HIGHLIGHT

Pembagian Pengetahuan (1): Al-'Ilmu

24 Maret 2010 15:41:00 Dibaca :

Setiap orang pasti mempunyai sekumpulan pengetahuan (al-idroku, knowledge) dan semua pengetahuan manusia tidak lepas dari tiga perkara yaitu :




  1. Al-‘Ilmu.
  2. Al-Jahlu.
  3. Azh-Zhonnu.


Semua itu (Al-‘Ilmu, Al-Jahlu, dan Azh-Zhonnu) adalah istilah dalam bahasa Arab. Kenapa saya menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Arab? Jawabannya sederhana, karena petunjuk Alloh itu (Al-Qur’an) diturunkan dalam bahasa Arab. Secara resmi Alloh menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa perantara untuk wahyu-Nya yang terakhir yang berisi petunjuk-Nya untuk manusia karena disesuaikan dengan bahasa yang digunakan oleh nabi dan rosul yang terakhir, Muhammad saw, yang berkebangsaan Arab. Jadi kalau ingin tahu petunjuk Alloh mesti paham bahasa Arab, tapi tidak harus fasih bahwa Arab, faham makna-maknanya saja sudah cukup.



Al-‘Ilmu



Kata al-‘ilmu adalah kata dalam bahasa Arab dan kata ini ada di dalam Al-Qur’an. Al-ilmu maknanya dalam bahasa Arab adalah “ idrokusy-syai’i bihaqiqotihi “, yang artinya “ mengerti/mengetahui akan sesuatu (sesuai) dengan hakekatnya “, atau katakanlah singkatnya al-‘ilmu adalah “pengetahuan yang benar”, benar dalam arti sesuai sebagaimana “ada”nya (ash-shidqu). Suatu pengetahuan bisa dikatakan sebagai al-‘ilmu jika benar (ash-shidqu), sesuai dengan hakekatnya, sesuai sebagaimana “ada”nya . Jika berkaitan dengan manusia dan karena mengerti/mengetahui itu tempatnya di dalam qolbu/hati manusia maka tentu al-‘ilmu itu ada di dalam qolbu/hati manusia. Al-ilmu bisa diekspresikan dalam bentuk ucapan, perkataan, kalam, dan kalimat-kalimat sehingga bisa didengar, atau dalam bentuk tulisan sehingga bisa dibaca, atau dalam bentuk lainnya misalnya simbul-simbul, isyarat-isyarat, dll. Al-‘ilmu itu sangat erat kaitannya dengan segala yang “ada” (realitas), baik “ada” yang bersifat syahadah (nyata) artinya yang dapat ditangkap oleh panca indra dan akal manusia ketika hidup di dunia, maupun “ada” yang bersifat ghoib artinya yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra dan akal manusia ketika hidup di dunia. Baik “ada” dulu, sekarang maupun yang akan datang. Baik “ada” itu berupa zat maupun peristiwa.


Dikatakan di dalam Al-Qur’an surat 5 ayat 97, lafalnya “ …dzalika lita’lamu annalloha ya’lamu ma fis-samawati wa ma fil-ardhi wa annalloha bikulli syai’in ‘alim “, artinya “ …demikianlah agar kamu mengetahui bahwa Alloh mengetahui apa-apa yang dilangit dan apa-apa yang di bumi dan bahwa Alloh mengetahui segala sesuatu.” Yang dapat kita pahami dari ayat ini adalah bahwa Alloh mengetahui segala sesuatu (QS 2 ayat 29), segala sesuatu itu meliputi segala yang “ada”. Kenapa? Karena Dia yang menciptakan segala sesuatu itu (QS 6 ayat 102), dan tentu Dia mengetahui segala sesuatu itu sesuai dengan hakekatnya, sesuai sebagaimana “ada”nya. Artinya Alloh memiliki al-‘ilmu dan ‘ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.


Dikatakan di dalam Al-Qur’an surat 39 ayat 33, lafalnya “ walladzi ja’a bish-shidqi wa shoddaqo bihi ulaika humul-muttaqun “, artinya “ Dan yang datang dengan (membawa) ash-shidqu (yakni Muhammad saw) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertaqwa “. Yang dapat dipahami dari ayat ini adalah bahwa Muhammad saw membawa ash-shidqu. Dan kita tahu dibawa Muhammad saw adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena benar (ash-shidqu) adalah ciri dari al-‘ilmu, dan kita tahu bahwa Al-Qur’an (kalam Alloh) diturunkan Alloh berdasarkan ‘ilmu-Nya (QS 4 ayat 166) dan Muhammad saw sendiri juga berkata-kata, bersabda, dll dan perkataan Muhammad saw tiada lain juga wahyu dari Alloh (QS 53 ayat 3-4) maka perkataan Alloh (Al-Qur’an) dan perkataan Muhammad saw (As-Sunnah) adalah al-’ilmu dan ini adalah al-‘ilmu yang sangat penting untuk diketahui oleh manusia karena berkaitan dengan nasib manusia di akherat kelak. Dan inilah al-‘ilmu yang wajib dicari oleh seorang muslim sebagaimana yang disabdakan Muhammad saw, lafalnya,” tholabul-‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslim “, yang artinya ,” Menuntut al-’ilmu adalah kewajiban untuk setiap muslim “(Sunan Ibnu Majah, hadits no. 220).


Kita dapat memperoleh al-‘ilmu (selain Al-Qur’an dan As-Sunnah) dari apa yang kita ingat dari mengindra sendiri apa yang “ada” yang kita temui atau dari orang lain yang mengindra apa yang “ada” yang lain dengan catatan orang lain itu harus benar, jujur (ash-shodiqu) karena kita tidak mungkin kita mendapatkan al-‘ilmu dari seorang pendusta (al-kadzibu). Hilangnya al-‘ilmu dari kita dapat terjadi kalau kita lupa.



Beberapa contoh al-‘ilmu.



Pada hari jum’at tanggal 17 Agustus 1945 sekitar pukul 10.00 WIB di jalan Kebangsaan Timur Jakarta, Ir. Sukarno didampingi Drs. Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Ini adalah suatu pengetahuan dan ini pengetahuan yang benar karena sesuai sebagaimana “ada” nya. Jadi ini adalah al-‘ilmu.


Dikatakan di dalam Al-Qur’an surat 1 ayat 2, lafalnya, “ al-hamdu lillahi robbil-‘alamin “, yang artinya, “ Segala puji bagi Alloh (Dia adalah) robb (Penguasa, Tuan) bagi seluruh alam. “ Karena ini kalam Alloh dan kalam-Nya adalah benar (ash-shidqu) (QS 6 ayat 115) maka ini adalah al-‘ilmu.



bersambung...

Totok Kusmardiyanto

/kusmardiyanto

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Saya adalah orang biasa, Muslim, S1, menemukan kebenaran dalam Al-Qur'an dalam ungkapan (bahasa Arab) " u'budulloha wa la tusyriku bihi syai-a ".
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?