pilihan

Hari Kemerdekaan LGBT sebagai Manusia Marjinal

12 Agustus 2017   19:08 Diperbarui: 12 Agustus 2017   23:48 208 4 3
Hari Kemerdekaan LGBT sebagai Manusia Marjinal
Denpasar Now: Aksi Wargas saat ikut gerak jalan dewas putri, Kamis (10/8/2017) lalu

Komunitas Waria dan Gay Singaraja (Wargas) kembali memeriahkan lomba gerak jalan dewasa putri di Kabupaten Buleleng yang dilaksanakan Kamis (10/8/2017). Lomba yang dilaksanakan untuk memperingati HUT RI ke-72 ini diikuti puluhan peserta wanita, setiap peserta saling beradu untuk menjadi yang terbaik dengan mengelilingi sejumlah jalan protokol di Kota Singaraja.

Namun keikutsertaan Wargas bukan sebagai peserta, melainkan partisipan lomba tersebut. Mereka ikut gerak jalan hanya sebatas berpatisipasi menyemarakkan saja dan penampilannya tidak dinilai juri. Mengingat mereka tidak memenuhi syarat lomba yang salah satunya harus wanita, sedangkan mereka adalah waria.

Setiap tahunnya mereka selalu tampil di urutan peserta terakhir. Meskipun bukan sebagai peserta lomba, tetapi penampilannya selalu paling ditunggu warga yang berniat menyaksikan gerak jalan itu setiap tahunnya.

Bagi warga, kehadiran Wargas dianggap mampu menjadi hiburan mereka di tengah kebosanan menyaksikan lomba gerak jalan yang cenderung monoton. Peserta lain dituntut harus tampil rapi dan disiplin agar menjadi pemenang karena setiap gerakannya dinilai juri.

Namun tidak bagi Wargas. Mereka bebas berekspresi sesuai dengan passion mereka sebagai waria. Salah satunya kostum unik setiap tahunnya. Tahun ini Wargas memilih untuk menggunakan kostum Supergirl. Dengan kaus biru bertuliskan huruf S di dada dan setelan rok merah beserta pernak-pernik serta make-up yang sedemikian rupa, mereka tampak lebih cantik.

Ditambah celoteh dan tingkahnya yang kocak membuat gemas penonton. Tidak sedikit penonton memita berfoto bareng sesaat sebelum lomba, baik pria maupun wanita, dan para waria ini dengan ramah melayaninya. Saat mereka dilepas panitia dan mulai berjalan, sejumlah remaja wanita berteriak histeris memuji kecantikan waria ini.

Bagi warga, tanpa kehadiran Wargas, gerak jalan putri dewasa dianggap tidak meriah. Pernah satu tahun, kalau tidak salah tahun 2014 Wargas absen ikut gerak jalan. Ini karena sejumlah peserta wanita protes kepada panitia. Mereka menganggap waria bukanlah wanita dan tidak berhak ikut gerak jalan wanita. Panitia mengabulkan protes itu.

Namun yang terjadi adalah gerak jalan itu tidak menarik. Masyarakat mendesak agar Wargas kembali dilibatkan dan kehadiran para waria ini disambut antusias warga yang menonton. Tahun 2016 lalu, Wargas kembali menjadi polemik. Itu karena mereka memilih kostum seragam SMA putih abu-abu, dan aksi mereka terekam dalam video yang tersebar luas di media sosial.

Mereka yang kontra dengan Wargas menyebut bahwa penggunaan seragam SMA dengan logo OSIS di dada oleh para waria dianggap sebagai pelecehan terhadap dunia pendidikan. Sebagian lagi berpendapat bahwa para waria itu agar tidak terlalu diberikan kebebasan berekspresi, karena waria dilarang agama dan dikhawatirkan akan merusak mental generasi muda. Tidak ketinggalan mereka yang berkomentar dengan kata kasar berisi, hinaan, cacian sampai makian karena merasa jijik dengan waria. Setelah ditelusuri, mereka yang kontra dengan Wargas sebagian besar berasal dari luar Kabupaten Buleleng, Bali.

Sementara warga Buleleng baik-baik saja dan tidak mempermasalahkan kostum seragam SMA yang dikenakan Wargas. Karena mereka tahu siapa waria di mata mereka. Komunitas Wargas terbentuk bukan hanya untuk sekadar seru-seruan mereka saja sebagai waria. Selama ini mereka banyak berkegiatan sosial, salah satunya peran untuk sosialisasi dampak HIV/AIDs kepada masyarakat. Ini mereka lakukan karena pernah mengalami sendiri, yang pada suatu ketika banyak waria di Buleleng terkena virus mematikan itu karena pergaulan bebas.

Tahun lalu mereka beralasan pemilihan seragam SMA untuk kostum karena didasari kepedulian terhadap dunia pendidikan. Mereka melalui aksinya saat gerak jalan ingin mengingatkan dampak pergaulan bebas bagi para remaja. Di samping itu masih banyak lagi aktivitas sosial waria itu yang berkontribusi positif terhadap masyarakat.

Wargas adalah satu potret kelompok Lesbian, Gay, Biseks, Transgender (LGBT) yang selama ini menjadi kelompok marginal. Mereka sudah terbiasa dipandang sebelah mata, dijauhi sampai dikucilkan karena image yang sudah terlanjur buruk dan bahkan dianggap sebagai aib. Tidak mudah bagi mereka dapat diterima di tengah masyarakat kerena oleh hampir semua agama LGBT dilarang. Mereka akhirnya memilih untuk sembunyi-sembunyi sekadar untuk menjadi LGBT.

Wargas adalah salah satu komunitas LGBT yang kini telah diterima masyarakat. Namun perjuangan mereka tidak mudah, perlu waktu yang panjang meyakinkan masyarakat bahwa mereka bukan manusia jahat. Namun tidak sedikit komunitas LGBT di tempat lain yang tidak diterima mulai dari keluarga sampai masyarakar sekitar.

Padahal LGBT bagi mereka sebenarnya bukanlah pilihan. Kalau seandainya disuruh memilih, mereka sebenarnya ingin menjadi manusia normal seperti manusia lainnya. Namun takdir berkata lain, sebagian dari mereka dari lahir sudah dikodratkan dengan berjiwa LGBT. Sebagian lagi karena pengalaman buruk. Mulai dari menjadi korban perkosaan sesama jenis semasa kecil sampai korban putus cinta.

Mereka bukannya tidak ada upaya untuk berubah menjadi manusia normal, tetapi itu sangatlah sulit. Seringkali mereka mulai dari lingkungan keluarga sudah mendapat penolakan ketika tahu LGBT. Keluarga akhirnya bersikap memaksa mereka kembali menjadi manusia normal, tidak jarang disertai kekerasan, tanpa tahu apa yang sedang dirasakan LGBT.

Itu belum penolakan di lingkungan masyarakat sekitar sampai lingkungan yang lebih luas lagi. Hinaan, cacian, makian sudah biasa mereka dapatkan ketika masyarakat tahu bahwa mereka LGBT. Seorang waria pernah mengatakan bahwa sebutan bencong untuk mereka itu sungguhlah menyakitkan. Apalagi stigma di masyarakat yang sering menyebut bencong pada seorang lelaki lemah.

Selama ini LGBT dianggap tabu karena tidak sesuai dengan norma-norma sosial dan agama di masyarakat. Asing saja melihat pria yang biasanya mencintai wanita kok malah mencintai sesama pria. Sebagai masyarakat awam kita jijik saja melihatnya. Padahal banyak faktor yang menyebabkan mereka demikian. Salah-satunya faktor yang tidak berasal dari diri sendiri. Menolak kodrat sekeras apapun untuk menjadi tidak LGBT akan sangat susah.

Banyak di antara LGBT yang akhirnya memutuskan untuk tetap menjadi LGBT. Mereka tidak kuasa melawan kodrat yang dianggap menyimpang dan lebih nyaman tetap bertahan dengan kodrat itu. Manusia gay itu atau lesbian tercipta dua jenis, maskulin dan feminim. Mereka yang maskulin akan menyukai yang feminim meskipun sesama pria. Pria gay maskulin sekilas tidak akan tampak kalau dirinya seorang gay karena dia bergaya maskulin selayaknya pria umumnya. Namun bagi mereka yang feminim akan terlihat mencolok karena sebagai pria gaya mereka selayaknya wanita. Kita yang awam suka menyebutnya waria, banci sampai sekasarnya bencong.

Tiga pekan lalu Universitas Brawijaya (UB) Malang mencak-mencak begitu mengetahui ada grup facebook bernama Persatuan Komunitas Gay Universitas Brawijaya. Rektor UB, Prof Dr Mohammad Bisri MS tidak bisa menerima kenyataan kalau kabar itu sudah beredar luas di dunia maya dengan screenshot grup facebook itu yang viral. 

Grup facebook bernama Komunitas Gay Universitas Brawijaya Malang beranggotakan 286 akun itu sebenarnya sudah disetting sebagai grup tertutup yang artinya tidak dapat diakses secara umum dan hanya anggota grup saja yang bisa mengaksesnya dan beraktivitas di dalamnya. Di dalamnya diterangkan tujuan dibuatnya grup ini untuk saling berbagi pengetahuan mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dan seks. Selain itu, aturan ketat juga diberlakukan kepada para anggota yang tergabung di dalamnnya. Salah satunya anggota dilarang memposting sesuatu yang mengandung unsur pornografi.

UB dalam beberapa kesempatan menyebut keberatan mereka karena nama UB dicatut sebagai nama komunitas tersebut. Namun sebenarnya tidak demikian kalau anggota komunitas gay adalah pria gay mahasiswa UB. Mahasiswa sekalipun gay adalah bagian dari civitas akademika UB. Mereka punya Kartu Mahasiswa dan bayar setiap semester. Yang perlu diluruskan adalah nama UB bukan monopoli rektorat. Siapapun berhak memakai nama UB selama masih menjadi warga kampus ini, sekalipun mahasiswa abadi yang masih belum lulus sampai 14 semester.

Bisri dan kolega-koleganya (dkk) lalu sepakat membentuk Tim Advokasi Hukum UB yang diketuai Dr Prija Djatmika SH MHum untuk menghadapi gerombolan gay ini. Bagi Prija UB dengan tegas menolak LGBT, entah apa dasarnya. Situasi semakin gawat ketika UB sepakat melaporkan gay ini ke polisi. Dasarnya karena grup facebook mencantumkan nama Universitas Brawijaya yang dianggap sebagai pencemaran nama baik. Dia ancam pula mahasiswa yang gay akan di-dropout (DO) atau dipecat dari UB.

Saya tidak habis pikir mereka segawat itu ribut-ribut soal komunitas gay. Padahal itu masih berupa grup facebook di media sosial yang belum jelas kebenarannya. Wujud mahasiswa gay saja mereka masih belum lihat. Namun amarah mereka sudah membara.

Padahal kalaupun benar ada mahasiswa gay tidaklah sesuatu yang salah pula. Secara hukum di Indonesia, gay atau homoseksual atau pria suka pria atau pedang-pedangan dan LGBT secara luas itu tidak jelas diatur. Hukum Indonesia tidak melegalkan hubungan sesama jenis tetapi juga tidak melarangnya selagi mereka berpacaran. Kalau mereka mau menikah, baru itu tidak diakui, bisa saja dilarang, karena Pasal 1 UU Perkawinan 1974 menyebut kalau perkawinan itu dilakukan oleh pria dengan wanita, tidak untuk pria dengan pria atau wanita dengan wanita.

LGBT baru dilarang kalau mereka masih di bawah umur, atau sudah cukup umur berhubungan dengan anak di bawah umur. Mereka juga dilarang mencabuli atau memperkosa di bawah umur atau sudah cukup umur sekalipun. Itu sudah perbuatan kriminil. Kalau mereka saling mengasihi, itu belum ada aturannya. Mereka juga bisa dianggap kriminil kalau berkegiatannya mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) seperti pesta seks yang digerebek di Jakarta beberapa waktu lalu. Karena mereka terlalu berisik, warga terganggu dan melapor ke polisi.

Banyaknya kesamaan lalu menginisiasi mereka para LGBT untuk membuat komunitas. Secara sosiologis ini cukup wajar karena terbentuknya komunitas itu pada dasarnya karena terdapat kesamaan yang membuat anggotanya saling berhubungan. Sama saja dengan komunitas geng motor yang anggotanya disatukan karena sama-sama suka sepeda motor. Namun karena sering mendapatkan penolakan dari masyarakat, komunitas LGBT ini sering beraktivitas secara sembunyi-sembunyi.

Penolakan masyarakat terhadap komunitas LGBT justru bisa membuat mereka semakin anti sosial. Mereka tidak akan percaya lagi dengan masyarakat yang gagal memahami mereka. Akhirnya mereka justru memilih menjaga jarak dengan masyarakat dengan berbagai pertimbangan. Mulai dari rasa tidak percaya, sekadar untuk nyaman saja, dan sampai agar tidak diusik.

Banyak pihak yang menyebut LGBT sebagai penyakit mental. Pendapat ini perlu kita setujui. Permasalahannya kini ketika LGBT sebagai manusia yang berpenyakit mental memiliki kesenjangan hubungan dengan masyarakat yang bermental sehat apakah dapat segera sembuh? Tentu saja jawabnya tidak. Mereka LGBT akan semakin sulit berubah menjadi normal karena semakin merasa sendiri dalam menghadapi problematikanya. Merasa tidak ada pihak lain yang berkenan membantu. Sementara masyarakat sebagai manusia normal bermental sehat justru semakin memberikan tekanan dengan terus menghakimi mereka bahwa LGBT sebagai sikap yang keliru. Ini tidak fair Rangga.

Eksistensi Wargas yang diterima di tengah masyarakat Buleleng patut diapresiasi. Ini membuktikan bahwa Wargas bukanlah bencong seperti sebutan untuk lelaki lemah yang mudah menyerah. Satu bukti pula bahwa masyarakat Buleleng yang didominasi masyarakat pedesaan lebih berpikiran luas tentang hakekat manusia beserta problematikanya. Partisipasi Wargas dalam gerak jalan memperingati hari kemerdekaan juga sebagai bukti. Bahwasanya 17 Agustus adalah hari merdeka bagi seluruh warga negara Indonesia, termasuk kemerdekaan kelompok LGBT yang berhak bebas berekspresi selama masih dalam norma-normal sosial. (lugas wicaksono)