Arema datang ke stadion dan beli tiket.
 
Memang sepakbola Indonesia kini sedang menapak jalan menuju industri sepakbola profesional. Setiap manajemen klub dituntut untuk mengelola klub secara profesional dari berbagai sektor pendapatan, yang salah satunya pendapatan dari hasil penjualan tiket. Tidak terkecuali Arema. Kalau tidak, maka mereka akan kesulitan dalam memenuhi operasional klub.
 
Lalu dengan permainan yang mbelgendes itu sudah pantaskah untuk memuaskan Aremania yang membayar tiket Rp 40 ribu? Ini bukan lagi berbicara cinta, tapi sudah bicara antara pedagang dan pembeli. Karena manajemen yang mengajari cara berbisnis demikian dengan dibungkus cinta agar menarik. Mana permainan cepat dan keras serta hasil yang memuaskan Aremania? Arek Malang juga berhak menuntut manajemen, jangan hanya atas nama cinta lalu lemah. 
 
Analoginya jangan jadi lelaki lemah yang menuruti saja apa kemauan kekasihnya yang seorang cewek matre. Yap, manajemen Arema FC itu layaknya cewek matre dihadapan Aremania yang seorang lelaki lemah. Aremania sudah tidak terhitung pengorbanannya untuk mencintai Arema FC. Namun si cewek matre ini tidak mau disalahkan dan selalu merasa benar. Ingin lelaki lemah ini terus mencintai dan memberikan segala sesuatu yang lebih dan terus lebih dibandingkan yang sudah pernah diberikan tanpa pernah mau tahu kondisinya. Cewek matre ini merasa dirinya hebat karena terus mendapatkan kasih sayang, saking percaya dirinya dia tidak pernah membayangkan betapa terpuruknya dia kalau diputusin lelaki lemah ini.
 
Kini usai hasil buruk beruntun, manajemen juga tidak segera merespon apa yang menjadi kritikan Aremania atas hasil buruk yang diraih Arema FC sejauh ini. Apa Aremania tidak berhak mengkritik setelah berapa besar pengorbanannya untuk Arema. Stadion tidak penuh saja manajemen sudah gupuh, lantas bagaimana seandainya kalau banyak Aremania yang (mudah-mudahan tidak) boikot Arema FC dan beralih mendukung Arema Indonesia di Liga 3 dengan pemain mudanya yang bermain cepat dan keras seperti harapan Aremania? (*)

Lugas Wicaksono

/lugaswicaksono

rakyat jelata yang masih peduli pada tanah airnya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana