Laura Ariestiyanty
Laura Ariestiyanty profesional

Writer, Content Editor\r\n(www.laurakhalida.com\r\n@laurakhalida)\r\ndan Media Relations www.irmarahayu.com

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Jalan Jihad Sang Dokter (dr. Joserizal Jurnalis)

11 September 2011   05:15 Diperbarui: 26 Juni 2015   02:03 1268 2 3

Saya mengenal namanya pertama kali waktu masih rajin membaca majalah Sabili, kemudian ketika menjadi reporter, saya pun mendengar lagi namanya disebut-sebut oleh narasumber yang saya wawancarai. Ditambah membaca berita seputarnya melalui media massa lain. Rasa kagum saya menanjak dibuatnya. Orang ini… luar biasa!

Tentu saya tak menyangka suatu ketika diminta penerbit untuk mengedit buku ini. Walau saya tak bertemu dengan dr. Joserizal Jurnalis, hanya berkontak dengan co writernya, Rita T Budiarti melalui telepon dan BBM, ruh perjuangannya amat terasa di jiwa saya.

Membaca kisahnya… wow… merasa jihad saya dalam hidup tak berarti. Berkaca-kaca mata ini mengingat anak-anak Palestina yang berjihad demi agamanya. Kalau membandingkan pemuda kita yang seusia mereka sudah sibuk dengan mall, junk food, dan gadget... ah tentu sebaiknya saya tak men-generalisasikan, sebab kondisi negara kita pun berbeda.

Dr. Joserizal Jurnalis telah 12 tahun membaktikan dirinya di daerah konflik di dalam dan luar negeri bersama MER-C. Harapan orangtuanya begitu mulia: Mengutamakan kejujuran! Jose tidak diharapkan meraih prestasi setinggi mungkin, tapi dituntut raih prestasi dengan cara yang jujur.

Alumni Fakultas Kedokteran UI ini mengawali kariernya sebagai dokter di Puskesmas Lubuk Buaya, Padang. Lalu mulai berjihad pertama kali tahun 1999 di Tual, dekat Ambon. Di sini Jose melihat begitu kejamnya konflik terjadi, masjid menjadi ‘rumah sakit’ sementara yang penuh korban berdarah-darah. Dia pun bekerja dengan fasilitas ala kadarnya, mengoperasi di teras masjid dengan bantuan lampu senter karena sambungan listrik kerap byar pet. Dia pun pernah menggergaji untuk memotong tulang dari korban yang mengalami putus tangan, dengan menggunakan madu sebagai antibiotik.

Pengalaman ‘mengerikan’ itu tidak membuatnya kapok terjun ke daerah konflik atau bencana alam. Jose terus berjihad dan bersedia dikirim ke tempat lain, seperti Aceh, Afghanistan, Pakistan, Irak, sampai Gaza-Palestina!

Pengalaman di Gaza merupakan kisah paling mengharukan dan menegangkan. Saya yang mengedit pun merasakan sekali tantangan mereka ketika membawa bala bantuan ke sana. Saat mereka dihadang penjaga dan mendengar dentuman bom, Subhanallah.

Untuk orang bernyali rendah, berjuang ke sana mungkin adalah sebuah ketakutan. Tapi tidak untuk seorang Joserizal Jurnalis, yang menjalaninya dengan ikhlas dan niat tulus. Apalagi sebelum terjun ke daerah konfilk, mereka harus menandatangani surat “kontrak kematian”.

Kini MER-C tengah membangun sebuah rumah sakit di Gaza Utara. Perjuangannya tentu tidak mudah, mereka membutuhkan banyak donatur dan sumbangsing dari kita semua. Saya saja bergidik ngeri sewaktu membaca pengalaman mereka survei lokasi dan bertanya-tanya apa jaminannya rumah sakit itu kelak tidak dibom?

Mari kita berdoa dan berdonasi semoga rumah sakit tersebut dapat berdiri tegak dan membantu banyak orang yang membutuhkan. Rumah sakit ini akan menjadi rumah sakit pertama di Gaza Utara. Saat ini, Gaza hanya memiliki dua rumah sakit utama, yaitu Rumah Sakit Asy-Syifa yang terletak di Kota Gaza, yang menjadi rujukan untuk wilayah Gaza bagian utara dan tengah, dan Rumah Sakit Eropa yang terletak di daerah Khan Younis—yang menjadi rujukan untuk wilayah Gaza bagian selatan.

Referensi tambahan: republika.co.id *Buku sudah beredar di toko buku