HEADLINE

Uji Nyali di Terowongan Benteng Pendem, Cilacap

26 September 2011 19:10:07 Dibaca :

Kepulangan saya kali ini ke Indonesia saya  mengajak jalan-jalan ke 2 putri saya untuk melihat peninggalan sejarah berupa Benteng Pendem yang berada di Cilacap tepatnya di sisi pesisir pantai teluk penyu. Dengan tarif loket 5000 rupiah kita bisa masuk dan jika ingin ada pemandu wisata pintar-pintar lah kita berdegosiasi masalah harga.

Benteng Pendem ini adalah peninggalan dari Belanja yang dibangun selama 18 tahun di mulai dari tahun 1861 sampai dengan 1879 seluas 6,5 hektar. Dibangun oleh orang-orang Indonesia yang kerja paksa oleh tentara-tentara Belanda. Kemungkinan besar menurut cerita dari pemandu wisata di benteng pendem ini para pekerja paksa tersebut  sudah pasti mati dicambuk di dalam terowongan di ruang eksekusi oleh orang-orang Belanda, karena takut membocorkan rahasia dan seluk beluk pertahanan  tentang benteng pendem ini.

Benteng Pendem ini dikelilingi oleh parit yang berisi  air dengan kedalaman 10 meter, namun sekarang telah dangkal. Disebut sebagai benteng pendem karena benteng ini setelah jadi dibuat ditimbun oleh tanah sampai kedalaman 3,5 meter. Benteng Pendem ini adalah sebuah markas pertahanan milik Belanda, yang berfungsi untuk menahan serangan dari arah laut. Belanda memakai benteng ini sampai tahun 1942 karena  Jepang berhasil menduduki Indonesia. Hingga bom atom Hiroshima dan Nagasaki yang  membuat Jepang meninggalkan benteng pendem ini. Kemudian TNI dan para pejuang kemerdekaan menggunakan benteng pendem ini sebagai tempat latihan perang dan pendaratan laut.

Bangunan dari benteng pendem ini terdiri dari beberapa bagian ruang barak, ruang klinik, ruang pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, ruang meriam, ruang amunisi, ruang senjata, ruang penjara, ruang eksekusi bagi tahanan, dapur, ruang perwira dan ada juga sebuah terowongan yang menghubungkan sampai ke benteng-benteng pertahanan di Nusakambangan. Masih banyak ruangan didalam benteng pendem ini yang belum ditemukan dan masih tertimbun pasir sejak  digalih  tahun 1986.

Selagi para tentara kehabisan pelurunya maka mereka akan turun untuk mengisi pelurunya dan tentara yang lain akan naik menggantikan mereka.

Meriam didalam lubang terowongan ini akan diledakkan jika pasukan bersenjata telah terdesak oleh tentara. Meriam yang berada di terowongan benteng pendem ini telah dipindahkan ke Monumen Jogja Kembali di Jogja.

Di dalam terowongan ini terdiri dari beberapa ruangan diatarannya adalah tempat meriam dan yang lebih seram adalah ruangan eksekusi yang berada di tengah-tengah antara ruangan tempat meriam. Sebelum melangkah maksuk keterowongan benteng pendem ini saya tidak menyangka kalau keadaanya sungguh gelap gulita.

Kalau sendiri sudah pasti saya menjerit lari keluar wkwkwkwkwkwkw dasar penakut ya saya. Pemandu wisata saya membawa beberapa senter besar agar kami bisa melihat beberapa bagian di dalam terowongan ini. "Ayu bu, gak ucah takut, cuma 100 meter kok panjang terowongan ini" katanya.

"Aduh panjang juga ya? kata saya, tak urung kakak saya dan kedua putri saya melangkakan kaki kedalam terowongan. Melewati ruangan tempat meriam perasaan saya sedikit ngeri, heheheh  saya berpikir sungguh perang itu sangat kejam sekali. Sampai melewati ruangan eksekusi hati saya dak dik duk der pingin cepat-cepat keluar dari terowongan ini.  Pasti diruang inilah ratusan orang-orang Indonesia  menemui ajal dengan di siksa.

Pemandu wisata saya bilang "Disinilah orang-orang yang kerja paksa di cambuk sampai mati" perasaan saya saat itu benar-benar campur aduk, ada perasaan ngeri, sedih dan terharu. "Disini bu dulu ada uji nyali dan orangnnya gak kuat" ucap pemandu wisata.

"Aduh mas, kalau mau cerita nanti ya?diluar terowongan ini, yang penting kasih tahu aja nama ruanga2 di terowongan ini." ucap saya serius hehehehehe. (dasarnya penakut, nati kalau cerita yang serem-serem saya kabur lagi ninggalin putri saya hehehehe). Sementara putri saya Syasya semakin mempererat genggaman tangannya mungkin ia juga turut merasakan kekejaman ruangan ini.  (doc gak di foto soalnya gelap banget)

Sampai di belokan terowongan ternyata ada airnya sebatas betis kaki ternyata itu adalah air laut soalnya dipinggir-pinggirnya banyak terdapat kerang laut. Sebelah kanan terowongan itu ternyata ada sebuah ruangan yang konon ruangan itu adalah terowongan yang tembus sampai ke pantai nusakambangan. Di ruangan itulah tempat dimana para tentara melarikan diri jika mereka terdesak dalam pertempuran.

Keluar dari terowongan saya bisa bernafas lega hehehehehe  "MERDEKA"

Melewati ruangan amunisi yang dirancang memiliki suhu yang dingin, terbukti didalam ruangan amunisi ini terdapat rongga di bawahnya yang berisi air.

Di samping ruang amunisi adalah ruang penjara untuk para tahanan, penjara ini bukanlah penjara permanen. arena bagi tahanan yang masuk penjara selanjutnya akan dibawa ke ruang eksekusi untuk dicambuk sampai ia menemui ajalnya. Ruangan penjara ini berukuran 3,5 x 3,5 meter yang masing-masing ruangan  penjara berisi 10 sampai 14 orang tanpa alas tempat tidur tentunya.

Penjara ini memiliki jendela 3 lapis, sementara sekarang yang tersisa hanya 1 lapis teralis besi saja.

Disamping Ruangan penjara adalah ruangan senjata yang berukuran juga 3,5 m X 3,5 m.

Ruang amunisi, penjara dan senjata di rancang memiliki kemiringan 70 derajat dari masing-masing bangunan ini.

Di areal tanah dari benteng pendem ini diberi tambahan tempat-tempat untuk bermain anak seperti beberapa ayunan dan ada juga bebek-bebekan biar bisa keliling di parit benteng pendem ini. Ada patung-patung dinosaurus dan ada juga beberapa Rusa  yang berkeliaran di benteng pendem ini dan burung yang dimasukan di dalam sangkar.

Mengunjungi tempat-tempat seperti ini, sungguh mengasikkan. Bisa menambah kecintaan kita pada tanah air, betapa kemerdekaan yang kita peroleh itu sungguh mahal harganya. Pengorbanan para pejuang untuk meraih kemerdekaan bangsa Indonesia ini sungguh perih. Walau saya beberapa tahun ini tinggal di luar negeri namun jika saya pulang ke tanah air saya lebih suka mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti ini. Satu yang masih membuat saya kecewa adalah kesadaran membuang sampah pada tempatnya belum menjadi kebiasaan.

Walau banyak tulisan yang memperingatkan pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya tetap aja pengunjung masih ada yang membuang sampah sembarangan. Saya pun tak menyalahkan mereka sepenuhnya karena peringatan tersebut tidak didukung dengan adanya tong-tong sampah. Sepanjang mata saya memandang memang gak ada satupun tempat sampah yang disediakan di situ.

Cintailah tanah air kita ini salah satunya adalah dengan  membuang sampah pada tempatnya.

semua foto adalah milik pribadi penulis

Syasya Syasya

/lakeisha

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Seorang Istri dan ibu dengan 2 putri. Mencoba menuliskan pengalaman hidup tentang indahnya Indonesia, serta uniknya kultur budaya dari Korea, China, Vietnam. Tak ada yang lebih bahagia selain mendampingi suami tercinta nguli diberbagai negara, Kompasiana adalah tempat menyalurkan hobi menulis serta tempat mengobati kangen akan negri sendiri. Semoga apa yang pernah saya tulis ada manfaatnya untuk para pembaca semua. Salam hangat Sya, terimakasih sudah mampir di akun ini.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?