Juni, Berawalnya Cinta Kita

19 Juni 2017 23:09:22 Diperbarui: 20 Juni 2017 00:47:28 Dibaca : 150 Komentar : 15 Nilai : 19 Durasi Baca :

Selain Albert dan Renna, ada satu lagi figur orang dewasa yang dekat dengan Chelsea. Andini, pendamping homeschoolingnya. Lima hari dalam seminggu Andini datang ke rumah Chelsea dan mengajarinya. Bila Chelsea ada kegiatan non akademis, ada kelonggaran. Jadwal bisa diganti ke hari atau jam lain. Itulah salah satu kelebihan homeschooling: waktu yang fleksibel.

Bukan hanya Andini yang berpartisipasi dalam kelangsungan pendidikan Chelsea. Renna pun turun tangan untuk mengajari putrinya. Terlebih setelah ia mengundurkan diri sebagai Psikolog dan hypnotherapyst. Waktunya ia curahkan untuk mengajar dan memberikan materi-materi pelajaran untuk Chelsea. Tugas Andini menjadi lebih ringan sejak Renna resign dari Biro Psikologi.

Selama Ramadhan, Chelsea libur dari aktivitas homeschooling. Bukan berarti Andini tak bertemu Chelsea. Beberapa kali ia datang dan mengajak Chelsea bermain atau berjalan-jalan. Bila kunjungan bersifat non formal, Andini sering membawa Rossie.

Tak heran Chelsea akrab dengan Rossie. Dua gadis kecil nan cantik yang terpaut jarak tiga tahun itu sudah seperti kakak-beradik. Sama-sama berstatus anak tunggal membuat Chelsea dan Rossie kian akrab.

“Bonekanya lucu. Ini Hello Kitty...Chelsea juga suka. Bonekanya Rossie baru ya?” komentar Chelsea. Menyentuh boneka berukuran besar berwarna biru muda yang dipegang Rossie.

“Iya. Ayah yang beliin. Rossie suka banget boneka ini,” sahut Rossie, tersenyum lebar. Pastilah ia teringat ayahnya.

“Rossie sama kayak Chelsea. Dekat sama ayahnya. Kalo udah sama ayahnya, susah dipisahkan.” Andini menjelaskan.

“Nama ayah kita sama...” timpal Rossie.

“Oh iya. Lucu ya? Nama ayah kita bisa sama.” Chelsea tertawa ringan. Andini lekat mengawasi kedua anak perempuan itu. Ya, nama ayah mereka sama: Albert. Bahkan ayah Chelsea dan ayah Rossie bersahabat baik.

Terdengar deru mobil memasuki halaman. Otomatis Chelsea melirik ke luar jendela. Tak salah lagi, itu mobil ayahnya.

“Ayah sama Bunda pulang!” serunya senang, lalu ia berlari ke ruang depan.

Andini mengangkat tubuh Rossie dalam gendongannya. Merapikan boneka-boneka baru milik Rossie. Melangkah menyusul Chelsea.

Benar saja. Albert dan Renna sudah kembali. Chelsea memeluk Ayah-Bundanya. Senang saat pelukannya dibalas. Ia sengaja berlama-lama di pelukan Albert.

“Sudah dong, Sayang. Nanti Bundanya Chelsea cemburu lho. Abis mesra gitu peluk Ayahnya...” canda Andini. Tak puas-puasnya menatapi Albert dan Chelsea yang sulit dipisahkan.

“Chelsea suka peluk Ayah. Soalnya Ayah ganteng, wangi lagi.” kata Chelsea polos.

“Oh, jadi Chelsea nggak suka dipeluk Bunda? Bunda kurang cantik? Kurang wangi? Kurang tinggi dibanding Ayah?” Renna berpura-pura kecewa. Membuat mereka semua tertawa melihat ekspresinya.

“Bukan gitu. Chelsea senang kok peluk Bunda. Bunda sama Ayah wangi parfumnya enak.”

Penilaian anak-anak jauh lebih jujur. Mereka bisa menilai apa adanya. Netral, tanpa memihak siapa pun.

“Sayang, tadi Ayah sama Bunda beli baju buat kamu. Dicoba dulu ya?” pinta Albert seraya melepas pelukannya.

“Chelsea dapat baju lagi? Horeee!”

Beberapa paperbag dari brand pakaian ternama dibuka. Chelsea mendesah kagum. Mengamati tumpukan baju di dalam paperbag berukuran besar itu. “Ini semua buat Chelsea?”

“Iya.”

“Banyak banget. Bagus-bagus lagi. Chelsea cobain bajunya ya?”

Albert, Andini, dan Renna membantu Chelsea mencoba pakaian barunya satu per satu. Banyak sekali baju yang dicoba. Semua baju pilihan Albert dan Renna sangat bagus. Selera fashion mereka tinggi. Albert dan Renna bisa membelikan pakaian bagus untuk Chelsea karena mereka sendiri tampil elegan.

“Wow...Chelsea, my Little Angel. You’re beautiful!” puji Albert dan Renna bersamaan.

“Kalian tidak salah pilih. Baju-baju ini pas untuk Chelsea. Sesuai umurnya, elegan, modis, dan pastinya...mahal.” Andini berkomentar.

Renna tertawa kecil. “Kamu kan begitu juga, Andini. Kamu dan Albert Fast Cavanaugh sering membelikan baju bagus untuk Rossie. Iya kan, Rossie?”

Rossie mengangguk. Melingkarkan lengan kecilnya di leher sang Bunda.

Selesai mencoba baju terakhir, Chelsea berlari ke kamarnya. Albert, Renna, dan Andini bertukar pandang. Penasaran apa yang akan dilakukan Chelsea. Tiga menit kemudian Chelsea kembali ke ruang tamu. Ia membawa dua tas kain menggelembung berisi penuh pakaian.

“Itu kan baju-bajunya Chelsea. Mau diapain, Sayang?” tanya Renna heran.

“Bunda, Ayah, makasih ya udah beliin baju buat Chelsea. Chelsea boleh kasih ini semua ke panti asuhan, kan? Baju Chelsea udah banyak. Malah ada yang belum sempat dipakai.”

Chelsea menunjuk dua tas kain bawaannya. Ia meminta izin sehalus mungkin.

Setiap orang tua pasti senang bila anaknya memiliki jiwa sosial tinggi. Pola pendidikan Albert dan Renna berhasil. Chelsea tumbuh sesuai ekspektasi mereka.

**    

“Kamu kuat, Albert? Tetap mau shooting hari ini?” bisik Muti perlahan.

Albert menarik nafas. Mengedarkan pandang ke sekeliling gedung yang baru dimasukinya.

“Aku yakin.”

Muti tersenyum menyemangati. Sadar betul kondisi sepupunya tidak sehat, wanita berdarah India itu menghubungi Albert setiap pagi. Mengecek keadaannya. Terus membujuknya untuk berobat. Sejak vonis Leukemia stadium tiga jatuh, Albert belum menjalani langkah medis secara serius. Ia hanya melakukan check up.

Sejak pagi, kondisi Albert menurun. Ia mulai merasakan sakit di bagian lambungnya. Relevan dengan hasil pemeriksaan, sel kanker mulai menjalar ke sistem pencernaan. Muti tak bisa membiarkan sepupunya merasakan sakit sendirian. Alhasil ia menemani Albert beraktivitas sepanjang hari ini. Mulai dari rapat direksi, pertemuan dengan klien, sampai shooting acara talk show Islami di Surya Mediatama Televisi. Albert sama sekali tidak meminta Muti menemaninya. Ini semua murni inisiatif Muti.

“Acara ini penting bagiku. Jika aku tidak datang, itu namanya wan prestasi. Reputasi TV ini bisa jatuh. Rating programnya turun, dan aku akan mengecewakan pemirsa.” Albert menerangkan rasionalisasinya.

“Oh Albert, kamu selalu memikirkan orang lain. Cobalah...sehari saja kamu pikirkan dirimu sendiri.” Muti mendesah sabar.

“Tidak bisa begitu, Muti. Kamu pun seharusnya tetap di rumah. Menjaga Calvin, prepare buat Lebaran yang tinggal seminggu lagi. Bukankah tahun ini keluarga besar kita akan berkumpul di rumahmu?” Albert mengingatkan. Menyebut nama anak laki-laki yang diadopsi Mutti dan Rafly.

“Rafly mengajak Calvin ke kantornya. Soal persiapan Lebaran, itu bisa nanti. Sudahlah, jangan pikirkan orang lain dulu. Kamu orang paling tidak egois yang kukenal.”

Sebuah pujian implisit. Albert sering mendengarnya. Ia merasa selalu ingin memikirkan dan mementingkan orang lain. Kepentingan diri sendiri bisa dikesampingkan. Pria berdarah Jawa-Jerman-Skotlandia itu baik sekali.

“Maafkan aku, Muti. Aku menyusahkanmu. Aku menyesal belum bisa membantumu menyiapkan segalanya. Padahal sebentar lagi keluarga kita datang. Mereka jauh-jauh dari Malang, New Delhi, Munchen, dan Skotlandia. Pasti mereka ingin hari raya tahun ini lebih spesial di kota tempat tinggal kita.”

“Itu bisa diatur. Toh Idul Fitri masih seminggu lagi. Kamu tidak usah memikirkannya. Keluarga kita memang unik, harus disambut dengan cara unik pula.” bantah Muti dengan nada finalitas. Ia tak ingin mendengar ungkapan penyesalan dan simpati lagi.

Terlahir dari keluarga berdarah campuran membuat Albert dan Muti beruntung. Keluarga mereka unik. Punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda-beda, namun tetap di bawah satu agama yang sama. Tak satu pun anggota keluarga yang murtad. Mereka berharap jangan sampai hal itu terjadi.

**    

Kesannya seolah memaksakan diri. Albert berusaha kuat saat memasuki studio. Tampil all out, begitulah keinginannya.

“Camera rolling...action.”

Talk show dimulai. Albert membawakan opening.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pemirsa di studio dan pemirsa di rumah, jumpa lagi di program kesayangan kita, Dialog Islam Mediatama. Senang sekali saya, Arif Albert, bisa menemani Anda selama satu jam ke depan.”

Albert terlihat rileks dan percaya diri seperti biasa. Bakatnya di bidang public speaking dan broadcasting menyempurnakan penampilannya. Ditambah lagi suara barithonnya yang lembut dan pembawaan simpatiknya.

“Musuh terbesar umat Islam adalah kehidupan sekuler dan kapitalistik. Selain itu, mulai muncul Islamophobia. Ajaran Islam yang indah dan penuh kasih justru ditakuti. Sebagai umat Islam yang baik, kita tak boleh tinggal diam menghadapi problem ini. Persepsi negatif tentang Islam perlu diluruskan, salah satu caranya melalui media sosial. Untuk itu, edisi kali ini kita akan mengangkat topik yang sangat menarik yaitu Media Sosial Sebagai Sarana Dakwah.”

Prolog yang mulus. Ratusan pasang mata tertuju pada Albert. Hostnya jauh lebih menarik dibanding ustadz narasumbernya.

“Bagaimana cara mengoptimalkan media sosial sebagai sarana dakwah? Mari kita simak jawabannya. Pemirsa, di studio kita sudah kedatangan Ustadz Hendrawan Kamil Suryaatmaja.”

Tak hanya pandai membawakan acara, Albert dapat berkolaborasi dengan narasumber. Ustadz muda yang juga pengamat media sosial itu pun senang berinteraksi dengan host yang baik dan berwawasan luas seperti Albert.

Satu jam talk show Islami itu terlewati. Semuanya berjalan lancar. Allah memberi kekuatan. Selama membawakan acara, Albert tak merasakan sakit.

“Kamu hebat, Albert.” sambut Muti lega di depan pintu studio.

“Alhamdulillah. Aku juga tidak menyangka bisa bertahan selama acara. Aku sama sekali tidak merasakan sakit sedikit pun.” kata Albert yakin.

“Allah Maha Besar...”

Menggandeng tangan Albert, Muti mengajaknya keluar. Duduk di bangku taman. Menatap mata teduhnya lurus-lurus.

“Albert,” ucapnya serius.

“Sudah waktunya kamu jujur pada Renna. Beri tahu dia soal penyakitmu. Renna istrimu, dia berhak tahu.”

“Muti...” Albert berkata lelah.

“Please jangan bahas ini lagi.”

“Demi kebaikanmu. Leukemia itu penyakit serius. Kamu harus berobat. Ingat hasil pemeriksaan terakhir? Kanker sudah bermetastasis ke lambungmu.”

Seakan itu sebuah sugesti, rasa sakit di lambungnya kembali datang. Albert memegang perutnya. Berusaha tetap bertahan di posisinya. Muti menatapnya cemas.

“Apa kataku? Kamu takkan kuat melawan Leukemia sendirian. Renna harus tahu. Kamu harus berobat secepatnya. Kalau perlu, berobat ke luar negeri seperti waktu itu.”

“Muti, aku lelah. Aku sudah tidak kuat dengan efek samping kemoterapi dan radiasi. Pergi ke luar negeri sama saja.”

“Hei...sejak kapan sepupuku yang tampan ini pesimis? Yakinlah kamu akan sembuh, Albert. Asalkan kamu mau berobat, berusaha, dan berdoa. Sekarang kamu sudah menikah. Kamu tidak hidup sendiri lagi. Jalanilah pengobatan, demi Renna dan Chelsea.”

Mendengar nama Renna dan Chelsea, ruang pemahaman terbuka di hatinya. Perlahan tapi pasti, hati Albert mulai menerima. Menerima bahwa dirinya harus berobat demi mempertahankan hidup. Ia tersadar siapa dirinya. Seorang suami, ayah, dan eksekutif muda pemimpin perusahaan besar dengan ribuan karyawan. Banyak orang yang menggantungkan harapan padanya. Bagaimana ia bisa menjadi tumpuan harapan orang lain jika dirinya sendiri rapuh?

“Renna wanita yang pintar. Ia punya banyak link dengan praktisi kesehatan di dalam dan luar negeri.” lanjut Muti.

“Ingatkah kamu saat dokter memvonismu mandul? Renna berkonsultasi dengan dokter-dokter spesialis Andrologi dan Urologi di berbagai rumah sakit. Ia menanyakan jenis terapi pengobatan infertilitas terbaik untuk kasusmu. Kemudian Renna melihat peluang besar di KK Women’s and Children’s Hospital, Singapore. Dia langsung membawamu berobat ke Singapore, kan? Albert, dengar ya. Renna selalu mengusahakan pengobatan yang terbaik untukmu. Dia ingin kamu sehat.”

Dibekali ingatan yang kuat membuat Albert tak melupakan masa-masa itu. Muti benar. Renna selalu mengusahakan jenis pengobatan terbaik untuknya. Istri cantiknya yang memiliki darah Sunda-Belanda itu berpikiran logis. Ia tak pernah percaya pada pengobatan alternatif. Kepercayaannya hanya ia berikan pada pengobatan medis.

“Okey. I’ll tell her ASAP.” Albert memutuskan.

“Good. Kanker tidak bisa menunggu, Albert. Ingat itu.”

**     

Selangkah demi selangkah, Albert memasuki rumahnya. Sibuk merangkai kata untuk memulai penjelasan menyakitkan itu. Menyiapkan diri menghadapi reaksi Renna. Wanita ekspresif seperti Renna memiliki banyak cara untuk mengekspresikan perasaannya.

Terbayang olehnya wajah sendu berurai air mata itu. Ya Allah, tegakah ia membuat Renna menangis lagi? Wanita kelahiran 23 Januari itu sudah terlalu banyak menderita bersamanya. Renna selalu ada untuk Albert dalam suka dan duka.

Langkahnya kian dekat. Dihelanya nafas, memantapkan hati untuk mengakhiri kepura-puraan ini. Jemarinya meremas handel pintu utama. Bersiap membukanya. Sembilan detik, sepuluh detik, sebelas...

“Happy anniversary!”

Pintu besar berpelitur mengilap itu terbuka lebar. Renna menyambutnya hangat. Memberinya kejutan indah.

“Anniv...?” ulang Albert pelan.

“Iya, Sayang. Juni adalah berawalnya cinta kita. Di Bulan Juni, kita berkenalan. Tepat di bulan Ramadhan pula. Indah sekali, kan? Juni pula bulan yang kamu pilih untuk melamarku. Di Bulan Juni, kita menikah. Oh Dear, Juni adalah bulan spesial kita.”

Dengan gerakan slow motion, Albert memeluk Renna. Merapatkan tubuh ramping beraroma vanilla itu dalam dekapan. Renna tersenyum dalam pelukan Albert. Menghirup wangi Calvin Klein khas pria itu. Renna yang cantik dan Albert yang tampan. Mereka sungguh serasi. Dunia sangat adil. Memasangkan mereka yang berwajah rupawan sebagai pasangan hidup.

Di meja, tersaji makanan favorit mereka berdua. Cup cake, tiramisu, pizza, brownies, dan klapertart. Tak lupa Earl Grey kesukaan Albert dan green tea kesukaan Renna.

“Seharusnya aku membelikanmu bunga...” Albert berujar, lembut menyibak seuntai rambut di dahi Renna. Diciumnya dahi Renna penuh kasih sayang.

“Tidak apa-apa. Gantian aku yang menyiapkan ini semua untukmu.” Renna tersenyum penuh pengertian.

Malam ini begitu indah. Sesaat kemudian Renna meminta Albert menyanyikan lagu untuknya. Tak tanggung-tanggung, ia telah memindahkan piano kesayangan mereka dari lantai atas ke ruang tamu. Entah bagaimana caranya. Mungkin ia minta bantuan asisten rumah tangga dan tukang kebun.

Albert memainkan piano. Menyanyikan lagu romantis itu sepenuh hati. Hanya untuk istrinya, belahan jiwanya, Renna Maya.

Kujalani setiap hariku bersamamu

Oh kasihku

Oh pujaanku

Tetaplah selalu ada di hatiku selamanya

Rasa ini yang telah jauh bawaku terbang ke awan

Bersamamu selamanya yang kumau

Tak ada yang dapat pisahkan cinta kita berdua selamanya

Meski rintangan yang datang tuk menghadang cinta kita

Ku kan selalu menjagamu

Ku kan selalu di sisimu

Berjuta rasa cinta ini yang akan kuberikan

Kepadamu oh kasihku

Kepadamu oh pujaanku selamanya

Dan kutahu tak semuanya indah

Tapi ku kan mencintamu selamanya

Takkan ku berhenti

Takkan kuingkari selamanya

Meski rintangan yang datang tuk menghadang cinta kita

Ku kan selalu menjagamu

Ku kan selalu di sisimu

Berjuta rasa cinta ini yang akan kuberikan

Kepadamu oh kasihku

Kepadamu oh pujaanku

Berjuta rasa cinta ini yang akan kuberikan

Kepadamu oh kasihku

Kepadamu oh pujaanku

Meski rintangan yang datang tuk menghadang cinta kita

Ku kan selalu menjagamu

Ku kan selalu di sisimu

Berjuta rasa cinta ini yang akan kuberikan

Kepadamu oh kasihku

Kepadamu oh pujaanku

Berjuta rasa cinta ini yang akan kuberikan

Kepadamu oh kasihku

Kepadamu oh pujaanku (Calvin Jeremy-Selamanya).

“Kuharap tak ada lagi rintangan yang menghadang cinta kita, Sayang.” ungkap Renna. Senyum bahagia menghiasi bibir mungilnya.

Jauh di dalam hati, Albert mengharapkan hal yang sama. Ia tak tega menghapus senyum di wajah Renna. Takkan dirusaknya malam seindah ini dengan vonis kanker. Kanker memang tak bisa menunggu, tapi cinta akan menguatkannya.

Latifah Maurinta

/latifahmaurintawigati

TERVERIFIKASI

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana