Menilik Festival Mangrove, Menyambut PrepCom III UN-Habitat, Surabaya 2016

24 Juli 2016 14:57:38 Diperbarui: 25 Juli 2016 01:09:29 Dibaca : 213 Komentar : 0 Nilai : 1 Durasi Baca :
Menilik Festival Mangrove, Menyambut PrepCom III UN-Habitat, Surabaya 2016
Rambu menuju Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya

Beberapa minggu terakhir memang Surabaya sudah berubah sedemikian cantik. Di beberapa ruas jalan protokol dan daerah aliran sungai tengah kota mulai dihiasi lampu-lampu dan beraneka warna lampion  istimewa. Bukan kebetulan, hal ini memang dilakukan dalam rangka menyambut kegiatan PrepCom 3 UN-Habitat (PBB) yang jatuh pada hari Senin besok hingga 2 hari ke depan, 25-27 Juli 2016.

Konferensi UN Habitat sendiri adalah konferensi tingkat dunia yang membahas penataan pemukiman perkotaan berwawasan lingkungan.

Berkaitan dengan kegiatan penyambutan ini, pemerintah kota Surabaya mengagendakan beberapa acara seperti : Festival Layang-Layang, Festival Tunjungan, Festival Fashion on the Street, Festival Lampion di Sungai Kalimas Monkasel, Festival Bungkul, Festival Jayengrono, Festival Bulak, dan Festival Mangrove. Sebagai warga kota yang ingin ikut merasakan euforia-nya kegiatan ini, kami sengaja tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat langsung pelaksanaan Festival Mangrove siang tadi.

Beranjak dari tengah kota pukul 11 siang, motor yang kami tumpangi tiba di kawasan Kampung Wonorejo kurang lebih 30 menit kemudian. Rute yang kami lewati adalah dari Jalan Basuki Rahmat  menuju kawasan Kertajaya, kemudian mengambil arah ke Middle East Ring Road (MERR), dan berbelok lurus menuju Jalan Raya Wonorejo, Rungkut. Terik matahari tak menyurutkan niat kami untuk segera meng-eksplore kegiatan di wilayah konservasi yang disebut Ekowisata Mangrove Wonorejo ini secepatnya.Saat kami tiba, pihak pembawa acara baru saja selesai memberi berbagai kata sambutan dan pengantar tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan mangrove.

Panggung utama acara, Festival Mangrove Surabaya 2016
Panggung utama acara, Festival Mangrove Surabaya 2016
p-20160724-112735-5794cf990e9773983d22a960.jpg
p-20160724-112735-5794cf990e9773983d22a960.jpg
Selagi para peserta UN Habitat dan pengunjung lokal yang tengah serius mendengar penjelasan tentang batik yang pewarnanya menggunakan daun dan batang pohon mangrove, saya malah asyik sendiri blusukan di sebuah booth di samping panggung yang ndilalah malah mengantar saya bertemu dengan Bapak Soni Mohson, Koordinator Petani Mangrove Surabaya.
Booth sirup mangrove. Sayang, belum sempat beli stand sudah bubar.
Booth sirup mangrove. Sayang, belum sempat beli stand sudah bubar.
Hebat. Koordinator Petani Mangrove, Soni Mohson
Hebat. Koordinator Petani Mangrove, Soni Mohson
Sosok luar biasa ini sangatlah bersahaja. Dengan bersemangat beliau menceritakan bagaimana rumitnya proses pembuatan sirup buah mangrove. Ditemani segelas es sirup mangrove yang asem segar rasanya, kami berbincang mulai penadahan buah (tidak dipetik, tapi ditadah menggunakan jaring), pembuatan sirup, hingga soal konservasi lahan hutan bakau. Satu kata untuk dedikasinya, luar biasa!
p-20160724-113352-5794d158c423bdae15106f73.jpg
p-20160724-113352-5794d158c423bdae15106f73.jpg
p-20160724-113507-5794d1746f7a61cd1ea60762.jpg
p-20160724-113507-5794d1746f7a61cd1ea60762.jpg
p-20160724-113612-5794d1ab0e9773bd3d22a960.jpg
p-20160724-113612-5794d1ab0e9773bd3d22a960.jpg
Puas berbincang, kali ini saya menguntit lagi kegiatan peserta UN Habitat yang siang tadi hanya tampak 4 atau 5 orang dari beberapa negara. Pihak Mangrove sempat memperlihatkan beberapa hewan yang dijumpai di sekitar kawasan konservasi, seperti biawak (nyambik) dan ular. Berhubung yang dibawa ular yang besar (meskipun cantik warnanya) membuat saya segera kabur seketika itu juga.
img-20160724-wa0058-5794d22ea2afbd49501f8c4b.jpg
img-20160724-wa0058-5794d22ea2afbd49501f8c4b.jpg
Setelah itu para peserta UN Habitat diajak untuk menanam pohon bakau di sekitar area.
p-20160724-114717-5794d6fec423bd2b15106f91.jpg
p-20160724-114717-5794d6fec423bd2b15106f91.jpg
Lalu perjalanan dilanjutkan kembali menuju Rumah Buku, semacam perpustakaan mini, dan menyusur jembatan di kawasan mangrove. Jejak kami mengikuti para peserta UN Habitat prepcom 3 terpisah saat memasuki area wisata naik perahu menuju kawasan konservasi mangrove yang berjarak kurang lebih 5km dari tempat itu.
p-20160724-115729-5794d264d69373b114e77038.jpg
p-20160724-115729-5794d264d69373b114e77038.jpg
p-20160724-121007-5794d62ace7e615b1f6a0d7b.jpg
p-20160724-121007-5794d62ace7e615b1f6a0d7b.jpg
Berbekal tiket perahu seharga IDR 25K, saya dan seorang teman dengan semangat mengikuti laju perahu. Matahari sudah sedemikian tinggi. Sepanjang aliran sungai yang berwarna hijau, sesekali tampak burung cantik yang hinggap di gundukan pohon mangrove dan biawak yang sedang berjemur matahari.

Suasana tenang sekali. Perahu kecil kami, yang ditumpangi kurang lebih 15 orang, berjalan menuju persimpangan laut untuk berputar kembali ke kawasan wisata konservasi.

p-20160724-122602-5794d298d69373c614e77037.jpg
p-20160724-122602-5794d298d69373c614e77037.jpg
p-20160724-124939-5794d309729373d520678baa.jpg
p-20160724-124939-5794d309729373d520678baa.jpg
p-20160724-125016-5794d3227293737820678bae.jpg
p-20160724-125016-5794d3227293737820678bae.jpg
Sempat bengong lantaran harus turun, kami menurut saja saat asisten jurumudi perahu mengatakan bahwa perahu akan menjemput kami setelah beberapa waktu. Di saat itu barulah kami menyadari sesuatu, berada di tempat yang jauh dari peradaban tanpa membawa bekal makanan dan minuman! Great! Sempurna rasanya.

Jadilah kami berjalan terhuyung-huyung karena dehidrasi dan wajah memerah terpapar sinar matahari sekaligus perut melilit kelaparan. Berhubung rasa penasaran sedemikian besar, kami berusaha menikmati alam sekitar. Menyusuri jembatan tradisional (yang terbuat dari bambu), dan wow! Tutup mata saja pada segala macam tumpukan sampah, sisanya adalah keindahan semesta. Sejauh mata memandang adalah laut yang tenang. Teduh rasanya.

p-20160724-125153-5794d3607293736120678bab.jpg
p-20160724-125153-5794d3607293736120678bab.jpg
p-20160724-133010-5794d3c3779373b80b6791a0.jpg
p-20160724-133010-5794d3c3779373b80b6791a0.jpg
p-20160724-133255-5794d3f46f7a610e1fa6075f.jpg
p-20160724-133255-5794d3f46f7a610e1fa6075f.jpg
Setelah puas mengambil gambar, kami segera kembali menuju ke dermaga. Menanti perahu berikut yang menjemput. Kurang lebih 30 menit lamanya kami menunggu, tibalah sang perahu. Dan petualangan kami berakhir dengan satu senyuman lebar di tempat itu. Puas. Meski harus menahan lapar dan kehausan.

Secara umum berwisata di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo sangatlah menarik. Selain dapat belajar tentang pelestarian lingkungan, banyak spot cantik yang bisa dijadikan latar belakang foto yang dramatis. Fasilitas tempat ngadem bercengkerama bersama keluarga, toilet, dan musholla, semuanya ada.  Baik di daratan maupun di tengah kawasan hutan. Untuk kuliner hanya ada di daratan sesaat menuju lokasi dermaga 1. 

20160724-130622-1-5794d539d07a61c53ca288d6.jpg
20160724-130622-1-5794d539d07a61c53ca288d6.jpg
p-20160724-125911-5794d47ff37e61510a638848.jpg
p-20160724-125911-5794d47ff37e61510a638848.jpg
Beberapa hal yang perlu diperhatikan para pengunjung saat memutuskan untuk berwisata naik perahu adalah : memakai perlengkapan yang bisa melindungi kita dari terik matahari (topi, kacamata cengdem, termasuk sunblock). Untuk mereka yang bepergian bersama keluarga dan anak-anak bisa membawa makanan dan botol air mineral.

Highlight untuk sampah makanan dan minuman yang dibawa, jangan ditinggalkan di atas sana. Bawa kembali sisa makanan termasuk pembungkus kemasan makanan dan minuman anda. Bagi ibu-ibu dan mbak-mbak, usahakan tidak memakai selop atau sepatu high heels. Sneakers, flat shoes, atau sandal jepit bisa jadi pilihan yang baik, sebab selain harus naik turun perahu, sepanjang jembatan yang disusuri nanti terbuat dari bambu.

img-20160724-wa0046-5794d4f6d693734815e77038.jpg
img-20160724-wa0046-5794d4f6d693734815e77038.jpg
Lagi, saat berkunjung ke Kawasan Ekowisata Mangrove, perhatikan beberapa rambu seperti jam keberangkatan dan penjemputan perahu. Jangan sampai ketinggalan dan gigit jari sendirian di tempat itu.
p-20160724-130030-5794d5a5a2afbd6b501f8c4b.jpg
p-20160724-130030-5794d5a5a2afbd6b501f8c4b.jpg
Catatan kecil untuk pengelola tempat wisata, tak tampak life vest sebagai perlengkapan keselamatan penumpang perahu. Ini sepele kelihatannya, namun perlu.

Sukses untuk pelaksanaan UN Habitat prepcom 3.

Salam wisata dalam kota Surabaya. Salam Kompasiana.

.

  

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL wisata

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana