Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Haruskah Takut pada Cinta? (3)

14 September 2017   06:02 Diperbarui: 14 September 2017   06:43 528 21 14

Dua tubuh langsing yang saling berpelukan itu mulai terpisah. Keduanya melepaskan diri. Lalu saling tatap. Mengungkapkan isi hati lewat tatapan mata.

"Julia, sekali lagi aku minta..."

"Stop." potong Julia. Meletakkan telunjuk di bibirnya.

"Tak ada yang perlu dimaafkan, Calvin."

Sejenak Calvin terlihat resah. Ia merasa kesalahannya terlalu besar. Julia membelai lengannya lembut.

"Kamu tidak salah. Itu saja."

Akhirnya Calvin dapat diyakinkan. Ia tersenyum, sekilas mengusap rambut Julia.

"Matamu masih sakit?" tanyanya lembut.

"Sedikit."

"What can I do for you?"

Sebuah pertanyaan tulus dan penuh perhatian terlontar dari bibir Calvin. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Julia menyahuti.

"Anything for me?"

"Yes. Anything for you."

Sebuah pertanda baik. Hati Julia dialiri kegembiraan.

"Calvin, aku ingin menonton film Eat, Pray, Love bersamamu."

Permintaan yang sangat mudah. Baik Julia maupun Calvin sama-sama penyuka film. Mereka lebih suka menonton di rumah dibanding di bioskop. Alasannya berbeda. Calvin beralasan agar bisa diulang jika ia tertidur saat film berlangsung. Sedangkan Julia tak bisa fokus dan menonton film dengan jelas jika di bioskop. Ia lebih nyaman melakukannya di rumah.

Tanpa kata lagi, Calvin menggandeng tangan Julia. Menyusuri lorong berkarpet tebal, sampai akhirnya tiba di sebuah pintu. Di lantai atas, terdapat ruangan khusus yang mereka gunakan untuk menonton film. Sebenarnya hanya ruangan biasa, tapi mereka suka menonton film di sini.

Hati Julia berdesir hangat. Akhirnya ia bisa sedekat ini dengan Calvin. Akankah semuanya segera kembali seperti semula? Di samping Calvin, Julia merasa tenang dan bahagia. Buru-buru Julia menata hatinya. Ia tak boleh terlalu excited, tak boleh terlalu berharap. Situasi bisa berubah setiap saat.

Keinginan Julia terwujud. Akhirnya ia bisa menyaksikan film favoritnya ini bersama sang belahan jiwa. Selama menonton film, tanpa sadar Julia dan Calvin berpegangan tangan. Hangat mengalir di tubuh Julia, hangat yang sama mengaliri tubuh Calvin. Beberapa kali Julia mencuri pandang ke arah suaminya. Berlama-lama menikmati ketampanan Calvin dari dekat. Bukankah ketampanan itu relatif? Bagi Julia, Calvin pria yang sangat tampan. Banyak wanita lainnya beranggapan begitu.

"Kenapa kamu suka Eat, Pray, Love?" tanya Calvin tiba-tiba.

"Based on true story. Kamu tahu, kan? Film ini adaptasi dari novelnya Elizabeth Gilbert. Ini terinspirasi dari pengalaman pribadi Gilbert." sahut Julia.

"I see. Fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata pastilah lebih menyentuh."

Detik demi detik yang terlewati serasa begitu indah. Terkadang Julia ingin menekan tombol pause agar film terhenti sementara dan dirinya bisa lebih lama bersama Calvin. Hal itu tak mungkin ia lakukan.

Di luar kesadarannya, Julia meletakkan kepalanya di pundak Calvin. Ia berbisik, mengungkap isi hatinya.

"Calvin, aku takut diriku akan bernasib sama seperti Gilbert. Aku takut dengan perceraian."

Mendengar itu, Calvin terenyak. Dibelainya rambut panjang Julia dengan lembut.

"Kita tidak akan tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tapi kita harus siap menghadapi segala kemungkinan." Hanya itu penghiburan yang bisa dikatakan Calvin pada istrinya.

"Jangan pisahkan aku darimu, Calvin."

"Aku tidak bisa janji, Julia. Apa pun dapat berubah. Bisa saja suatu saat nanti kamu yang memisahkanku dari hidupmu. Mungkin karena kamu tak tahan bersamaku..."

Suara Calvin mengecil lalu menghilang. Dirinya sedih memikirkan kemungkinan terburuk.

"Oh Calvin, aku tidak akan sejahat itu. Masa aku tega meninggalkanmu?" desah Julia.

"Sudah kubilang kita tidak tahu apa yang akan terjadi, Julia. Detik ini, bisa saja kamu bilang begitu. Tapi detik berikutnya? Belum tentu..." Calvin sabar menghadapi Julia.

Tanpa sadar, mereka saling mempererat genggaman tangan. Seolah amat takut kehilangan satu sama lain.

Kedua kalinya, Calvin mendaratkan belaian hangatnya untuk Julia. Mantan finalis Koko-Cici DKI Jakarta itu berupaya menenangkan hati istrinya. Saat ini Julia sedang terbawa perasaan. Calvin yang kharismatik dan punya kepribadian kuat itu-hasil didikan selama menjadi duta wisata dan duta budaya-mampu menenangkan Julia.

"Aku tidak akan meninggalkanmu...kecuali kamu tidak menginginkanku lagi."

"Kurasa aku tidak tega harus bersikap sejahat itu, Calvin."

Wangi Benneton Sport dari tubuh Calvin sedikit banyak mempengaruhi perasaan Julia. Hal yang sama Calvin rasakan. Aroma parfum Escada The Moon Sparkel yang dihirupnya dari tubuh sang istri membuatnya lebih tenang. Ditambah lagi kata-kata menyejukkan dari Julia.

**    

Di luar dugaan, kondisi Calvin membaik setelah menonton film Eat, Pray, Love. Bahkan ia tak menolak saat Julia menawarinya untuk makan siang di ruang makan. Sebuah kemajuan, pikir Julia senang.

Selama makan siang, Julia memainkan perannya sebagai istri dengan sangat baik. Ia mengambilkan makanan, menyiapkan air putih, dan meletakkan obat untuk Calvin. Semua itu dilakukannya dengan tulus dan penuh kasih sayang.

"Kamu mau sayurannya kan, Sayang? Mau ayam saus kacangnya juga?" tawar Julia lembut.

Diberi kata-kata lembut dan diperhatikan sedemikian rupa membuat hati Calvin tersentuh. Ia menatap Julia lekat-lekat. Mengawasi gerakan tangannya menuangkan air ke dalam gelas, menaruh beberapa jenis makanan, dan membuka bungkusan kecil berisi obat. Sesungguhnya, Julia amat pantas untuk dicintai. Mengapa Calvin harus sakit? Sakit yang menghalanginya untuk dicintai dan mencintai Julia.

Baru saja mereka selesai makan, seorang asisten rumah tangga mendekat. Ia terlihat gugup saat berkata.

"Tuan, Nyonya, ada tamu di depan."

"Siapa?" tanya Calvin dan Julia bersamaan.

"Anak kecil. Cantik, putih, rambutnya dikepang. Pakai kursi roda. Namanya...ehm, siapa ya? Oh iya, Paulina."

Prang!

Gelas di tangan Calvin jatuh dan pecah. Wajahnya pucat dan shock. Julia memeluk pundaknya dengan lembut. Berusaha menenangkan.

"Julia, aku harus temui Paulina."

"Aku ikut, Calvin."

Keduanya bergegas meninggalkan ruang makan. Hati Julia dipenuhi tanda tanya. Perasaan Calvin tak menentu.

**     

Kadang cinta tak selalu mengikuti harapanmu

Karena aku tak punya rasa

Seperti perasaanmu kepadaku

Maafkan ku hanya bisa menjadi teman biasa

Namun ku tak pernah melarang kau jatuh cinta padaku

Maaf ku hanya bisa menjadi teman biasa

Namun ku tak pernah melarang kau jatuh cinta padaku

Kuterima bila dirimu tetap memberi canda tawamu

Walau aku tak punya rasa seperti perasaanmu kepadaku

Maafkan ku hanya bisa menjadi teman biasa

Namun ku tak pernah melarang kau jatuh cinta padaku

Maaf ku hanya bisa menjadi teman biasa

Namun ku tak pernah melarang kau jatuh cinta padaku (Calvin Jeremy-Silakan Mencintaiku).

Penyanyi dan pianis cantik itu menyeka matanya. Video itu kembali mengingatkannya pada pria yang pernah diajaknya untuk mendua. Tak puas-puas ia menatap wajah rupawan Calvin di layar raksasa itu. Rosalina kembali memutar video perpisahannya dengan Calvin. Sebelum berpisah, Calvin mengukir kesan manis. Ia mengajak Rosalina ke cafe miliknya. Lalu dinyanyikannya lagu untuk Rosalina diiringi alunan piano. Calvin bermaksud mengakhiri asmara terlarangnya dengan Rosalina.

Jauh di dalam hati, Rosalina masih mencintai Calvin. Ia tak menyangka Calvin akan meninggalkannya. Beginilah risiko menjalin hubungan terlarang dengan pria beristri. Seharusnya Rosalina siap menerima konsekuensinya sejak awal.

Merasa dikhianati? Entahlah. Rosalina wanita berjiwa besar. Sebesar apa pun pengkhianatan Calvin, ia tetap memaafkan pria itu. Sama seperti Julia.

Kini Rosalina tahu diri. Ia menyadari dirinya, statusnya, dan status Calvin. Tak sedikit pun ia berhak merusak keutuhan cinta Calvin dan Julia. Hanya satu yang menjadi masalah.

"Mommy?"

Derit kursi roda dan sebuah suara sopran membuyarkan kenangannya. Otomatis Rosalina berbalik. Ia mendapati gadis kecilnya datang. Duduk dengan anggun di kursi roda.

"Hei Sayang...sini sama Mommy."

Diangkatnya tubuh mungil itu ke pangkuan. Diciuminya rambut hitam si gadis kecil.

"Sudah selesai belajar, Paulina?"

"Sudah, Mom. Paulina suka belajar Matematika."

"Anak pintar...sekarang Paulina mau apa? Mau main? Makan siang? Jalan-jalan? Atau nonton film?"

Janette Paulina, putri semata wayang Rosalina. Gadis kecil berumur delapan tahun yang cantik dan imut. Paulina lumpuh sejak lahir. Di balik kekurangannya, ia memiliki banyak kelebihan. Ia anak yang cerdas. Suaranya sangat bagus. Paulina mempunyai indera keenam dan dianugerahi mata hati yang tajam. Berbagai pengobatan sudah dijalani, tapi belum menampakkan hasil.

Menyadari anaknya istimewa, Rosalina tidak memasukkan Paulina ke sekolah biasa. Sejak awal Paulina mengikuti homeschooling.

"Mom, aku mau ketemu Daddy Calvin. Boleh kan?"

Inilah masalahnya. Rosalina mendesah tak kentara. Bersandar letih ke sofa. Paulina sulit berdekatan dengan orang lain. Sekalinya dekat pada seseorang, ia takkan mau dipisahkan. Sayangnya, Paulina sudah terlanjur dekat dan sayang dengan Calvin.

"Mom, boleh ya? Paulina kangen Daddy Calvin. Paulina mau main dan jalan-jalan lagi sama Daddy Calvin." pinta Paulina manja.

"Paulina Sayang...mainnya sama Mommy saja ya?" Rosalina membujuk selembut mungkin.

"No...I wanna meet my Dad."

Rosalina trenyuh. Sudah lama Paulina tak bertemu Calvin. Pancaran kerinduan terlihat jelas di mata indahnya. Mana mungkin ia menolak?

"Okey okey, Paulina boleh ketemu Daddy. Tapi diantar supir. Mama nggak bisa antar. Is it ok?" kata Rosalina akhirnya.

"Yes! Thanks, Mom!" Paulina mengecup pipi Mommynya.

**     

Mata itu, wajah innocent itu, sempurna meluluhkan hati Calvin. Ia berlutut, memeluk malaikat kecilnya erat.

"Daddy...I miss you."

Julia tak berkedip menatapi adegan penuh rindu itu. Siapa gadis kecil nan cantik bernama Paulina yang datang ke rumaahnya? Mengapa Paulina memanggil Calvin dengan sebutan Daddy?

Paulina cantik sekali. Cocok menjadi anak Calvin. Benarrkah ia anak kandung Calvin hasil perselingkuhannya dengan Rosalina? Cepat-cepat Julia menepis pikiran negatif itu.

"Miss you too, Dear." Calvin mencium kening Paulina. Menggendongnya, membawa anak cantik itu ke lantai atas. Melewati Julia begitu saja. Seakan Julia tak ada di sana.

Si wanita berdarah Indo hanya bisa pasrah. Lagi-lagi Calvin jauh darinya. Bukan karena Philophobia, melainkan karena hadirnya pihak ketiga. Julia tidak sepenuhnya menyalahkan Paulina. Biar bagaimana pun, Paulina masih kecil. Bisa saja ia hanya dijadikan alat oleh orang dewasa. Hanya saja, Julia tak mengerti mengapa Calvin dan Paulina sedekat itu. Calvin penyayang anak-anak. Sikapnya lembut, sabar, dan penuh kasih pada anak kecil. Namun, tak pernah sebelumnya Calvin begitu dekat dengan anak kecil sedekat dirinya dengan Paulina. Siapakah Paulina sebenarnya? Pertanyaan besar yang mengganggu pikiran Julia.

Diam-diam, Julia memperhatikan Calvin dan Paulina. Calvin mengajak Paulina bermain bersama. Mulai dari monopoli, halma, sampai puzzle. Mereka pun melakukan banyak kegiatan bersama. Calvin mengajak Paulina membuat es krim bersama, berlomba meniup balon paling banyak, membuat origami, dan menggambar potret diri. Kegiatan-kegiatan ringan yang seru dan menyenangkan. Selama bersama Paulina, Calvin begitu ceria. Semangat hidupnya seolah bangkit kembali. Wajahnya tak sepucat beberapa jam lalu.

Mau tak mau, Julia merasa sedih. Paulina bisa membuat Calvin tersenyum bahagia. Sedangkan dirinya? Berbagai cara ia lakukan, seluruh waktu dan perhatian ia berikan, tak pernah membuat Calvin sebahagia ini. Ironis sekali.

Sedih berpadu dengan cemburu. Ya, Julia cemburu pada Paulina. Kehadiran Paulina sempurna merebut perhatian Calvin. Bahkan mengembalikan keceriaannya. Hanya bersama Paulina Calvin tersenyum dan tertawa lepas. Siapa sebenarnya Paulina?

**      

Jeep Wrangler Rubicon itu melaju pergi. Calvin menatap sekilas mobil yang membawa pergi Paulina. Sejurus kemudian ia berbalik menaiki tangga marmer yang menghubungkan halaman rumah dengan teras.

Selepas kepergian Paulina, hatinya kembali kesepian. Padahal di dekatnya ada Julia yang selalu ada. Seperti saat ini. Julia menyambutnya di ruang depan. Tersenyum lembut walau hatinya perih.

"Paulina cantik ya?" puji Julia tulus.

"Ya. Paulina memang cantik. Aku menyayanginya." Calvin mengiyakan tanpa memandang istrinya.

"Siapa orang tuanya? Tadi aku sempat berpikir, sepertinya ide bagus jika Paulina kita adopsi saja. Dia bisa jadi anak kita."

Saat mengatakan ini, Julia benar-benar tulus. Hatinya sudah bersih dari rasa cemburu. Kini yang tersisa hanyalah rasa simpati, kelembutan, dan kasih sayang. Bila Paulina bisa membuat Calvin bahagia, tak ada salahnya melakukan proses adopsi.

"Sepertinya tidak bisa, Julia. Paulina sudah punya keluarga sendiri. Mana mungkin dia mau diadopsi?" timpal Calvin.

"Sayang sekali ya...sepertinya kehadiran Paulina bisa membuatmu bahagia."

Calvin terhenyak. Rona bahagia yang menghiasi wajahnya telah memudar. Ia kembali larut dalam kesedihan dan perasaan lain yang tak terungkapkan. Sisa warna yang tertinggal perlahan hilang. Wajah tampan itu kembali pucat seperti sebelumnya.

"Time to rest. Good night, Julia."

Setelah berkata begitu, Calvin melangkah menaiki tangga ke lantai dua. Julia melirik jam dinding. Tepat pukul 17.35. Ia mulai hafal kebiasaan baru Calvin. Tidur lebih awal dan bangun di sepertiga malam. Namun, belum pernah Calvin tidur secepat ini.

Tanpa permisi, rasa khawatir menyelusup ke hatinya. Julia peduli pada Calvin. Sedikitnya orang-orang yang dia miliki dan dia sayangi membuat Julia lebih sensitif. Ia pemikir dan perasa, namun mencoba selalu berpikiran positif. Apakah Calvin baik-baik saja? Mungkinkah Calvin sengaja menjauhinya? Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk. Adakah perkataan dan perbuatannya yang salah? Ataukah Calvin sakit lagi? Julia ingin mendekati Calvin. Memeluknya, lalu menanyakan kondisinya. Mencoba meringankan duka, permasalahan, dan lukanya. Ingin ia peluk tubuh tinggi semampai yang sesungguhnya rapuh itu. Ingin ia obati luka di hati Calvin Wan yang tegas sekaligus lembut itu. Tapi ia tak bisa. Ia tak berdaya.

"Good night, Love. Semoga kamu baik-baik saja."

**    

calvin jeremy silahkan mencintaiku