Kotak Suara

Pemilihan Kepala Daerah 2017

10 Maret 2017   20:12 Diperbarui: 11 Maret 2017   20:04 61 2 0
Pemilihan Kepala Daerah 2017
(Foto: Kompas.com)

Pilkada 2017 ini adalah pemilihan yang bebas, langsung dipilih oleh masyarakat dan juga  dilaksanakan secara serentak tidak hanya di Jakarta tetapi di beberapa kota dan provinsi di Indonesia yang waktu pemilihannya telah ditetapkan pada 15 Februari 2017. Pilkada saat ini dapat dikatakan banyak menyita perhatian, terutama pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Tiga pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur yang bersaing adalah (1) Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni, (2) Basuki Cahaya Purnama – Djarot Saiful Hidayat, dan (3) Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Antusiasme masyarakat terbilang begitu besar melihat bagaimana suasana politik yang terus memanas selama proses menuju pemilihan berlangsung. Putaran debat pilkada resmi yang disiarkan di televisi-televisi swasta menjadi tayangan yang ditunggu tidak hanya warga Jakarta, tetapi juga hampir di seluruh daerah di Indonesia juga ikut mengamati jalannya debat. Ini menjadi perhatian yang serius karena merupakan momentum dimana setiap paslon dapat memperlihatkan trademark-nya masing-masing dan seluruh masyarakat luas pun dapat melihat secara langsung bagaimana kesiapan para paslon dalam mengemukakan visi, misi, program, masalah, dan solusi yang telah direncanakan secara lebih real karena disiarkan secara live.

Walaupun dengan melalui tayangan debat pilkada tidak serta merta meningkatkan elektabilitas para paslon secara pesat, tetapi ini menjadi salah satu ajang pembuktian bagaimana setiap paslon dapat berargumen satu sama lain dalam mengusung ‘janji-janji’ yang mereka tawarkan. Sangat baik jika sebagai para pemilih nanti, masyarakat selalu terus menyimak dan mengikuti perkembangan proses pilkada sampai pada ditentukannya siapa yang terpilih menjadi pemimpin no. 1 di Jakarta. Belum cukup sampai disitu, masyarakat juga diharapkan dapat menjadi pemilih yang selektif, objektif, dan rasional.

Selektif artinya bagaimana kita bisa menyaring banyaknya arus informasi yang begitu cepat apalagi saat ini marak pemberitaan yang bersifat hoax yang sangat mungkin dapat mempengaruhi opini dan persepsi kita terhadap siapa yang akan kita pilih. Oleh karena itu, sebaiknya lebih cerdas dan bijaksana dalam memilih media.

Objektif artinya memilih sesuai dengan kapasitas, kinerja, rekam jejak para paslon selama ini. Apakah kompatibel untuk memimpin Jakarta dengan segala permasalahan yang ada? Tidak asal memilih saja. Bukan memilih berdasarkan sama suku atau ras, atau dengan alasan suka atau tidak suka, apalagi dengan alasan 'memberi apa dan berapa'. Bukan juga memilih atas dasar adanya “nama-nama besar” dibalik para paslon tersebut. Tetapi benar-benar perlu diamati dan dipikirkan mana pasangan dengan visi dan misi dan mana yang hanya ambisi semata.

Rasional artinya dapat berpikir dan memilih apakah yang ditawarkan para paslon adalah program atau solusi yang paling tepat, jelas, dan terarah untuk dapat membantu kepentingan Jakarta. Kemudian apakah hal tersebut dapat menguntungkan semua pihak atau hanya sebagian kepentingan saja? Dan yang terpenting, apakah hal tersebut 'mungkin' untuk direalisasikan? Karena bisa saja ada yang terkesan hanya membuai dengan angan-angan tinggi yang ketika sampai di lapangan tidak dapat dilakukan karena berbenturan dengan peraturan misalnya.

Memang harus dipikirkan baik-baik dalam menentukan siapa yang akan kita pilih karena kita bicara mengenai 5 tahun ke depan dan ini menyangkut kepentingan banyak orang dan dalam berbagai bidang. Bukan main-main. Semua pihak diharapkan dapat saling membantu agar proses pilkada ini dapat berjalan aman, damai, dan apapun hasilnya nanti semua dilakukan melalui proses yang transparan dan tidak ada kecurangan.

Semoga pada pilkada serentak kali ini baik di Jakarta dan beberapa kota dan provinsi di Indonesia dapat menghasilkan para pemimpin-pemimpin terbaik untuk daerahnya masing-masing.

Gunakan hak pilih Anda dengan sebaik-baiknya…