Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Saat Kuperbaiki Diriku

10 Agustus 2017   06:01 Diperbarui: 10 Agustus 2017   06:05 39 23 12

E-mail yang diterimanya malam itu mengganggu pikirannya. Undangan reuni lagi. Haruskah ia menolak untuk kesekian kali?

Reuni, sesuatu yang sudah lama dihindari Tuan Calvin. Tak sedikit undangan reuni yang datang. Entah itu reuni angkatan di sekolah, universitas, dan kawan-kawan satu organisasi sekolah serta sesama personel grup musik yang pernah dipimpinnya dulu. Semua undangan itu ia tolak.

Kebanyakan orang menolak datang ke reuni dengan alasan malu. Malu lantaran tidak sesukses teman-temannya. Seakan reuni hanya menjadi ajang pamer kesuksesan. Menyimpang dari tujuan aslinya.

Bisa saja Tuan Calvin datang memenuhi undangan reuni dari teman-temannya. Namun ia tak siap menghadapi pertanyaan tajam dan menyakitkan itu.

"Anaknya sudah berapa?"

Sungguh, Tuan Calvin tak pernah siap dengan pertanyaan itu. Praktis ia tidak pernah datang ke acara reuni mana pun. Absen dari acara bukannya tanpa kontribusi. Sebagai ganti, Tuan Calvin selalu menjadi donatur terbesar tiap kali teman-temannya mengadakan reuni. Ia menebus kesalahan dengan membiayai sebagian besar kegiatan. Teman-temannya memaklumi. Mereka tak pernah lupa mengundang Tuan alvin meski tahu hasil akhirnya.

Malam ini, ia kembali menerima e-mail berisi undangan reuni. Kali ini dari Anastasia, mantan anggota grup musiknya. Tuan Calvin langsung membalasnya tanpa ragu. Dengan halus meminta maaf, lalu mentransfer uang untuk mendukung pelaksanaan acara.

Urusannya telah selesai. Tetap saja ia belum menutup aplikasi e-mail. Menatap sedih layar laptopnya. Sampai kapan pun, rasanya Tuan Calvin takkan siap menghadapi acara reuni. Belasan kesempatan untuk bertemu kembali dengan teman lama terlewatkan begitu saja. Hanya karena rasa sakit dari sebuah vonis: infertilitas.

Mereka tak tahu bagaimana rasanya menjadi Calvin Wan. Priaa yang dari luar terlihat sempurna. Tampan, punya karier bagus, cerdas, dan berbakat. Hingga kini, masih banyak wanita yang jatuh hati pada Tuan Calvin walau dirinya sudah menikah. Sayangnya, Tuan Calvin mempunyai kelemahan yang sulit diterima kebanyakan wanita.

Kini ia sudah memiliki Clara. Meski begitu, hati Tuan Calvin masih diliputi keraguan. Teman-temannya pasti akan tahu siapa Clara. Tuan Calvin menjaga Clara dari hal yang tak diinginkan.

Pria tampan berwajah oriental itu kembali membaca e-mail dari Anastasia. Keputusan sudah diambil. Bukan waktunya lagi untuk menyesal.

Tanpa permisi, reaksi dari obat-obatan keras pembunuh sel kanker datang. Rasa mual naik ke perutnya. Disertai rasa dingin di seluruh tubuhnya. Tuan Calvin melangkah ke kamar mandi. Beberapa saat ia muntah. Tuan Calvin terbiasa mengalaminya. Efek samping dari pengobatan kanker yang paling sering terjadi.

**    

"Kenapa, Sayang? Muntah lagi ya?"

Tuan Calvin hanya mengangguk. Merasa bersalah. Nyonya Calisa baru tertidur sebentar. Kini Nyonya Calisa harus terbangun lagi karena dirinya.

"Maaf..." lirih Tuan Calvin.

"Nggak apa-apa."

Nyonya Calisa tersenyum lembut. Memberi tatapan yang menenangkan hati.

"Tidurlah, Calvin. Kamu harus istirahat." pintanya.

"Sebentar lagi, Calisa. Aku mau shalat Tahajud dan menyelesaikan tulisan yang kamu minta."

"Oh tidak usah...jangan buru-buru. Jangan paksakan dirimu."

Tuan Calvin berkeras tetap menyelesaikan tulisannya. Sifat keras kepalanya kembali muncul. Menyerah, Nyonya Calisa menemani Tuan Calvin.

"Aku jadi ingat tahun pertama pernikahan kita," kenang Nyonya Calisa, tersenyum kecil.

"Waktu itu, kamu menemaniku menulis semalaman. Lalu kamu tertidur di sofa. Oh iya, kamu juga membuatkan teh yang sangat enak."

Menyenangkan saat terkenang masa-masa itu. Masa dimana Nyonya Calisa terlalu keras dengan pendiriannya. Ia mencintai Wahyu tanpa memberikan sedikit pun celah di hatinya untuk Tuan Calvin.

Ternyata tak mudah bagi Tuan Calvin untuk menulis artikel tentang infertilitas. Bukan karena sulit mencari referensi, melainkan karena perih di hatinya. Infertilitas, sesuatu yang paling ditakuti oleh pasangan yang sudah menikah. Cukup banyak keluarga yang hancur karena masalah infertilitas. Tak sedikit pula yang bertahan. Persoalannya klise: kebanyakan orang menikah hanya untuk mendapatkan keturunan. Padahal tujuan pernikahan bukan itu saja.

Hatinya sedih dan terluka. Kata demi kata dituliskan Tuan Calvin dengan berat. Sakit sekali harus menuliskan sesuatu yang dialaminya secara langsung. Tak masalah bila hal itu membahagiakan. Infertilitas sama sekali bukan hal yang menyenangkan.

Kenangan buruk berkejaran di benaknya. Kalau bukan karena vonis itu, tak mungkin ia mengalaminya. Tuan Calvin membenci dirinya sendiri dan kenangan-kenangan itu.

Mengerjakan artikel tentang infertilitas membuatnya stress dan tertekan. Disembunyikannya perasaannya sedalam mungkin. Jangan sampai istrinya tahu. Nyonya Calisalah yang meminta Tuan Calvin menulis artikel itu untuknya. Ia tidak salah. Wanita keturunan Sunda-Belanda itu hanya ingin tahu pandangan suaminya tentang infertilitas. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah lewat artikel.

Sejak awal, Tuan Calvin mengatakan pada Nyonya Calisa. Ia hanya akan membahas infertilitas dari sudut pandang kesehatan. Ranah psikologis dan sosiologis takkan disentuhnya. Nyonya Calisa menerimanya.

Artikelnya sudah hampir selesai. Tinggal dua paragraf lagi. Lebih cepat selesai lebih baik.

Tes.

Setetes darah terjatuh. Tepat mengenai keyboard. Tuan Calvin refleks mengusap tetesan darah segar yang mengalir dari hidungnya.

"Sudah Calvin, sudah. Berhentilah menulis. Kamu harus istirahat." kata Nyonya Calisa panik.

"Tidak. Tinggal beberapa kalimat lagi. Aku harus menyelesaikannya." tolak Tuan Calvin tegas.

Sekeras apa pun Nyonya Calisa melarang, itu tak menghentikan Tuan Calvin untuk menyelesaikan artikelnya. Janji harus ditepati.

Akhirnya artikel itu selesai. Nyonya Calisa mengambil alih laptop milik suaminya. Menekan tombol save, lalu mematikan laptop. Memapah Tuan Calvin ke kamarnya. Membantunya berbaring di ranjang.

"Sorry, Calvin. Gara-gara aku, kamu memaksakan diri." bisik Nyonya Calisa.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan." ujar Tuan Calvin lembut.

Gurat keletihan terlukis dalam di wajah Tuan Calvin. Ia lelah fisik dan psikis. Hanya karena menulis artikel tentang infertilitas, hatinya terasa sakit. Jiwanya terguncang. Membahas tentang infertilitas sama saja membuka luka lama.

"Kamu pasti sedih harus mengungkapkan soal infertilitas di artikelmu." Nyonya Calisa berucap perlahan.

Tuan Calvin tak menjawab. Hanya merapatkan selimutnya. Prinsipnya tetap sama: menyimpan rasa sakit.

"Dulu aku sering menghinamu di awal pernikahan kita. Bahkan aku mempermalukanmu di depan teman-temanku. Kukatakan pada mereka kalau kamu mandul. Maafkan aku Calvin, maafkan aku..." sesal Nyonya Calisa.

"Tapi aku janji tidak akan melakukan itu lagi."

"Teman-temanmu sudah terlanjur tahu, Calisa."

Perkataan Tuan Calvin sukses membuat Nyonya Calisa kian menyesal. Ya, semuanya sudah terlambat. Teman-teman Nyonya Calisa mengetahui kelemahan Tuan Calvin lalu melemparkan hinaan. Tuan Calvin dianggap tak pantas bersama Nyonya Calisa.

"Kamu tak tahu bagaimana rasanya menjadi diriku, Calisa. Seumur hidup aku takkan melupakan kenangan itu." ungkap Tuan Calvin.

"Biar kugantikan posisimu, Calvin. Agar kamu tak perlu merasakan sakit lagi."

Air mata mengaliri wajah Nyonya Calisa. Ia menyesali perbuatannya. Andai saja ia tak segegabah itu. Penyesalan selalu datang di akhir.

Sesaat hening. Nyonya Calisa tetap di posisinya. Ia duduk di samping Tuan Calvin. Menggenggam tangannya. Ia ingin menebus kesalahannya. Mungkin saja kesalahannya tak termaafkan. Nyonyaa Calisa bertekad mencintai Tuan Calvin setulus hati dan memperbaiki kesalahannya di masa lalu.

**     

Seulas senyum merekah di wajah Nyonya Calisa. Mata indahnya berbinar bahagia melihat keempat artikel yang menempati posisi nilai tinggi. Artikelnya ada di urutan kedua, sedangkan artikel Tuan Calvin di urutan ketiga.

"Calisa, I'm home."

Tuan Calvin telah kembali dari kantor. Tersenyum menawan, lalu mencium pipi Nyonya Calisa.

"Hei Sayang, kamu pasti senang. Coba lihat ini." kata Nyonya Calisa seraya menunjukkan tabnya.

"Wow...great."

Tuan Calvin senang melihatnya. Tak sia-sia ia meluangkan waktu dan menguatkan diri di tengah rasa sakitnya demi menulis artikel itu. Proses takkan mengkhianati hasil.

"Calvin?"

"Kenapa, Sayang?"

"Aku memang tidak bisa bertukar posisi denganmu. Tapi kamu takkan sendirian menghadapinya. Aku di sini untukmu. Dan kita...akan selalu bersama."

"Really?"

Satu anggukan dan senyuman manis mulai meyakinkannya. Tuan Calvin memegang lembut kedua tangan Nyonya Calisa. Lembut berkata.

"Suatu saat nanti, tak apa-apa kalau kamu ingin menarik keputusanmu. Kamu berhak bahagia, Calisa."

"Tidak. Aku tak ingin menggantikanmu dengan pria lain."

Sudah cukup. Nyonya Calisa benar-benar berubah. Hatinya telah terbuka untuk mencintai Tuan Calvin. Sejurus kemudian Tuan Calvin menggendong tubuh ramping Nyonya Calisa dalam posisi bridal style.

"Oh Calvin...!" Nyonya Calisa berseru excited, merasakan wangi Hugo Boss yang sangat khas.

Tak peduli kondisi kesehatannya menurun, Tuan Calvin menggendong Nyonya Calisa dalam posisi bridal style ke lantai atas. Membawanya ke kamar bermain Clara. Terlihat wanita cantik itu bahagia sekali. Sudah lama Tuan Calvin tak melakukannya.

Dengan lembut, Tuan Calvin mendudukkan Nyonya Calisa di kursi. Lalu ia duduk di sisinya. Menekan tuts piano, lalu memainkan intro.

"Thanks a lot, Calisa." ujarnya penuh cinta dan terima kasih.

Intro terus berlanjut. Setelahnya, Tuan Calvin menyanyikan lagu untuk istrinya.

Ada yang berbeda hari ini

Saat kusadari ku tak sendiri

Bersamamu kasih

Indahnya tak sekedar kata cinta

Maaf bila ku tak selalu berada di sisimu

Namun kita

Kan selalu bersama

Lewati semua berdua bersama

Kan selalu bersama

Lewati semua berdua bersama (Calvin Jeremy-Selalu Bersama).

**    

Raut wajah Nyonya Calisa berubah sendu. Ia baru saja membaca komentar para pembaca di artikelnya. Ia bukan menangis karena hujatan haters atau komentar tajam pembaca yang tidak sependapat. Menurutnya, hal semacam itu sudah biasa dan tak perlu ditangisi. Justru komentar bernada pujian yang membuatnya meneteskan air mata.

Sejak lama, Nyonya Calisa tak percaya pada pujian. Tiap pujian yang dilayangkan padanya selalu dianggap tidak tulus dan mengada-ada saja. Meski demikian, Nyonya Calisa tak segan melempar pujian pada orang lain bila ada hal yang benar-benar disukainya.

"Salut buat Mbak Dinda Calisa. Kuat dan tegar banget mendampingi suaminya yang tidak bisa memiliki keturunan."

"Subhanallah...istri shalehah. Mas Calvin beruntung punya istri seperti Mbak Calisa."

"Pintu surga terbuka lebar buat Mbak Calisa."

"Ketegarannya harus dicontoh. Coba ya, saya setegar Mbak Calisa."

"Aduh...Mbak Calisa ini terlalu baik ya? Kalo saya jadi Mbak, saya sudah minta cerai sama Mas Calvin. Kagum sama Mbak. Udah cantik, baik lagi. Luar biasa."

Lebih banyak air mata membasahi pipinya. Andai para pembaca tahu yang sebenarnya, mereka takkan memujinya seperti ini. Andai mereka tahu betapa jahat Nyonya Calisa sebelumnya.

Nyonya Calisa merasa dirinya jahat. Siapakah dia ini sampai menghina Tuan Calvin waktu itu? Nyonya Calisa tak sebaik yang dibayangkan orang-orang. Di balik kecantikan wajahnya, keanggunannya, dan kepeduliannya pada orang lain, tersimpan masa lalu yang kelam. Tersimpan bekas luka yang dalam.

Tangan Nyonya Calisa bergetar saat membalas komentar-komentar itu. Satu tangannya yang lain menghapus air mata. Biarlah ia menyimpan kesedihannya sendiri. Saat Tuan Calvin tengah sibuk mencurahkan perhatiannya untuk Clara, Nyonya Calisa tenggelam dalam kesedihan dan penyesalan.

"Apa jadinya bila mereka tahu?" gumam Nyonya Calisa pada dirinya sendiri.

Entah apa yang terjadi bila para pembaca benar-benar tahu. Figur penulis cantik, pengajar, penyiar radio, dan wanita berbakat itu ternyata pernah mendiskreditkan kemiskinan dan menghina suaminya sendiri. Nyonya Calisa pernah berbuat zalim pada beberapa orang. Akan tetapi, ia selalu berusaha memperbaiki diri. Nyonya Calisa bercermin dari masa lalunya.

Perlahan tangannya meraih sebentuk diary. Buku harian yang sudah bertahun-tahun tak disentuhnya. Tiap lembarnya memberikan banyak kenangan. Hanya satu pria yang dibolehkan melihat diary ini: Wahyu, cinta pertamanya. Bahkan Tuan Calvin tak boleh membacanya.

Lembaran pertama mulai dibuka. Tertangkap serangkaian kata yang ditulis dengan tergesa-gesa. Lirih Nyonya Calisa membisikkan kata demi kata itu pada dirinya sendiri. Di halaman pertama tertulis:

"Seks dan poligami, dua hal yang paling kubenci. Dan aku paling benci pada pria yang suka membicarakan seks. Apa mereka hanya melihat wanita sebatas body-nya saja? Bagaimana dengan wanita yang tidak punya objek seksual yang bagus? Dan apakah penyelesaian masalah bagi istri yang tidak bisa memberikan keturunan adalah poligami? Perasaanku selalu marah, sedih, kesal, dan benci tiap kali membaca atau mendengarkan sesuatu yang berkaitan dengan dua hal itu. Salah satu anggota keluargaku berpoligami. Apa yang terjadi? Dia tidak adil pada kedua istrinya. Anak-anak dari istri keduanya tak pernah diurus. Bahkan saat sang istri kedua melahirkan anaknya yang terakhir, suaminya tak ada. Barulah ketika anak itu berumur lima tahun, sang istri membawa anak itu pada suaminya. Sang suami tidak mengenali anak itu. Anak itu menangis dan terus memanggil Papanya. Tapi tetap saja, anak itu tak dikenali. Hati saya sangat pedih karenanya. Lebih baik saya tidak menikah dari pada harus dipoligami."

Masih tersisa bekas air mata di sana. Nyonya Calisa menulis catatan itu tanggal sembilan bulan kesembilan. Tanggal cantik yang merupakan hari ulang tahunnya. Di hari ulang tahunnya, ia justru melihat peristiwa menyedihkan.

Nyonya Calisa membalik halaman diarynya. Di halaman kedua, tertulis nama Tuan Calvin.

"Calvin sahabatku sejak kecil. Dia telah kuanggap sebagai saudara. Tak seperti kebanyakan pria lainnya, Calvin tak pernah berbicara seks di depanku. Calvin paham ketakutan dan kebencianku terhadap seks. Dia memahami kesedihan dan kesepianku. Kuharap sifatnya benar-benar seindah wajah orientalnya. Kuharap hatinya sebaik tulisan-tulisannya. Entah dia akan menyalahgunakan kepercayaanku atau tidak. Kuserahkan pada Allah dan waktu untuk menjawabnya."

Halaman diary kembali dibalik. Apa isi halaman selanjutnya?

**     

https://www.youtube.com/watch?v=Hi_5pq7NUJE