Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Dapat E-mail dari Orang Tak Dikenal? Hati-Hatilah!

28 Mei 2017   06:15 Diperbarui: 28 Mei 2017   17:35 315 25 15
Dapat E-mail dari Orang Tak Dikenal? Hati-Hatilah!
Ilustrasi. Thinkstock

Beberapa hari terakhir, saya menerimae-mail dari orang tak dikenal. Dia mengaku sebagaisilent reader di Kompasiana. Menurut pengakuannya, dia sudah khatam membaca semua tulisan saya. Alasannya menulis e-mailpada saya karena ingin mensupport dan memberi dukungan.

Entah apa maunya, saya tak tahu. Dalamnya hati seseorang, baik-jahatnya niat seseorang hanya diketahui Sang Pemilik Kehidupan. Saya balas saja e-mailnya seperlunya.

Dia mengirimi saya video tentang proses penyembuhan trauma. Dia menyuruh saya untuk melakukan riset tertentu. Namun saya tak tertarik karena riset yang disarankannya melanggar prinsip hidup saya. Mana mungkin saya ubah jalan hidup saya hanya demi orang tak dikenal dan tak penting dalam hidup saya? Memangnya siapa dia? Pikir saya waktu itu.

Lama-kelamaan, e-mailyang dikirimkannya membuat saya resah. Saya merasa terancam dan tidak aman. Coba saya tanyakan siapa dia, tapi dia tak menjawab pertanyaan saya. Rasa kesal dan heran saya tahan dalam hati. Sebenarnya, saya tak senang basa-basi dan ingin to the point saja. Percayalah,to the point lebih baik dari pada sekedar basa-basi tak penting. Timbul pertanyaan dalam hati: mengapa kebanyakan orang senang berbasa-basi? Tidakkah mereka to the pointsaja dalam mengungkapkan sesuatu? Tegas, sistematis, apa adanya, terus terang, dan tidak bertele-tele?

Si pengirim e-mail tidak jelas mengganti nama usernya. Membuat saya bertambah kebingungan. Mengapa dia harus ganti nama? Mengapa dia tidak menuliskan nama aslinya saja sebagai alamat e-mailnya? Terakhir dia mengirimkan e-mail. Menyapa saya dan memberi semangat. Namun tak saya hiraukan. Saya tak berselera membalas e-mailnya.

Perasaan terancam masih membekas. Keinginan untuk memproteksi diri dari orang jahat semakin kuat. Saya tak mau lagi ditipu, dilukai, dihina, dimanfaatkan, ditusuk dari belakang, dikhianati, dan direndahkan seperti sebelumnya. Lebih baik saya membentengi dan membatasi diri hanya berkomunikasi dengan orang-orang tertentu saja yang murni saya kenal dan saya percayai.

Di sela sikap pembiaran yang saya tunjukkan, sebuah pertanyaan menyeruak ke dalam hati. Apakah saya telah berbuat jahat? Apa saya menyakiti seseorang hanya karena menghiraukannya? Saya takut berbuat jahat. Namun, semua ini saya lakukan semata demi perlindungan diri dari orang-orang yang tak semuanya baik. Apakah bila saya menghiraukan seseorang, amal kebaikan lain yang coba saya lakukan tak diterima oleh-Nya? Apakah jika saya menghiraukan si pengirime-mailtak dikenal, doa-doa yang selama berbulan-bulan ini saya panjatkan takkan dikabulkan? Rasa takut saya pada Tuhan terlalu besar.

Saya tak mengharap pujian. Saya pun tak berharap tulisan-tulisan saya di Kompasiana dibaca banyak orang. Sebab saya tak ingin mengambil keuntungan apa pun dari kegiatan menulis.

Di samping itu, saya takut kena karma. Bagaimana bila situasi itu berbalik pada saya? Bagaimana bila orang-orang yang saya cintai, kagumi, atau hubungi menghiraukan saya?

Terlepas dari rasa takut menerima e-mail dari orang tak dikenal, kita harus paham risiko menulis atau mempublikasikan sesuatu di sebuah media. Baik itu media online maupun media cetak. Pasti tulisan kita menuai respon dari orang lain. Suka atau tidak, orang-orang di luar sana akan membaca, menilai, dan mengapresiasi tulisan kita. Entah maksud mereka baik atau buruk.

Nah, apa yang harus kita lakukan bila menerimae-maildari orang tak dikenal?

  1. Baca baik-baik e-mailyang kita terima, lalu lihat apa maksudnya. Pahami e-mail yang dia kirimkan. Lihat tipe tulisannya. Bila memungkinkan, cobalah analisis karakter dan ada-tidaknya maksud tersembunyi dari si pengirim e-mail. Perhatikan, apakah si pengirime-mailmenuliskan subjek atau tidak pada perihalnya. Jika terdapat keterangan “tanpa subjek”, ada baiknya kita bersikap kritis. Buat apa seseorang mengirim e-mail tanpa maksud/tujuan yang jelas? Kalau dia punya tujuan jelas, dia pasti akan mengisi kolom subjek dan tidak membiarkannya kosong begitu saja.
  2. Balaslah sewajarnya. Berhati-hati boleh saja, namun jangan sampai kita menyinggung perasaan orang lain. Kita bisa membalas e-mailnya dengan bahasa normatif yang wajar. Hindari menggunakan kata-kata yang bisa membuat si pengirime-mail baper. Ingat, dia tidak mengenal kita. Dan kita pun tidak mengenal dia.
  3. To the point. Seperti disinggung di awal, to the point jauh lebih baik dari sekedar basa-basi tak penting pada orang yang belum dikenal. Langsung tanyakan apa tujuannya mengirim e-mail pada kita. Bila tujuannya jelas dan positif, bisa kita teruskan sampai urusan selesai. Namun bila si pengirime-mail tak punya tujuan jelas dan terkesan memperpanjang percakapan-istilah populernya “modus” (modal dusta)-sebaiknya jangan diteruskan. Tipe pengirim e-mail tak dikenal seperti itu hanya merugikan dan tidak berguna. Tanyakan pula identitas dan namanya. Bila ia tidak menjawab, waktunya kita abaikan. Buat apa berurusan dengan seseorang yang pengecut dan pembohong di dunia maya?
  4. Blok, masukkan ke spam. Inilah langkah paling mutakhir. Klimaks dari permainan si pengirime-mail tak dikenal. Jagalah diri kita dari pihak-pihak tak bertanggung jawab. Lindungi diri kita dari tindak penipuan, pencemaran nama baik, fitnah, cyber crime, dll. Jika si pengirim e-mailbenar-benar tak dikenal dan tak punya tujuan yang jelas, segera blok dia. Masukkan ke spam dan jangan dibuka lagi. Jangan takut melakukannya, jangan takut perbuatan yang kita lakukan merusak doa atau hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Doa adalah hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Tak ada yang bisa mengatur Tuhan. Doa kita, dan kejahatan oknum di dunia maya termasuk ke dalam dua ranah yang berbeda.

Keempat tips di atas hanya berlaku untuk pengirim-pengirim e-mail tak dikenal. Sebaliknya, jangan lakukan itu bila kita mendapat e-mail dari orang yang kita kenal dan benar-benar peduli pada kita. Semakin dewasa, semakin tajam penilaian kita. Mana orang-orang yang tulus pada kita, mana orang-orang yang sekedar memanfaatkan kebaikan kita, dan mana orang-orang yang punya niat jahat pada kita. Bedakanlah orang yang ketulusannya sudah teruji, dan orang yang hanya ingin berbuat jahat.

Kompasianer, siap menggunakane-mail kalian dengan aman dan nyaman?