Pertemuan SBY-Prabowo Penentu Kemenangan Anies-Sandi?

21 April 2017 19:41:35 Diperbarui: 21 April 2017 21:05:18 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Pertemuan SBY-Prabowo Penentu Kemenangan Anies-Sandi?
Pertemuan Prabowo dan SBY / (gambar: kompas.com)

Kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, memang cukup mengejutkan khalayak luas. Betapa tidak, kemenangan telak (dengan selisih suara di atas 10%) pasangan ini terhadap pasangan petahana, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, tentu di luar dugaan berbagai kalangan pengamat politik dan masyarakat pada umumnya. Ada memang beberapa pakar yang menilai kemenangan ini jauh-jauh hari, namun tentu tak ada yang menyana bahwa interval presentase kemenangan pasangan nomor urut tiga ini, berada pada posisi dua digit keunggulan.

Bagi saya, kemenangan pasangan yang diusung Gerindra dan PKS (belakangan PAN dan Perindo juga turut bergabung) ini, sejatinya tak dapat dilepaskan dari peran tak terlihat sang penentu kemenangan itu sendiri. Adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dalam hemat saya, membawa andil penting bagi keniscayaan kemenangan Anies-Sandi di Jakarta.

Argumentasi saya menjadi beralasan kalau kita menilik presentase dukungan yang diraih oleh Anies-Sandi pada putaran kedua lalu. Perolehan 57,95% suara yang didapat pasangan Anies-Sandi pada putaran kedua ini, sebenarnya disokong oleh total suara 17,02%  milik pasangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sylviana Murni pada putaran satu lalu.

Modal dukungan 39,95% hasil putaran pertama pasangan Anies-Sandi, jika dikalkulasikan dengan angka perolehan pasangan nomor urut satu, AHY-Sylvi, akan menghasilkan angka yang mendekati hasil akhir presentase kemenangan Anies-Sandi di putaran kedua. Angka ini tentu belum ditambah dengan jumlah dukungan warga yang di putaran pertama lalu, belum/tidak menggunakan hak suaranya.

Kenyataan ini mengindikasikan satu hal. Fakta bahwa suara pasangan AHY-Sylvi di putaran satu lalu, secara mutlak beralih kepada pasangan Anies-Sandi, tanpa terkecuali.

Pertemuan SBY-Prabowo: Adu Gengsi

Tentunya, kemenangan Anies-Sandi ini takkan pernah terwujud andai saja tak ada pertemuan antara SBY dan Prabowo, sebagai dua dari tiga patron utama politik nasional saat ini (selain Megawati). Pasca Pilkada DKI putaran satu lalu, baik Sandiaga Uno, maupun Prabowo sendiri, memang menyiratkan akan dilangsungkanya pertemuan antara kedua pucuk pimpinan partai tersebut. Namun praktis, semenjak babak baru putaran kedua dimulai, isu ini sayup-sayup menghilang dari radar media.

Pertemuan kedua tokoh ini memang menjadi menarik jika ditilik. Bagi saya, pertemuan antara kedua sosok ini menjadi sebuah penanda bagi hadirnya babak baru konstelasi politik nasional ke depan. Dan sekaligus juga, momentum untuk saling berdamai dengan masa lalu di antara keduanya.

Kilau pesona SBY sebagai Presiden dua periode, merupakan bukti sahih yang tentunya tak dapat disangkal siapa pun. Dan juga merupakan manifestasi nyata jelinya strategi politik kelompok Cikeas, untuk berkuasa selama sepuluh tahun di negeri ini. Dengan catatan emas dan pengalamannya tersebut, sudah barang tentu SBY memahami betul kondisi politik dalam negeri, beserta dinamikanya.

Sementara di sisi lain, torehan prestasi dan popularitas Prabowo tak bisa dianggap sebelah mata. Selain sebagai purnawirawan jenderal bintang tiga, Prabowo juga merupakan salah satu aktor utama dibalik langgengnya kekuasaan orde baru.

Dalam dunia militer, Prabowo merupakan senior SBY. Namun dalam dunia politik nasional, nama SBY jelas lebih mentereng dibandingkan Prabowo. Untuk itu, hubungan di antara mereka tak ubahnya seperti dua rival yang memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Tak pelak, pertemuan antara dua tokoh ini lebih kepada siapa yang terlebih dahulu menurunkan gengsi masing-masing saja. Tak jauh beda dengan perumpamaan dua orang remaja tanggung beda kelamin, yang sama-sama benci tapi rindu, menunggu untuk saling membuka obrolan antar satu sama lainnya.

Untuk persoalan Pilkada seperti ini, jelas SBY berada di atas angin. Selain karena pengalaman panjang di bidang pemerintahan, fakta yang tak bisa diubah adalah AHY-Sylvi kalah pada putaran pertama lalu. Sehingga tak memiliki kepentingan lanjutan di putaran kedua. Untuk itulah modal dukungan 17% pada akhirnya menjadi sebuah mahar yang siap diberikan kepada pihak yang kemudian terlebih dahulu berkonsolidasi.

Menjadi hal yang gila dan tak masuk akal, jika kemudian SBY melakukan persekutuan dengan kelompok istana yang kini dikomando Megawati Soekarnoputri. Mengingat hubungan tak harmonis di antara keduanya, dan juga tragedi kicauan Antasari Azhar di akhir putaran satu lalu, yang berdampak pada merosotnya elektabilitas pasangan AHY-Sylvi.

Sinyalemen 2019?

Pada akhirnya, Prabowo-lah yang harus menurunkan gengsinya. Pangkat dan senioritas di dunia militer, ia tanggalkan sejenak demi mendulang suara bagi pasangan calon yang diusungnya, Anies-Sandi. Bak gayung bersambut, SBY pun pada akhirnya dapat menerima tawaran dan kerjasama politik yang diajukan Prabowo, untuk kemudian mengantarkan kemenangan Anies-Sandi terhadap Basuki-Djarot.

Tentunya, tak ada makan siang yang gratis. There’s no free lunch. Baik Prabowo maupun SBY sudah pasti memiliki agenda politik masing-masing di Jakarta, ketika akhirnya meneken kerjasama selama lima tahun ke depan.

Adakah kesepakatan ini akan berlanjut pada kepentingan yang lebih besar di 2019 nanti? Tentunya hanya waktu yang akan menjawab.

Linggar Kharisma

/linggarkharisma

TERVERIFIKASI

Research Executive PT. Grup Riset Potensial (GRP) | Postgraduate Student of Political Science Padjadjaran University
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana