HEADLINE HIGHLIGHT

Gara-gara KOMPASIANA, Saya Nonton Paduan Suara INFINITO yang Mencengangkan...!!

31 Januari 2010 19:57:00 Dibaca :

Duuuh....! Ini suara bidadari dan bidadara atau suara manusia....., membuat air mata saya mengalir bertetes-tetes ketika lagu Bituing Walang Ningning ( A Star Without Shine ) berbahasa Filipina yang bercerita tentang cinta  bergaung di panggung gedung konser Usmar Ismail Kuningan Jakarta. Haruuuuu.. dan baguuuuuusss...!!! Paduan suara Infinito nyaris sempurna tampil malam Minggu 30 Januari kemarin. Campuran suara soprano, alto, tenor dan bass dari 37 penyanyi pria wanita itu begitu penuh daya rasa  dan ekspresif sekali. Bisa dibayangkan sebagian besar dari lagu yang ditampilkan, mereka menyanyikannya tanpa teks. Berbahasa Peru, Argentina, Filipina, Inggris,  Venezuela, Perancis, Uruguay, dan Indonesia sendiri. Sungguh fasih sekali dan penuh penghayatan. Kekompakkan suara, antara fortesimmo ( suara keras ) , pianosimmo ( suara pelan ) , mapun gradasi antara suara lembut dan keras, dengan tempo yang beraneka, allegretto ( cepat ) maupun moderato ( kecepatan sedang ) dan lain-lain suara penuh warna.. ah, rasanya mata saya tak berkedip di ruangan yang dingin dan di tempat yang tak ada satu bangkupun yang kosong saat itu. Saya benar-benar terpana. Seorang guru dari sekolah Australia, Shelly,  yang duduk di sebelah saya tersenyum melihat bulir air mata saya menggelinding. "Memang indah sekali ya?" ujar  Elise,  rekan Shelly guru musik warga Sydney yang baru seminggu berada di Jakarta. Lagu dari Uruguay, Ronda Catonga yang bertema lagu rakyat anak-anak juga jenaka sekali dinyanyikan oleh Infinito. Kembali lagi suara mendayu dari lagu Ikaw ang Mahal Ko ( You are my Love ) yang bercerita tentang seorang kekasih yang mencurahkan rasa cintanya. Lagu yang diaransemen oleh  Ryan Cayabyab seorang musisi Filipina ini seakan menjadi lagu yang sangat akrab di telinga saya. Dan Infinito  bisa juga berpenampilan genit. Lagu Besame Mucho dari Spanyol yang tak asing di Indonesia, juga Quizas Quizas ( Perhaps Perhaps ) dinyanyikan dengan seru sekali. Kembali suara alto, sopran, tenor, bas berpadu campur aduk dengan gagah, jenaka, cantik, dengan bahasa tubuh yang seru dan sungguh hangat sekali. Ekspresi wajah para anggota paduan suara begitu menyatu dengan kata perkata, bait perbait. Bagai angin bergumpal ramai, lari ke pinggir laut, dan menari bersama dengan kompak sekali. Lagu Rasa Sayange, Lenggang Kangkung dan Dayung Sampan yang dijadikan satu sambung menyambung  sebagai Indonesia Medley betul-betul mempesona.  Soprano bersahut-sahutan dengan tenor dan alto, disusupi suara bas. Sungguh tak terungkap dengan kata-kata. Tepuk tangan seluruh penonton tak ada hentinya setelah pertunjukan usai. Bertepuk sembari berdiri, adalah penghargaan tertinggi dari penonton, sekaligus 'menuntut'  sang konduktor canggih Irzam Rajasa Dastriansyah menambah lagu lagi sebagai ekstra pertunjukan. Tak sia-sia kerja keras Infinito. Kerja keras tanpa pamrih. Mereka rata-rata adalah pegawai kantoran ( ada yang insinyur, psikolog, dan berbagai disiplin ilmu lain )  yang hanya bisa meluangkan waktu libur di hari Sabtu dan Minggu untuk berlatih. Dan itu berjalan selama nyaris 4 bulan berturut-turut sebelum konser. Bagaimana menghafal lagu-lagu berbahasa 'sangat asing' itu? Susahkah, tanya saya.  Lalu kata Widy penyanyi alto si guru SD Bintaro yang cantik itu sembari tertawa rinag,  "Ya susah laaaaa.... tapi kan senang!". Tak heran paduan suara ini sukses tampil di Korea bulan Juli  dan di Jepang Desember tahun silam.   Tahun 2005 mereka juga sempat meraih juara tiga pada Festival Paduan Suara ITB dan juara dua dan tiga dengan kategori berbeda pada ajang Kompetisi Paduan Suara Universitar Parahyangan. Begitu pula di tahun 2006, 2007, dan 2008, tak pernah keberhasilan meraih kemenangan tidak hinggap pada Infinito. Hebat, memang ! Sepanjang jalan Kuningan - Buncit menuju Kemang, malam usai acara, saya tersenyum sendiri di dalam mobil. Bayangkan, saya memperoleh undangan gratis untuk menonton paduan suara indah itu. Duduk di kursi berpita keren yang menandakan bagian VIP. Dari awal pintu depan beberapa wanita cantik yang bertugas sebagai panitia sudah menyambut dengan ramah. "Ibu Linda, ini tiket, ini suvenir, dan silakan perlihatkan undangan Ibu ya kepada petugas di pintu", ujar seseorang yang berdandan cantik sekali. Mata saya mencari-cari, yang mana ya yang bernama Avin, yang mengundang saya? Dia menyanyi di bagian apa? Tenorkah? Atau Bass? Mengapa saya khusus mencari Avin? Begini ceritanya. Akhir tahun lalu di Kompasiana ada postingan tentang Infinito akan manggung di Jepang. Dengan bersemangat saya menimpali tulisan itu. Kemudian saya memperoleh pesan lewat jaringan pribadi Kompasiana, dari seorang pria bernama Avin.  Ternyata Avin adalah salah satu anggota paduan suara yang saya komentari. Tak saya sangka, komentar menyemangati mereka membuat Infinito berbahagia. Lalu Avin dan teman-temannya berjanji akan memberikan tiket gratis pada pemanggungan berikutnya di gedung Usmar Ismail. Tentu saja saya girang. Sangking bersemangatnya, datanglah saya tanggal 30 Desember malam (!!) ke gedung Usmar Ismail. Saya batalkan acara makan malam dengan sekelompok teman, karena saya ingin melihat Infinito. Undangan memang tak ada di tangan. "Di meja tiketing nanti ya, mbak Linda tinggal ambil, karena nama sudah tertulis di sana," begitu kata Avin. Sampai di halaman Usmar Ismali, tiada tanda-tanda kehidupan. Gelap gulita. Lho? Gila buanget mungkin saya salah tanggal. Kata satpam, acara  besok bu, bukan malam ini Oke.. ini kebodohan saya. Mau lapor ke Avin? Malu dong..!! Malam tahun baru, esoknya, saya bersemangat lagi ke Kuningan. Sebagaimana tahun baru, saya memang selalu tidak berminat ke luar rumah di penghujung detik-detik pergantian tahun. Lebih menyenangkan berada di rumah sembari dipenuhi sejuta doa, bukan? Tapi untuk sebuah pertunjukan paduan suara, tentu jam 10 malam saya sudah bisa berada di rumah kembali. Aha...,  ternyata saya salah hari lagi! Kata satpam, acara sudah bubar bu, tadi siang sih ada sulap. Hah? sulap? Memangnya Avin nyanyi sembari main sulap?  MasyaAllah.... si Linda ini di penghujung tahun sudah eror sekaliiiii..!! Ternyata  sekretaris saya di kantor sudah berulang kali mengatakan, bulan depan buuuuuu.. bulan depaaaaaaaan....! Dan saya sama sekali tidak menyimaknya. Jadi, ketika tanggal 30 Januari saya menelusuri jalan Rasuna Said Kuningan menuju Usmar Ismail, saya berkata dalam hati, kalau hari ini masih salah lagi tentu si Linda ini kebangetan.. erornya bukan hanya di akhir tahun 2009,  tapi juga di awal tahun 2010..!! Jadi, saat saya menyalami Avin di luar panggung setelah usai acara konser ( Bonar Sihombing  yang jago mengaransemen lagu sekaligus suami Bornokinilah yang memberitahu itu lho yang namanya Avin ), saya katakan kepadanya, Vin.., saya ke sini ada ceritanya lho... tidak hanya sekali saja malam ini... nanti cerita kebodohan saya, baca saja ntar  di Kompasiana......! Dan Avin pun dengan mata bertanya-tanya memandang saya dengan 'aneh'....... hahahahaaa...!! Infinito, kalian memang mencengangkan! Banggalah Indonesia memiliki paduan suara seindah ini. Pergilah lagi melanglangbuana ke mancanegara..... semburkan ketenaran Indonesia.... sebarkan kehebatan bangsa ini dalam berkesenian ,  dalam sebuah penghalusan budi yang gemilang....!! Siempre La Musica !! Bermusiklah selalu......!!!

Linda Djalil

/linda

TERVERIFIKASI (HIJAU)

linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?