Keselamatan di dalam Ajaran Suku Dayak Kanayatn

28 Juni 2012 10:35:24 Dibaca :


Membicarakan keselamatan adalah membicarakan segi-segi kehidupan manusia baik kehidupan masa kini atau khidupan manusia masa mendatang. Istilah keselamatan ini dapat saja kabur dalam pengertian sebagaian orang disebabkan pengertian itu diartikan seseorang dalam bidang apa, apakah kehidupan seharai-hari atau bidang agama. Juga latar belakang budaya sangat memepengaruhi pengertian ini sebab manusia itu tidak dapat lepas dari budayanya.


Kita mengerti bahwa dalam budaya itu telah ada embiro keberagaman walaupun tidak dinyatakan secara sistematis, namun jika diteliti dari sudut pengungkapan sehari-hari hal ini akan nyata. Ajaran Pengestu mengatakan bahw keselamatan itu adalah “kembalinya ke asal mulanya”.


Pengertian ini dapat saja menjadi kabur jika gereja tidak dapat memberikan pengertian yang jelas dari pihak gereja akan keselamatan itu. Dalam hal inilah Prof. DR. F.H. Sianipar mengatakan bahawa untuk mengatasi konflik yang terjadi itu harus datang dari agama Kristen itu sendiri.


Untuk mengurangi keteganngan ini penulis mencoba membahas arti keselamatan itu dalam pengertian suku Dayak Kanayatn dengan membendingkan keselamatan dalam agam Kristen. Hal ini diusahakan penulis sebab adanya pengertian yang tumpang tindih akan konsepsi keselamatan itu sebab gereja yang ada di daerah-daerah suku Dayak Kanayatn dipengaruhi oleh budayanya.


Di dalam agama suku Dayak Kanayatn, dan tradisi Dayak Kanayatn ada beberapa istilah yang mengandung arti keselamatan. Istilah-istilah yang akan kita bahas berkaitan dengan keselamatan adalah: Idup Nyaman, Sunia’, Dame, dan Sado’-dingin. Dalam kaitan dengan ini, beberapa upacara untuk menjaga agar tetap tinggal dalam suasana aman dan selamat, yaitu Basaru’-sumangat, Babibis, dan Babore’.



Masyarakat Dayak Kanayatn mempercayai adanya setan atau iblis yang disebut Pantokng Bangok Pilas Galikng. Mereka mempercayai jiwa orang jahat akan bangkit dari kuburnya dan menghantui orang yang masih hidup. Hantu semacam ini biasanya dapat menjelma dalam rupa binatang dan manusia, maka untuk menghindari gangguan roh jahat tersebut biasanya mereka memberinya dengan berbagai macam makanan atau sesaji, seperti lamang (ketan), tumpi’ (cucur), minuman, daging babi dan ayam, telur, nasi dan lain sebagainya. Dari sesajian ini manusia Dayak akan berdamai dengan Alam, berdamai dengan Sesama manusia, berdamai dengan roh-roh halus tersebut dan berdamai dengan Penciptanya. Apabila sudah berdamai dengan hal ini maka hidup manusia Dayak akan selamat dan tenang.


. Sularso Sopater, Mengenal Pokok-Pokok ajaran Pangestu (Jakarat: Pustaka Sinar Harapan, 1987), hlm. 98.





. F.H. Sianipar, Suatau Problma tentang Metode Theologia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1974), 16-18.




ALIPIUS SADANIANG

/loyok

Adil Ka' Talino Ba Curamin Ka' Saruga Ba Sengat Ka' Jubata. Idup diri' nian ina baya ina diri nyujukng nyambah Jubata nang pamanya koa ina bakasatukatn.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?