HIGHLIGHT

Cincin Keperawanan Perlu Gak Sih?

20 Agustus 2012 19:30:37 Dibaca :
Cincin Keperawanan Perlu Gak Sih?
sumber gambar, dantri.com

(Trending Articles) Iseng-isang baca beberapa artikel di media online ternyata saya menemukan sebuah artikel tentang cincin keperawanan. Sebuah cinsin yang dikenakan untuk seorang wanita yang masih perawan. Cincin ini sekarang banyak di pakai oleh gadis-gadis di Vietnam, banyak orang tua yang resah karena anak gadisnya kebanyakan bergaya hidup seperti orang-orang barat yang memiliki faham kebebasan tentang seks pranikah. Diharapkan oleh para orang tua bahwa jika anak gadisnya memakai cincin ini mereka akan lebih mengerti dan ingat bahwa seorang gadis itu harus mau menjaga kesucian dirinya. Bahwa berhubungan intim lebih baik dilakukan setelah mereka benar-benar menikah secara agama dan negara.

Melihat cincin ini saya jadi ingat dengan anak teman saya di Vietnam yang juga memakainya, ternyata saya baru tahu bahwa cincin seperti itu adalah sebuah identitas diri bahwa ia masih perawan. Wah saya jadi mikir nih, menurut saya perawan atau tidak perawan adalah soal privasi seseorang kenapa harus ditunjukkan seperti itu. Memang sih sangat baik bagi seorang gadis yang belum menikah untuk mau menjaga kesucian dirinya dan memang sepatutnya demikian adanya.

Namun jika seorang gadis tidak perawan lagi bukan berarti iya menjadi gadis yang tidak baik, masa lalu adalah masa lalu yang jika salah langkah sebaiknya mau kita perbaiki. Terjerumus kehidupan sex bebas bukan berarti kita tak mampu untuk keluar dari lingkaran hitam tersebut asal ada kemauan maka jalan menuju kebaikan pasti mampu kita dapatkan.

Menunjukkan bahwa ia perawan atau tidak dengan memakai cincin keperawanan bukan satu-satunya jaminan bahwa ia tidak akan melakukan sex sebelum nikah. Sebaiknya tanamkan pada diri kita masing-masing terlebih pada putra putri kita bahawa melakukan sex bebas adalah sesuatu yang lebih banyak ruginya daripada untungnya. Kesenangan sesaat mampu memberikan kesengsaraan yang tak berujung jika tidak cepat menyadarinya.

Sudah banyak sekali contoh di sekitar kita, anak gadisnya hamil sebelum menikah kalau sudah begini siapa coba yang rugi? Jelas semuanya rugi, orang tua jadi malu. Sekolah jadi gak tamat, mau jadi apa coba hidup kita. Beruntung kalau si lelaki mau menikahi kita, coba kalau tidak hiks malang benar nasip kita membesarkan anak tanpa seorang ayah. Masa depan yang tadinya cerah berubah menjadi suram. Kalau laki-laki itu mau bertangungjawab, tapi ia pengagguran mau makan apa coba anak kita hiks sedih banget Namun jika kehidupan kita telah menjadi suram karena kecerobohan kita jangan putus asa untuk mau memperbaiki kearah yang lebih baik lagi. Bagi yang belum jangan coba-coba, ingatlah banyak contoh disekitar kita. Semua adalah pilihan hidup kita masing-masing, jangan sampai pilihan itu menjadi penyesalan kita dikemudian hari.

Salam Sya, 2012.08.21

Syasya Syasya

/lakeisha

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Seorang Istri dan ibu dengan 2 putri. Mencoba menuliskan pengalaman hidup tentang indahnya Indonesia, serta uniknya kultur budaya dari Korea, China, Vietnam. Tak ada yang lebih bahagia selain mendampingi suami tercinta nguli diberbagai negara, Kompasiana adalah tempat menyalurkan hobi menulis serta tempat mengobati kangen akan negri sendiri. Semoga apa yang pernah saya tulis ada manfaatnya untuk para pembaca semua. Salam hangat Sya, terimakasih sudah mampir di akun ini.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?