HIGHLIGHT

Pak Polisi Ikut Juga Pawai Pembangunan

21 Agustus 2012 11:28:03 Dibaca :
Pak Polisi Ikut Juga Pawai Pembangunan
Pasukan Dalmas Ikut Pawai (foto: dokpri)

Sekali lagi, kota Tomohon menampilkan keunikkannya. Hari Sabtu (11/8), kota sejuk ini menggelar pawai pembangunan HUT Kemerdekaan RI yang ke 67. Padahal, 17 Agustus memang masih sepekan lagi.

Tanggal pelaksanaan pawai itu disatukan dengan hajatan Festival Bunga berskala internasional yang sudah start sejak 8 Agustus yang lalu. Pertimbangan lain, untuk menghormati warga muslim yang merayakan lebaran, tiga hari setelah tujuhbelasan.

Siang itu, saya menonton pawai pembangunan di sekitar panggung kehormatan yang berada di jalan bawah UKIT. “Di depan panggung kehormatan ini, semua peserta pawai akan berhenti dan bersamaan dengan itu MC akan menjelaskan peserta pawai ini berasal dari mana dan apa yang ditampilkan buat masyarakat” ungkap teman saya.

1345547421407287471
Kendaraan Pawai Dihiasi Bunga

Hampir semua kendaraan pawai dihiasi dengan bunga, termasuk sepeda motor, gerobak sapi, bendi, kuda. Ya, dalam rangka festival bunga. Habiskan stok bunga di kebun petani yang belum dipetik untuk ToF kemarin.

Tulisan “HUT RI ke 67” atau “Dirgahayu Republik Indonesia ke 67” menjadi dekorasi utama setiap peserta pawai pada kendaraan yang dipakainya.

Peserta pawai dari Kelurahan Tinoor menampilkan hiasan hasil bumi pada kendaraan. Persis di muka panggung, peserta pawai ini berhenti dan membagi-bagikan hasil buminya seperti pisang, durian dan langsat. Spontan, para pejabat langsung menerimanya dan memakan buah-buah itu.

13455475762109383885
Tarian Kabasaran Oleh Para Ibu (Foto: Dokpri)

Tari Kabasaran atau tari perang ikut juga pawai. Kali ini tak hanya laki-laki dewasa yang meragakan tetapi terlihat ibu-ibu dan anak-anak dengan pakain merah dan persenjataannya ikut berdemo di depan panggung. Ekspresi kegarangan dengan mimik keganasan dari sifat tarian ini pun terpancar lewat raut muka mereka.

Dari kelompok pemerintah, semua SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) turut pawai. Tampak kendaraan operasional pemadam kebakaran, penanggulangan bencana dengan seragam khasnya mempertontonkan bagaimana menghadapi situasi tanggap darurat seperti Gunung Lokon meletus.

Cuaca siang itu memang cerah. Kelancaran pawai sedikit terusik ketika dari lubang kawah Tompaluan Gunung Lokon mengeluarkan asap tebal bergulung-gulung pada pukul sekitar sebelas. Pandangan mata penonton pun pindah ke arah Gunung Lokon. Tapi kejadian itu hanya sebentar saja. Euforia masyarakat kembali tertuju pada semaraknya pawai pembangunan.

1345547663226577347
Bendi Hias (foto: dokpri)

Melihat pawai yang diikuti sekitar 170 peserta dengan lebih seribu kendaraan aneka macam jenis, dan melihat antusias masyarakat untuk menonton, saya lalu berdiskusi dengan teman-teman fotografer yang sedang meliput pawai itu.

“Hampir semua peserta pawai mempertontonkan prestasi dan keunggulannya di hadapan penonton. Dari sekolah, piala, trophy serta fasilitas sekolah dipamerkan. Dari pemerintah, kecamatan, kelurahan, pelayanan kepada masyarakat juga diperlihatkan. Kelengkapan POLRI seperti Dalmas, juga dipertontonkan. Dari organisasi olah raga, kepemudaan, seni budaya, kelompok hobi juga menampilkan keunggulannya masing-masing. Apakah semangat untuk mempertontonkan keunggulan atau prestasi itu bisa disebut semangat kebangsaan? Beginikah semangat Merah Putih bangsa?”

1345547775821265902
Sat Pol PP (foto: dokpri)

Teman saya diam. Bahkan terdengar bisik-bisik apa yang membedakan antara semangat nasionalisme dan kebangsaan? Sambil memegang kameranya, teman saya menjawab “saya lebih cenderung pawai tadi itu cermin dari semangat kebangsaan. Menunjukkan kesuksesan lewat prestasi-prestasi dan keunggulan produk, itulah sifat bangsa kita.

Rombongan bendi berkuda dengan hiasan bunganya baru saja melewati panggung kehormatan. Di susul kelompok pemain eks-Marching Band, rombongan remaja memegang papan nama semua cabang olah raga. Tak ketinggalan kelompok motor “free-style” unjuk kebolehannya.

1345547862838649660
Ayo Sekolah (Foto:dokpri)

Pawai adalah sebuah tradisi tujuh belasan. Tradisi yang sekaligus dijadikan wadah untuk “memamerkan” keunggulan, prestasi, kebolehan dari setiap komunitas sosial masyarakat di samping keterlibatan sosial. Melihatnya, dinamika kehidupan masyarakat itu menyatu dan saling berinteraksi satu sama lain.

Tak terasa sore telah tiba, pawai pun selesai dengan meninggalkan segudang asa tentang nasionalisme bangsa yang makin terpuruk oleh maraknya isu SARA yang sarat dengan nuansa politisnya. Semoga dengan menonton pawai ini, masyarakat semakin jelas melihat peta kebangsaan dari sudut pawai. Apalagi kalau pawai ini membawa misi nasionalisme bangsa yaitu “damai itu indah”.

Tulisan ini diikutkan ke WPC-18 dengan tema Hari Raya dan Pesta Rakyat.

134554793713385953
KONI (foto:dokpri)

Tri Lokon

/losnito

TERVERIFIKASI (BIRU)

menyukai fotografi, traveling, sastra, kuliner, menulis, dan wisata
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?