Kusno Haryanto
Kusno Haryanto karyawan swasta

Assessor Of Competency BNSP No.Reg.MET.000.003425 2013, Apoteker alumni ISTN Jakarta

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Apoteker, Baktimu Lebih Penting daripada Sekadar Penulisan Gelar

13 Juli 2017   11:48 Diperbarui: 13 Juli 2017   20:51 1289 1 0
Apoteker, Baktimu Lebih Penting daripada Sekadar Penulisan Gelar
Ilustrasi. updatepns.com

Lagi, hal yang sesungguhnya tidak penting diupayakan menjadi penting sekali. Adalah desas desus dari rencana keinginan besar Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia agar kedepan nantinya profesi Apoteker semakin dikenal oleh masyarakat secara luas. Cara yang ditempuh sungguh unik kalau tak ingin disebut memalukan yakni berupaya mengubah penulisan gelar apoteker yang biasa disingkat Apt dari di belakang nama menjadi didepan nama. 

Alasan besar yang dijadikan pertimbangan untuk hal itu adalah agar masyarakat terbiasa memanggil Apoteker kepada profesinya dan hal itu dimungkinkan oleh peraturan perundang -- undangan, di mana pada Peraturan Mentri Riset, Teknologi dan Pendididkan Tinggi Republik Indonesia Nomor 63 tahun 2016 disebutkan "gelar untuk lulusan pendidikan profesi ditulis didepan atau di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan inisial sebutan".

Untuk rencana besar itu tidak lupa dimintakan juga saran, pendapat dan pandangan dari mereka yang berprofesi Apoteker tentang rencana perubahan letak penulisan Apt tersebut melalui polling. Kegiatan polling untuk rencana itupun dilakukan oleh media online farmasetika.com yang kemudian mengeluarkan hasil sementara polling itu per tanggal 3 Juli 2017 dengan hasil yang sesungguhnya mengecewakan, di mana angka keturutsertaan dalam polling sangat rendah dan semestinya tidak bisa disimpulkan apa -- apa terhadap hasil polling itu. 

Dari hasil sementara itu jelas terbaca angka keikutsertaan para Apoteker sangat tidak berarti bila dibandingkan dengan jumlah Apoteker yang dihasilkan oleh perguruan tinggi itu sendiri, semisal : hanya ada 10 Apoteker dari perguruan tinggi negeri ngetop penghasil Apoteker seperti Universitas Sumatera Utara, hanya ada 14 Apoteker yang berpartisipasi dari Universitas Gajah Mada dan hanya 4 Apoteker yang mengikuti polling dari Universitas Airlangga ( sampai dengan tanggal 3 Juli 2017 ).

Melihat rendahnya angka keikutsertaan Apoteker terhadap polling dengan membaca hasil polling sementara diatas  itu, penulis berpendapat justru mungkin lebih banyak Apoteker yang tidak peduli terhadap penulisan sebutan Apt dinama mereka. Bukan tidak mungkin mereka yang ogah mengikuti polling itu berpendapat bahwa penulisan sebutan Apt dibelakang atau didepan nama tidak akan berpengaruh apapun bagi dirinya. 

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa entah mengapa profesi Apoteker ini selalu ingin mendekati dan bahkan meniru -- niru dengan profesi yang satunya itu. Mulai dari penggunaan jas praktek yang hanya memiliki sedikit perbedaaan warna tetapi modelnya sama, lalu pemasangan papan nama praktek yang juga lebih dulu dilakukan oleh profesi yang satunya itu dan akhirnya sampai kepada penulisan sebutan profesi pun ingin ditulis didepan nama seperti profesi yang satunya itu juga dan bahkan sampai penulisan hurufnya pun ingin disamakan menggunakan huruf kecil semua.

Ironis memang, seharusnya profesi ini memilih dan mencari sendiri hal -- hal yang ingin ditampilkan kepada masyarakat luas agar masyarakat semakin bisa membedakan profesi ini dengan profesi yang satunya itu. Tidak sekali penulis ketika pulang dari klinik dan berhenti di depan jalan klinik untuk menyeberangkan kendaraan kemudian berpapasan dengan orang dipanggil dengan suara keras "dokkkk",  lho koq dok? Padahal dalam keseharian bekerja penulis justru menghindari pemakaian jas yang mirip digunakan dengan profesi yang satu itu dan penulis pun selalu menempelkan name tag dipakaian  sebagai identitas bahwa penulis adalah Apoteker.

Disinilah gambaran sederhana ironis nya itu, bukan malah menjauhkan kesamaan atau kemiripan dengan profesi yang satu itu tetapi justru terlihat ada upaya untuk semakin menyamakan tampilan profesi ini dengan profesi yang satu itu. Diakui atau tidak, faktanya profesi yang satu itu memang sudah sangat jauh meninggalkan profesi Apoteker. 

Sejak jaman perjuangan sampai jaman kemerdekaan peran serta dan sumbangsih dari profesi dokter itu kepada negara dan bangsa sudah sangat jelas terlihat dan selalu menjadi ingatan semua pelajar di negeri ini. 

Bagaimana tidak nama -- nama pahlawan berikut yang tercatat dalam buku sejarah seperti Wahidin Sudirohusodo, M. Sardjito, Abdulrahman Saleh, J. Leimena, Cipto Mangunkusumo, Radjiman Wedyoningrat, Sutomo dan Latumenten bahkan Douwes Dekker dan lainnya adalah nama -- nama pahlawan yang bergelar dokter sedangkan peran dan sumbangsih dari profesi Apoteker dimasa -- masa sulit itu sangat sulit ditemukan kalau tidak mau disebut tidak ada. 

Inilah mengapa penulis berpendapat sebaiknya profesi Apoteker tidak usah berupaya membanding -- bandingkan dengan profesi dokter. Rekam jejak sejarah profesi yang satu itu jelas sudah sangat mengakar dinegeri ini, tanpa menggunakan jas putih sekalipun. 

Sebagai contoh kecil dalam organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah Indonesia, adakah peran Apoteker disana ? itu menunjukan bahwa profesi yang disandang penulis ini belum menunjukan peran nyata bagi masyarakat luas. Bagaimanapun untuk menjadi terkenal dan selalu diingat oleh masyarakat bukan kepada tulisan Apt pindah ke depan atau ke samping bahkan ke atas tetapi peran nyata yang dampaknya secara panjang dapat dirasakan oleh masyarakatlah yang akan mengingatkan masyarakat siapa yang berbuat itu. Untuk itu penulis meneriakan "ayo Apoteker, tuliskan bakti dan  prestasimu di depan bukan gelarmu yang didepan". JAYALAH APOTEKER INDONESIA.