Livia Halim
Livia Halim pelajar/mahasiswa

Surrealism Fiction | Nominator Kompasiana Awards 2016 Kategori Best in Fiction | Faculty of Law, Parahyangan Catholic University | Personal blog: livilivilivilivilivi.blogspot.com | e-mail: surrealiv@gmail.com | LINE loonylivi | IG livilivilivilivilivi | Buku-buku antologi: "Katakan Cinta" (https://goo.gl/tpi2Nd), "Ada Sepotong Bulan Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam" (https://goo.gl/toqMVF), "Tentang Laki-Laki, Gema, dan Early Grey" (https://goo.gl/DS789x)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen headline

Cerpen | Pekerjaan Ayah

19 April 2017   10:58 Diperbarui: 21 April 2017   20:54 1019 15 11
Cerpen | Pekerjaan Ayah
source: tumblr.com

“Hei. Selamat pagi, Luana!” sapa perempuan berambut ungu di hadapan saya.

“Pagi…”, saya menajamkan telinga, mencoba menerka musik yang berasal dari tape recorder di sudut kamar. “LeeAn Rimes?”

“Ya. Kamu suka juga?”

“Tidak. Saya hanya tahu karena pernah ke sini sebelumnya.”

“Ini hari pertamamu di rumah saya, Luana. Kemarin ayahmu menitipkanmu di sini karena ia harus pergi jauh untuk bekerja. Kamu hanya masih terlalu lelah akibat perjalanan panjang yang baru saja kamu lalui, Luana. Tidurlah lagi kalau mau.”

“Baik. Terima kasih.”

“Eh, tunggu. Tahukah kamu seberapa besar rasa penasaran saya tentang asalmu?”

Saya diam.

“Hahaha. Namun kamu tak perlu bingung, Luana. Ayah saya sudah menjelaskan bahwa tempat asalmu dirahasiakan karena pekerjaan ayahmu yang sangat penting. Sepertinya ayahmu seorang agen rahasia yang sering bepergian, ya?”

Saya kali ini tersenyum.

Perempuan berambut ungu juga tersenyum sambil meninggalkan ruangan, “Saya mau ke ruang TV dulu, menonton kartun pagi. Selamat istirahat lagi!”

Saya terdiam menatap langit-langit. Ada hiasan-hiasan yang bisa menyala dalam gelap dengan bentuk bintang, bulan, dan saturnus. Lalu, saya mengalihkan pandangan ke sekeliling. Ada terlalu banyak poster penyanyi dan band di kamar ini. Saya tahu sebagian besar di antara mereka, namun ada beberapa yang saya lupa.

Pekerjaan ayah membuat saya sedih. Pekerjaan itu membuat saya terpaksa jauh dari ibu dan saudara-saudara saya. Lebih dari itu, pekerjaan itu membuat saya terkadang melupakan identitas saya sendiri. Kamu tidak perlu mengerti.

Pagi itu saya habiskan dengan memainkan gamebot milik si perempuan berambut merah sepuasnya.

***

“Jadi apa mimpimu?”  tanya Jika Saja sambil memeluk bantal merah muda di kamar saya. Saya berjanji akan menceritakan mimpi saya kemarin malam padanya.

“Saya punya orang tua, seorang kakak laki-laki dan seorang adik laki-laki… Eh, suara siapa itu?”

“Kakak dan adikmu sedang bermain basket di halaman.”

“Oh? Ayah seorang pekerja keras. Ia jadi sering tidak menghabiskan waktu bersama kami.”

“Mimpimu adalah mimpi paling normal yang pernah saya dengar, Luana. Keluargamu pasti kaya raya. Keberadaan ayah bisa digantikan dengan pakaian-pakaian baru dan mahal, dan di kamar mewahmu pasti tergantung banyak sekali lukisan mahakarya seharga ratusan juta. Kamu mungkin bersekolah di sekolah interna…”

“Tapi lukisan- lukisan itu akan sulit dibawa ke mana-mana.” potong saya. Seketika dinding kamar saya kosong melompong. Merah muda saja.

“Kenap…”

“Ayah saya seorang agen penjelajah waktu.”

***

“Jika Saja, saya rindu gamebot…”

Samar-samar saya mendengar suara bincang-bincang di luar. Bincang dalam bahasa yang tak saya mengerti. Ayah pernah mengajarkan sedikit, namun ia lupa mengajarkan saya banyak. Kata ayah, semua kata dalam bahasa di sini berasal dari gambar-gambar yang memiliki makna tertentu. Misalnya, bentuk kata “istirahat” sebenarnya merupakan gambar seorang manusia yang sedang duduk berteduh di bawah pohon rindang. Tapi sepertinya ayah keliru, karena saya sempat membaca buku milik anak pemilik rumah ini. Tidak ada satu kata pun yang menyerupai sesuatu, setidaknya bagi saya.

"DORR!"

Saya mendengar suara tembakan. Teriakan. Lalu hening. Ayah seharusnya tahu bahwa menitipkan saya di rumah seorang mafia Hongkong bukan ide bagus.

Jika Saja bisa membawa saya kembali ke kamar berdinding kosong. Namun saya baru ingat, Jika Saja lahir tahun 1993.

 

 

 

Ketika kisah ini ditulis, saya sedang bersembunyi di bawah ranjang sambil mendengar suara langkah kaki yang mendekat,

April 1983, Luana

 -

Jika Saja masih dapat dijumpai di:

Mengunyah Angkasa

Jika Saja Lupa Menghilangkan Angkasa