Alief Prasetya
Alief Prasetya wiraswasta

seseorang yg ingin belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

No Pain, No Gain dalam Kehidupan

4 Juni 2013   13:25 Diperbarui: 24 Juni 2015   12:33 54446 1 4

Kita sering mendengar istilah, “ no pain, no gain”. Yang kalau di terjemahkan secara bebas artinya “ tidak ada pengorbanan, tidak ada hasil”. Kalimat atau istilah itu benar, secara filosopi, atau filsafat. Tetapi belum tentu benar dalam kenyataan hidup.
Buat saya pribadi dan kebanyakan teman yang saya kenal, segala sesuatu dalam hidup butuh pengorbanan. Misalnya untuk agar kami bisa bersekolah, orang tua kami harus bekerja mati-matian menjadi buruh di pabrik plywood ( kayu lapis /triplek) hanya agar kami bisa mengenyam mewahnya pendidikan. Untuk dapat membeli sepatu, sejak saya sekolah dasar setiap libur saya harus bekerja keras ( menjadi buruh) dan menabung. Setelah lulus SMA, saya harus bekerja keras untuk menghidupi diri saya sendiri dan menyisihkan sedikit demi sedikit untuk di tabung dan dikirim pulang membantu orang tua.
Karena pengorbanan dengan bekerja keras itulah saya sampai hari ini, memiliki biaya untuk menikah, membeli rumah, dan memiliki kendaraan. bahkan karena ingin mendapatkan hasil yang baik itu beribu-ribu keluarga harus terpisah, karena orang tua atau suaminya kerja di luar kota bahkan di negeri orang.
Tetapi, saya mengenal beberapa teman yang hidupnya tidak butuh pain/ pengorbanan itu tadi. Bahkan mereka tidak mengerti arti kata miskin atau tidak punya. Ketika saya bercerita kepada teman tersebut bahwa saya tidak pernah sarapan ketika pergi sekolah dulu. Teman saya itu menjawab, karena saya malas aja, kenapa tidak goreng telur atau masak mie instan buat sarapan. Saat saya jelaskan bahwa sebungkus mie instan atau sebutir telur adalah satu kemewahan untuk lauk makan sekeluarga, teman saya tidak mempercayainya. Itulah yang saya sebut tidak pernah bisa mengerti arti kemiskinan, mengapa karena sejak lahir teman saya hidupnya selalu di penuhi oleh orang tuanya.
Ketika teman saya lahir, sudah tersedia rumah yang besar dan suster yang siap merawatnya. Dimasa sekolah sudah tersedia pembantu dan supir untuk memastikan dia sampai sekolah dan pulang kerumah dengan selamat. Teman saya tidak perlu memikirkan soal sepatu maupun baju yang akan dia pakai, semuanya sudah tersedia. Setelah lulus dari SMA sudah tersedia kursi di Universitas pilihannya. Begitu juga setelah lulus kuliah, sudah ada kursi empuk di perusahaan milik orang tuanya lengkap dengan embel-embel direktur dikartu namanya. Saat pernikahan tiba, temanku ini tidak pusing memikirkan biaya/ongkos buat pestanya, karena orang tuanya sudah menyediakan itu. Bahkan sudah tersedia rumah besar di kawasan elit yang lengkap dengan perabot dan kendaraan buat dia dan isterinya.
Dilihat perbandingan kehidupan saya dan teman saya diatas, istilah “ No pain, no gain” berlaku buat saya dan sebagaian besar rakyat indonesia. Serta tidak berlaku buat teman saya dan sebagian kecil rakyat indonesia. Tetapi jika di ajak tukaran hidup dengan teman saya itu, saya tetap memilih kehidupan saya yang penuh pengorbanan itu. karena lewat pengorbanan itulah saya menemukan keindahan dan kenikmatan menjalani hidup.