Dia Terlalu Tenang

20 Maret 2017   18:31 Diperbarui: 20 Maret 2017   18:43 76 0 1

Malam itu adalam malam terakhir sebelum Angel mengikuti UN SD di hari pertama. Angel telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi UN tersebut, seperti peralatan tulis, kondisi fosik dan mental yang sehat, dan penguasaan materi yang akan diujikan. Angel pun tidur lebih awal dengan harapan agar besok ia dapat melaksanakan UN dengan kondisi fisik yang segar.

Angel adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Rumahnya cukup sederhana dan terdiri dari 3 kamar tidur. Orang tuanya menempati tempat tidur yang paling luas. Sedangkan, kakak sulungnya, Willy, menempati kamar yang paling sempit. Semntara itu, Angel, kakak perempuan Angel (Moza), dan adik Angel (Adhel) menempati kamar yang berukuran sedang di rumah itu. Posisi tidur Angel pada malam itu, ialah di tengah di antara Moza dan Adhel.

Dini hari telah tiba. Angel, Moza, dan Adhel masih tertidur dengan neynyak. Hingga suatu saat, Angel mendengar suara pintu terbuka. Dengan kondisi yang mengantuk, Angel membuka matanya dan melihat bahwa pintu kamar mereka memanglah terbuka. Ia melihat bayangan manusia yang sepertinya langsung menunduk di balik tempat tidur. Namun, Angel tidak terkejut. Angel  langsung berpikiran bahwa itu adalah ibunya karena beliau memang sering masuk ke kamar Angel di dini hari untuk mematikan AC kamarnya. Namun, Angel terus melihat bahwa sosok tersebut tidak muncul-muncul. Namun, tetap saja, Angel tidak berpikiran negatif. Ia berpikir bahwa itu hanya khayalannya saja atau bawaan dari tidurnya.

Karena saking mengantuknya, Angel tidak terlalu memikirkan peristiwa tersebut dan langsung tertidur dengan lelap. Beberapa saat kemudian, Angel mendengar lagi suara pintu terbuka. Di saat itulah, Angel langsung spontan membuka mata dan melihat seorang pria berdiri di depan pintu kamar. Untungnya, Angel adalah anak yang dapat menahan rasa kaget. Ia tidak berteriak, tetapi diam saja. Saat itu jugalah, Angel dan pria tersebut saling bertatapan, lantas, pria tersebut pun bergegas pergi ke luar. Belum ada reaksi lain dari Angel selain terpaku memandang ke atas sambil berpikir tentang peristiwa tersebut. Dia terlalu tenang dalam menghadapi sesuatu yang bahkan sangat menakutkan.

Ketika ia melihat pria tersebut, Angel langsung berpikir bahwa pria tersebut adalah seorang maling. Namun, dalam situasi sulit seperti itu, Angel masih saja mencoba untuk memikirkan hal-hal yang positif. Timbullah di benak pikirannya suatu pikiran yang menduga bahwa pria tersebut adalah seorang tukang renovasi rumah. 

Namun, beberapa saat kemudian, ia langsung berpikir bahwa hal tersebut sangat tidak masuk akal karena hari masih terlalu dini dan sangatlah aneh jika pria itu memasuki kamar Angel dan langsung terburu-buru keluar begitu Angel menatap pria tersebut. Angel masih belum menggerakkan anggota tubuhnya. Sebenarnya, walaupun ia tidak panik ketika ia melihat pria tersebut, namun ia tetap merasa takut dan jantungnya berdebar dengan sangat kencang. 

Waktu telah berlalu sekitar 5 menit. Angel pun memutuskan untuk membangunkan kakaknya, yaitu Moza.

"Moz! Moz !" bisik Angel dengan pelan sambil menggoyang-goyangkan tangan kakaknya itu.

"Ada apa ?" jawab Moza dengan kaget.

"Moz, tadi, ada bapak-bapak masuk ke kamar kita," balas Moza.

"Oh, ya ?" Moza langsung kaget dan berpikir sejenak. Ia langsung berpikir bahwa pria tersebut adalah seorang maling karena para warga di daerah itu sudah sangat mengetahui bahwa banyak maling yang berkeliaran di lingkungan sekitar mereka tinggal. Moza juga sudah sangat mengenali beberapa maling yang berada di lingkungan keluarga tersebut tinggal.

"Gimana ciri-cirinya ?" lanjut Moza.

"Tinggi badannya sedang, berambut gondrong, memakai topi, dan membawa tas kecil," jawab Angel.

Moza pun langsung menebak seorang maling yang sudah sangat terkenal di lingkungan tempat ia tinggal. Moza adalah anak perempuan pemberani dan sedikit tomboi. Moza langsung meminta Angel untuk menemaninya melapor ke orang tua mereka. Mereka pun langsung bergegas turun dari tempat tidur. Sementara itu, adik bungsu mereka masih tertidur dengan lelap.

Moza dengan penuh waspada mengintip dari pintu kamar untuk memastikan bahwa pria tersebut sudah pergi. Sementara itu, Angel mengikuti Moza dari belakang. Tidak ada orang di ruang tengah rumah mereka, maka mereka pun keluar dari kamar. Mereka melihat bahwa pintu depan rumah terbuka dengan sangat lebar. Mereka pun langsung berlari menuju kamar orang tua mereka dan mencoba langsung untuk membuka pintu kamar orang tua mereka. Namun, pintunya terkunci. Angel dan Moza pun mengetuk dan terus memanggil kedua orang tua mereka.

"Ada apa itu ?" teriak Bapak dari dalam kamar.

"Bapak ke sini sebentar, dong !" sahut Moza dengan suara yang sedikit tertahan. Ibu pun langsung membukakan pintu.

"Mak, tadi, si Angel melihat bapak-bapak masuk ke kamar kami. Pintu depan rumah juga terbuka lebar, Mak," ucap Moza.

Angel juga menjelaskan rangkaian peristiwanya kepada bapak dan ibunya. Ibu pun langsung menutup dan mengengsel pintu depan rumah dengan segera. Mereka berempat juga melihat bahwa jendela yang berada di dekat pintu tersebut rusak. Mereka pun langsung berspekulasi bahwa pria tersebut memanglah seorang maling. 

Rumah tersebut memang sangat mudah dibobol karena pintu rumah mereka hanya memakai engsel pintu  dan tidak memakai kunci gagang. Jika jendela mereka berhasil dicongkel oleh sang maling, maka sang maling pun dapat menggeser engsel pintu dengan sangat mudah karena jarak jendela dan pintu sangatlah dekat. Bahkan, anak-anak saja juga dapat menjangkau engsel pintu tersebut melalui celah-celah jeruji jendela dengan cukup mudah.

Karena mereka terlalu berisik, maka Willy dan Adhel pun bangun dan menanyakan apa yang telah terjadi. Angel, Moza, Mamak, dan Bapak pun menjelaskan kepada mereka. Willy pun tertawa kecil karena ia heran mengapa Angel tidak teriak ketika melihat maling tersebut. Namun, mereka semua yang sedang bercakap-cakap itu berpendapat bahwa tindakan yang dilakukan Angel cukup baik. Hal itu karena jika Angel langsung berteriak, maling tersebut bisa saja dengan spontan hendak melukai Angel. Karakter Angel yang terlalu santai memang terkadang membawa dampak yang positif.

Setelah mereka bercakap-cakap dengan panjang lebar, Willy pun masuk ke dalam kamarnya dan mendapatkan lemarinya berantakan. Ia juga melihat dompetnya terbuka dan acak-acakan. Sangatlah besar kemungkinan bahwa maling itulah yang membuat lemarinya berantakan. Apalagi, Willy memang sudah biasa membiarkan pintu kamarnya terbuka dengan lebar saat ia tidur. Willy pun langsung melapor kepada Bapak, Mamak, Angel, dan Moza. Namun, Willy mengakui bahwa ia tidak menyimpan uang sepeser pun di dalam dompet tersebut. Setelah itu, keluarga itu sibuk mencari-cari barang apa saja yang hilang. Ternyata, telepon genggam Mamak dan telepon genggam Moza hilang. 

Selesai sudah perbincangan itu. Mamak dan Bapak menyuruh anak-anaknya untuk kembali tidur. Mamak pun berinisiatif untuk menemani Angel, Adhel, dan Moza tidur. Saat itu jugalah, Mamak khawatir jika Angel trauma atas peristiwa tersebut. Padahal, nantinya, ia akan mengikuti UN. Mamak pun tidur sambil memeluk Angel dengan harapan supaya batin Angel menjadi tenang. 

Namun, lagi-lagi, Angel merasa baik-baik saja sebenarnya. Dia tidak terlalu memikirkan peristiwa itu. Angel juga langsung berdoa kepada Tuhan untuk mengucap syukur karena ia dan seluruh anggota keluarganya masih dalam keadaan sehat. Ia juga memohon perlindungan atau naungan dari Tuhan. Pada akhirnya, Angel dapat melaksanakan UN dengan sangat tenang walaupun peristiwa yang mencengangkan baru saja menimpanya.