HIGHLIGHT

Bedug Pendowo Purworeja adalah Bedug yang Terbesar

13 Oktober 2011 18:50:02 Dibaca :

Berada di Purworejo tempat orang tua saya tinggal saat ini di desa Bagelen tak ada salahnya saya mengunjungi bedug terbesar di dunia. Menurut cerita ibu saya kemarin, saat ia pulang umroh dari tanah suci ibu saya langsung pergi ke masjid Agung Darul Muttaqien tempat dimana bedug Pendowo itu berada. Maksud tujuan ibu saya ketika itu katanya ingin sujud syukur di sana kepada Yang Maha Kuasa, karena telah diberi kesempatan menginjakkan kakinya di tanah suci dan kembali ketanah air dengan selamat.

Karena rasa penasaran dan haru mendengar cerita ibu saya tersebut, saya bersama putri saya mengunjungi masjid Agung Darul Muttaqien untuk sujud syukur juga karena Yang Maha Kuasa mengijinkan saya dan keluarga untuk berlebaran di Indonesia. Cerita kepulangan saya itu bisa di baca disini heheheheh dengan harapan juga bisa selalu berlebaran di Indonesia, karena saya sangat cinta dengan Indonesia.

Jarak antara rumah dan Masjid Agung Darul Mutaqqin  itu tidak terlalu jauh karena letaknya berada disebelah barat alun-alun Purworejo. Menurut cerita orang-orang sekitar  bedug Pandowo ini bisa dikatakan terbesar di dunia karena ukurannya yang sangat besar beda dengan bedug-bedug yang ada di tanah air. Ya iyalah kalau ukurannya kecil ya pasti bukan beduk terbesar di dunia kan heheheh.

Menurut saya  tak ada salahnya juga kita orang Indonesia bilang bahwa bedug Pendowo adalah beduk terbesar di dunia walaupun semua negara belum tentu memiliki bedug heheheheh salahnya sendiri kenapa mereka gak buat bedug. Coba kalau negara lain buat belum tentu juga kan bisa buat yang besar seperti bedug Pendowo. Atau kalau negara lain bisa buat yang besarpun mereka kalah dari segi usiannya.( Maaf bukan bermaksud propokator)

Terbesar di dunia ataupun tidak itu tak jadi masalah buat saya atau kita yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga dan melestarikan aset budaya negara kita, sebagai peninggalan bersejarah yang sangat berharga. Menurut ibu saya nih Beduk Pendowo tersebut saat ini hanya di tabu pada saat Sholat Jum'at serta hari-hari besar Islam saja. Konon bedug Pendowo juga sebagai saksi di hari kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 karena di tanggal itu bedug Pendowo juga di bunyikan. (kok ibu saya bisa tahu ya hihihihi padahal tahun 1945 itu ibu saya baru lahir).

Cerita dari orang-orang tua yang ada di purworejo proses pembuatan Bedug Pendowo , jaman dahulunya adalah pekerjaan yang sangat luar biasa besarnya. Beduk Pendowo ini dibuat tahun 1762 tahun jawa dan 1834 Masehi, pembuatan bedug ini adalah dengan menggunakan kayu jati yang bercabang lima. Di buat dengan cara melobangi bongkot(pangkal) kayu jati bercabang lima yang sangat langka karena usianya yang ratusan tahun. Bongkot  kayu jati tersebut berasal dari dusun Pendowo desa Bragolan kecamatan Purwodadi, sementara kulitnya adalah berasal dari kulit banteng.

Bedug Pendowo ini dibuat atas perintah seorang Bupati pertama Purworejo yaitu Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I yang diangkat Bupati oleh pemerintah Hindia-Belanda setelah perang Diponegoro tahun 1825-1830 dengan seorang Patih (pembantu Bupati) yang bernama Raden Cokrojoyo.

Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I  memerintahkan Tumenggung Prawironegoro Wedana Bragolan untuk membantunya dalam perancangan bedug Pendowo tersebut. Tumengung Prawironegoro Wedana Bragolan sendiri adalah adik kandung dari Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronegoro I. Setelah di sepakati akhirnya mulailah pengerjaan pembuatan bedug tersebut di dusun Pendowo desa Bagelen Kecamatan Purwodadi karena di daerah inilah yang memiliki pohon jati bercabang lima yang telah berusia ratusan tahun.

Sementara itu kanjeng Raden Adipati Arya Cokronegoro I mengawasi juga pembuatan masjid Agung Darul Muttaqin yang merupakan tanah wakaf seluas 70 x 80 meter persegi. Masjid itu sendiri memiliki luas yang tak kurang dari 21 x 22 meter persegi dan memiliki bangunan di sisi kanan dan kiri yang berukuran 10 x 21 meter persegi.

Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I berkeinginan membuat bedug itu sebagai penanda datangnya waktu sholat.  Karena saat itu Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I memeluk agama Islam dan berkeinginan mensyiarkan agamanya.

Setelah selesai dibuat bedug Pendowo tersebut berukuran panjang 292 cm dengan diameter depan 194 cm dan diameter bagian belakang 180 cm. Untuk ukuran keliling bagian depan adalah 601 cm dan keliling bagian belakang adalah 564 cm. Sementara itu di dapat juga kulit banteng dengan diameter 220 cm, untuk merekatkan kulit banteng tersebut di pakailah paku 120 untuk bagian depan dan 98 paku untuk bagian belakang. Bedug Pendowo ini tidak tampak seperti sambungan karena dibuatnya benar-benar utuh. Detail tentang ukuran bedug Pendowo ini di tulis disamping beduk tersebut.

Karena bedug Pendowo atau sering juga disebut Kyai Bagelen oleh orang-orang Purworejo telah selesai pembuatannya di dusun Pendowo desa Bagelen kecamatan Purwodadi  maka oleh Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I dipindahkan menuju masjid Darul Muttaqin Purworejo. Pemindahan yang berjarak 9 kilometer dengan jalanan yang sangat sukar sekali. Maklum jaman dulu belum ada jalanan aspal heheheh

Proses pemindahannya  dengan cara di gotong beramai-ramai dengan iringan gamelan dan penari tayup. Proses pemindahan dengan cara seperti itu memakan waktu yang lumayan lama karena saat pemindahan itu ada pos pemberhentiannya juga. Saat itu bisa disebut aplusan atau pergantian sip kerja gotongnya heheheh kan capek gotong seharian biar beramai-ramai juga.

Setelah berhasil dipindahkan bedug Pendowo tersebut sampai sekarang masih tergantung di masjid Darul Muttaqin. Pernah ketika berusia 102 tahun tepatnya di tanggal 3 Mei 1936 kulit banteng bagian belakang sobek dimakan usia sehingga terpaksa di ganti. Namun kendala pada waktu pergantian kulit yang sobek itu  adalah susahnya  mencari kulit banteng lagi. Dengan terpaksa di perolehlah kulit sapi pemacak dari desa Winong kecamatan Kemiri Purworejo.

Cerita tentang bedug Pendowo ini saya peroleh dari orang-orang sepuh yang tinggal di dekat rumah ibu saya kebetulan waktu itu yang sepuh-sepuh pada bertandang kerumah. Dengan disediakan teh hangat dan sepiring pisang goreng, mulai lah mereka yang tua-tua bercerita heheheheheh. Saya mendengarkannya dengan serius eh super serius soalnya cerita ini sangat menarik buat saya. Maklum separuh  jiwa saya terbawa oleh kompasiana. Apapun tempat yang menarik untuk saya kunjungi ingin rasanya saya tuangkan dalam tulisan-tulsan di kompasiana ini.

Salam Sya

Foto Koleksi Pribadi

Syasya Syasya

/lakeisha

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Seorang Istri dan ibu dengan 2 putri. Mencoba menuliskan pengalaman hidup tentang indahnya Indonesia, serta uniknya kultur budaya dari Korea, China, Vietnam. Tak ada yang lebih bahagia selain mendampingi suami tercinta nguli diberbagai negara, Kompasiana adalah tempat menyalurkan hobi menulis serta tempat mengobati kangen akan negri sendiri. Semoga apa yang pernah saya tulis ada manfaatnya untuk para pembaca semua. Salam hangat Sya, terimakasih sudah mampir di akun ini.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?